Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. keputusan Rania
Malam tahlilan di rumah Ilham diiringi dengan gerimis melanda sehingga membuat suasana semakin terasa begitu suram sekali, mana mereka memang sedang berduka dan ditambah lagi sepertinya malam ini ada sesuatu yang terus mengintai sehingga membuat mereka yang duduk di dalam rumah itu terlihat begitu gelisah dan tidak dapat ketenangan sama sekali.
Rania menoleh kepada kamar milik Rina berulang kali karena dia merasa seperti ada seseorang yang sedang berlari-lari di dalam kamar itu, namun tadi dia sudah berusaha mengintip tapi tidak ada yang berlari di dalam kamar karena penghuni rumah ini memang Hanya mereka bertiga saja sehingga tidak ada yang memiliki anak kecil.
Rina dan juga Ilham belum dikaruniai seorang anak sehingga mereka tidak memiliki anak dalam rumah tangga tersebut, tapi rasanya jelas sekali Rania melihat ada seseorang yang terus berlari ke sana kemari di dalam kamar itu sehingga dia merasa tidak tenang dan terus berharap bahwa itu semua hanya ilusi saja.
Duk.
Duk.
Mata Rania kembali melirik kepada kamar itu namun dia tetap tidak melihat ada sesuatu yang aneh, sementara orang lain terus fokus membaca Surah Yasin yang ada di tangan karena mereka mengirim doa untuk Rina agar mendapat ketenangan di alam sana tanpa ada gangguan sama sekali.
Namun bukan hanya Rania yang merasa resah malam ini ketika sedang membaca tahlil, Ayu mendadak saja mencium aroma yang tidak sedap sehingga membuat dia kelabakan dan menoleh ke sana kemari untuk mencari sumber bau tersebut, dan lagi Ayu juga takut bila nanti aroma itu dicium oleh orang lain sehingga akan menimbulkan fitnah.
"Kau mencium tidak aroma yang tidak sedap ini?" Arin malah bertanya duluan karena sejak tadi dia sudah mencium.
"Enggak kok." Ayu berdusta karena dia tahu Arin bermulut ember.
"Penciuman kau itu bagaimana sih? jelas ini bau amis yang sangat menusuk campur dengan bau darah juga!" Arin berkata dengan sangat keras.
"Mbak!" Ayu melotot karena dia tidak mau nanti akan menjadi perdebatan.
"Aku dari tadi juga mencium aroma tidak sedap ini namun aku memilih untuk tetap diam." Winar menatap Arin dengan tajam.
"Kalau saja aku mampu menahan aroma ini maka aku juga tidak akan bersuara." ujar Winar sambil mengusap hidung berulang kali.
"Ini mungkin bekas mencuci ayam tadi sore, sepertinya aku lupa membuang sehingga bau amis seperti ini." Rania langsung membuka suara.
"Oh Pantas aja bau begini karena kau lupa membuang bekas cucian ayam, paling ada potongan kulit juga yang tersimpan ya." Ayu langsung menjawab ucapan Rania.
"Tadi karena terburu-buru jadi aku lupa untuk membuang itu." Rania mengangguk dengan wajah kaku.
Sebab yang dia katakan saat ini hanya dusta belaka untuk menutupi Semua fakta yang ada, Untung saja Ayu Malah mendukung sehingga dia bisa menutupi permasalahan bau amis yang sangat menusuk hidung bagi para warga yang sedang membaca tahlil ini.
"Ini memangnya bau apa Kok sangat menusuk hidung seperti ini?" Rania membatin di dalam hati.
Sebab saat ini dia juga penasaran setengah mati apa yang menjadi aroma amis itu sehingga mengganggu para warga tersebut, bukan hanya para warga saja tapi Rania ikut merasa cemas karena dia takut bila nanti terjadi sesuatu pada arwah Rina dan menyebabkan kekacauan semakin besar terjadi Desa ini.
"Tidak, aku tidak boleh berburuk sangka seperti itu." Rania menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Mbak Umi bertanya kepada Rania yang duduk di sebelah dia.
"Eh enggak kok." jawab Rania dan berusaha untuk tersenyum.
"Do'akan saja yang terbaik untuk beliau." Umi berkata dengan wajah.
Rania hanya bisa mengangguk saja dan dia berharap bahwa acara tahlil malam ini akan segera selesai dengan cepat sehingga mereka semua tidak menyadari tentang bau amis tersebut, meski sekarang sebagian sudah ada yang menyadari tentang hal itu namun tetap saja Rania tidak ingin bila itu lebih lanjut lagi.
...****************...
''Tidak usah di cuci karena tidak akan berguna juga.'' Ilham berdiri di depan pintu kamar mandi.
''Biar saja aku cuci karena bisa untuk kenang-kenangan dari Kak Rina.'' Rania menjawab dengan suara serak karena dia terus menangis.
''Padahal tinggal bakar saja tidak perlu susah payah seperti itu.'' Ilham Berkata sambil berjalan pergi.
Rania menoleh kepada pria tersebut dan rasanya dia ingin marah namun tidak tahu mau marah karena apa, tapi hati kecil dia mengatakan seolah Ilham sama sekali tidak berduka atas kematian Rina ini sehingga dia sejak kemarin terlihat biasa saja dan sekarang malah mengeluarkan ucapan seperti itu.
''Kamu tidak usah pikirkan kelanjutan hidup karena kamu akan tetap ada di dalam rumah ini.'' Ilham berkata dari meja makan.
''Ndak, Mas.'' Rania langsung menolak karena tidak mungkin dia tetap ada di dalam rumah ini.
''Kok ndak?'' Ilham menoleh karena dia tidak menyangka kalau Rania akan menjawab seperti itu.
''Setelah semua ini selesai maka aku akan beres dan tinggal di rumah Bude saja.'' Rania memberitahu niat dia.
''Rumah bude sudah sangat reot dan selama ini kosong tidak ada yang menghuni, Jadi bagaimana mungkin pula Kamu akan tinggal di rumah usang itu?'' Ilham sangat tidak percaya dengan keputusan Rania.
''Ya tidak apa-apa aku tinggal di sana karena memang itu masih layak untuk dipakai, Aku tidak ingin tinggal di sini karena Kak Rina juga sudah tidak ada.'' jelas Rania.
''Kamu itu tetap adik aku dan aku tidak akan pernah berbuat macam-macam sama kamu.'' Ilham tahu apa yang dipikirkan oleh Rania saat ini.
Namun Rania tetap menggeleng dengan sangat yakin karena dia tidak mau bila tinggal di rumah ini bersama dengan Ilham juga, hubungan mereka hanya sebatas ipar dan sudah pasti tidak layak dipandang mata bila mereka tetap tinggal di rumah ini berdua tanpa ada orang lain yang akan menemani.
''Kalau Kamu memang tidak mau serumah sama aku maka aku akan pindah ke rumah yang lain.'' Ilham memberikan pilihan.
''Tidak kok, Lagi pula kalau aku tetap ada di rumah ini maka akan selalu ingat dengan kak Rina.'' Rania berusaha untuk memberikan alasan.
''Ya sudah kalau memang kamu mau tinggal di rumah Bude maka tolong tunggu sebentar, nanti aku akan membereskan rumah itu terlebih dahulu.'' Ilham tidak ingin memaksa.
Rania hanya diam saja karena dia yang penting bisa keluar dari rumah ini dan tidak perlu tinggal ke rumah dengan Ilham lagi, sebab rasanya sangat tidak mungkin bila mereka tetap tinggal dalam satu rumah dan hubungan mereka hanya sebatas ipar seperti ini.
Selamat malam, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.