NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 5: Benang Merah Mulai Terjalin

Tiga hari.

Tiga hari Bapak di rumah sakit. Tiga hari aku bolak-balik rumah sakit-kontrakan-rumah sakit lagi. Tiga hari aku nggak tidur bener. Cuma nge-rem sejam dua jam di kursi plastik samping kasur Bapak, bangun, terus ngecek napas dia—masih ada nggak, masih naik-turun nggak dadanya.

Dan tiga hari itu juga... aku mikirin Arkan terus.

Bukan mikirin dalam artian... ya nggak gitu juga sih. Maksudku—ugh, pokoknya aku mikirin gimana caranya balikin uang dia. Dua juta bukan uang kecil. Belum lagi biaya tambahan yang dia bayarin pas Bapak butuh rontgen ulang. Tambah enam ratus ribu. Jadi total... dua juta enam ratus ribu.

Uang yang kalau aku kumpulin dari nyuci baju—dengan asumsi dapet lima puluh ribu sehari, yang itu juga nggak selalu—butuh... berapa? Dua bulan? Atau lebih?

"Zahra... kamu lagi mikirin apa?"

Bapak. Suaranya udah lebih kuat dari tiga hari lalu. Batuknya udah jarang. Napasnya lebih teratur. Dokter bilang kondisinya membaik. Mungkin seminggu lagi bisa pulang.

"Nggak apa-apa Pak. Zahra cuma... cuma capek aja." Aku duduk di pinggir kasur. Pegang tangan Bapak yang udah nggak sedingin dulu. "Bapak gimana? Masih sakit nggak?"

"Udah enakan. Makanan rumah sakit lumayan enak juga." Dia senyum lemah. "Zahra... kamu udah makan belum?"

Belum. Dari pagi aku cuma minum air putih. Tapi aku nggak mau bilang.

"Udah Pak. Tadi beli nasi uduk di depan RS."

Bohong. Lagi. Entah udah berapa kali aku bohong seminggu ini.

"...Zahra, soal biaya rumah sakit ini..." Bapak natap aku serius. Serius yang bikin dada ku sesak. "Bu Ria bilang... ada orang yang bantuin bayar. Siapa dia?"

Aku diem.

"Zahra?"

"...temen, Pak. Temen Zahra."

"Temen? Temen yang mana? Siti?"

"Bukan. Temen... temen baru."

"Laki-laki atau perempuan?"

Aku gigit bibir.

"Zahra. Jawab Bapak."

"...laki-laki."

Bapak diam. Lama. Terlalu lama.

"Namanya siapa?"

"Arkan, Pak. Arkan Alexander."

"Alexander..." Bapak ngerutkan dahi. "Nama Kristen?"

DEG.

"I-iya Pak. Dia... dia Kristen."

Hening. Suara mesin oksigen di sebelah kasur pasien lain tiba-tiba berasa keras banget.

"...Zahra, kamu tau kan Bapak nggak melarang kamu berteman sama siapa aja. Tapi..." Bapak napas dalam. "Tapi kalau laki-laki itu Kristen, Bapak khawatir. Bapak takut... takut kamu terlalu deket sama dia."

"Bapak, dia cuma temen. Dia... dia cuma bantuin Zahra karena kasihan—"

"Laki-laki nggak ada yang bantuin cewek 'cuma karena kasihan', Zahra." Bapak natap aku tajam. "Pasti ada maksud lain."

"Bapak—"

"Dengerin Bapak dulu." Dia pegang tangan ku. Erat. "Bapak nggak bilang dia orang jahat. Bapak cuma... cuma ingetin. Kamu muslimah. Dia Kristen. Kalau kalian terlalu deket, nanti gimana? Kamu jatuh cinta sama dia? Terus nikah sama dia? Dia mau masuk Islam?"

Aku nggak bisa jawab.

Karena pertanyaan Bapak... pertanyaan yang sama kayak yang ada di kepala ku tiga hari ini.

"...Bapak, Zahra ngerti. Zahra janji nggak bakal... nggak bakal kayak yang Bapak pikirin. Dia cuma nolongin. Itu aja."

"Kamu janji?"

"Zahra janji."

Tapi kenapa... kenapa dada ku sakit pas ngomong itu?

---

Siang itu, setelah Bapak tidur, aku keluar dari RS. Bukan pulang. Tapi... nyari Arkan.

Aku nggak punya alamat rumah dia. Yang aku tau cuma alamat kantor dia dari kartu nama—Sudirman Central Business District, Tower A Lt. 28. Tempatnya... jauh. Butuh naik angkot tiga kali.

Ongkos angkot total... dua belas ribu.

Uang ku tinggal tiga puluh ribu. Harusnya buat makan seharian. Tapi... tapi aku harus ketemu Arkan. Harus bilang aku bakal balikin uang dia. Harus... harus ngomong sesuatu. Entah apa.

Angkot pertama—penuh sesak, bau keringet campur asap rokok. Aku berdiri sambil pegangan tiang besi yang lengket. Baju daster ku—yang cuma punya dua biji, jadi gantian dipake—udah kusut. Hijab ku udah nggak rapih. Sendal jepit ku bunyi decit-decit tiap kali jalan.

Angkot kedua—lebih kosong, tapi sopirnya nyetir kayak lagi dikejar setan. Aku mual. Pengen muntah. Tapi aku tahan. Nggak mau memalukan.

Angkot ketiga—turun di daerah yang... ya Allah. Gedung-gedung tinggi menjulang. Kaca-kaca gedung berkaca. Orang-orang pake jas, blazer, sepatu hak tinggi, tas branded. Mobil-mobil mewah parkir rapi. Dan aku?

Aku kayak sampah di tengah kota mewah.

"Mbak, cari siapa?" Satpam di lobby gedung Tower A natap aku curiga. Kayak natap pencuri.

"Saya... saya mau ketemu Pak Arkan. Arkan Alexander. Dia... dia kerja di lantai 28."

"Ada janjian?"

"Nggak... tapi—"

"Kalau nggak ada janjian, nggak bisa masuk. Aturan gedung."

"Pak tolong... ini penting... saya—"

"Mbak, kalau mau ketemu, hubungi dulu orangnya. Suruh dia turun atau kasih izin. Kalo nggak, nggak bisa masuk."

Aku frustasi. Tapi aku ngerti. Ini gedung kantor mewah. Bukan pasar. Nggak sembarang orang bisa masuk.

Aku keluar. Duduk di taman kota kecil di seberang gedung. Taman dengan rumput sintetis, bangku kayu, dan air mancur kecil yang airnya... bersih. Beda banget sama got di kampung ku.

Aku keluarin HP jadul. Buka kontak. Nama Arkan.

**Arkan Alexander**

Jempol ku di atas tombol call. Tapi... tapi aku ragu.

Panggil dia buat apa? Buat bilang mau balikin uang? Dia pasti bilang nggak usah. Terus aku ngapain? Maksa? Keliatan nggak tau diri?

"Heh, ngapain duduk disini?"

Aku kaget. Nengok.

Arkan.

Arkan berdiri di belakang bangku ku. Pake jas abu-abu—yang kemarin kusut sekarang rapih lagi—dasi biru dongker, sepatu pantofel hitam mengkilap. Rambutnya rapih ke samping. Wajahnya... ya Allah, kenapa dia ganteng banget sih?

"M-Mas Arkan... kenapa... kenapa Mas disini?"

"Harusnya aku yang nanya. Kenapa kamu disini?" Dia jalan, duduk di sebelah ku. Jarak... mungkin setengah meter. Cukup dekat tapi nggak terlalu. "Satpam tadi hubungin aku. Bilang ada cewek berhijab nyari aku tapi nggak ada janjian. Aku langsung turun. Ternyata kamu."

Oh. Jadi satpam tadi lapor.

"Aku... aku mau ketemu Mas..."

"Ada apa? Bapak kamu kenapa? Kondisinya memburuk?" Dia langsung khawatir. Keliatan dari kerutan di dahi.

"Nggak... Bapak udah lebih baik. Dokter bilang mungkin seminggu lagi bisa pulang."

"Syukurlah." Dia senyum. "Terus? Kenapa kesini?"

Aku ambil napas dalam.

"Aku... aku mau balikin uang Mas."

Arkan diam. Senyumnya ilang.

"Zahra—"

"Aku serius, Mas. Aku nggak bisa terima uang Mas gitu aja. Aku... aku bakal kerja keras. Aku bakal nyuci baju lebih banyak. Aku bakal—"

"Zahra, aku nggak mau kamu balikin."

"Tapi Mas—"

"Dengerin aku dulu." Dia natap aku. Serius. "Uang itu bukan pinjaman. Itu... itu hadiah."

Hadiah?

"Hadiah apaan Mas? Kita baru ketemu beberapa hari yang lalu. Mas nggak kenal aku. Aku nggak kenal Mas. Kenapa Mas ngasih hadiah sebanyak itu?"

"Karena aku mau."

"Karena Mas mau?" Aku naikkan suara. Nggak sengaja. "Mas, ini dua juta! Bukan dua ribu! Dua juta itu... itu uang gede buat orang kayak aku! Aku nggak bisa nerima gitu aja!"

"Zahra, dua juta buat aku nggak seberapa."

Dan kata-kata itu... kata-kata itu kayak tampar.

"Oh. Jadi gitu." Aku ketawa. Getir. "Buat Mas nggak seberapa, tapi buat aku itu segalanya. Buat Mas cuma uang receh, tapi buat aku itu beban. Mas tau nggak gimana rasanya... gimana rasanya ngerasa berhutang sama orang? Gimana rasanya ngerasa jadi pengemis?"

"Zahra, aku nggak bilang kamu pengemis—"

"Tapi Mas ngelakuin aku kayak pengemis!" Air mata keluar. Lagi. Untuk kesekian kalinya minggu ini. "Mas ngasih uang, Mas bayarin ini-itu, seolah-olah aku nggak bisa ngapa-ngapain sendiri! Seolah-olah aku... aku nggak punya harga diri!"

Arkan diam. Mukanya... kayak dipukul.

"...maaf. Aku nggak bermaksud kayak gitu."

"Terus maksud Mas apa?"

"Aku cuma... aku cuma nggak mau liat kamu susah." Suaranya pelan. "Aku nggak bisa diem aja ngeliat orang yang aku... yang aku peduliin susah."

Peduliin.

Dia bilang... dia peduliin aku?

"Mas... kita baru kenal..."

"Aku tau. Tapi... entah kenapa, aku ngerasa... ngerasa harus bantuin kamu. Dari pertama kali liat kamu jatuh di tengah ujan, megang ember plastik sambil nangis... aku ngerasa... aku harus ada buat kamu."

Dada ku sesak.

"Mas... Mas jangan ngomong kayak gitu..."

"Kenapa?"

"Karena... karena aku..." Aku lap air mata pake punggung tangan. "Aku muslimah. Mas Kristen. Kita... kita nggak mungkin."

Hening.

Suara air mancur tiba-tiba berasa keras banget.

"...aku tau." Arkan nunduk. Natap tanah. "Aku tau kita beda agama. Aku tau itu masalah besar. Tapi... tapi aku nggak bisa bohongin perasaan aku."

Perasaan.

Dia... dia punya perasaan ke aku?

"Zahra, aku nggak minta kamu bales perasaan aku. Aku cuma... aku cuma mau jujur. Aku tertarik sama kamu. Dari pertama kali ketemu. Dan aku... aku mau kenal kamu lebih jauh. Nggak peduli kita beda agama. Nggak peduli kita beda status sosial. Aku... aku cuma mau ada buat kamu."

Aku nggak bisa ngomong. Mulut kebuka tapi nggak ada suara.

"Kamu nggak usah jawab sekarang. Aku tau ini berat. Tapi... aku harap kamu nggak nolak aku sepenuhnya. Aku harap... kita bisa jadi temen dulu. Itu aja."

Temen.

Tapi... tapi Bapak udah ngingetin aku. Bapak bilang jangan terlalu deket sama dia.

Tapi... tapi dia udah nolongin Bapak. Dia udah nolongin aku.

"...Mas, aku... aku nggak tau harus jawab apa..."

"Nggak usah dijawab sekarang." Dia senyum. Senyum yang sedih tapi tulus. "Aku cuma mau kamu tau. Dan aku berharap... kita bisa ketemu lagi. Sebagai temen."

Aku natap dia. Lama. Mata ku masih basah.

"...oke. Sebagai temen."

---

Arkan ngajakin aku makan siang. Di restoran deket gedung kantornya. Restoran dengan AC dingin, meja kayu mengkilap, kursi empuk, dan menu yang... ya Allah, harganya bisa buat makan seminggu.

"Mas... aku... aku nggak enak... tempatnya terlalu mahal..."

"Zahra, santai aja. Aku yang bayar. Kamu pesen apa aja yang kamu mau."

"Tapi—"

"Nggak ada tapi. Kamu udah nggak makan dari pagi kan?"

Ketahuan.

"...gimana Mas tau?"

"Mata kamu cekung. Bibir kamu kering. Dan tadi pas kita jalan, kamu sempet pusing kan? Aku liat."

Aku... aku nggak nyangka dia ngeperhatiin sampe sedetail itu.

"Ayo pesen. Jangan malu-malu."

Akhirnya aku pesen yang paling murah—nasi goreng seafood, dua puluh lima ribu. Arkan pesen steak, delapan puluh ribu.

Selisih harga kita... kayak selisih dunia kita.

Sambil nunggu makanan dateng, kami ngobrol. Tentang banyak hal. Tentang pekerjaan dia—dia cerita dia kerja di perusahaan keluarga, handle proyek-proyek properti gede, meeting sana-sini, stress tapi seneng. Tentang pekerjaan aku—aku cerita aku nyuci baju keliling, langganan ku ada sepuluh orang, bayarannya nggak seberapa tapi cukup buat hidup sehari-hari. Tentang keluarga—dia anak kedua dari dua bersaudara, punya kakak perempuan dokter, punya Mama yang galak dan Papa yang diem aja. Aku anak tunggal, Mama udah meninggal tiga tahun lalu, Bapak sakit-sakitan.

Dan entah kenapa... ngobrol sama Arkan itu... gampang. Natural. Kayak udah kenal lama.

"Zahra, aku boleh nanya sesuatu?"

"Iya Mas?"

"Kamu... kamu pernah kepikiran buat cari kerja lain? Maksudku, kerja yang lebih... lebih layak? Yang ada gaji tetap, tunjangan, BPJS?"

Aku senyum pahit.

"Pernah, Mas. Tapi... aku cuma lulusan SMA. Nggak punya skill apa-apa. Nggak bisa komputer. Nggak bisa bahasa Inggris. Siapa yang mau nerima aku?"

"Aku bisa bantuin kamu."

"Mas—"

"Bukan bantuin dalam artian kasih uang. Maksudku, aku bisa cariin lowongan kerja buat kamu. Di perusahaan aku atau perusahaan lain. Kamu bisa jadi office girl, cleaning service, atau—"

"Mas, aku appreciate banget. Tapi... aku nggak bisa ninggalin Bapak. Dia butuh aku. Kalau aku kerja kantoran, aku nggak bisa jaga dia."

Arkan diam. "...aku ngerti."

Makanan dateng. Nasi goreng ku harum banget. Steak dia... ya Allah, segede gitu.

"Makanlah. Jangan mikirin apa-apa dulu. Nikmatin makanannya."

Aku mulai makan. Pelan. Nyoba sopan meskipun perut ku keroncongan parah. Rasanya... enak. Enak banget. Nasi gorengnya pake cumi, udang, kerang—baru pertama kali aku makan seafood selengkap ini.

"Enak?"

Aku ngangguk. Mulut penuh.

Arkan ketawa. "Kamu lucu kalau lagi makan."

Aku langsung malu. "Mas... jangan diperhatiin..."

"Habis, lucu sih."

Dan saat itu... saat itu aku ngerasain sesuatu yang aneh di dada.

Hangat.

Kayak ada yang nyala di dalem sana.

"...Mas, aku boleh nanya sesuatu?"

"Iya?"

"Kenapa Mas... kenapa Mas baik banget sama aku? Apa... apa ada maunya?"

Arkan berhenti makan. Natap aku.

"Nggak ada. Aku cuma... aku cuma suka liat kamu senyum."

DEG.

"...Mas jangan ngomong kayak gitu..."

"Kenapa? Itu kan jujur."

"Karena... karena aku takut... takut aku salah paham..."

"Salah paham gimana?"

"Salah paham kalau... kalau Mas... suka sama aku..."

Arkan senyum. Senyum yang bikin jantung ku berdebar.

"Memangnya kalau aku suka, kenapa?"

Dan aku nggak bisa jawab.

Karena jawaban aku... aku sendiri nggak tau.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 6...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!