NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANG NYA SUAMI

Dua hari berlalu sejak kejadian di gang itu. Bekas cengkeraman di pergelangan tangan Anyara sudah memudar, tapi bekas di hatinya rasanya belum sepenuhnya sembuh—campuran antara trauma ringan, rasa syukur, dan bayang-bayang wajah Hans yang terus muncul setiap kali ia menutup mata.

Juned pulang sore itu, membawa koper kecilnya dengan wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa selama dua hari kepergiannya.

"Aku pulang," ucapnya singkat, meletakkan koper di sudut kamar.

"Gimana tugasnya, Mas? Lancar?" tanya Anyara, mencoba bersikap senormal mungkin meski hatinya masih menyimpan banyak hal yang belum terungkap.

"Lancar. Capek aja banyak meeting," jawab Juned singkat, langsung merebahkan diri di kasur tanpa menanyakan kabar Anyara sedikit pun—tidak menanyakan bagaimana keadaan di rumah, tidak menanyakan apa pun tentang istrinya sendiri.

Anyara menatap punggung suaminya sebentar, lalu memilih diam, keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. Dalam hati, ia membandingkan lagi—tanpa bisa ia cegah—betapa berbedanya perhatian yang dua hari lalu ia terima dari Hans, dengan ketidakpedulian yang selalu ia terima dari suaminya sendiri.

Malam itu, saat makan malam bersama, Ratih tiba-tiba bertanya, "Anyara, kemarin-kemarin kamu kenapa pulang telat waktu beli bumbu ke pasar? Ibu sampe khawatir."

Anyara terdiam sesaat, memikirkan apakah harus menceritakan kejadian sebenarnya atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk jujur sebagian.

"Kemarin ada kejadian, Bu. Waktu pulang dari pasar, saya sempat digangguin orang mabuk di gang."

Juned yang sedang makan, tiba-tiba berhenti mengunyah, menatap Anyara dengan ekspresi terkejut yang datang terlambat. "Digangguin gimana? Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa, Mas. Untung ada yang nolongin," jawab Anyara, sengaja tidak menyebutkan nama Hans secara langsung.

"Nolongin siapa?" tanya Ratih, penasaran.

Anyara ragu sejenak sebelum menjawab, "Kebetulan ada yang lewat, orangnya baik, langsung bantuin saya."

Juned mengernyit, seperti baru menyadari sesuatu. "Kok kamu nggak cerita dari kemarin? Ini serius lho, Ra, kalau ada apa-apa gimana?"

Anyara menatap suaminya, menahan diri untuk tidak membalas dengan sindiran tajam seperti, "Memangnya Mas peduli, sementara Mas sendiri lagi asyik sama yang lain?" Tapi ia hanya menjawab, "Saya nggak mau bikin Mas sama Ibu khawatir aja pas lagi di luar kota."

Ratih, yang biasanya cerewet dan mudah mencurigai Anyara, kali ini justru terlihat sedikit menyesal. "Ya ampun, Anyara, kok bisa kejadian gitu. Lain kali kalau ke pasar, jangan lewat gang sepi, apalagi sore-sore."

"Iya, Bu," jawab Anyara singkat.

Juned masih terlihat gelisah, meski Anyara tahu betul, kegelisahan itu lebih ke rasa bersalah samar yang cepat berlalu daripada perhatian tulus yang seharusnya ditunjukkan seorang suami pada istrinya yang baru saja mengalami kejadian menakutkan.

Setelah makan malam selesai dan Ratih sudah masuk kamar, Juned duduk di ruang tengah, memanggil Anyara yang sedang mencuci piring.

"Ra, sini sebentar."

Anyara menghampirinya, duduk di kursi seberang dengan perasaan campur aduk.

"Soal kejadian kemarin," Juned memulai, "kamu yakin nggak apa-apa? Nggak perlu lapor polisi atau gimana?"

"Nggak usah, Mas. Udah lewat, saya juga udah baikan," jawab Anyara.

Juned mengangguk, lalu terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan nada yang berbeda, lebih pelan. "Ra, akhir-akhir ini kita kayak jauh ya. Aku ngerasa kamu banyak nyimpen sesuatu dari aku."

Anyara menatap suaminya, jantungnya berdebar. Ini kesempatan untuk mengungkapkan semuanya—struk hotel, pesan "Sayang", semua kecurigaan yang selama ini ia pendam. Tapi teringat saran Hans untuk bersabar, mengumpulkan bukti lebih lengkap dulu, ia menahan diri.

"Mas juga banyak nyimpen sesuatu kayaknya," jawab Anyara hati-hati, mencoba memancing.

Juned terdiam sesaat, matanya sedikit gelisah. "Maksud kamu apa?"

"Nggak, cuma perasaan aja, Mas. Akhir-akhir ini Mas kayak beda, sering pulang telat, sering nutup-nutupin HP."

Juned tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan. "Ah, kamu ini kebanyakan mikir. Aku cuma capek kerjaan aja, Ra. Nggak ada yang disembunyiin."

Anyara menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di sana, tapi yang ia temukan hanya kebohongan yang semakin terlatih, semakin lancar terucap tanpa keraguan.

"Ya udah, Mas," jawabnya akhirnya, memilih menyudahi percakapan itu sebelum emosinya benar-benar tidak terkendali.

Malam itu, setelah Juned tertidur, Anyara duduk sendirian di teras belakang, membuka galeri ponselnya, menatap kembali foto layar pesan "Sayang" yang tersimpan rapi di folder tersembunyi. Ia juga menambahkan catatan kecil di aplikasi notes—tanggal dan waktu setiap kejadian mencurigakan yang ia temukan, mulai dari struk hotel sampai kebohongan soal "tugas luar kota" yang baru saja terjadi.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Hans.

"Mbak, suami udah pulang kan? Gimana kabarnya di rumah?"

"Udah, Pak. Pulang sore tadi, biasa aja kayak nggak terjadi apa-apa."

"Mbak udah cerita soal kejadian kemarin?"

"Udah, tapi saya nggak sebut nama Bapak. Cuma bilang ada yang nolongin."

"Nggak apa-apa, Mbak. Yang penting Mbak aman. Tapi kalau boleh saran, hati-hati juga soal HP Mbak, jangan sampe ketahuan chat sama saya, biar nggak nambah masalah baru buat Mbak."

Anyara membaca pesan itu, menyadari betapa Hans selalu memikirkan keselamatannya lebih dari kepentingannya sendiri—sesuatu yang semakin membuat perbandingan dengan Juned terasa semakin timpang, semakin sulit ia abaikan.

"Terima kasih, Pak. Saya bakal lebih hati-hati."

Ia mengunci ponselnya, menatap langit malam yang mulai cerah setelah beberapa hari mendung. Dalam hatinya, rencana untuk mengumpulkan semua bukti sudah semakin matang, dan ia tahu, waktu untuk konfrontasi besar itu tidak akan lama lagi.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!