Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pertemuan Kedua
#
Musholla Yayasan Al-Hakim sunyi.
Mahira tiba lebih awal—jam 3:45 sore. Ia duduk di sudut ruangan dengan sajadah di depannya, memegang Tasbih Cahaya erat-erat. Dzikir pelan keluar dari bibirnya, berulang kali, mencoba menenangkan jantung yang berdebar kencang.
"Ya Allah, tunjukkan kebenaran padaku," bisiknya. "Tunjukkan siapa dia sebenarnya."
Pintu musholla terbuka. Langkah kaki pelan terdengar—dan aroma cologne woody dengan hint mint menyeruak. Mahira tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Zarvan.
"Assalamualaikum."
Suara itu—suara yang dalam dan menenangkan—membuat bulu kuduk Mahira berdiri. Ia menoleh pelan.
Zarvan berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana hitam. Tidak ada jas. Tidak ada dasi. Lebih santai dari pertemuan pertama mereka di kantor. Tapi entah kenapa, justru terlihat lebih... nyata.
"Waalaikumsalam," jawab Mahira pelan. Ia berdiri, merapikan hijab pashmina abu-abunya.
"Maaf kalau aku datang lebih awal dari jadwal." Zarvan masuk, melepas sepatunya dengan hati-hati. "Aku... aku nggak sabar."
"Nggak sabar kenapa?"
"Untuk ketemu kamu lagi." Jawaban jujur yang membuat Mahira tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Boleh aku duduk?"
Mahira mengangguk. Mereka duduk berhadapan dengan jarak aman—meja rendah kecil di antara mereka. Tasbih Cahaya masih di genggaman Mahira, tersembunyi di balik lengan bajunya.
Keheningan sesaat. Tidak ada yang bicara. Hanya suara angin dari jendela yang sedikit terbuka dan azan Ashar yang sayup terdengar dari masjid terdekat.
"Mahira," Zarvan memulai, "aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana."
"Mulai dari mimpi-mimpi itu." Mahira menatapnya langsung. "Kamu bilang kamu juga punya mimpi tentang Aisyara. Ceritakan."
Zarvan menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya—gesture frustrasi yang familiar. "Mimpi itu mulai muncul sejak aku umur 15 tahun. Awalnya samar. Cuma kilasan. Tapi makin lama makin jelas. Aku melihat istana. Taman. Seorang wanita dengan gaun sutra. Dan... dan rasa sakit yang luar biasa di dada."
Mahira menggenggam tasbihnya lebih erat. Batu-batu hijau di tasbih itu mulai terasa hangat.
"Lalu apa lagi?" tanyanya.
"Aku melihat... kematian. Kematianku sendiri." Zarvan menatap tangannya—tangan yang gemetar halus. "Aku merasakan pisau menusuk dadaku. Merasakan darah mengalir. Merasakan napas terakhir. Dan yang paling menyakitkan..." suaranya serak, "...aku mendengar suara wanita itu menangis. Memohon aku untuk bertahan. Tapi aku nggak bisa."
Air mata mengalir di pipi Mahira tanpa ia sadari. "Wanita itu... aku?"
"Aku nggak tahu pasti waktu itu. Tapi sekarang..." Zarvan mengangkat wajahnya, menatap Mahira dengan mata yang berkaca-kaca. "Sekarang aku yakin. Wajahnya persis kayak kamu. Suaranya persis kayak kamu. Dan perasaan yang aku rasakan saat melihatnya..." ia menelan ludah, "...sama persis dengan perasaan yang aku rasakan saat pertama kali melihatmu di kantor kemarin."
Tasbih Cahaya di tangan Mahira mulai bercahaya lembut—sangat lembut hingga tidak terlihat kecuali kalau diperhatikan dengan seksama. Mahira merasakan getaran halus. Energi yang hangat. Energi yang... bersih.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada niat jahat.
Zarvan berkata jujur.
"Aku juga mimpi hal yang sama," Mahira akhirnya bersuara. "Aku melihat gimana kamu mati. Gimana aku... gimana Aisyara menangis di sampingmu. Dan gimana Khalil berdiri di sana dengan pisau berdarah."
"Khalil." Zarvan mengepalkan tangannya. "Dalam mimpiku, aku selalu melihat wajahnya. Mata yang penuh kebencian. Tapi aku nggak pernah tahu siapa dia di kehidupan sekarang. Sampai—" ia berhenti.
"Sampai apa?"
"Sampai kemarin. Waktu meeting dengan tim Qalendra Group." Zarvan menatapnya dengan serius. "Ada seorang pria di ruangan itu. Duduk di pojok. Nggak ikut bicara. Cuma... menatap. Dan saat mata kami bertemu, aku merasakan sesuatu. Seperti... déjà vu yang mengerikan."
Mahira menelan ludah. "Khaerul. Sepupuku."
"Nama yang muncul di mimpiku juga Khalil. Hampir mirip." Zarvan menggelengkan kepala. "Tapi aku nggak mau langsung judge. Mungkin aku salah. Mungkin—"
"Kamu nggak salah." Mahira memotong. "Dia... dia juga tahu. Dia juga punya ingatan yang sama. Dan dia... dia sudah ngancam aku."
Wajah Zarvan mengeras. "Dia ngancam kamu?"
"Bukan cuma aku. Keluargaku. Khususnya kakakku, Raesha." Mahira mengeluarkan ponselnya, menunjukkan screenshot pesan ancaman yang ia terima. "Dia nggak mau aku menggali masa lalu. Nggak mau aku cari tahu kebenaran."
Zarvan membaca pesan itu dengan rahang yang mengeras. "Kita harus lapor polisi—"
"Polisi nggak akan percaya. Ini soal kutukan 300 tahun lalu. Siapa yang akan percaya?" Mahira menarik ponselnya kembali. "Dan aku juga nggak yakin Khaerul yang kirim semua ancaman ini. Mungkin ada orang lain. Orang yang nggak kita kenal. Orang yang punya kepentingan agar kutukan ini terus berlanjut."
"Kutukan..." Zarvan mengulangi kata itu perlahan. "Jadi kamu percaya ini kutukan? Bukan sekadar... kebetulan? Atau halusinasi kolektif?"
"Aku sudah cari tahu. Sudah riset. Sudah ke museum dan nemuin bukti-bukti sejarah." Mahira menatapnya dengan pandangan serius. "Ini nyata, Zarvan. Putri Mahira Kencana—yang di masa lalu dipanggil Aisyara—itu aku. Dan Pangeran Dzarwan Al-Hakim itu kamu. Kita adalah reinkarnasi mereka. Atau lebih tepatnya... kita membawa fragmen spiritual mereka."
"Fragmen spiritual?"
"Ustadz Hariz—penasihat spiritual yang aku datangi—bilang begitu. Kita bukan reinkarnasi penuh. Tapi jiwa kita membawa potongan energi dari mereka. Energi yang terikat kutukan. Dan kutukan itu nggak akan putus sampai... sampai kita menyelesaikan apa yang mereka nggak sempat selesaikan."
Zarvan terdiam lama. Memproses semua informasi yang baru saja ia dengar. "Dan apa yang harus kita selesaikan?"
"Tiga hal." Mahira mengangkat tiga jari. "Pertama, ungkap kebenaran. Siapa pembunuh sebenarnya dan kenapa tragedi itu terjadi. Kedua, berikan pengampunan. Baik dari korban ke pembunuh maupun sebaliknya. Dan ketiga..." ia berhenti, pipinya memanas, "...penuhi cinta yang tertunda. Dengan cara yang diridhai Allah."
"Cinta yang tertunda," gumam Zarvan. "Maksudnya... kita harus..."
"Menikah." Mahira menyelesaikan kalimatnya. "Kalau memang kita berjodoh. Kalau memang ini takdir."
Keheningan kembali menyelimuti. Zarvan menatap Mahira dengan intensitas yang membuat ia tidak berani menatap balik.
"Mahira," suara Zarvan pelan, "aku nggak kenal kamu. Kita baru ketemu dua kali. Dan dalam kondisi normal, aku nggak akan pernah ngomong hal ini secepat ini. Tapi..." ia menarik napas dalam, "...tapi aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan. Sesuatu yang... yang kayak aku udah kenal kamu sejak lama. Sejak sangat lama."
Tasbih Cahaya bercahaya lebih terang. Mahira merasakan kehangatan menjalar dari tangannya ke seluruh tubuh. Ini bukan bohong. Ini bukan manipulasi. Ini perasaan tulus.
"Aku juga merasakan hal yang sama," akunya pelan. "Tapi aku takut, Zarvan. Aku takut ini cuma ilusi dari kutukan. Aku takut perasaan ini bukan asli. Aku takut... aku takut semuanya akan terulang dan kamu akan mati lagi."
"Maka kita pastikan ending kali ini berbeda." Zarvan mengulurkan tangannya—tidak menyentuh, hanya terulur di atas meja. Offering. "Kita nggak harus buru-buru. Kita bisa kenalan dulu. Sebagai Mahira dan Zarvan. Bukan Aisyara dan Dzarwan. Kita bangun fondasi yang baru. Yang kuat. Yang nggak didasarkan pada masa lalu tapi pada siapa kita sekarang."
Mahira menatap tangan itu. Tangan yang pernah memegang tangannya 300 tahun lalu. Tangan yang pernah berusaha melindunginya tapi gagal.
Perlahan, ia meletakkan tangannya di telapak Zarvan.
Dan visi meledak.
***
Tapi kali ini berbeda. Bukan visi masa lalu. Tapi visi masa depan.
Mahira melihat dirinya sendiri—lebih tua, mungkin 30-an. Berdiri di sebuah taman. Taman yang sama dengan taman di istana masa lalu, tapi dibangun kembali dengan gaya modern. Zarvan berdiri di sampingnya. Mereka berdua tersenyum. Bahagia.
Lalu scene berubah. Mahira melihat mereka berdua di altar pernikahan. Mengucap ijab kabul. Saling menatap dengan cinta yang tulus.
Scene berubah lagi. Mahira melihat dirinya hamil. Zarvan memegang perutnya dengan lembut, berbicara dengan bayi yang belum lahir.
Dan scene terakhir. Mahira melihat mereka berdua—sudah beruban—duduk di teras rumah sambil melihat matahari terbenam. Tangan mereka saling bertautan. Tersenyum. Damai.
***
Mahira menarik tangannya cepat—napasnya tercekat.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Zarvan. Wajahnya pucat. "Kamu juga dapat visi?"
"Masa depan," bisik Mahira. "Aku... aku lihat masa depan kita. Kita menikah. Punya anak. Tua bersama. Dan... dan bahagia."
Zarvan menutup matanya. "Aku juga lihat. Visi yang sama." Ia membuka matanya lagi—dan kali ini ada air mata di sana. "Berarti... berarti ini mungkin? Kita bisa punya ending yang berbeda?"
"Kalau kita berjuang untuk itu. Kalau kita nggak menyerah." Mahira mengusap air matanya sendiri. "Tapi Zarvan, kamu harus tahu. Ini nggak akan mudah. Akan ada orang-orang yang coba menghalangi. Akan ada bahaya. Akan ada—"
"Aku nggak takut." Zarvan memotong dengan tegas. "Aku sudah mati sekali di kehidupan lalu karena nggak bisa melindungimu. Kali ini, aku nggak akan biarkan itu terjadi lagi. Apapun yang terjadi, aku akan berjuang. Untuk kita."
Mahira merasakan dadanya sesak—tapi bukan karena sakit. Karena... harapan. Harapan yang mulai tumbuh setelah sekian lama hidup dalam ketakutan.
"Jadi... jadi apa langkah kita selanjutnya?" tanyanya.
"Kita kenalan. Beneran kenalan. Sebagai diri kita yang sekarang." Zarvan tersenyum—senyum pertamanya sejak mereka duduk. "Aku mau tahu siapa Mahira Qalendra. Apa yang kamu suka. Apa yang kamu benci. Mimpi kamu. Ketakutan kamu. Semuanya."
"Dan aku mau tahu siapa Zarvan Mikhael Al-Hakim." Mahira membalas senyumnya.
"Deal." Zarvan mengulurkan tangannya lagi—kali ini untuk berjabat formal. "Mari kita mulai dari awal. Aku Zarvan. CEO Al-Hakim Corporation. Hobby ku ngaji sama anak-anak yatim di yayasan. Dan aku... aku suka kopi hitam tanpa gula."
Mahira menjabat tangannya sambil tertawa—tertawa pertama yang lepas sejak berhari-hari. "Aku Mahira. Direktur Pengembangan Qalendra Group yang masih belajar. Hobby ku baca novel dan jalan-jalan ke tempat bersejarah. Dan aku juga suka kopi hitam tanpa gula."
"Kita punya kesamaan," kata Zarvan dengan mata berbinar.
"Banyak kesamaan." Mahira mengangguk.
Mereka saling menatap—dan untuk pertama kalinya, bukan dengan beban masa lalu. Tapi dengan harapan untuk masa depan.
Masa depan yang akan mereka bangun bersama.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 14**