Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*12
Mereka masuk ke dalam. Tentu saja, karena si tante punya saham yang cukup besar di rumah sakit tersebut, dia akan dijadikan prioritas saat datang ke tempat itu. Mereka tidak membutuhkan antrian. Tidak pula harus menunggu beberapa hari hanya untuk satu tes DNA. Mereka hanya perlu menunggu beberapa jam saja. Hasilnya, langsung bisa mereka lihat.
"Nyonya Tiara, hasil tesnya sudah keluar," ucap dokter dengan hati-hati.
Dengan penuh semangat, Marvin dan tantenya menerima kertas laporan hasil tes tersebut. Dengan jantung berdebar-debar, keduanya membuka laporan itu dengan tangan bergetar.
Lalu hasilnya, langsung membuat mata mereka melebar sempurna. Keduanya sontak saling bertukar pandang dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Tante ... ha-- hasilnya ... po-- positif," ucap Avin dengan suara yang sedikit bergetar.
Sedang si tante sama sekali tidak bisa mengucapkan kata-kata. Bibirnya langsung tersenyum lebar, tapi matanya menangis. Tentu saja bukan tangisan sedih. Melainkan, tangisan haru.
Anggukan pelan langsung Tiara berikan sebagai jawaban atas ucapan yang baru saja keponakannya ucapkan. "Iy-- iya. Hu hu hu."
Keduanya langsung berpelukan sesaat.
"Adikmu, akhirnya di temukan. Kakak ku pasti sangat bahagia."
Dengan mata yang masih berair, Tiara langsung mendekat erat tubuh Aina. "Keponakanku yang malang. Akhirnya, kami menemukan dirimu juga, Nak."
Avin pula angkat bicara. "Kami mencari kamu ke mana-mana. Tapi takdir malah mendatangkan sendiri kamu pada kami. Sungguh sebuah anugerah, Aina."
"Kamu adikku," ucap Avin bergantian memeluk Aina dengan erat.
Ain masih tidak bisa berkata sedikitpun. Batinnya terlalu syok akan kenyataan yang ada di depan mata. Sungguh, ternyata, dia juga punya keluarga. Dia tidak hanya punya kedua orang tua, melainkan, punya keluarga besar. Dan ternyata, dia bukan sengaja di buang. Tapi, karena di culik oleh orang.
...
Dengan rasa bahagia, Avin membawa adiknya pulang. Tentu saja setelah membujuk Ain dengan sangat hati-hati. Adiknya terlalu lama berada di luar sana. Jadi, untuk membawanya pulang tidaklah mudah.
Apalagi adiknya adalah wanita yang mandiri. Sudah terbiasa hidup susah di luar. Tentu saja, Ain harus dibujuk dengan sangat keras dulu oleh Avin dan tantenya, barulah bersedia untuk pulang bersama dengan Avin.
Setelah menempuh perjalan yang cukup panjang, akhirnya, Aina tiba juga ke kediaman Marvin. Sedikit gugup Ain rasakan ketika mobil berhenti di depan kediaman mewah dengan tiga lantai yang terlihat sangat luas. Sungguh, keluarganya ternyata benar-benar orang kaya.
"Ain, ayo turun! Kita sudah sampai," ucap Avin dengan nada dan wajah bahagia.
Ain bergerak perlahan. Matanya menatap rumah tersebut dengan tatapan lekat. "Ini ... rumah kak Avin?"
"Hm ... bukan hanya rumah ku saja, Aina. Tapi, ini rumah kita. Karena, ini juga rumah kamu."
"Ta-- tapi .... "
"Aduh, gak ada tapi-tapian nya lagi. Kamu adikku, jangan mikir yang nggak-nggak. Sekarang, ikut aku masuk! Mama papa pasti akan sangat bahagia," ucap Avin sambil meriah tangan adiknya untuk dia bawa masuk.
Hati Avin benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk memperkenalkan Aina pada kedua orang tuanya. Dia sangat yakin, sang mama pasti akan sangat bahagia saat melihat anak yang selama ini ia cari, kini ada di depan mata.
"Den Marvin. Sudah kembali?" Sapa bibi yang telah membuka pintu untuk Avin barusan.
"Iya, Bi. Mama di mana?"
"Nyonya, seperti biasa, Den. Di kamar."
"Baiklah."
"Ayo, Ain. Ikut kakak masuk!"
Ain tidak sempat berucap, Marvin sudah menarik tangannya kembali. Sedang si bibi juga sama, rasa ingin tahu tidak bisa dia puaskan. Karena tuan mudanya berlalu dengan begitu cepat tanpa sempat dia melontarkan pertanyaan sedikitpun.
"Mama!"
"Mama dimana?"
"Ma. Aku punya sesuatu untuk dipertemukan dengan mama."
Sepanjang langkah kakinya, Avin terus berucap dengan bahagia. Sementara itu, tangan Aina terus saja dia genggam. Tidak sedikitpun lepas dari cengkraman tangannya.
Mendengar suara sang anak, mama Avin langsung menghapus air mata. Dia seka tanpa sisa, lalu beranjak bangun dari duduknya.
"Iya. Mama di sini, Vin. Di kamar."
"Mama!"
Sang mama berjalan pelan menuju pintu kamar. Sebelum pintu terbuka, mamanya berucap. "Ada apa sih? Kek anak kecil aja."
"Kamu lebih manja dari Bi-- " Ucapan si mama langsung terpotong ketika pintu terbuka, lalu wajah Aina terlihat depan mata.
Seketika, Camelia terpaku saat melihat duplikat dirinya ada di depan mata. Ya. Raina Saraswati memang sangat cantik. Dia persis wajah Camelia saat masih muda. Bahkan, saat tua pun mereka masih terlihat mirip jika di pandang secara bersamaan dengan tatapan lekat.
"Ka-- kamu .... " Mama Avin langsung melihat ke arah anaknya. "Si-- siapa dia, Vin? Si-- siapa kamu?" Suara serak tertahan, berucap terpotong-potong. "K-- kamu .... "
"Mama. Dia Aina."
"A-- Aina? Si-- siapa? Aina?"
Avin mengangguk pelan. "Namanya Raina Saraswati, Ma. Raina."