Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. KEDATANGAN DINA
Malam ini, Maya duduk di kursi kayu jati besar, menghabiskan makan malamnya dalam diam. Matanya sesekali melirik ke arah kursi utama yang kosong, tempat biasanya Arkan duduk meski hanya sebentar.
Bu Marni, yang sedari tadi berdiri di dekat pantry, menangkap kegelisahan di mata gadis itu. Ia melangkah mendekat dengan senyum hangat khas seorang ibu.
“Dek Maya pasti nyariin Pak Dokter,” goda Bu Marni pelan.
Maya sedikit tersentak, lalu menunduk malu sambil menyesap air putihnya. “Hem, ia Bi. Dari pagi sampai malam, Maya belum melihat Kak Arkan. Apakah, apakah Kak Arkan sedang sakit?”
“Enggak, Sayang. Pak Dokter itu fisiknya kuat seperti baja,” Bu Marni menjelaskan sambil mulai menumpuk piring kotor di meja. “Hanya saja hari ini jadwalnya sangat padat. Pasiennya banyak, ada operasi juga. Kemungkinan pulangnya sedikit larut malam nanti.”
Maya mengangguk paham, namun rasa ingin tahunya beralih pada sosok wanita di depannya. “Bi, apakah Bibi ini ‘perawat profesional’ yang dibilang Bang Yudha dan Kak Arkan?” tanya Maya polos, mengingat candaan Yudha beberapa waktu lalu.
Tawa Bu Marni pecah seketika. “Akh! Pak Dokter dan Nak Yudha itu memang suka sekali melebih-lebihkan nama panggilan buat Bibi. Perawat professional apaan?” ucapnya merendah.
Maya bangkit dari duduknya, tidak membiarkan Bu Marni bekerja sendirian. Ia mengangkat sisa piring kotor dan membawanya ke wastafel. “Jadi, sebenarnya Bibi bekerja sebagai apa di sini?” tanya Maya makin penasaran.
Bu Marni menoleh, matanya berkedip. “Jadi apa saja yang Dek Maya mau. Mau jadi koki bisa, jadi tukang kebun bisa, jadi teman curhat juga bisa,” sahut Bu Marni lalu tertawa lagi.
“Ih, Bibi bisa aja bercandanya,” ucap Maya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Maya terlihat sangat rileks.
Bu Marni tertegun sejenak melihat binar di mata Maya. Ia memperhatikan bagaimana jemari lentik gadis itu dengan telaten membantu mengeringkan piring yang baru dicuci.
“Ternyata gadis muda ini tidak sependiam yang aku dengar,” batin Bu Marni. “Apa mungkin dia menjadi tertutup karena ada luka di masa lalunya? Kalau benar begitu, dia butuh ruang untuk bicara. Dia punya kreativitas dan kehangatan yang terpendam.”
Sambil membilas piring terakhir, Bu Marni memantapkan niatnya. “Pak Dokter. Beliau harus tahu kalau Maya mulai membuka dirinya. Ini kemajuan besar.”
“Bi, aku ke atas dulu ya. Mau mengerjakan tugas sambil menjaga Leon,” pamit Maya setelah selesai membantu Bu Marni.
“Oh, silakan. Belajar yang giat ya, jangan menyerah demi masa depan yang cerah!” sahut Bu Marni semangat sambil memberikan dua jempol.
Maya membalasnya dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan. Namun, baru saja kaki Maya hendak menapak anak tangga pertama, suara bel pintu rumah berbunyi nyaring.
Ting tong!
“Bi, apakah itu Kak Arkan?” tanya Maya dengan mata berbinar senang.
“Coba lihat, mungkin saja pekerjaannya selesai lebih awal,” sahut Bu Marni, tangannya mengayun seolah memberi isyarat agar Maya yang membukakan pintu.
Bu Marni memperhatikan punggung Maya yang berlari kecil menuju pintu utama. “Ternyata gadis yang dulu menjalani kehidupan suram dan dipaksa dewasa ini, hanyalah gadis kecil yang butuh perhatian,” batinnya.
***
“Kak Arkan!” sambut Maya sambil menarik pintu lebar-lebar.
Senyum Maya meredup perlahan. Di hadapannya, bukan sosok dokter berwajah hangat yang ia temukan, melainkan Dina yang berdiri angkuh bersama gengnya.
“Hai, Maya,” sapa Azuza dengan nada yang dibuat ramah.
Maya hanya membalas dengan senyum kaku, tangannya mencengkeram gagang pintu.
“Ternyata benar kata Bu Siska dan pemilik Yayasan, kamu memang anak asuh Pak Dokter Arkan,” ucap Dina sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu dengan tatap mencaritahu.
“Malam-malam begini, ada urusan apa?” tanya Maya, tetap berdiri kokoh di ambang pintu, tidak berniat mempersilakan mereka masuk.
“Dek Maya, temannya kok ndak disuruh masuk?” tegur Bu Marni yang muncul dari arah dapur.
Maya melirik Bu Marni sekilas, lalu beralih pada Dina yang sedang memutar-mutar kunci mobil di jarinya. “Silakan masuk,” ucap Maya terpaksa sambil memberi ruang.
“Kedatangan kami kemari bukan untuk bertamu, melainkan ingin mengundangmu ke pesta besar malam ini di hotel milikku, Hotel Din’s,” ujar Dina tanpa basa-basi.
“Maaf, aku tidak bisa. Ini malam sekolah,” tolak Maya cepat.
Azuza melangkah maju, memegang kedua tangan Maya dengan akrab. “May, ayolah! Bukan cuma kami di sana. Fadli dan murid lainnya juga datang. Jarang-jarang Dina mengundang kita menikmati hotel mewah yang baru saja dibuka itu.”
“Benar! Kamu tahu kan Hotel SNOW WHITE? Itu punya Papanya, tapi Hotel Din’s ini benar-benar milik Dina sendiri,” tambah Fransiska dengan nada pamer.
Bu Marni yang mendengar itu merasa kasihan pada Maya yang terus mengurung diri. Ia mendekat dan berbisik di telinga Maya, “Sudah, pergilah bersenang-senang. Nikmati masa mudamu, Dek Maya.”
“Tapi Bi, Kak Arkan belum pulang. Aku juga tidak ponsel untuk menghubunginya,” Maya berbisik cemas.
“Tenang saja, nanti Bibi yang bilang pada Pak Dokter. Pergilah,” Bu Marni meyakinkan.
Maya menghela napas panjang, menatap wajah-wajah di depannya satu per satu, terutama wajah Dina yang tampak ketus dan tidak sabaran. Perasaannya tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang perkataan mereka.
“Maaf, aku tetap tidak bisa. Kalian silakan pulang saja,” ucap Maya tegas, mengabaikan dorongan Bu Marni.
Azuza dan yang lainnya saling melirik, terkejut dengan penolakan keras Maya. Dina mendengus dingin, lalu berbalik badan dengan gerakan cepat.
“Baiklah. Tapi malam Minggu nanti, kau harus datang. Jangan ada alasan lagi,” ucap Dina ketus tanpa menoleh. Ia melambaikan tangan, memberi kode pada gengnya untuk segera pergi.
Mobil dikendarai Dina dan gengnya pergi meninggalkan halaman itu. Beberapa menit kemudian, mobil milik Arkan memasuki pagar rumah. Maya masih berdiri mematung di ambang pintu, berulang kali menenangkan diri dan merapikan rambut panjangnya.
Arkan kini turun dari mobil, wajahnya tampak letih namun tetap berwibawa. Hati Maya berdegup semakin kencang saat melihat Arkan menyerahkan kunci mobil kepada Pak Teddy untuk dipindahkan ke dalam garasi.
Arkan menaiki anak tangga satu per satu, melepaskan kancing teratas kemeja putihnya yang sudah agak kusut setelah seharian berada di rumah sakit.
“Sudah malam, kenapa masih menunggu di sini?” tanya Arkan. Suaranya berat, namun ada nada perhatian di dalamnya. Ia berdiri tepat di hadapan Maya, menyisakan jarak yang cukup dekat hingga Maya bisa mencium aroma samar antiseptik bercampur parfum yang menenangkan.
“Anu, bukannya Bibi lancang Pak Dokter,” sela Bu Marni yang muncul dari balik punggung Maya. “Tapi tadi ada teman-temannya Dek Maya datang, mereka ingin mengajak Dek Maya pergi ke Hotel Din’s.”
Arkan mengalihkan pandangannya dari Bu Marni kembali ke arah Maya. “Jadi, kenapa tidak pergi?”
Maya menunduk, jemarinya saling bertautan dengan gugup di depan tubuhnya. “Karena… tidak ingin. Ini malam sekolah, takutnya besok mengganggu aktivitas belajar di sekolah,” sahutnya pelan.
“Hem, bagus.” Arkan mengangguk singkat, tanda ia menyetujui prinsip gadis itu. Ia kemudian merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak ramping. “Oh ya, ini ponsel untuk kamu.”
Mata Maya membelalak saat melihat tulisan di kotak itu, iPhone 17 Pro Max.
“Kak, i-ini bu-bukannya ini ponsel yang sangat mahal itu?” tanya Maya dengan suara bergetar karena gugup.
“Sudah, kamu pakai saja. Agar aku gampang menghubungi kalau ada apa-apa dengan Leon, atau ingin menanyakan kabarmu,” ucap Arkan santai, seolah barang mewah itu hanyalah benda biasa.
Maya terdiam, menatap kotak di tangannya dengan perasaan campur aduk.
“Kenapa Kak Arkan begitu baik?” gumamnya dalam hati. “Padahal aku hanya memberikan ASI-ku yang seharusnya terbuang sia-sia untuk putranya, tapi dia memperlakukanku sangat terhormat. Berbeda jauh dengan orang-orang di masa laluku yang hanya memandangku dengan sebelah mata dan sebuah alat.”
Melihat Maya yang hanya melamun, Arkan mengulas senyum tipis yang jarang ia tunjukkan kepada orang.
“Jangan cuma dipandangi. Ponsel ini sudah siap pakai, nomorku juga sudah ada di sana. Selebihnya kamu isi sendiri, ya,” ucap Arkan. Secara spontan, ia meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Maya, mengacak rambut gadis itu dengan lembut.
“Sudah sangat malam, sebaiknya masuk. Jangan di luar,” lanjut Arkan. Ia kemudian melangkah melewati Maya.
Maya masih berdiri di sana, memegang kotak ponsel itu di dadanya. Sentuhan tangan Arkan di kepalanya terasa hangat, sebuah rasa yang selama ini tidak pernah ia rasakan di dunia luar yang kejam.
Maya berbalik dan berlari kecil, mengejar Arkan yang sudah hampir mencapai tangga.
“Terima kasih, Kak!” serunya dari belakang.
Langkah kaki Arkan terhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia hanya menarik garis senyum tipis di wajahnya yang lelah, lalu kembali melanjutkan langkah.
Maya segera menyamakan langkahnya, kaki-kaki mungilnya bergerak cepat untuk mengimbangi langkah tegap dan besar Arkan yang mulai menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua.
“Kakak pasti lelah setelah seharian bekerja,” ucap Maya tulus, matanya menatap Arkan dengan rasa kagum.
“Tidak ada kata lelah untuk membantu orang, May. Itu sudah menjadi sumpahku sebagai dokter,” sahut Arkan datar namun tetap terdengar lembut.
“Apakah…apakah Kakak ingin aku urut? Biasanya kalau orang lelah, minta diurut untuk merilekskan tubuhnya,” tawar Maya polos. Suaranya murni ingin membantu, tanpa ada maksud lain.
Namun, langkah Arkan mendadak berhenti tepat di borders lantai dua. Ia memutar tubuhnya, melirik Maya dengan tatapan yang sangat tajam dan dalam. Tatapannya itu begitu intens, seolah sedang membedah pikiran Maya, hingga membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
“Ma-maafkan aku, Kak. Maafkan kebiasanku yang tidak sopan,” ucap Maya panik, kepalanya langsung tertunduk dalam karena takut telah menyinggung pria di hadapannya.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia terus menatap Maya yang kini tampak gemetar. “Sepertinya aku harus mendekatkan diri lebih dalam untuk membongkar masa lalunya. Kebiasaan mengurut? Siapa yang biasanya dia urut di masa lalu hingga dia menawarkan hal itu begitu saja?” gumam Arkan dalam hati.
“Boleh,” jawab Arkan akhirnya, membuat Maya mendongak kaget. “Kebetulan minyak pijat dari almarhumah Lily yang baru dipesan sebelum dia pergi belum pernah dipakai. Sayang kalau hanya disimpan.”
Mendengar itu, wajah Maya kembali cerah. Ia merasa lega karena tawarannya tidak ditolak mentah-mentah.
“Sekarang kamu istirahat dulu di kamar. Kerjakan tugas sekolah bila ada. Nanti setelah aku selesai membersihkan diri, kamu datang ke kamarku,” perintah Arkan.
Maya mengangguk semangat. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah ringan, bersenandung kecil seperti gadis muda pada umumnya yang sedang bahagia.
Tatapan hangat Arkan yang baru saja mengantar kepergian Maya seketika mendingin saat merasakan getaran di saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya, dan sebuah pesan singkat di layar membuat rahangnya mengeras.
📩“Apakah Maya di rumah?”
Arkan menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang tiba-tiba naik ke ubun-ubunnya. Tangannya kini gemetar saat mengetik balasan.
📨“Iya.”
📩“Syukurlah.”
📨“Kenapa?”
📩“Rahasia.”
Melihat satu kata itu, Arkan mencengkeram ponselnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Ia tahu betul siapa Zavier.
“Baji*ngan itu, apa yang dia rencanakan?” batin Arkan geram.
Ia teringat betapa liciknya Zavier dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika Zavier mulai menanyakan keberadaan Maya, itu berarti gadis itu sudah masuk ke dalam radar pengawasannya. Arkan menoleh ke arah koridor menuju kamar Maya, lalu ke ranjang tempat Leon sedang tertidur lelap.
“Aku akan menjagamu.”
...❌ Bersambung ❌...
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....