Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Canna membuka matanya saat ada tangan yang menyentuh pipinya berulang kali. Berusaha mengumpulkan nyawanya saat ia belum sadar sepenuhnya. Mengerjapkan matanya berulang kali saat melihat bayangan wajah Delano yang begitu dekat dengannya.
"Makanlah bubur ini, sebelum benar-benar dingin!" ucap Delano dengan semangkok bubur di tangannya.
"Emm Delano! Apa yang kamu lakukan disini?" sahut Canna canggung, melihat jarak antara dirinya dan Delano yang terlalu dekat.
"Aku hanya ingin memberimu makan malam. Apakah kamu pikir sekarang pagi hari?" Delano menjauhkan wajahnya dari wajah Canna.
"Eh!" Canna menatap kearah jendela kamarnya, memperhatikan suasana di luar mansion. Sepertinya diluar memang terlihat gelap.
"Makanlah! Jangan memikirkan keadaan diluar rumah. Entah itu siang ataupun malam, kamu harus tetap makan. Kasian yang ada didalam perutmu."
Deg.
Canna terkejut mendengarnya, tangannya terasa bergetar hebat. Matanya membola dengan bibir yang bergetar dan wajah yang memucat. Mungkinkah Delano sudah tahu semuanya.
"Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit? Dimana? Dimana?" panik Delano melihat Canna yang mematung dengan wajah yang sangat pucat.
"Aku... aku... aku minta ma'af padamu karena__"
"Hey! Apa yang kamu bicarakan! Tentu saja kamu harus makan demi lambung yang ada didalam perutmu. Bukan karena hal yang lain. Tidak perlu minta ma'af padaku. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun juga," sahut Delano mengaduk bubur yang ada ditangannya.
Canna bernapas lega mendengarnya, rupanya Delano belum mengetahui kehamilannya.
"Baiklah! Aku akan makan!" Canna tampak bersemangat. Berusaha meraih mangkok bubur yang ada ditangan Delano.
"Biar aku yang menyuapi dirimu!" tolak Delano saat Canna meraihnya.
"Eh!" sahut Canna terkejut. Ia membeku dengan tangan yang menggantung di udara.
"Sebagai suami yang baik. Aku harus menjaga istriku dengan baik!" ucap Delano keceplosan tanpa ia sadari.
"Istri?" Canna mengerutkan dahinya, menatap Delano yang terkejut setelahnya. Wajah Canna tampak pucat dan kembali ketakutan.
"Apa maksudmu dengan kata istri?" Canna semakin menatap Delano dalam. "Aku bukan istrimu dan selamanya aku tidak ingin menikah denganmu!" sahut Canna bergetar, meremas selimut yang ia pakai.
"Bukan begitu maksudku! Aku tadi hanya bercanda. Tidak masalah bagimu, kamu tidak ingin menikah denganku. Masih banyak wanita cantik dan berkelas diluar sana!" sahut Delano sedikit emosi.
"Apakah dia hanya ingin menikah dengan Pinus!?" Delano membatin, menggenggam mangkok bubur ditangannya dengan kencang.
Krak.
"Eh! Bunyi apa itu?" Canna memperhatikan tangan Delano. Mangkok bubur yang digenggamnya tampak penyok, bahkan pecah. Dengan bubur yang tercecer diatas selimut miliknya.
"Buburnya sudah dingin. Sebaiknya aku meminta pada pelayan untuk mengambilkan yang baru!" Delano berdiri dari posisinya. Meletakkan bubur yang sudah tidak utuh lagi diatas nakas.
"Oryza! Minta pelayan untuk membawakan bubur yang baru kekamar Canna. Sekaligus bersihkan tempat ini!" perintah Delano melalui sambungan telpon.
"Baik, Tuan!" sahut Oryza.
"Kamu tidak perlu serepot itu. Aku rasa aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula keadaanku sudah jauh lebih baik sekarang!" ucap Canna seraya tersenyum manis kepada Delano.
"Kamu tidak perlu membantah perintahku. Jangan bersusah payah melakukan hal yang melanggar peraturan rumah ini. Karena selamanya peraturanku akan tetap berlaku!" ucap Delano dingin seraya meninggalkan kamar Canna.
"Kenapa dia terlihat sangat marah? Apakah ada yang salah dari kata-kataku tadi?" gumam Canna masih menatap Delano hingga hilang dibalik pintu.
Setelahnya, beberapa menit kemudian. Oryza dan dua pelayan muncul kehadapannya.
"Ada apa? Kenapa kalian kesini?" tanya Canna heran.
"Nona! Makanlah bubur ini. Jangan sampai kembali memancing kemarahan Tuan Delano!" perintah Oryza.
"Baiklah! Aku akan memakannya!" sahut Canna menurut. Walaupun ia tidak lapar, ia akan tetap makan demi anaknya.
Selesai pelayan tersebut membersihkan bubur yang tercecer di ranjang Canna tadi dan mengganti selimutnya dengan yang baru. Mereka langsung keluar, hanya Oryza yang tersisa untuk mengawasi Canna agar menghabiskan makannya.
"Kenapa kamu masih disini?" Canna menatap Oryza dengan heran. Menghentikan suapannya sejenak.
"Makanlah dan habiskan bibirmu. Agar aku bisa kembali pada pekerjaanku!" sahut Oryza dingin.
"Ish... lelaki ini, selalu bersikap acuh dan dingin padaku!" Canna mendengus dan kembali menyuap bubur yang ada ditangannya. Bahkan ia menyuap dengan sangat lambat. Sesekali melirik kearah Oryza yang masih berdiri tegap mengawasinya tanpa perduli dengan sikap dan ucapan Canna padanya.
"Lebih baik aku lebih memperlambat makanku lagi. Agar si Padi-padian ini bosan mengawasiku!" Canna terkekeh sendiri, melirik Oryza berulang kali.
Pintu kamar Canna terbuka, Delano muncul dengan beberapa buah ditangannya. Membuat Oryza berlari menghampirinya. Tidak biasanya Delano melakukan hal yang seharusnya dikerjakan oleh seorang pelayan seperti ini. Ia bahkan rela merendahkan dirinya dihadapan Canna. Delano benar-benar sangat mencintai istrinya. Tetapi sayangnya, Canna tidak memperlakukannya begitu.
"Seharusnya Tuan memberitahukan Nona Canna kalau dia adalah istrinya. Agar wanita itu yang melayani suaminya," Oryza membatin.
"Tuan! Tidak perlu membawa buah sendiri seperti itu. Masih banyak pelayan yang bisa melakukannya," ucap Oryza merasa tidak nyaman. Ia mencoba meraih buah tersebut, tetapi Delano menolaknya.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak ingin dikatakan olehnya sebagai lelaki pemalas yang berpangku tangan juga suka memerintah!"
Oryza terkejut mendengarnya, mendelik kearah Canna dengan tajam. Membuat Canna tersedak mendengarnya.
"Kapan aku bicara seperti itu!?" ucap Canna didalam hatinya masih dengan tersedak.
"Jangan menakuti wanitaku seperti itu. Matamu seperti setan yang gentayangan dimalam hari!" sindir Delano tajam. Ia segera berlari kearah Canna, mengambilkan segelas air dan menyuguhkannya kehadapan Canna.
"Minumlah. Hati-hati saat makan, jangan terlalu cepat!" ucap Delano lembut. Dan sukses membuat Canna kembali tersedak untuk yang kedua kalinya.
"Siapa yang membuat bubur ini hingga membuat Canna tersedak terus-menerus!" Delano berpaling menatap Oryza dengan tajam.
"Ma'af Tuan. Aku akan mengganti bubur tersebut dengan yang baru!" sahut Oryza menunduk. Ia terkejut dengan ucapan Delano yang menyalahkan sipembuat bubur saat Canna sipemakan tersedak.
"Eh. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Hanya saja... aku... tadi terkejut dengan kedatangan Tuan Delano kesini," sahut Canna mencicit menatap Delano sekilas, setelahnya kembali menunduk.
"Kenapa?" tanya Delano terkejut. "Bukankah aku sangat berarti bagimu hingga membuat kejutan untukmu!" sahut Delano menggoda.
Canna menggeleng pelan. " Kamu menakutiku!" sahutnya pelan.
Delano menatap Oryza dengan malas, menyuruhnya untuk keluar dari kamar tersebut. Ia tidak mau Oryza mendengar penolakan Canna yang beruntun padanya. Rasanya sungguh memalukan saat ditolak istri sendiri berulang kali.
"Semenakutkan apa!?" Delano memperpendek jarak diantara mereka. Bahkan napasnya hingga terasa dileher Canna.
"Jangan mendekat. Ini... Terlalu dekat!" Canna mundur kebelakang, hingga badannya menyentuh kepala ranjang.
Delano terkekeh mendengarnya, menatap Canna yang terlihat menggemaskan dimatanya. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu dan menciumnya sekilas. Bahkan melahapnya hidup-hidup.
"Habiskan bibirmu. Setelah itu makanlah buah ini, aku akan mengupaskannya untukmu!"
Canna menatap mangkok bubur ditangannya. Untunglah buburnya tinggal sedikit lagi. Dengan cepat ia menyuap buburnya agar cepat habis dan Delano segera keluar dari kamarnya.
"Hei! Makan jangan cepat seperti itu. Bagaimana kamu menelannya kalau tidak dihaluskan terlebih dahulu."
"Tidak. Aku makan memang cepat seperti ini," sahut Canna disela suapannya.
"Bukankah kamu makan saat ada Oryza tadi sangat lambat. Bahkan mengunyah sesendok bubur saja kamu memerlukan waktu 5 menit."
Suaoan Canna langsung terhenti. "Apa? Kenapa dia tahu?" Canna menatap horor kearah Delano.
"Jangan menatapku seperti itu. Sekarang makanlah buah apel ini untukmu. Aku sudah mengupasnya."
Canna menatap buah apel yang sudah tersusun didalam piring. Sudah dipotong kecil-kecil. Ia meraihnya dengan lambat masih menatapnya dengan seksama.
"Cepat dimakan!" perintah Delano dengan tidak sabaran.
"Baiklah. Aku akan memakannya. Tapi... apakah apel ini beracun?" cicit Canna menatap Delano dengan curiga.
Tawa Delano pecah, terdengar menggema di seluruh ruangan kamar Canna. Membuat Canna semakin menatap horor dirinya. Perasaannya semakin tidak nyaman. Mungkinkah benar apa yang ada dipikirannya.
"Tenang saja. Didalam buah apel itu memang aku masukkan racun yang akan membuatmu tertidur seperti dongeng Putri tidur. Hanya aku yang bisa membangunkanmu, dengan cara bercinta," sahut Delano asal. Wajahnya kembali dingin seperti semula. "Sudahlah. Cepat makan buah itu. Aku akan mengawasimu!"
Dengan cepat Canna meraih piring apel tersebut, memayunkan bibirnya dengan cemberut karena ucapan Delano yang tidak sopan padanya. Tetapi ia akui, ia merasa senang karena diperlakukan oleh Delano dengan baik hari ini. Setidaknya, keinginan bayinya untuk meminta perhatian ayahnya sudah terkabul.
"Jangan sesenang itu. Aku melayanimu seperti ini ada timbal baliknya. Aku tidak ingin rugi tanpa ada gantinya." Delano tersenyum samar saat melihat Canna yang tampak lesu setelah merasa senang tadi. Ia memang pandai mengaduk-aduk perasaan Canna.
"Sudah aku duga. Pasti lelaki ini sedang mengincar sesuatu dariku. Tidak mungkinkan ia menginginkan nyawaku demi semangkok bubur dan sepiring apel?" Canna kembali menatap horor piring apel yang ada ditangannya.
"Tidak perlu berpikir sesakit itu. Aku tidak akan melakukan hal yang mustahil seperti itu!" Delano menyentil kepala Canna hingga membuat wanita tersebut mengaduh dan menggosok kepalanya beberapa kali. Wajahnya kembali cemberut.
Cup! Delano mencium bibir Canna sekilas saat wanita itu mengangkat kepalanya. Ia terkejut dengan ciuman tiba-tiba tersebut.
"Jangan bertingkah seperti kamu adalah gadis perawan!"
Canna kembali mendelik dengan tajam kearah Delano. Ingin rasanya ia memaki lelaki arogan dihadapannya tersebut. Bukankah lelaki ini yang sudah mengambil keperawanannya terlebih dahulu. Canna menunduk dalam dengan perasaan terluka. Sekarang pun ia masih dianggap tidak layak sebagai manusia. Karena semua pergerakannya selalu diawasi dengan ketat. Kapan Canna akan bebas? Sebebas dulu saat ia belum mengenal Delano.
"Sudahlah. Hari sudah larut. Sebaiknya kamu gosok gigi dan tidur!" Tangan Delano mengacak rambut Canna. Menyesal ia mengungkit hal yang membuat wanita itu tersindir. Seharusnya ia tidak berkata seperti itu tadinya.
"Hei! Aku bukan anak kecil!" teriak Canna kesal. Menjauhkan tangan Delano darinya. Beranjak dari tempat tidurnya dan berlari kekamar mandi.
"Perasaanku lebih baik sekarang setelah aku diberi cairan infus tadi siang. Bahkan aku merasa tidak mual lagi sekarang!" ucap Canna senang sambi meraih sikat gigi dan odolnya.
"Jangan lupa like dan komentarnya ya!" pinta Canna pada setiap pembacanya.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?