Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami

Eps 1 Tak Pernah Bicara

Kharis membereskan kantong kresek yang tak terpakai untuk mengisi sembako itu dengan tangan gemetar, beberapa kali ia menarik napas perlahan menutupi rasa gugup yang sejak tadi menyerangnya.

Jaraknya dengan Lewi yang hanya dua meter membuat jantungnya berdetak tidak normal. Sementara laki-laki penyebab gejala aneh tubuhnya asyik dengan laptop di depannya, tidak terganggu dengan aktivitas Kharis dan dua temannya beberapa jam terakhir, padahal lumayan berisik. Lewi begitu fokus dan tentu saja tidak tahu kondisi hati gadis berkulit putih itu.

"Akhirnya selesai..."

Nivia mendudukkan tubuh lelahnya di sofa single di sudut ruangan. Membagi lima jenis sembako sejumlah tiga ratus kantong hanya bertiga cukup menguras energi.

"Khar, jumlahnya pas kan?" ujarnya memandang hamparan ratusan kantong berwarna merah.

"Iya.. Kak Hansel mana?"

Kharis bertanya sedikit melirik Lewi kuatir percakapan mereka mengganggu sang Ketua Tim Kerja Bakti Sosial yang masih setia menatap laptopnya sambil memainkan mouse di tangan kanannya. Segera ia menjauhkan diri setelah menyimpan kantong kresek di lemari tepat di belakang lelaki bertampang kalem itu.

"Lagi ke toilet, eh, itu dia..."

Nivia menunjuk ke arah pintu belakang.

Hansel masuk dan mengambil ranselnya di meja dekat Lewi...

"Bro, data penerima udah beres kan?"

"Iya.."

Lewi menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangan.

"Aku langsung pulang ya, pengen istirahat besok kerjaan kita banyak... kalian mau pulang juga?"

Hansel menatap Kharis dan Nivia, menunggu jawaban.

"Iya kak..." jawab dua gadis itu bersamaan.

"Aku bareng Kharis aja, kak. Tapi besok jemput ya..." Nivia melempar senyum termanisnya dan Hansel hanya mengangguk menyanggupi.

"Pamit bro..."

Hansel keluar tanpa menunggu jawaban diikuti Kharis yang menatap Lewi sejenak saat mengambil tasnya di sebuah kursi, berlalu tanpa kata mengejar Hansel yang sudah mencapai pintu keluar. Kharis menunggu Nivia dekat motor maticnya, entah apa yang masih dilakukannya di ruangan itu. Ia membalas lambaian tangan Hansel yang pergi dengan Brio merahnya.

Kharis menempelkan kedua telapak tangannya, "hah, mengapa setiap bertemu dia, aku selalu seperti ini", batinnya sambil menggosokkan kedua telapak tangan yang masih terasa dingin.

Kembali matanya terarah ke pintu berharap Nivia segera muncul, 15 menit sudah dia menunggu. Sebenarnya ia ingin kembali ke ruangan itu, tapi rasa enggan bertemu Lewi lagi membuat ia urungkan niatnya.

Lewi, sosok yang entah kapan sudah menjadi penghuni hatinya. Apa yang menarik, Kharis tidak mampu menjabarkan yang jelas setiap kali melihat Lewi, ada yang beda di hatinya, selalu ada gemuruh, selalu ingin memandang wajah itu.

Tinggal bertetangga di sebuah perumahan dan meskipun setahun ini sering bertemu dalam berbagai kegiatan di komunitas binaan kantor papa mereka, Kharis dan Lewi tidak pernah saling bicara.

Selama ini Kharis hanya mencuri pandang atau menatap dalam diam setiap kali Lewi memimpin rapat atau mengatur semua kegiatan mereka. Atau memandang dari balik jendela kamarnya, saat Lewi menggelinding dan memasukkan bola ke ring basket yang di tempelkan di dinding luar garasi rumah Lewi.

Nivia muncul kemudian dan segera berlari menghampiri Kharis...

"Sorry... kak Lewi minta bantuan nge-print pembagian area kerja besok."

"It's ok, ayo pulang."

Kharis naik ke motornya dan memasang helm di kepalanya, menekan tombol start engine menoleh ke belakang memastikan Nivia sudah duduk dengan benar.

"Helm dipakai bukan dipangku nona manis..."

"Siap bu driver, gak bau kan helmnya.."

Nivia mengangkat helm pink di tangannya menatap wajah Kharis di kaca spion.

"Nggaklah, baru Kharis laundry," Kharis tertawa kemudian melajukan motornya.

"Kak Lewi nggak pulang, Niv?" Kharis tiba-tiba bertanya.

"Apa???"

Nivia menepuk bahu Kharis, suara Kharis tidak bisa didengarnya dengan baik.

"Ah.. nggak," teriaknya sadar dengan helm menutup kepala plus suara kendaraan bermotor volume suaranya harus ditambah.

"Untuk apa mencari tahu, dia pulang atau tidak bukan urusanku."

Kharis fokus ke jalanan tidak ingin larut dalam lamunan tentang kakak berwajah oriental itu.

*****

Pagi di akhir minggu. Hari H kegiatan Baksos ke daerah terdampak banjir di kota ini, kegiatan yang disponsori komunitas anak-anak karyawan di kantor ini. Kharis memarkir matic-nya bersisian dengan mobil pick up hitam. Gedung satu lantai dengan beberapa ruangan ini tepat di belakang Gedung utama bertingkat tiga kantor papanya.

Ruangan yang ia tuju yang bersebelahan dengan kafetaria itu masih terlihat sepi dari luar. Kharis melirik jam di tangan kanannya, tujuh lewat sepuluh, lebih awal 50 menit dari waktu yang ditetapkan untuk berkumpul. Haha... dia terlalu cepat datang.

Pintu masuk sudah terbuka berarti sudah ada yang datang. Degg, irama jantung Kharis langsung berubah. Seraut wajah yang sangat dikenalnya, si tetangga yang belum pernah absen mengisi lamunannya sedang menatapnya.

Kharis salah tingkah, ragu memutuskan, mau terus masuk ke dalam atau... akhirnya dengan perlahan, memutus kontak dengan sosok berkaos putih itu, sama sih dengan kaos yang ia gunakan seragam saat kegiatan baksos, ia masuk dan duduk agak jauh sambil mengambil ponsel di tas. Lagi-lagi tidak ada sapaan di antara mereka.

"Pagi, hai sayang...."

Suara lembut Peggy sekretaris Tim Kerja Baksos memecah kesunyian tiga puluh menit terakhir. Peggy langsung duduk di sebelah Lewi.

"Aku bawa Nasi Kuning, pasti kamu belum sarapan."

Suara yang mendayu-dayu itu kembali terdengar di telinga Kharis.

"Terima kasih."

Lewi mengambil bungkusan yang disodorkan Peggy.

Kharis segera menundukkan kepala kembali membaca pesan wa grup yang sedang ramai. Sejak tadi sebetulnya dia tidak tenang duduk di situ berdua saja dengan Lewi dan semakin risih sekarang mendengar interaksi dua insan di depannya yang seolah tidak melihatnya, padahal mereka berdua tahu, tadi Peggy sempat melempar senyum manisnya saat matanya bersirobok dengan Kharis.

"Dia tidak pernah mengajakku bicara, tapi dengan yang lain segitu akrabnya. Apa mereka berdua pacaran ya?"

Membatin, Kharis meletakkan helm yang ada di pangkuannya di atas meja dan segera beranjak dengan rasa sesak di hatinya, ia memutuskan menunggu teman-teman yang lain di luar.

Akhirnya mobil Hansel muncul, ada Nivia, Noni dan Melva turun. Bersamaan muncul Yudha, Enrico dan Temmy dengan motor masing-masing. Kharis menghembuskan nafas lega tersenyum menyambut mereka.

"Yud, Rico... langsung dimuat aja sembakonya ya. Gerak cepat teman-teman. Kita usahakan sebelum jam 12 pembagian sudah selesai."

Suara sang Ketua Tim terdengar, ia kemudian masuk ke mobil pick up hitam dan memundurkan mobil itu supaya lebih dekat dengan ruangan tempat sembako disimpan. Dengan cekatan melompat masuk ke dalam mobil terbuka itu, siap menunggu kantong-kantong sembako untuk disusun dengan baik.

Kesibukan pun langsung terlihat, semua hilir mudik memuat sembako, kecuali Peggy yang sibuk dengan kertas-kertas yang terletak di depannya. Beberapa kali tangan Kharis bersentuhan dengan tangan Lewi ketika menyodorkan dua kantong merah di tangannya. Sial untuk Kharis, tangannya yang dingin itu mengundang senyum tipis Lewi.

"Ada apa dengan tubuhku, apa dia tahu tanganku dingin karena dia... kenapa juga dia kadang seperti lupa melepas tanganku, sengaja ya?"

Kharis nelangsa tak bisa menahan debaran di dada.

Ah pasti lebih baik setelah ini. Semangat Kharis...

.

🌤🌤🌤

Terpopuler

Comments

Ayu galih wulandari

Ayu galih wulandari

Aqu sdh melimpir ke mari kak...lanjuuut..😘😘😘

2024-03-02

0

Diana Resnawati

Diana Resnawati

mampir thor

2023-12-10

0

Sri Astuti

Sri Astuti

Kharis nama cewek jg ada kok

2023-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Eps 1 Tak Pernah Bicara
2 Eps 2 Pencipta Galau
3 Eps 3 Rela Aku Rela
4 Eps 4 Sepertinya Dia Berubah
5 Eps 5 Berawal dari 'Ce'
6 Eps 6 Ada Sensasi Apa
7 Eps 7 Jaga Hati
8 Eps 8 Biar Jelas Semuanya
9 Eps 9 Sebahagia Ini Memiliki
10 Eps 10 Sarapan Terindah
11 Eps 11. Aku Milik Kamu
12 Eps 12. Butuh Janji Kamu
13 Eps 13. Unpredictable Girl
14 Eps 14. Tidak Baik-Baik Saja
15 Eps 15. Putusin Dia
16 Eps 16 Apa yang Harus Dilakukan
17 Eps 17. Ujian Datang Terlalu Cepat
18 Eps 18. Pilihan 1
19 Eps 19. Pilihan 2
20 Eps 20 Pilihan 3
21 Eps 21 Maaf Terima Kasih
22 Eps 22 Hati Revy
23 Eps 23. Salah Paham?
24 Eps 24. Sama-sama Sedih, Tapi...
25 Eps 25 Jodoh Tidak Jauh
26 Eps 26. Ironi
27 Eps. 27. Baiklah
28 Eps 28 Belajar Semua Hal
29 Eps 29 Membayangkan Bertemu
30 Eps 30 Wisuda Bersama
31 Eps 31. Cinta yang Kembali
32 Eps 32 Waktu Berdua
33 Eps 33. Rival
34 Eps 34. Dia Selingkuh
35 Eps 35. Sebelum Dia Pergi
36 Eps 36 Komitmen
37 Eps. 37. Keyakinan
38 Eps 38. Tentang Lewi
39 Eps 39 Sibuk
40 Eps 40 Gegana Lagi
41 Eps. 41 Sekretaris
42 Eps. 42 Mami
43 Eps 43. Sekuat Rasa
44 Eps 44. Calon
45 Eps. 45 Suka-suka
46 Eps. 46 Boss, Asisten dan Sekretaris
47 Eps. 47 Welcome
48 Eps. 48. Atasan Bukan Kekasih
49 Eps. 49. Derita Boss
50 Eps 50. Anak Magang
51 Eps 51. Cemburu Kah?
52 Eps. 52. Sekretaris Aku
53 Eps. 53. Begini Rasanya
54 Eps 54. Ke Mana Aja
55 Eps. 55. Gerr...!
56 Eps. 56. Urusan Hati
57 Eps. 57. Belum Kelar
58 Eps. 58. Aku Yakin, tapi Dia??
59 Eps. 59. Complicated
60 Eps 60. Biar Pas 5
61 Eps 61 Belum Cukup umur
62 Eps. 62. Membuatnya Pantas
63 Eps 63. Show Time
64 Eps. 64. Dating
65 Eps 65. Dikalahkan Anak Magang
66 Eps. 66. Langkah Selanjutnya?
67 Eps. 67. Hubungan Kalian Serius?
68 Eps. 68. Bukan Tandingan
69 Eps. 69. Mama = Rumah
70 Eps. 70. Belum Percaya
71 Eps. 71. Kekasih Sepenuhnya
72 Eps. 72. Nggak Usah Sembuh
73 Eps. 73. Rencana Cadangan
74 Eps. 74. Melamar
75 Eps 75. Mami-Mama
76 Eps. 76. Mami-Mama 2
77 Eps. 77. Aku Kamu Kita
78 Eps 78. Ayo Menikah
79 Eps. 79. Beri Aku 2 Menit
80 Eps. 80. Gimana Rasanya
81 Eps 81. Cintanya Papa
82 Eps. 82. Menit Demi Menit
83 Eps. 83. Hak Paten
84 Eps 84. Hanya Bahagia
85 Eps 85. Menyatukan Dua Keinginan
86 Eps 86. Awal dari Sebuah Akhir...
87 Bonus Eps. Mengatur Langkah
88 Berpikir
89 Bonus Eps. Urusan Bpk. Rumah Tangga
90 Bonus Eps. Mengurus Suami
91 Bonus Eps. Mungkin
92 Bonus Eps. Aku yang Hamil, Dia yang Manja
93 Bonus Eps. Menanti
94 Bonus Eps. Menanti 2
95 Bonus Eps. Yang Dinantikan
96 Bonus Eps. Nomor Satu Siapa
97 Bonus Eps. Sebuah Nikmat untuk Papi
98 Bonus Eps. Kemasan
99 FATE OR DESTINY
100 Bonus Eps. Sayang Selamanya
101 Bonus Eps. Satu Lagi Ya...
102 My Gratitude
103 Mau Lanjut Nggak?
104 Eps. 104. Berusaha Tetap Saling Cinta
105 Eps. 105. Banyak Kebahagiaan
106 Eps. 106. Bukan Pilihan Bodoh
107 Hanya Sebuah Info Judul Baru
108 Bonus Eps. Selingan Aja...
109 Hiii Semuanya
110 Apa Ada Cinta
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Eps 1 Tak Pernah Bicara
2
Eps 2 Pencipta Galau
3
Eps 3 Rela Aku Rela
4
Eps 4 Sepertinya Dia Berubah
5
Eps 5 Berawal dari 'Ce'
6
Eps 6 Ada Sensasi Apa
7
Eps 7 Jaga Hati
8
Eps 8 Biar Jelas Semuanya
9
Eps 9 Sebahagia Ini Memiliki
10
Eps 10 Sarapan Terindah
11
Eps 11. Aku Milik Kamu
12
Eps 12. Butuh Janji Kamu
13
Eps 13. Unpredictable Girl
14
Eps 14. Tidak Baik-Baik Saja
15
Eps 15. Putusin Dia
16
Eps 16 Apa yang Harus Dilakukan
17
Eps 17. Ujian Datang Terlalu Cepat
18
Eps 18. Pilihan 1
19
Eps 19. Pilihan 2
20
Eps 20 Pilihan 3
21
Eps 21 Maaf Terima Kasih
22
Eps 22 Hati Revy
23
Eps 23. Salah Paham?
24
Eps 24. Sama-sama Sedih, Tapi...
25
Eps 25 Jodoh Tidak Jauh
26
Eps 26. Ironi
27
Eps. 27. Baiklah
28
Eps 28 Belajar Semua Hal
29
Eps 29 Membayangkan Bertemu
30
Eps 30 Wisuda Bersama
31
Eps 31. Cinta yang Kembali
32
Eps 32 Waktu Berdua
33
Eps 33. Rival
34
Eps 34. Dia Selingkuh
35
Eps 35. Sebelum Dia Pergi
36
Eps 36 Komitmen
37
Eps. 37. Keyakinan
38
Eps 38. Tentang Lewi
39
Eps 39 Sibuk
40
Eps 40 Gegana Lagi
41
Eps. 41 Sekretaris
42
Eps. 42 Mami
43
Eps 43. Sekuat Rasa
44
Eps 44. Calon
45
Eps. 45 Suka-suka
46
Eps. 46 Boss, Asisten dan Sekretaris
47
Eps. 47 Welcome
48
Eps. 48. Atasan Bukan Kekasih
49
Eps. 49. Derita Boss
50
Eps 50. Anak Magang
51
Eps 51. Cemburu Kah?
52
Eps. 52. Sekretaris Aku
53
Eps. 53. Begini Rasanya
54
Eps 54. Ke Mana Aja
55
Eps. 55. Gerr...!
56
Eps. 56. Urusan Hati
57
Eps. 57. Belum Kelar
58
Eps. 58. Aku Yakin, tapi Dia??
59
Eps. 59. Complicated
60
Eps 60. Biar Pas 5
61
Eps 61 Belum Cukup umur
62
Eps. 62. Membuatnya Pantas
63
Eps 63. Show Time
64
Eps. 64. Dating
65
Eps 65. Dikalahkan Anak Magang
66
Eps. 66. Langkah Selanjutnya?
67
Eps. 67. Hubungan Kalian Serius?
68
Eps. 68. Bukan Tandingan
69
Eps. 69. Mama = Rumah
70
Eps. 70. Belum Percaya
71
Eps. 71. Kekasih Sepenuhnya
72
Eps. 72. Nggak Usah Sembuh
73
Eps. 73. Rencana Cadangan
74
Eps. 74. Melamar
75
Eps 75. Mami-Mama
76
Eps. 76. Mami-Mama 2
77
Eps. 77. Aku Kamu Kita
78
Eps 78. Ayo Menikah
79
Eps. 79. Beri Aku 2 Menit
80
Eps. 80. Gimana Rasanya
81
Eps 81. Cintanya Papa
82
Eps. 82. Menit Demi Menit
83
Eps. 83. Hak Paten
84
Eps 84. Hanya Bahagia
85
Eps 85. Menyatukan Dua Keinginan
86
Eps 86. Awal dari Sebuah Akhir...
87
Bonus Eps. Mengatur Langkah
88
Berpikir
89
Bonus Eps. Urusan Bpk. Rumah Tangga
90
Bonus Eps. Mengurus Suami
91
Bonus Eps. Mungkin
92
Bonus Eps. Aku yang Hamil, Dia yang Manja
93
Bonus Eps. Menanti
94
Bonus Eps. Menanti 2
95
Bonus Eps. Yang Dinantikan
96
Bonus Eps. Nomor Satu Siapa
97
Bonus Eps. Sebuah Nikmat untuk Papi
98
Bonus Eps. Kemasan
99
FATE OR DESTINY
100
Bonus Eps. Sayang Selamanya
101
Bonus Eps. Satu Lagi Ya...
102
My Gratitude
103
Mau Lanjut Nggak?
104
Eps. 104. Berusaha Tetap Saling Cinta
105
Eps. 105. Banyak Kebahagiaan
106
Eps. 106. Bukan Pilihan Bodoh
107
Hanya Sebuah Info Judul Baru
108
Bonus Eps. Selingan Aja...
109
Hiii Semuanya
110
Apa Ada Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!