NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Academy Sihir Magica

Pepohonan tua perlahan menipis, digantikan jalan batu yang tersusun rapi. Kabut yang menggantung sejak pagi memudar, melangkah lebih jauh dari biasanya. Udara berubah lebih ringan, bersih, namun dipenuhi jejak sihir yang dikendalikan.

“Batas wilayah ini. ” ucap Grack sambil melangkah lebih dulu. “Vallheart tidak suka disentuh aturan.”

Raksha merasakan hal yang sama. Di balik tanah yang mereka pijak, terukir lapisan formasi sihir pertahanan mantra pasif yang menstabilkan aliran mana dan menekan kutukan tingkat rendah.

Mereka tiba di kerajaan cukup besar, dipenuhi sihir, menakjubkan.

Kerajaan Magicia.

Sebuah negeri yang dibangun bukan hanya dengan pengorbanan dan darah, melainkan dengan kekuatan dan kontrak sihir.

Mereka berjalan menyusuri jalan utama. Sesekali kereta sihir melintas, roda-rodanya tidak menyentuh tanah sepenuhnya, melayang tipis di atas permukaan. Pedagang membawa artefak kecil dalam kotak bersegel, sementara penjaga kerajaan mengenakan zirah ringan dengan rune bersinar lembut.

Lein menunduk sedikit, menyembunyikan matanya.

Terlalu banyak mata.

Terlalu banyak penyihir.

Setiap orang di sini, bahkan anak kecil yang berlarian di pinggir jalan, memiliki jejak mana di tubuhnya. Tidak kuat, namun stabil. Terlatih sejak dini.

“Magicia adalah satu-satunya kerajaan yang menjadikan sihir sebagai fondasi hukum” kata Grack, seolah membaca keheningannya. “Setiap warga terdaftar. Setiap aliran mana dicatat”

Raksha menahan dengusan.

Neraka bagi penyihir terkutuk sepertinya.

“Academy Magica berada di ibu kota Astra Valen” lanjut Grack. “Kita masih dua hari perjalanan untuk sampai ke Academy.”

Dua hari.

Racun Grimroot sudah hampir lenyap, namun tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya. Ia harus berhati-hati, setiap penggunaan sihir akan meninggalkan jejak.

Malam pertama mereka habiskan di penginapan kecil di desa perbatasan. Dindingnya bersih, lantainya hangat oleh sihir pemanas dasar. Terasa nyaman.

Lein duduk di tepi ranjang, menatap telapak tangan mulusnya sendiri.

Ini bukan tubuhnya.

Pikiran itu kembali muncul, menusuknya tanpa ampun.

“Lein.”

Suara Grack terdengar dari pintu.

“Aku akan memasang segel privasi ringan” katanya. “Hanya untuk keamanan saja.”

Lein mengangguk kecil.

Saat segel itu aktif, udara di ruangan bergetar halus, cukup untuk menghalangi pendengaran sihir tingkat rendah. Cukup cerdas. Penuh hati-hati.

“Kamu sepertinya gadis penyihir yang misterius.” kata Grack tiba-tiba. Dia tidak menuduh, hanya menyatakan.

Lein menatapnya balik. “Kau mungkin bukan murid biasa.”

Grack tersenyum kecil. “Mungkin”

Keheningan kembali.

Keesokan harinya, Astra Valen mulai terlihat di kejauhan.

Menara-menara kristal menjulang ke langit, memantulkan cahaya matahari menjadi warna biru dan keemasan. Lingkaran sihir raksasa mengambang di atas ibu kota, formasi pertahanan kuno yang terus berputar perlahan.

Dan di pusatnya.

Academy Magica.

Bangunan raksasa berbentuk spiral bertingkat, seolah dipahat dari batu zamrud maupun cahaya. Rune-rune kuno terukir di setiap sisinya, berdenyut lembut.

“Begitu melewati gerbang kota” kata Grack pelan, “Sihirmu akan dipindai. Tidak menyakitkan, tapi... ”

“Akan membaca aliran mana” potong Lein.

Grack mengangguk. “Ya.”

Raksha menghela napas perlahan.

Untuk masuk ke sarang ini, dia harus menahan diri.

Gerbang Astra Valen terbuka perlahan.

Mereka berdua berjalan memasuki Academy, melewati taman indah yang ditumbuhi bunga bermekaran.

Sesaat Lein berhenti, dia memandang indah taman itu... berharap sedikit melupakan masalahnya.

Setelah itu Lein mengikuti Grack menuju aula pemeriksaan Academy untuk menguji batas sihirnya.

Aula pemeriksaan Academy Magica tampak sunyi.

Lingkaran sihir berlapis tujuh menyala di lantai marmer putih, masing-masing rune berdenyut perlahan seperti denyut nadi. Di sekelilingnya berdiri para penyihir senior, jubah mereka berwarna hitam kebiruan, wajah-wajah yang telah mengabdi puluhan tahun pada Academy.

Lein berdiri di tengah lingkaran.

Raksha merasakan tekanan itu, bukan ancaman, melainkan pembacaan. Mantra pemeriksaan merayapi kulit tipisnya, menyusuri aliran mana miliknya, memetakan kapasitas, stabilitas, dan afinitas unsur.

Ia seperti menyembunyikan lautan di balik setetes air.

“Aliran mana kecil” ucap salah satu penyihir, seorang wanita berambut putih dengan mata keperakan. “Namun stabil.”

“Tidak ada fluktuasi sihir jahat padanya” tambah yang lain. “Menarik. Tubuhnya lemah, tapi tidak rusak.”

Raksha menahan senyum.

Kutukannya bukan aktif. Kutukan itu adalah dirinya sendiri.

“Afinitasnya, sulit ditentukan” gumam seorang pria tua sambil mengusap janggutnya. “Gadis itu seperti kabut. Tidak condong ke elemen manapun.”

“Dia tipe penyihir pendukung, mungkin” simpul wanita berambut putih itu. “Atau dia spesialis mantra kecil.”

Keputusan telah diambil cepat.

“Roselein Tescarossa.” suara ketua pemeriksa menggema. “Kau dinyatakan lulus pemeriksaan dasar. Academy Magica akan menerimamu sebagai murid tingkat awal.”

Segel cahaya turun perlahan, menandai keputusan itu.

Lein menunduk hormat.

“Terima kasih.”

Grack, yang berdiri di sisi aula, menghela napas lega.

Hari-hari pertama di Academy Magica berjalan sunyi.

Lein ditempatkan di asrama sayap timur, bersama murid-murid lain yang memiliki kapasitas mana rendah hingga menengah. Kamar sederhana, ranjang, meja belajar, rak buku. Namun dindingnya dilapisi segel pelindung berlapis, membuat tidur menjadi terlalu nyenyak.

Kelas-kelas awal dipenuhi teori dasar:

struktur mana, sejarah kerajaan Magicia, dan etika penggunaan sihir. Lein duduk di barisan tengah, mencatat seperlunya, menundukkan kepala, berperan sempurna sebagai gadis biasa.

Namun mata Raksha tidak pernah diam.

Perpustakaan Academy adalah lautan pengetahuan. Raksha menghabiskan sore di sana, menyusuri rak demi rak, bukan buku pemula, melainkan katalog lama, arsip ritual, dan catatan sihir kuno yang jarang disentuh banyak orang.

Ia mencari satu hal.

Kutukan pemindahan jiwa.

Namun informasi itu tidak berada di rak terbuka.

“Buku-buku tingkat tinggi hanya bisa diakses dengan izin” kata pustakawan, seorang pria bermata satu yang jelas bukan manusia biasa. “Dan kau terlalu muda untuk mengetahuinya.”

Lein tersenyum sopan.

“Aku mengerti, pak.”

Namun malam hari, ketika lampu kristal diredupkan dan asrama tenggelam dalam keheningan, Raksha duduk di meja belajarnya, menatap peta Academy yang ia salin diam-diam.

Ada satu tempat yang menarik perhatiannya sejak awal.

Arsip Tertutup.

Area yang bahkan murid tingkat menengah jarang dekati. Dijaga bukan oleh penjaga, melainkan oleh sihir yang berpikir sendiri.

“Jika penyihir kuno pernah meninggalkan jejak disini” bisiknya, “tempat itu pasti menyimpannya.”

Di kejauhan, lonceng malam berdentang.

Di aula dosen, seorang penyihir senior menatap laporan pemeriksaan Lein sekali lagi. Alisnya berkerut.

“Stabilitasnya terlalu sempurna,” gumamnya.

Namun ia menggelengkan kepala, menutup berkas itu.

“Tidak, Dia hanya gadis lugu, mana mungkin sihirnya bisa semenarik itu.”

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!