Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
#11
Perpustakaan, tempat paling damai dan senyap bila ingin menenangkan diri, atau yang utama tempat untuk belajar tanpa gangguan. Disinilah Biru berada, beberapa saat sebelum mulai belajar, ia sempatkan diri berkirim pesan dengan Firza, menanyakan kabarnya, serta bagaimana rasanya kuliah di negeri orang.
Sesekali bergurau seperti dulu, ketika mereka diam-diam bisik-bisik di pojok ruangan bila membicarakan rahasia antar lelaki. Pastilah membicarakan pada gadis incaran, tapi tak lantas mereka berlanjut pacaran seperti teman-teman mereka, karena ada aturan Ayah Ismail yang tak bisa mereka langgar.
Setelah puas berkirim pesan, Biru harus rela menyudahi, karena Firza harus istirahat sebelum kerja paruh waktu mengisi waktu luang. Hidup di negeri orang memang tak boleh manja dan cengeng, jika tidak sejak sekarang bekerja keras, maka sukses itu akan sulit di dapat.
Begitulah prinsip hidup yang diajarkan Ismail pada Biru maupun Firza sebagai lelaki, para calon imam harus kuat, tegas, serta mandiri. Yang terpenting jangan jauh dari Allah.
Tak lama kemudian Biru pun mulai membuka diktat perkuliahan, minggu lalu ia ada pertandingan di luar kota, jadi terpaksa meminjam catatan teman dekatnya yang cukup rajin masuk kuliah. Erza.
Hands free terpasang di telinga, agar tak terdistrack suara gangguan dari sekitar, entah apa yang ia dengarkan. Beberapa saat setelah khusyu’ belajar seorang diri, mejanya di ketuk seseorang. Rupanya dia adalah Miranda.
Tok!
Tok!
Ketukan pelan, namun, mampu membuat Biru mendongak, pria itu melepas sebelah penyumbat di telinganya. “Iya?” katanya dengan suara nyaris berbisik.
“Boleh gabung?”
“Mending kamu cari meja yang lain aja, deh.”
“Meja yang lain penuh.” Biru menoleh ke sekitar, rupanya siang ini cukup banyak yang ngadem sambil belajar di perpustakaan, karena udara diluar ruangan cukup terik.
Terpaksa Biru mengangguk, kemudian ia kembali memasang hands free di telinganya.
Biru yang misterius, semakin membuat Miranda dilanda rasa penasaran yang teramat sangat. Hingga diam-diam gadis itu mulai jadi stalker Sky_Blue, rupanya semakin digali semakin membuat hati dan perasaan menari-nari.
Benar-benar definisi pria idaman, kalem, diem, tapi kalau sudah action, siapapun akan di buat terpesona. Itu terlihat dari postingan foto-foto Biru kala dia beraksi di lapangan, wajah dan tubuh bersimbah keringat, namun, disitulah daya tarik Biru.
Di satu sisi dia kalem, disisi lain dia macho, dan garang ketika berlaga di lapangan. Biru tak menjual sensasi, tidak juga membiarkan dirinya terlena dengan popularitas yang semakin tinggi. Yang Biru tonjolkan justru prestasi, dibalik sosoknya yang selalu misterius di depan media yang menyoroti.
•••
Sementara Official Store MiJa kelimpungan menghadapi serangan para haters baru yang tiba-tiba bermunculan. Official Store Ls justru kebanjiran pesanan, desain-desain keluaran 2 atau 3 tahun terakhir yang ramai di minati pengunjung.
Hingga para kru Ls Collection harus bekerja ekstra keras untuk restock, walau beberapa model terpaksa mereka tolak pemesanannya, karena kelangkaan bahan baku kain, atau rumitnya proses pembuatan.
Biasanya itu berlaku untuk gaun pesta, atau gaun untuk menghadiri acara pertemuan formal dan informal, karena memerlukan detail aksesoris tambahan.
Mendapati banyaknya pesanan yang masuk melalui admin, Ayu pun tak tinggal diam, sang bos baru tersebut, turut serta langsung menjadi tim quality control memastikan agar hasil akhir jahitan Ls Collection sempurna dan tak mengecewakan para pelanggan.
Di tengah keriuhan dan kesibukan semua orang, tiba-tiba tamu tak diundang datang menyambangi.
“Lepaskan! Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotor kalian!” hardik sang tamu, karena tak terima ketika kedatangannya mendapat penolakan dari pemilik Ls.
“Kami akan melepaskan Anda bila, Anda mau menurut.”
“Aku hanya ingin bertemu Owner kalian! Apa itu melanggar hukum?!” Anjani semakin frustasi karena sentimen publik makin merugikan posisinya.
Apa yang selama ini ia bangun, dari bawah, perlahan memudar, bahkan luntur begitu saja, walau sejujurnya bukan kali pertama ia melakukan kecurangan. Karena baru pertama setelah bertahun-tahun lamanya, maka Anjani pun merasa penasaran sekaligus tertantang ingin bicara secara langsung dengan owner Ls Collection.
“Tapi owner kami menolak menemui Anda, jadi maaf jika kami tak bisa mengizinkan Anda masuk.” Petugas keamanan berkata dengan tegas, mereka bersiaga membuat pagar betis di sekitar Anjani agar wanita itu tak nyelonong begitu saja.
“Ada apa ini?” Giana tiba-tiba muncul di belakang Anjani, dengan penampilannya yang selalu modis secara alami, tak peduli pakaian apapun yang sedang dikenakannya.
Anjani menoleh, gayanya masih saja angkuh, meski nama baiknya sudah hampir runtuh. Bibir wanita itu tersenyum miring menatap mantan istri Gunawan tersebut. “Apakah ini rencanamu sejak awal?”
Giana tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban apa-apa. “Aku anggap jawabanmu adalah, Iya.”
Anjani berspekulasi sendiri. “Ckckck, Giana— Giana— sadar diri, dong. Ikhlaskan saja Mas Gunawan untukku, karena kamu memang terbukti tak bisa memberinya keturunan.”
Cuih!
Giana meludah ke samping, kemudian berdecak pelan, “Ckckck, Anjani— Anjani— Kau pikir aku masih menangisi sampah itu? Buat apa? Apa untungnya bagiku? Tidak ada sama sekali. Dia sudah terlalu serasi denganmu, Kau murahan, dan suamimu pun suka jajan sembarangan.”
Giana bertepuk tangan, “Klop sekali.”
“Mas Gun pria setia, jangan asal menuduh, ya!” tampik Anjani, merasa tak terima dengan tuduhan Giana pada sang suami. Karena ia percaya penuh pada kesetiaan Gunawan.
Giana tersenyum, sambil memainkan kuku panjangnya, “Tapi, dia pernah seling selingkuh, loh. Yakin dia tak akan mengulanginya?” pancing Giana, menambah panas suasana hati Anjani.
Anjani semakin geram, rasanya ingin sekali ia mencakar wajah Giana, namun, saat ini tidak pada tempatnya. Ia harus menjaga image sebagai istri pengacara terhormat, serta seorang desainer yang berwibawa.
Akhirnya wanita itu pun pergi dengan sendirinya, membawa rasa dongkol yang kian mencengkram hatinya.
Tak disangka, sepanjang perjalanan, Anjani terus memikirkan ucapan Giana perihal suaminya yang kini ‘suka jajan’, apa itu mungkin?
Segala sesuatu dimuka bumi ini tak ada sesuatu yang tak mungkin, termasuk dirinya yang ternyata berjodoh dengan seorang pengacara dari Ibu Kota. Padahal yang dia idamkan hanyalah seorang petani biasa yang tanpa sengaja meninggal di tangannya.
Dan kini, ia harus pusing tujuh keliling karena sang suami tak pernah lagi menyentuhnya, entah sejak kapan. Anjani bahkan sudah lupa.
Apa mungkin Gunawan punya kelainan, teringat ketika kali terakhir Anjani menggoda sang suami, tapi sayang kejantanan pria itu sama sekali tak bereaksi.
Jika tidak punya kelainan, maka kemungkinan lainnya adalah—
Anjani tiba-tiba terbelalak, jangan-jangan perkataan Giana benar adanya?
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan