Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
He Doesn't Notice
Mata Sena melebar, tak percaya Andy berdiri di hadapannya dengan sosoknya yang berubah drastis. Tampak begitu menawan, beribu kali lipat lebih keren daripada bocah ingusan yang datang dari ingatan masa kecilnya.
Tampaknya, Andy menyadari itu dan menganggap reaksi Sena cukup lucu. Ia tersenyum ramah, barangkali menganggap Sena adalah satu dari sekian banyak fans fanatiknya. Andy tidak terlihat mengenali Sena, karena ia langsung menyebutkan pesanannya tanpa mengatakan hal lain.
"Halo, saya mau pesan 3 iced americano."
Sena mengangguk lambat-lambat, tidak sanggup berkata-kata. Apakah Andy benar-benar tidak mengenalinya? Sejak ia memperlakukan Sena sama seperti barista-barista lain pada umumnya, sepertinya Andy memang tidak mengenalinya. Damn, Sena membatin. Dia pasti berpikir aku terlalu terkejut karena dia adalah seorang idol.
Butuh waktu beberapa lama sampai Sena mendapatkan kembali kesadarannya, mengingat siapa dia dan apa yang seharusnya ia lakukan sekarang.
"Anda ingin memesannya untuk take away?"
"Ya, tolong." Andy menjawab cepat, menyurukkan kartunya yang segera dikembalikan setelah Sena selesai memproses pembayaran. Dia berterima kasih dan pergi ke salah satu meja untuk menunggu, selagi Sena membuatkan pesanannya.
Dengan punggungnya membelakangi counter, Sena menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Andy betulan ada di sana, di coffee shop tempatnya bekerja. Rasanya aneh ketika akhirnya bisa bertemu kembali dengan pria itu setelah bertahun-tahun lamanya. Terakhir kali bertemu, Andy hanya seorang bocah ingusan yang sedang beranjak melewati masa pubertas.
Sekarang, Andy berubah menjadi pria dewasa yang tampan. Hal itu membuat Sena sadar bahwa mereka telah melewatkan banyak momen penting di hidup satu sama lain. Momen di mana mereka menjalani kehidupan dewasa dengan style, taste, dan personality yang berbeda.
Sena cepat-cepat menyelesaikan 3 cup Iced Americano dan mengisyaratkan kepada Andy bahwa pesanannya telah siap. Andy mendekat setengah berlari, mengambil pesanan dari atas counter dan berterima kasih. Sena membalasnya dengan ramah, mengucapkan selamat tinggal sebagaimana selalu dikatakan kepada para pelanggan. Dia menunggu sampai Andy menghilang dari pandangan, barulah berbalik menjauhi counter.
Masuklah Sena ke area belakang, menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Tangannya merambat naik memegangi dada, merasakan detak jantungnya yang jauh lebih cepat daripada seharusnya. Matanya terpejam dan Sena mulai bernapas perlahan, seiring dengan memori masa kecil yang kembali berkelebat dalam benaknya.
Kala itu umurnya 9 tahun, di mana keluarganya dan keluarga Andy berlibur bersama ke Los Angeles, menghabiskan waktu di kota besar Amerika yang terkenal dengan garis pantai berwarna keemasan itu. Mereka tinggal selama dua minggu dan menikmati banyak hal.
Selanjutnya, Sena teringat soal panggung musikal pertama mereka di sekolah menengah pertama. Saat itu Andy sangat gugup sampai bersembunyi di kamar mandi. Sena menjadi orang pertama yang berhasil menemukan dan menenangkannya, mengatakan bahwa Andy akan melakukan yang terbaik—karena dia memang selalu begitu—dan Sena akan terus mendukung dari belakang panggung.
Dia teringat soal kunjungan mereka ke peternakan kakeknya, di mana mereka bermain dan memeluk para hewan, serta membantu pekerjaan-pekerjaan kecil di peternakan. Hari-hari itu membuat mereka berakhir dengan tubuh yang kotor, dari kepala sampai ujung jari kaki. Tetapi senyum mereka merekah sampai ke telinga.
Sena juga teringat hari di mana Andy meninggalkan Kanada untuk terbang ke Korea. Air matanya bercucuran hari itu. Dia bahkan masih ingat dengan jelas hangat sekaligus sedihnya pelukan terakhir Andy, sebelum ia dan ibunya pergi ke bandara, meninggalkan Sena sendirian dengan patah hatinya yang mendalam. Untuk pertama kalinya selama ia hidup, Sena benar-benar merasa sendirian.
Tidak adanya Andy di sampingnya membuat Sena merasa seperti ia melupakan sesuatu yang begitu penting. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.
Selama bertahun-tahun, Sena berdedikasi untuk terjun ke dunia K-Pop sambil menunggu hari dimana Andy akhirnya debut. Dan di 2018, Sena melihat Andy Kim yang dikenalnya sebagai teman masa kecil, berubah menjadi Andy Kim yang dikenal semua orang sebagai seorang idol ketika ia akhirnya debut di sebuah boy group, Elements. Sena dibuat terpukau dengan kemampuan dance dan rap yang Andy tunjukkan. Dia merasa bangga.
Bertahun-tahun selanjutnya, Sena selalu rajin mengikuti jadwal Elements. Dia tidak pernah melewatkan satu pun comeback dan penampilan on air di mana ia bisa melihat sisi keren seorang Andy Kim yang dia banggakan. Seiring waktu, Andy semakin bersinar sampai membuat Sena sesekali mempertanyakan kembali realitas di depan matanya; apakah pria keren di televisi itu, adalah orang yang sama dengan bocah ingusan di masa kecilku?
Menyaksikan Andy tampil di beberapa venue besar di seluruh dunia, membuat Sena merasa terharu. Sebab kehidupan seperti itu terlihat sangat cocok dengan Andy. Ikut audisi global hari itu ternyata memang adalah keputusan yang tepat. Andy tampak lebih hidup ketika berada di atas panggung. Bersama para member Elements yang lain, ia tampak seperti berada di rumah.
Tidak bisa mengontak Andy secara pribadi, tidak lagi menjadi masalah bagi Sena sejak saat itu. Baginya, cukup melihat teman baiknya bersinar dari kejauhan. Ia mengerti kehidupan mereka sudah berbeda sekarang. Sena paham betul, ia tidak lagi bisa menjadi bagian dari kehidupan seorang Andy Kim yang dia kenal di masa lalu.
Sebenarnya, ada waktu di mana Andy kembali ke Vancouver dalam sebuah tur beberapa tahun setelah Elements debut. Di sana, di sela waktu kosongnya, Andy pergi menemui beberapa teman dekat. Tapi sayangnya, Sena sudah tidak ada di sana. Ketika itu Sena sudah berada di Seoul, sudah pula mengganti nomor telepon karena satu dan lain hal. Maka kesempatan untuk bertemu kembali, terlewat begitu saja. Padahal jika mereka bisa bertemu kala itu, Sena ingin sekali mengatakan pada langsung pada Andy bahwa dia sangat bangga.
Setelah melewatkan kesempatan itu, Sena merasa mungkin memang sudah bukan waktunya lagi bagi mereka untuk kembali menjalin hubungan. Maka ia melanjutkan hidupnya dengan penerimaan penuh, bahwa memang ada hal-hal yang tidak lagi bisa dikembalikan keadaannya seperti dahulu kala.
Sebab dirinya sudah membiasakan diri untuk tidak menuntut kontak apa pun dengan Andy, bertemu kembali dengan pria itu secara random seperti hari ini ternyata malah membuatnya begitu syok. Kejadiannya begitu cepat, dan berhasil membuat pikiran Sena menjadi kacau. Dia tidak pernah membayangkan bahwa jika ada satu masa untuk mereka bertemu kembali, kejadiannya akan seperti ini.
Jadi, di sinilah Sena sekarang, di bagian belakang store, berusaha memproses apa yang sedang terjadi. Rasanya konyol saat Sena mendapati Andy tidak dapat mengenalinya. Well, itu masuk akal sebetulnya. Karena hanya Sena yang melihat Andy tumbuh dari remaja menjadi pria dewasa, sedangkan temannya itu tidak melihat bagaimana Sena tumbuh menjadi wanita dewasa seperti sekarang. Hanya saja, rasanya tetap menggelitik. Sena tidak menyangka reuni dadakan ini akan menjadi sangat mengejutkan untuknya, sementara bagi Andy, ia hanyalah seorang barista di coffee shop tempatnya membeli kopi.
Setelah mengumpulkan kembali kewarasannya dan berhasil menenangkan diri, Sena kembali ke counter dan berusaha melupakan reuni dadakan mereka beberapa waktu lalu. Ia berusaha fokus pada pekerjaannya sampai shift-nya habis.
Meski rasanya mustahil untuk bersikap biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
Bersambung....