"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
"Boleh, ya, Pa? Hanya ke mall sebentar. Ada beberapa buku referensi yang harus kubeli, dan aku perlu mampir ke butik untuk memesan gaun," ucap Leana, mengabaikan keberadaan pria bertubuh kekar yang berdiri kaku di samping ayahnya.
Diego melirik Jimmy yang rahangnya tampak mengeras "Gaun? Untuk apa?"
"Pertemuan minggu depan dengan calon suamiku, tentu saja. Aku harus terlihat sempurna, bukan? Kakek bilang dia pria dari keluarga terhormat di Italia," jawab Leana dengan senyum manis yang dipaksakan, matanya melirik sinis ke arah Jimmy yang kini mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
Diego berdeham, menatap bolak-balik antara putrinya dan pengawal kepercayaannya yang baru saja meminta izin untuk melamar.
"Ya, kalau itu maumu. Pergilah. Tapi kau tidak bisa pergi sendiri."
"Aku bisa menyetir sendiri, Pa. Lagipula, aku tidak butuh pengawal yang tidak punya komitmen di sekitarku," sindir Leana tajam. Ia berjinjit, mencium pipi ayahnya dengan sayang, lalu berbalik melenggang pergi melewati Jimmy seolah pria itu hanya udara kosong.
Aroma vanila yang tertinggal saat Leana melewatinya membuat Jimmy nyaris kehilangan kendali. Ia menatap Diego dengan tatapan meminta izin.
"Apa boleh Diego?"
"Pergilah, sebelum dia benar-benar membeli gaun pengantin untuk pria lain," gumam Diego sambil melambaikan tangan, memberi kode agar Jimmy segera mengejarnya.
Tanpa menunggu lagi, Jimmy bergegas mengikuti Leana yang berjalan cepat menuju mobil. Langkah kaki Leana yang mungil jelas kalah jauh dengan langkah lebar Jimmy.
"Nona Frederick, berhenti!" seru Jimmy saat mereka sampai di area parkir.
Leana tidak berhenti, ia justru mempercepat langkahnya menuju mobil sport merah miliknya.
"Jangan mengikutiku, Jimmy! Pergi saja cari wiski atau peluru favoritmu!"
"Leana, aku serius! Kau tidak bisa pergi sendirian!"
"Siapa yang bilang aku sendiri? Aku punya ponsel, aku punya uang, dan aku punya masa depan dengan pria Italia itu! Jadi, minggir!" Leana sudah menyentuh gagang pintu mobilnya saat tangan kekar Jimmy menahannya, mengunci tubuh gadis itu di antara pintu mobil dan tubuh bidangnya.
"Mau kemana? Dompetmu tertinggal!" seru Jimmy dengan suara berat, membuat langkah dan gerakan Leana terhenti seketika.
Gadis itu mendongak, menatap mata gelap Jimmy dengan wajah ketus. "Kata siapa? Aku membawa dompetku di dalam tas! Jangan mencari alasan bodoh untuk menghentikanku!"
Jimmy tidak menjauh, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan dadanya yang keras bersentuhan dengan bahu Leana yang mungil. Ia menunduk, menatap dalam ke netra Leana yang masih menyiratkan luka dan amarah.
"Dompet itu aku, gadis nakal," bisik Jimmy, suaranya berubah menjadi sangat lembut dan serak, sanggup membuat lutut Leana terasa lemas saat itu juga. "Kau lupa membawaku. Apa kau pikir kau bisa membayar semuanya di dunia ini tanpa perlindunganku?"
"Aku tidak butuh perlindunganmu lagi. Aku punya calon suami yang—"
"Jangan sebut pria itu lagi!" potong Jimmy. Ia meraih tangan Leana, membawa jemari gadis itu ke dadanya, tepat di mana detak jantungnya berdegup sangat kencang. "Kau dengar ini? Ini berdetak karena ketakutan saat kau pergi pagi tadi. Aku sudah bicara pada ayahmu. Aku tidak akan membiarkanmu membeli gaun untuk pria lain. Jika kau butuh gaun, beli yang paling indah, tapi pastikan aku yang berdiri di sampingmu saat kau memakainya."
"Jim... kau..." Leana terpaku mendengarnya.
"Aku memang pria tua yang brengsek dan pengecut." Jimmy mengusap pipi Leana dengan ibu jarinya, tatapannya kini penuh dengan obsesi dan kasih sayang yang tumpah ruah. "Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada takut pada peluru mana pun. Jadi, jangan pergi ke mall sendirian. Bawa dompetmu ini, dan habiskan seluruh hidupku untuk menjagamu."
Leana ingin marah, ingin memaki, tapi binar di mata Jimmy kali ini terasa berbeda. Itu bukan lagi tatapan seorang pengawal, melainkan tatapan seorang pria yang menyerahkan seluruh jiwanya. Leana menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang nyaris meledak.
"Kau sangat menyebalkan, Jim," bisik Leana.
"Aku tahu. Dan mulai detik ini kau akan terjebak dengan pria menyebalkan ini selamanya," balas Jimmy hendak mengecup bibir Leana.
"Jauhkan tanganmu dari wajah cucuku, Jim!"
Jimmy dan Leana tersentak kaget, lalu menjaga buru-buru menjaga jarak.
Di belakang mereka, berdiri kakek William dengan setelan jas abu-abu tua, tangannya bertumpu pada tongkat kayu berkepala perak. Tatapannya setajam elang, menghujam langsung ke arah Jimmy.
"K–kakek?"
"Apa yang sedang kau lakukan, Pengawal? Apa putriku membayarmu selama puluhan tahun supaya kau bisa menyentuh wajah cucuku sesuka hatimu?" William bertanya dengan nada angkuh.
"Nona Leana kelilipan, Tuan Besar. Saya hanya mencoba membantu membersihkan matanya."
"Kelilipan?" William berhenti tepat di depan mereka, matanya memicing tajam ke arah Leana. "Di parkiran yang tertutup tanpa angin sesepi ini, kau bisa kelilipan sampai harus dipegang dagunya begitu erat?"
"I-itu benar, Kek! Mataku perih sekali tadi, mungkin ada debu dari AC mobil. Jimmy hanya menolong. Dia sangat sigap." Leana menyahut cepat, pura-pura mengucek matanya yang memang sudah merah karena bekas menangis tadi.
"Sigap atau mengambil kesempatan dalam kesempitan?" William beralih menatap Jimmy. "Ingat posisimu. Kau adalah pedang keluarga ini, bukan bagian dari perhiasannya. Jangan sampai tanganmu yang penuh darah itu menodai apa yang sudah kusiapkan untuk masa depan keturunanku."
Jimmy mengepalkan tangan di samping tubuh dengan rahang mengeras. Inilah William, keturunan bangsawan yang arogan dan selalu memandang seseorang dari status.
"Saya sangat sadar akan posisi saya, Tuan Besar," ucap Jimmy.
"Minggu depan, calon suamimu akan datang dari Belanda, Lea. Dia pria yang setara denganmu. Bukan seseorang yang hidup dari sisa makanan di meja ayahnya," sindir William tajam, kalimatnya menusuk harga diri Jimmy hingga ke titik paling dalam.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁