Kebangkitan goblin yang akan menjadi kuat dan akan melampaui semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nash, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 01.
Malam itu hutan tidak memiliki suara, tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara lolongan serigala, tidak ada kicauan burung malam, bahkan angin seolah-olah menahan nafas.
Hanya ada suara langkah kaki yang terdengar diantara pepohonan. "Duk.. Duk.. Duk.." puluhan bahkan ratusan.
Cahaya obor bergerak di antara batang-batang pohon seperti sekumpulan mata merah yang sedang mencari sesuatu.
"Periksa sebelah kiri!"
"Tidak ada!"
"Jejaknya ke arah sungai!"
"Jangan biarkan satu pun dari mereka yang lolos!"
Suara manusia.
Terlihat adanya sesosok goblin kecil yang sedang berjongkok di balik akar pohon, kedua tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar bukan karena dingin melainkan karena takut.
Di hadapannya terbentang sesuatu yang tidak ingin dilihatnya, sebuah lubang besar di tanah, dan itu adalah sarangnya atau yang tersisa darinya.
Api membakar pintu masuk, asap hitam keluar dari dalam dan di antara asap itu, sesuatu terlempar keluar.
Sebuah tangan kecil, hijau dan tidak bergerak, goblin itu memejamkan matanya "Ibu?..." dia tidak tahu apakah tangan itu milik ibunya atau bukan, dia tidak berani untuk memastikannya, karena kalau itu benar dia mungkin akan berteriak dan para manusia itu akan menemukannya.
Jadi dia tetap diam, menahan nafas, menahan tangis, menahan rasa sakit di dadanya.
Seorang manusia berjalan melewati tempat persembunyiannya, sepatu bot itu berhenti hanya beberapa langkah dari akar pohon, goblin itu melihat ujung sepatu tersebut yang berwarna coklat, di basahi oleh lumpur dan darah goblin.
Manusia itu memegang pedang, ujungnya masih menetes "Tik.. Tik.. Tik.." si goblin menggigit tangannya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Untuk sesaat mata mereka hampir bertemu, si goblin langsung membeku takut, manusia itu menyipitkan matanya kemudian terdengar suara dari kejauhan "Kapten!" manusia itu menoleh dan mengabaikan kecurigaannya tadi.
"Apa?"
"Kami menemukan tiga puluh tujuh.."
"Bagus!.. Masih ada yang hidup?"
"Tidak, kapten.."
"Lalu bagaimana dengan sarang goblin lainnya?"
"Belum ditemukan.."
Kapten itu diam sebentar kemudian berkata "Besok kita lanjutkan!.."
Goblin kecil itu menatap punggung manusia tersebut "Besok" kata-kata itu menancap di kepalanya kalau mereka para manusia akan kembali lagi, tidak puas dengan satu sarang goblin saja, tapi mereka akan mencari sarang-sarang goblin lainnya.
Mereka membakar, memburu, membunuh seperti yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun, goblin itu tidak mengerti kenapa, dia tidak tahu apakah nenek moyangnya pernah membunuh manusia, dia tidak pernah tahu siapa yang memulai perang ini, yang dia tahu hanyalah satu hal yaitu goblin selalu diburu.
Ketika mereka lahir mereka diburu, ketika mereka mencari makan mereka diburu, ketika mereka membangun sarang mereka diburu, ketika mereka melarikan diri mereka diburu, bahkan ketika mereka tidak melakukan apa-apa mereka tetap diburu.
Goblin kecil itu menundukkan kepalanya, dari celah akar pohon dia melihat api membakar rumahnya, rumah yang dibangun dari lumpur, rumah yang tidak memiliki pintu, tapi baginya itu adalah surga dunia.
Dan sekarang surga dunianya terbakar, satu persatu manusia itu akhirnya pergi meninggalkan sarang goblin ini, suara langkah mereka perlahan menghilang, cahaya obor semakin menjauh.
Goblin itu masih belum bergerak keluar dari akar pohon, dia menunggu satu menit, lima menit, sepuluh menit dan barulah dia keluar.
Kakinya terasa begitu lemas, dirinya hampir terjatuh namun dia memaksa dirinya untuk terus berdiri dan berjalan menuju ke sarangnya, udara panas dari api menyambutnya, bulu-bulu tubuh dan rambutnya terbakar sedikit ketika dia terlalu dekat, tapi dia tidak peduli, dia terus berjalan.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah kemudian dia berhenti, di depan pintu sarang terdapat sebuah tubuh goblin tua, matanya terbuka, tidak bernafas, lalu goblin itu berjongkok dan tangannya menyentuh wajah goblin tua tersebut "Dingin" dia menarik tangannya.
Dia kembali berjalan lagi lebih dalam, melihat satu tubuh, dua, tiga, empat, semakin jauh di masuk semakin banyak mayat yang ia lihat dan ia temukan, goblin anak-anak, goblin pemburu, goblin tua, goblin betina semuanya telah mati dan tidak ada satupun yang selamat.
Goblin kecil itu terus berjalan sampai akhirnya dia menemuka tempat tidur miliknya, ada sepotong kain tua yang sudah terbakar separuh lalu ia mengambilnya, mendekapnya ke dada dan kemudian ia duduk.
Untuk pertama kalinya dia menangis, tangisannya tidak keras, tidak meraung, hanya air mata yang jatuh satu per satu "Aku..." suaranya bergetar "A-aku sendirian.." tidak ada yang menjawab, matanya melirik ke sekeliling, tidak ada ayah, tidak ada ibu, tidak ada saudara, tidak ada tetangga, tidak ada siapa-siapa, hanya ada api, mayat dan bau darah.
Goblin itu menundukkan kepalanya, tangannya mengepal, kuku-kukunya menembus telapak, darahnya menetes, dia mengingat sesuatu, sebuah suara ibunya "Kalau manusia datang.. Jangan melawan.. Lari.. Larilah, sembunyikan dirimu"
Matanya terpejam lalu menarik nafasnya yang bergetar "Go-goblin tidak bisa mengalahkan manusia.." kemudian dia membuka mata, api tercermin di pupilnya, mengambil sebuah pedang rusak yang tergeletak di lantai milik salah satu goblin pemburu.
Pedang pendek berkarat, berat, tangannya langsung jatuh ke bawah karena berat pedang itu "Klang!" suara pedang yang terjatuh, dia menatapnya, mencoba mengangkatnya lagi, perlahan dan tangannya bergetar begitu pula tubuhnya.
Goblin itu menatap pantulan wajahnya pada permukaan logam yang kusam, wajah kecil, mata merah karena menangis, telinga panjang, kulit hijau, wajah yang bagi manusia hanya pantas untuk dibunuh.
Kemudian berbisik "Kenapa?" lalu dirinya mengangkat pedang itu "Kenapa kita harus mati seperti ini?" perlahan ia menurunkan pedangnya "Apakah karena kami itu monster?" tiba-tiba dia tertawa kecil suara tawanya terdengar aneh.
Kemudian ia mengingat semua mayat yang baru saja dilihatnya, dia mengingat tangan kecil yang keluar dari sarang, dia mengingat manusia perkataan manusia yang berkata "Besok kita lanjutkan!" dan goblin itu berhenti tertawa, perlahan ekspresinya berubah.
Ketakutan masih ada, kesedihan masih ada, tapi sesuatu yang lain mulai tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang jauh lebih gelap, rasa benci yang begitu dalam, dia menggenggam erat pedang itu lebih erat dari sebelumnya.
"Kalau kami tidak bisa mengalahkan kalian sekarang..." dia menatap pintu sarang lalu keluar, menatap luasnya hutan buas ini, dunia yang tidak mengenal namanya, dunia yang menganggap dirinya seekor monster kecil tak berguna "Mungkin nanti..." sambil menyeret pedangnya "Suatu hari nanti!" suaranya sangat pelan hampir seperti bisikan "Suatu hari nanti.. Kalian akan takut pada suara langkah kami!" lalu pergi.
Malam terus berjalan, api yang berkobar perlahan padam dan jauh didalam hutan buas ini seekor goblin yang seharusnya mati malam itu mulai terlihat tatapan tajam penuh dendam dan berjanji akan membalas semuanya.