Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Bingung
“Bagaimana kalau kita membatalkan perceraian ini?” tanya Arsen sekali lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih rendah, tetapi ada keseriusan yang jelas tersirat di dalamnya.
Keira yang semula tertawa perlahan menghentikan tawanya. Suasana mendadak hening.
Ia menoleh, menatap Arsen cukup lama seolah berusaha mencari tahu apakah pria itu sedang bercanda atau benar-benar menginginkan hal tersebut.
Namun, ekspresi Arsen sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sedang bergurau. Wajahnya tenang, tatapannya lurus, dan sikapnya begitu meyakinkan.
“Kamu bercanda, kan?” Keira akhirnya bersuara. Meski begitu, nada bicaranya tak lagi terdengar santai seperti sebelumnya.
Ia mengalihkan pandangan, lalu membungkuk untuk mengambil sebuah kerikil di dekat kakinya. Tanpa banyak berpikir, dilemparkannya batu kecil itu ke sungai.
Byur!
Permukaan air yang tenang seketika menimbulkan riak-riak kecil.
“Bukannya kamu sudah mengurus surat perceraian kita?” tanyanya sambil tetap memandangi aliran sungai di hadapannya.
Arsen langsung menoleh. Ada keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan dari wajahnya.
“Kamu tahu dari mana?”
Keira mengangkat bahu, seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting.
“Ya, aku tahu, dong. Aku dengar sendiri waktu kamu menelepon pengacaramu.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kamu sendiri yang menyuruh dia mengurus semua proses perceraian kita, bukan?”
Arsen terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Keira telah mengetahui rencananya sejak awal.
Sementara itu, Keira kembali mengarahkan pandangannya ke sungai. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah pembicaraan tentang perpisahan mereka hanyalah perkara sepele yang tak perlu dipikirkan terlalu dalam.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Hanya Keira yang tahu betapa sulitnya ia berpura-pura tidak peduli.
“Kalau begitu, apakah kamu sedih kalau kita benar-benar bercerai?” tanya Arsen tiba-tiba.
Keira tersenyum tipis. Sayangnya, senyum itu sama sekali tidak memperlihatkan kebahagiaan.
“Sedih?” Ia mengulang pertanyaan tersebut dengan nada ringan. “Enggak, lah.”
Keira mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara.
“Justru setelah kita bercerai, aku bisa hidup lebih bebas. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus terus-menerus menjadi istri yang selalu dianggap salah olehmu.”
Ucapan itu terdengar tenang, tetapi setiap katanya menyimpan kekecewaan yang selama ini ia pendam.
“Aku juga bisa mencari calon suami yang sesuai dengan keinginanku,” tambahnya tanpa menyadari bahwa kalimat tersebut justru membuat rahang Arsen mengeras.
Entah mengapa, membayangkan Keira bersama pria lain mendadak membuat hatinya terasa tidak nyaman.
“Kamu juga bisa bebas, kok,” lanjut Keira. “Kamu bisa menikah lagi dengan wanita yang memang kamu inginkan. Jadi, kita sama-sama bisa mendapatkan kehidupan yang kita mau.”
Arsen tidak menjawab. Bukankah sejak awal dirinya memang menginginkan perpisahan ini. Lantas, mengapa ketika Keira membicarakan masa depan bersama pria lain, ada perasaan asing yang tiba-tiba mengusik hatinya?
Arsen sendiri tidak mengerti. “Bagaimana kalau kamu hamil?” tanyanya mendadak.
Keira sontak menoleh dengan mata membulat. “Apa?”
“Bagaimana kalau kamu hamil?” Arsen mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan tatapan yang sulit diartikan.
Keira menatapnya seolah pria di hadapannya baru saja mengatakan sesuatu yang paling tidak masuk akal di dunia.
“Hamil? Kamu sudah gila, ya? Memangnya aku hamil dengan siapa?”
Arsen membalas tatapannya tanpa berkedip. “Dengan siapa lagi kalau bukan denganku? Aku ini suamimu, Keira.”
Mendengar jawaban itu, Keira langsung bangkit berdiri. Ekspresi wajahnya berubah kesal, seakan tidak ingin mendengar pembicaraan tersebut lebih lama lagi.
“Ih, jijik banget!” serunya spontan. “Aku enggak mau punya suami sedingin kamu! Kamu itu enggak romantis, kaku, dan selalu bikin orang kesal!”
Ucapan Keira seketika membuat sorot mata Arsen berubah.
“Keira...” panggilnya dengan suara lebih berat.
Namun, Keira sama sekali tidak gentar. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Arsen dengan wajah penuh kekesalan.
“Enggak usah marah begitu, deh! Selama ini kamu juga selalu mengejek dan meremehkanku. Sekarang, kenapa tiba-tiba bertingkah seolah-olah kamu peduli?”
Arsen terdiam, sementara Keira segera memalingkan wajah.
“Aku enggak mau tahu! Pokoknya, perceraian kita harus tetap dilanjutkan!”
Setelah mengatakan itu, Keira berbalik dan berniat meninggalkan tempat tersebut.
Namun, baru satu langkah ia bergerak, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.
“Keira!”
Gadis itu tersentak dan langsung menoleh. “Apa lagi—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Arsen menariknya hingga tubuh Keira kembali mendekat kepadanya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Keira bahkan belum sempat memahami apa yang hendak dilakukan pria itu ketika Arsen tiba-tiba menundukkan wajahnya.
Dan detik berikutnya—
Bibir Arsen telah menempel pada bibirnya. Sebuah ciuman yang datang tanpa peringatan, di tengah keheningan pinggir sungai. Di bawah langit malam yang sunyi, Keira membelalakkan matanya.
Terkejut. Marah. Bahkan sulit mempercayai apa yang baru saja dilakukan Arsen. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari ciuman pria itu.
Tidak seagresif sebelumnya. Tidak pula sekasar yang pernah ia rasakan. Ada sesuatu yang terasa asing di sana, sesuatu yang membuat Keira justru kehilangan kemampuan untuk bereaksi.
Tubuhnya membeku selama beberapa detik, seolah pikirannya belum mampu mencerna kejadian yang berlangsung begitu tiba-tiba.
Hingga akhirnya, Keira tersadar dan segera mendorong dada Arsen sekuat tenaga.
“Cukup!” serunya dengan napas memburu.
Tatapannya tertuju pada pria di hadapannya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, menahan perasaan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.
“Kamu sebenarnya kenapa, sih?!” tanyanya dengan suara bergetar.
Arsen terdiam. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak langsung menemukan jawaban untuk membalas ucapan Keira.
Sementara itu, Keira menatapnya dengan campuran amarah dan kekecewaan yang sulit disembunyikan.
“Kamu pikir semua ini permainan?” Suaranya semakin bergetar. “Kamu menciumku, lalu setelah itu bilang mau menceraikanku. Sekarang, tiba-tiba kamu bilang enggak mau bercerai lagi. Sebenarnya, kamu menganggapku sebagai apa, Arsen?!”
Arsen menelan ludah. Bibirnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu. “Keira, aku—”
“Aku capek!” potong Keira sebelum pria itu sempat menyelesaikan ucapannya. “Aku capek menghadapi sikapmu yang terus berubah-ubah seperti ini!”
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kali ini, Keira bahkan tidak berusaha menyekanya. Ia sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat di hadapan pria yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan sekaligus luka di hatinya.
“Dulu, aku yang selalu mengejarmu,” ucapnya lirih.
Suaranya melemah, tetapi setiap kata yang keluar terdengar begitu jelas.
“Aku yang terus berusaha mempertahankan hubungan kita. Aku yang selalu bersabar menghadapi sikapmu, meskipun kamu dingin, meskipun ucapanmu sering menyakitiku.”
Arsen hanya mampu berdiri diam. Ia mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Keira tanpa berani menyela.
Anehnya, semakin lama gadis itu berbicara, semakin berat pula perasaan yang menekan dadanya.
“Tapi sekarang, saat aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpamu, saat aku mulai belajar menerima kenyataan bahwa mungkin kita memang enggak ditakdirkan untuk bersama, kenapa kamu justru kembali seperti ini?”
Keira tertawa kecil di sela tangisnya. Namun, tawa itu terdengar begitu getir, seolah ia sendiri tidak percaya dengan keadaan yang sedang dihadapinya.
“Lucu, ya?”
Angin malam berembus perlahan, menyapu wajah mereka dan membuat suasana di tepi sungai terasa semakin dingin.
Arsen menggerakkan kakinya, mencoba melangkah mendekati Keira.
“Keira...” panggilnya dengan suara yang jauh lebih lembut daripada biasanya.
Namun, gadis itu segera mundur beberapa langkah, menjaga jarak di antara mereka.
“Jangan mendekat.”
Tidak ada bentakan dalam suaranya kali ini. Tidak pula amarah yang meledak-ledak. Hanya sebuah permintaan sederhana dari seseorang yang sudah terlalu sering terluka dan kini berusaha melindungi hatinya sendiri.
Arsen menghentikan langkahnya. Untuk pertama kalinya, ia memilih menuruti permintaan Keira tanpa berusaha memaksakan kehendaknya.
Keira mengusap pipinya sekilas, lalu kembali menatap pria itu.
“Tadi kamu bilang enggak mau bercerai lagi.” Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Sebenarnya, apa alasanmu?”
Arsen terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa, ia kesulitan menemukan jawabannya.
Ia menunduk sesaat, mencoba memahami perasaannya sendiri.
“Aku...” Arsen menggantungkan ucapannya.
...
Like
Komen
Vote
Love you all