Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 4
Mereka sudah cukup lama di tempat karaoke. Risa segera membawa ana pergi dari tempat itu setelah ia merasa puas bernyanyi menghilangkan penat.
ketika langkah mereka keluar dari ruang karaoke, tiba-tiba Risa terhenti di ambang pintu. Ia melihat
pria yang saat itu terus mantap Ana dengan mesum, Berdiri menatap nya penuh dendam sambil membawa sebuah botol kosong di tangan nya,
"Apa yang mau kamu lakukan!" tanya Risa sinis.
pria itu malah menyeringai lebar sebelum akhirnya ia melayangkan botol bir di tangan nya tepat di kepala Risa, kejadian itu begitu cepat sehingga Risa tidak sempat menghindar.
Seketika Susana hening, semua orang menatap ke arah mereka.
Darah segar mengalir di pelipis Risa yang tertunduk geram menahan emosi karena Ana masih ada di samping nya.
"Risa, kepala mu berdarah, Kita harus cepat kerumah sakit!" Ucap nya panik. Meraih pergelangan tangan Risa yang enggan bergerak dari tempat nya.
",Risa kita harus kerumah sakit!" paksa nya.
namun Risa tetap diam di posisi nya, ia melirik pada teman wanita nya memberi isyarat agar mereka membawa Ana keluar dari ruangan itu.
"Ana, sebaik nya kita keluar sekarang!" ucap salah seorang teman Risa, membawa paksa Ana pergi.
"Apa yang kalian lakukan? Risa sedang terluka dia harus di bawa kerumah sakit!" marah nya, menepis mereka.
Namun mereka berdua terpaksa menarik paksa Ana keluar dari sana. Agar semua nya cepat terselesaikan.
Risa menatap tajam pada pria itu yang masih berdiri di hadapan nya dengan wajah menantang.
ia berjalan pelan ke arah meja mengambil sebuah botol bir, langkah nya mendekat pada pria itu yang terlihat waspada. Namun tidak ia sangka Risa melempar botol di tangan nya dengan jarak 2 meter tepat mengenai kening pria itu hingga merintih kesakitan saat mata nya terkena serpihan kaca.
Risa menarik paksa kerah baju pria itu "Kamu tidak terima aku menegur mu tad!" bentak nya,
melayangkan tinju ke wajah pria itu, sampai ia tersungkur lalu menendang nya beberpa kali sampai orang itu tak berdaya di lantai.
Teman-teman nya yang ada di sana bahkan tidak berani menghentikan amukan Risa.
mereka hanya diam saja sampai Risa melepaskan pria itu dan pergi.
Langkah Risa sempoyongan keluar dari club malam, darah di kepala nya tidak mau berhenti. tiba-tiba ia jatuh pingsan saat keluar dari pintu club. Ana dan kedua teman wanita nya bergegas membawa Risa ke rumah sakit kota.
Dalam perjalanan Ana terus mencoba menghentikan pendarahan di kepala Risa hingga mereka sampai di rumah sakit. Risa segera di larikan ke UGD setelah tiba di sana.
.
.
.
Tidak lama, seorang dokter keluar mengatakan kalau luka di kepala Risa cukup serius dan ia harus menjalani rawat inap beberpa hari di rumah sakit.
mengetahui kondisi Risa yang cukup menghawatirkan, Ana langsung menghubungi Tante mei dan om satria untuk memberitahu kondisi Risa yang saat ini sudah berada di rumah sakit.
Dokter segera memindahkan Risa ke ruang rawat. langkah ana masuk dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia melihat Risa sudah sadarkan diri duduk di atas ranjang dengan perban di kepala nya.
"Maafkan aku Risa! Kalau bukan karena aku, kamu tidak akan terluka seperti ini!" Ucap nya, tertunduk salah.
Risa tau sejak kejadian di tempat karaoke yang menyebabkan ia terluka, ana terus menyalahkan diri nya sendiri. namun ia berusaha meyakinkan ana jika itu semua bukan kesalahan nya "Ana, ini bukan salah kamu, tapi salah baji**an itu yang tidak memakai otak saat bertindak!" maki nya, kesal.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, kamu lihat kan aku baik-baik saja!" lanjut nya, menunjukan diri jika ia tidak selemah itu.
Ana mengangguk pelan, namun hati nya masih terus menyalahkan diri sendiri. Di sela percakapan mereka
. Kedua orang tua Risa datang dengan wajah cemas dan marah setelah mendapat telepon dari Ana.
Risa melirik pada Ana, "Kamu memberi tahu mereka aku di sini!" tanya nya, pasrah saat ana mengangguk polos.
Kedua orang tua Risa terlihat geram saat melihat putri kesayangan mereka terluka, mereka tau kalau putri nya adalah seorang ketua gengstar. Namun sebelum nya Risa pernah berjanji tidak akan pernah melukai diri nya sendiri agar mereka tidak akan melarang nya lagi dengan urusan pribadi nya. Tapi kali ini ia malah terluka dan mengingkari janji nya.
sehingga membuat mereka akan menindak tegas Risa untuk berhenti dari dunia nya yang berbahaya.
Tante mei menatap Ana yang masih berada di samping putri nya, ia tidak bisa membahas soal ini di depan Ana, yang hanya seorang gadis polos yang bersih dari berbagai macam dunia gelap.
" Ana, kamu pasti lelah kan, Pulang dan istirahat lah!" ucap Tante mei, expresi nya sangat lembut ketika bicara dengan Ana
Ana tau jika mereka ingin bicara secara pribadi dengan Risa, jadi ia tidak menolak ketika mereka meminta nya untuk pulang. "Baik Tante, kalau begitu aku akan pulang. besok aku datang lagi!" Ia melambaikan tangan pada Risa. Sebelum pergi.
Risa membalas lambaian nya dengan senyum lebar.
"Sayang, kamu antar Ana pulang, kasihan dia!" pinta Tante mei pada suami nya.
Om satria bergegas mengejar Ana keluar setalah mendapat perintah dari istri nya."Tunggu ana! Biar om yang antar kamu pulang!" panggil nya, mengehentikan langkah Ana yang belum jauh dari ruangan.
Ana berbalik menghampiri om satria."Tidak perlu om, aku akan naik taksi online saja!"
"Kamu yakin?"
"Hmm.." angguk nya " om jaga Risa saja, tidak perlu khawatir kan aku!" Balas nya.
"Baiklah, hati-hati, beri kabar jika sudah sampai di rumah!"
"Baik om, aku pergi dulu!" Langkah nya menjauh dari Om satria.
Ana berjalan di koridor rumah sakit, ia membuka ponsel nya untuk memesan taxi. langkah nya lurus kedepan tapi mata nya terus fokus ke layar ponsel.
Di saat yang sama, Ana tidak sadar kalau ia berjalan melewati Hansen dan Ares yang baru saja keluar dari ruangan nya untuk meninggalkan rumah sakit.
Hansen tertegun diam melihat gadis yang sedang ia cari baru saja lewat di hadapan nya.
Reaksi Ares pun sama dengan nya "Bos Dia kan.." belum sempat ares menyelesaikan kalimat nya, Hansen merampas obat dari tangan nya. Dengan sangat cepat langkah nya sudah berada tepat di belakang Ana.
"Astaga, kenapa dia secepat kilat!" Keluh Ares. Ia hanya bisa memperhatikan bos nya mengikuti gadis yang di incar nya.
Ana masih tidak sadar jika langkah nya terus di ikuti oleh Hansen, tepat di belakang nya Sampai ia keluar dari rumah sakit.
Entah apa yang akan Hansen rencanakan? Ia terlihat berjalan maju lebih cepat melewati Ana. Langkah nya sengaja terus maju ketengah jalan saat melihat taxi online yang Ana pesan dari kejauhan datang.
Ana terbelalak kaget ketika melihat seseorang menyebarang jalan di saat ada mobil yang akan melintas. reflek Ia langsung menarik pergelangan tangan Hansen saat mobil hampir saja menabrak nya.
"Tuan! apa kamu tidak papa?" Tanya nya, panik.
Hansen berdiri tepat di hadapan Ana yang masih panik saat melihat orang yang hampir saja tertabrak mobil di depan mata nya.
Tubuh nya yang kecil terlihat sangat pendek di hadapan Hansen yang memiliki tinggi 190cm.
"Aku baik-baik saja, Terimakasih..kamu menyelamatkan ku lagi!" balas nya, suara nya terdengar sedikit serak.
Ana mendongak bingung setelah mendengar apa yang di ucapkan pria itu.
matanya terbelalak kaget." Kamu kan.." ia tertegun saat melihat pria yang pernah ia selamatkan ada di hadapan nya saat ini.
"Terimakasih nona, kamu menyelamatkan aku lagi! Aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikan mu!" Ucap nya tersenyum, Dengan wajah pucat.
Ana sampai lupa soal kejadian di sungai saat itu, sebab setelah kejadian itu tidak ada yang menghubungi nomer nya, untuk mengabarkan tentang kondisi pria di hadapan nya itu.
Tidak di sangka ia malah bertemu lagi dengan nya di rumah sakit.
matanya tiba-tiba tertuju pada bagian perut Hansen, yang mengeluarkan darah. Ia ingat jika pria itu terluka di bagian perut nya.
"Tuan luka mu terbuka!" Tunjuk nya, cemas
Hansen menoleh ke arah luka di perut nya dengan wajah kaget, padahal sebelum nya ia sengaja menekan luka nya agar mengeluarkan darah, untk menarik perhatian Ana, agar ia percaya jika diri nya sangat kasihan saat ini.
.
.
.
.
BERSAMBUNG..