Naura memilih menikah muda, tetapi pernikahannya tidak bertahan lebih dari 2 tahun, ketika suaminya mengalami koma dirumah sakit, keluarga suaminya memaksa Naura untuk menanda tangani surat perceraian mereka. Setelah bercerai Naura baru mengetahui jika di sedang hamil.
Bagaimana Naura membesarkan anaknya?
Apakah mantan suaminya akan mencari anak dan istrinya?
Atau Naura akan menerima pria baru dalam hidupnya dan menjadikan pria itu papa baru dari anaknya!
Mari baca cerita ku ya teman-teman.
Terima Kasih
🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lie_lili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Evano Pengen Makan Bakso
Naura terpaksa harus menerima posisi barunya sebagai sekertaris pak Kenzie, dia juga memikirkan gaji yang lebih besar sedikit dibandingkan ketika dia menjadi admin pembukuan, Naura berpikir dia akan bisa menabung lebih banyak untuk kebutuhan yang penting-penting, yang terkadang datang secara tidak terduga.
Enggak munafik bagi Naura kalau gaji yang lebih, uang yang lebih dia butuhkan, dia saja sudah menahan apa yang ingin dia beli, sepatu usangnya saja belum dia ganti karena mendahulukan keperluan rumah dan Evano tentunya.
Tetapi disini Naura tau juga, dia akan menjadi bahan guncingan sesama teman kantornya karena dia bisa menjadi sekertaris begitu cepat, padahal belum ada satu tahun bekerja, hanya Naura mengambil pikiran positif saja, menutup telingganya, jika sudah mendengar dia akan lewatkan dari telingga kanan ke kiri, atau pun sebaliknya dari kiri ke kanan, menutup mata dan mulutnya untuk membalas orang lain. Bekerja jujur saja itu yang dia pikirkan, agar gaji yang dia dapat itu hal untuk dia dan keluarganya, tentunya juga untuk Evano.
Naura saja sudah menjaga status dia dengan Yuno yang adalah teman masa sekolah, agar yang lainnya tidak iri dan Naura dapat bekerja seprofesional mungkin. Tidak mau mengandalkan nama atas teman, jika itu terjadi bagi Naura itu bukan hasil kerja sendiri.
Saat ini hanya Serli yang mengetahui jika Naura menjadi sekertaris pribadi pak Kenzie yang lainnya belum tau.
"Yaaahhh, Naura kau meninggalkan ku disini sendirian lagi!" keluh Serli yang telah mendengar cerita Naura.
"Bukan mau ku Ser, hanya saja aku melihat dari gaji ya naik, ini sangat aku butuhkan untuk keluarga ku!"
"Iya Naura, aku ngerti itu, aku sangat mendukung mu!"
"Aku takut akan menjadi celaan teman-teman, pasti pikiran mereka kesana sini mengenai ku"
"Itu pasti" jawab Serli.
"Tapi aku tau kamu pasti tidak akan memusingkan itu!" ucap Serli.
"Iya Ser, yang penting aku kerja dapat gaji sudah deh!" jawab Naura girang.
Setelah selesai percakapannya mereka pun melanjutkan pekerjaannya, posisi Naura yang terbaru besok baru dilaksanakan.
Sebenarnya, Naura tidak tenang didalam hatinya, dia berusaha bersikap tenang seperti tidak ada apa-apa saja.
*****
Dirumah Naura.
Saat ini sudah memasuki waktu pergantian dari pagi, siang ke malam, dimana lingkungan akan menjadi sunyi, langit menjadi gelap, hanya akan terdengar jangkrik, kodok bernyanyi atau pun beberapa kendaraan berlalu lalang.
Naura mempersiapkan makan malamnya yang hanya telur ceplok alias telur mata sapi.
Mama Ayu juga sudah berada dimeja makan, dia sedang meneguk setengah gelas air putih sebelum makan, agar penyakit lambungnya tidak kambuh, sakit maag.
Evano pun sudah berada dimeja makan, dia melihat makanan sepertinya tidak ingin makan, dia tidak berselera hanya diam saja dimeja makan sambil terus menatap telur ceploknya tanpa mengatakan apa-apa.
"Cucu nenek kenapa?" tanya mama Ayu kepada Evano, sang cucu kesayangannya.
"Enggak nek!" Sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu demam kah nak!" Naura mendekat ke arah Evano lalu menyentuh dahi anaknya.
"Tidak panas!" terang Naura setelah menyentuh dahi Evano, Naura mengira anaknya demam karena hanya diam saja, tanpa lusuh tidak seperti biasanya.
"Lalu Evano kenapa lah dek!" tanya mama Ayu ke Naura.
"Enggak tau ma" jawab Naura mengangkat bahunya, kemudian duduk di kursi, meja makan mereka mempunyai bentuk bulat yang tidak lah lebar.
"Ayo makan" ajak Naura yang memang hanya menggorengkan telur untuk makan malam mereka.
Mama Ayu sudah lebih dulu mengambil sendok nasi menyendoknya ke piring dia sendiri. Evano masih saja terlihat diam.
"Kenapa masih diam saja nak!" tanya Naura.
"Ma" panggil Evano pelan.
"Hm, kenapa?" tanya Naura tanpa menoleh ke Evano, karena dia sedang menghancurkan nasi yang bergumpal didalam piringnya.
"Ma" Evano masih sangat ragu mengucapkan kalimat selanjutnya dia.
"Ada apa sih sayang! Katakan saja!" perintah mama Ayu, sang nenek yang selalu lembut kepada Evano.
"Begini nek!"
"Aku ingin makan bakso malam ini boleh tidak!" Sebenarnya sedari tadi Evano memikirkan cara untuk membicarakan, jika dia ingin makan bakso.
Evano takut mamanya akan tersinggung jika dia tidak ingin makan telur goreng malam ini, dia juga berpikir apakah mamanya sudah gajian, apakah mamanya sudah memiliki uang lebih, karena Evano tau jika mamanya tidak memegang banyak uang jika belum gajian.
"Aduh sayang" ucap Naura kepada Evano sambil berdiri mendekat ke Evano, membelai rambut dikepala Evano.
"Kamu ingin makan bakso toh!" ucap Naura, Evano melihat kearah mamanya.
Evano mengangguk dalam diam, sedikit menunduk karena takut mamanya akan sedikit marah.
"Kayak orang ngidam saja kamu!" ucap Naura gemas kepada anaknya.
"Jika kamu ingin makan apa, bilang saja sama mama ya!"
"Iya sayang jangan takut begitu" terang mama Ayu kepada Evano.
"Mama kerja buat kamu, jika ada uang mama pasti buat kamu, kamu jangan takut mam akan marah jika kamu meminta makanan lain saat ini!" Bagi Naura dia bekerja untuk keluarganya dan Evano, tentu jika Evano meminta sesuatu yang bisa dia penuhin maka akan segera dia penuhi, apalagi soal makanan, di waktu kecil memang tidak banyak mereka bisa beli diluar karena keterbatasan keuangan.
"Saat ini mama enggak masak lebih, karena stok sayur kita habis" terang Naura.
"Kamu juga lagi tidak selera makan ya!"
Evano hanya menganggukkan kepalanya dan sang nenek tersenyum melihat tingkah polos sang cucu.
"Ya sudah, ayo kita pergi makan diluar" ajak Naura.
Bagi keluarga kecil Naura ini pertama kalinya semenjak Naura bekerja.
"Iya enggak nek, kita makan diluar sekarang!" ajak Naura ke mama Ayu.
"Lalu ma, gimana dengan nasi dan telur ceploknya, sayang!" Evano masih sangat memikirkan makanan ini.
"Tenang, itu bisa simpan saja jadi besok pagi mama tidak perlu repot-repot masak nasi lagi dan buat sayur" ucap Naura sambil tersenyum.
"Itu nasi besok mama jadikan nasi goreng dan telurnya disambal saja, ok kan!" seru Naura.
"Ok ma!" jawab Evano girang.
Mama Ayu pun meninggalkan nasi yang sudah diambil ke piringnya begitu juga dengan Naura, mereka menutupnya dengan tudung saji yang tersedia selalu dimeja makan mereka.
Evano terlihat berlari kecil menuju motor mamanya yang terparkir diteras, mama Ayu sudah mengambil jaket dan memakainya karena dia tidak suka angin malam.
Naura sangat bahagia jika melihat Evano yang sedang berbahagia seperti ini.
Hal kecil saja sudah sangat membahagiakan bagi mereka.
*****
Lima belas menit perjalanan, mereka yang berada dalam satu motor, dengan posisi Evano didepan telah sampai disebuah gerobak bakso yang terparkir disebuah pohon besar yang rindang berada di tepi jalan, kira-kira 2 meter dari jalan besarnya.
Disana tersedia beberapa kursi dan meja lipat serta tenda hijau terbentang untuk melindungi dari hujan, panas atau pun dari daun-daun yang jatuh.
Evano memesan bakso dengan porsi lengkap, begitu juga dengan Naura dan mama Ayu.
Evano sangat menyukai jika didalam bakso terdapat banyak sayuran hijaunya, seperti daun sawi.
Mereka bertiga makan dengan sangat bahagia, apalagi dengan Evano karena keinginan makannya tercapai.
Naura melihat senyum dan wajah ceria Evano merasa sangat tenang dihatinya.
🤔🤔
👍❤
sambil marathon