Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad Memories
"Jadi, Andy, kau mau minum bir bersama?"
Andy hampir menyemburkan tawa atas perubahan suasana yang begitu tiba-tiba, tapi dia tetap menganggukkan kepala. Dibiarkannya Sena pergi ke dapur untuk mengambil beberapa kaleng bir, sementara dia menunggu di sofa, duduk ditemani Mala. Kucing oranye itu menggeliat menyadari kehadiran Andy di tempat yang sama ia tidur, lalu setelah menginspeksi sosok Andy sebentar, ia dengan tenangnya menjilat telapak tangan Andy yang terbuka menyambutnya.
Sena kembali dengan kaleng-kaleng bir dingin, sebagian diletakkan di atas meja, satu digenggam erat dan satu lagi diberikan pada Andy. Andy menyambutnya, mengangkat kaleng bir di depan wajah, siap bersulang.
"Bersulang, untuk tidak lagi berdebat atas hal-hal bodoh," kata Sena, dan Andy langsung mengangguk setuju.
"Tidak akan berdebat lagi atas hal-hal bodoh," balas Andy, kemudian menyesap birnya.
Selama beberapa saat kemudian, keduanya duduk diam di sofa dengan diselimuti keheningan. Masing-masing memproses obrolan yang beberapa waktu lalu mereka lakukan.
"Kau belum pernah pacaran, kan?" Sena bertanya, memecah keheningan.
Andy menatapnya lekat, menggelengkan kepala. "Ya."
"Bagaimana bisa?"
Ia mengangkat bahu, tertawa pelan. "Aku bergabung ke perusahaan ini di usia yang masih sangat muda. Sejak datang, aku hanya fokus berlatih supaya bisa debut. Setelah akhirnya debut dan aku beranjak dewasa, lalu mulai tertarik untuk berkencan, aku terlalu sibuk sehingga tidak bisa melakukannya." Andy menjelaskan, pandangannya menerawang ke depan. "Lagi pula, aku juga belum bertemu seseorang yang benar-benar menarik perhatianku."
Kendati Sena lega karena setidaknya Andy tidak pernah melewati fase patah hati karena belum pernah berkencan, ia tetap merasa prihatin karena teman baiknya itu telah melewatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana memiliki hubungan dengan seseorang yang dia sayangi. Entah berakhir baik atau buruk, sebuah hubungan selalu bisa memberikan pelajaran untuk bisa membantu kita menjadi manusia yang bertumbuh. Sebuah hubungan membantu membentuk pribadi kita, itu yang Sena percaya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Andy balik, menolehkan kepala untuk menatap Sena.
Sena menaikkan sebelah alisnya, tidak yakin ke arah mana pertanyaan itu ditujukan.
"Maksudku, kau pernah berkencan sebelumnya?" Andy menjelaskan.
Sena bergumam pelan, menyesap birnya dan mengangguk. "Ya. Dua kali. Aku pernah menjalani hubungan yang serius sebanyak dua kali."
"Oh, ya?" timpal Andy, keterkejutan terpancar di wajahnya.
"Ya," lanjutnya. "Sekali saat SMA, dan sekali saat kuliah."
"SMA?" Andy bertanya penuh rasa penasaran. "Apa aku mengenalnya?"
Sena tersenyum lembut. "Kurasa tidak. Dia pindah ke sekolah kita beberapa bulan setelah kau pindah. Namanya Anthony."
Kepala Andy naik-turun. "Berapa lama kalian berkencan?"
"Sekitar satu tahun, mungkin?" balas Sena, menelengkan kepala selagi otaknya memanggil kembali memori soal pacar pertamanya itu.
"Oh, damn," Andy terkagum. "Itu lumayan lama. Kenapa kalian putus?"
"Entahlah. Hanya sudah tidak sejalan saja, makanya kami sepakat untuk putus. Tapi kami masih terus berteman setelahnya."
"Baguslah kalau begitu," timpal Andy, mengangguk pelan. "Lalu, bagaimana dengan hubunganmu yang lain?"
"Ah," Sena tersenyum getir. "Jaehoon."
Ada yang janggal dari nada suara Sena, membuat Andy mengerutkan dahi dan memperhatikannya lekat-lekat. Dia tidak menyela, membiarkan Sena membuka mulutnya sendiri ketika sudah siap.
Sementara bagi Sena, mengingat lagi soal Jaehoon sebenarnya bukan sesuatu yang bagus. Sudah lama dia tidak membicarakan tentangnya, bahkan cenderung ingin mengubur kenangan bersamanya. Tapi kini, Sena rasa dia harus memberitahu Andy semuanya.
"Kalau tidak salah ... umurku 19 tahun saat pertama kali bertemu dengannya," Sena mengenang. "Aku baru saja mulai kuliah, dan masih mencoba beradaptasi dengan kehidupan di sini. Kami bertemu di sebuah pesta yang diadakan oleh kenalan kami. Di sana, kami bersenang-senang, berciuman..." Dia menjeda, menatap Andy sejenak. "Tidak lebih dari itu, by the way. Setelahnya, kami saling berkontak dan beberapa kali bertemu, kemudian mulai berpacaran di bulan kedua."
Andy diam mendengarkan, membiarkan Sena melanjutkan ceritanya. Sementara Sena, setelah kontak mata yang singkat, dia memalingkan wajah, tidak ingin bertatap muka dengan Andy selama ia meneruskan. Ini adalah topik yang berat, sehingga butuh kenyamanan agar dia bisa menyelesaikan ceritanya sampai akhir.
"Semuanya berjalan lancar dalam beberapa bulan pertama. Hubungan kami terasa menyenangkan..." Sena melanjutkan. "Tapi kemudian ... semuanya berubah. Dia jadi lebih menuntut dan agresif. Dia menginginkan lebih, meskipun aku bilang belum siap. Katanya, dia berhak mendapatkan itu karena dia adalah kekasihku."
Pangkal-pangkal alis Andy saling menyatu. Diperhatikannya Sena yang menunduk cukup dalam, memainkan jemari. Luput dari pandangannya, bahwa mata Sena sudah mulai diselimuti kabut bening seiring dengan munculnya lebih banyak kenangan buruk di kepalanya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia jauh lebih kuat." Suara Sena pecah kala mengatakannya. Dia menutup mata, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Sesak tidak tertahan. Kesal rasanya saat tahu dirinya masih bereaksi seperti ini atas kejadian lampau itu, padahal waktu sudah lama sekali berlalu.
Sena hanya tidak bisa menahannya. Setiap kali membahas tentang hal ini, rasanya seperti dia ditarik kembali ke masa lalu, dipaksa merasakan kembali sensai menyakitkan saat Jaehoon mendorong tubuhnya ke kasur dan menahannya di sana sampai meninggalkan bekas memar. Bukan hanya di tubuh, tapi juga di hati dan pikirannya. Malam itu adalah yang terburuk dalam hidup Sena.
Tubuh Sena gemetar, tangisnya tidak lagi bisa ditahan. Kenangan tentang malam itu terlalu mengerikan untuk bisa dia hadapi dengan hati yang lapang. Dia mulai menggigil, memeluk tubuhnya sendiri, merasa kedinginan sekaligus seperti ditelanjangi di saat yang bersamaan. Dia meraih kaus yang sebelumnya dia tanggalkan, mengenakannya terburu-buru selagi mulai sesenggukan.
"Lara." Andy mendekat. Ia hendak memeluk Sena guna menenangkannya, namun gerakannya tertahan dan dia memutuskan untuk tidak melakukan kontak fisik apa pun, kecuali Sena sendiri yang meminta. Dadanya terasa panas dan sesak. Kepalanya dipenuhi amarah yang begitu besar terhadap pria bernama Jaehoon, yang sudah membuat Elara-nya yang berharga menjadi sehancur ini.
Sena merasakan tenggorokannya seperti terbakar, napasnya tidak beraturan, kepalanya mulai terasa berat karena kenangan buruk silih-berganti bermunculan. Dia berusaha menekan perasaannya, tapi berakhir gagal. Semakin memaksa, Sena malah seolah bisa merasakan tangan Jarhoon bergerak di atas permukaan kulitnya. Maka ia menyerah. Kepalanya jatuh bersandar ke bahu Andy, mencari tumpuan. Di saat seperti ini, butuh pengalihan untuk kembali ke dunia nyata. Butuh kesadaran bahwa kini ada seseorang yang bisa dia percaya, menemani di sampingnya.
Masih berupaya menenangkan diri, Sena meremas lengan Andy dan membenamkan wajahnya makin dalam di bahu pria itu.
Andy menangkapnya sebagai sinyal bahwa kini dia boleh bergerak. Maka Andy memeluknya, mengusap punggungnya, dan menggenggam tangannya yang gemetar.
"Maaf," bisiknya. "Maaf karena kau harus mengalaminya."
Suara Andy perlahan menarik Sena kembali ke realita. "Teruslah bicara," katanya dengan suara bergetar.
Andy mengusap lengannya berkali-kali. "Kau harus tahu, Lara," katanya. "Kau bisa percaya padaku. Bahwa aku akan selalu ada di sisimu. Selalu. Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Lara. Aku akan selalu ada di sisimu, seperti yang kau lakukan padaku."
Sena mencoba mengatur napasnya, perlahan-lahan menjadi teratur.
"Kau adalah orang terkuat yang pernah ada dalam hidupku, dan aku harap kau bisa mencintai dirimu sendiri lebih banyak. Aku menyayangimu, Lara. Jangan pernah lupakan itu."
Sena menjauhkan dirinya perlahan dari pelukan Andy dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya, menatap Andy lekat setelah menghela napas pendek. "Terima kasih," bisiknya.
Andy menariknya kembali ke dalam pelukan, mengusap punggungnya selagi Sena menyandarkan pipi di bahunya.
"Aku menyayangimu, Andy. Terima kasih ... terima kasih sudah selalu ada di sisiku. Terima kasih sudah mau menjadi temanku."
"Tentu, Lara."
Mereka bertahan dalam pelukan itu untuk waktu yang cukup lama. Saling berjanji untuk tidak lagi membiarkan perdebatan apa pun, menghancurkan pertemanan mereka.
Bersambung....