Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagas selingkuh
Bu Ismi diseret Karin menuju sebuah butik kelas atas di pusat kota. Butik langganan orang-orang berkantong tebal dengan harga gaun yang bisa bikin mengelus dada. Seperti biasa, Karin mana mau yang biasa-biasa saja. Baginya, segalanya harus serba mahal dan terlihat mewah.
"Butiknya gede banget, Rin. Mewah begini pasti harganya mahal," celetuk Bu Ismi saat melangkah masuk.
"Ya iyalah, Bu! Masa Karin mau pakai gaun murah? Malu-maluin dong," sahut Karin penuh percaya diri sambil membusungkan dada. "Karin sama Mas Bagas kan orang kantoran. Mas Bagas itu manajer! Jadi semuanya harus kelihatan mentereng biar orang-orang pada iri!" lanjutnya tanpa malu-malu pamer.
Bu Ismi cuma bisa mengekor dan menuruti kemauan anak kesayangannya itu. Apa pun buat Karin, pasti dituruti.
Di dalam butik, tingkah Karin malah persis orang udik yang kaget melihat barang bagus. Semua gaun dicoba, diputar-putar di depan cermin, tapi ujung-ujungnya tak ada satu pun yang dibeli. Dia cuma berniat menyewa sepasang gaun pengantin. Kelakuannya sukses bikin para pegawai butik mengelus dada dan memendam kekesalan. Gaya selangit, tapi dompet ternyata menjerit. Mana sanggup dia membeli gaun pengantin di sana yang harganya puluhan juta, wong modal uang di tasnya saja cuma tiga juta rupiah.
Harga sewa sepasang gaun di sana pun tak bisa dibilang murah tujuh juta rupiah! Tapi ya lumayanlah pikirnya, daripada harus beli tunai yang tembus sampai 50 juta.
Puas memamerkan gengsi di butik, perut Karin mulai keroncongan. Dia pun mengajak ibunya bergeser ke kafe sebelah.
"Gila ya, mahal banget! Cuma buat beli baju aja uangnya bisa dapat dua motor," sungut Bu Ismi yang masih takjub karena baru pertama kali masuk butik sekelas itu.
"Namanya juga butik elit, Bu. Cuma kalangan atas yang sanggup belanja di sini. Ini belum seberapa, kalau yang langganan artis malah ada yang ratusan juta cuma buat satu gaun!" cerocos Karin bangga. Bu Ismi cuma bisa melongo mendengarnya.
"Laper nih, Bu. Makan dulu yuk," ajak Karin.
"Iya, Ibu juga laper," balas Bu Ismi.
Karin melangkah masuk ke kafe dengan dada berdesir penuh euforia. Bayangan pernikahan mewah yang sebentar lagi digelar membuat hatinya berbunga-bunga. Dia sudah tidak sabar ingin memamerkan momen kebahagiaannya dan membuat semua orang berdecak kagum.
Namun, senyum manis di wajah Karin mendadak luntur seketika. Matanya menangkap sosok yang sangat familier di sudut kafe. Pria itu... terlihat sangat mirip dengan calon suaminya, sedang duduk mesra bersama seorang perempuan cantik.
*Itu... Mas Bagas? Nggak mungkin, ah. Mas Bagas kan bilang lagi sibuk meeting di kantor,* batin Karin mencoba menepis rasa curiga yang mendadak menyeruak.
"Kok malah berhenti sih, Rin? Ayo duduk di sana aja," tegur Bu Ismi heran melihat Karin mendadak membeku.
Karin tidak menjawab. Pandangannya terkunci rapat. Semakin diperhatikan, dada Karin semakin bergemuruh panas. Itu memang calon suaminya! Bagas sedang duduk berdua dengan perempuan lain. Bukan cuma sekadar duduk ngobrol biasa, tapi saling suap-suapan dengan sangat mesra! Perempuan itu bahkan tanpa malu menggelayut manja di lengan Bagas.
Darah Karin serasa mendidih. Tidak mungkin perempuan itu cuma rekan kerja atau teman biasa. Teman mana yang sampai suap-suapan dan peluk-peluk lengan begitu?
"Bu... itu beneran Mas Bagas, kan?" bisik Karin gugup, berharap matanya cuma salah lihat.
"Mana?" Bu Ismi mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Karin. Sedetik kemudian, mulut Bu Ismi menganga lebar, rahangnya hampir jatuh saking kagetnya.
"Lho, iya! Itu kan Bagas calon suamimu, Karin! Cewek itu siapa?! Kok bisa mesra begitu?!" cecar Bu Ismi emosi.
Belum sempat Karin menjawab, perempuan cantik di seberang sana tiba-tiba mendaratkan kecupan manis di pipi Bagas.
BOM! Emosi Bu Ismi dan Karin langsung meledak seketika.
"Wah, brengsek ini! Kurang ajar!" maki Bu Ismi hilang kesabaran. "Dasar laki-laki tak tahu diri! Bisa-bisanya selingkuh padahal tinggal nunggu hari buat nikahin kamu! Kurang ajar begini harus dikasih paham, ayo kita labrak!"
Dengan emosi membumbung tinggi, Bu Ismi melangkah lebar menghampiri meja calon menantunya. Dia tidak terima anak kesayangannya dikhianati mentah-mentah seperti ini. Sementara Karin mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk hancur, marah, dan tidak percaya.
*Sret!*
Tanpa basa-basi, Bu Ismi menyambar gelas berisi air dingin di atas meja dan... *BYUURR!* Air itu sukses menyiram telak wajah Bagas!
"Apa-apaan ini?!" bentak Bagas kaget setengah mati, hingga membuat pengunjung kafe langsung menoleh serentak.
"Eh, kamu apa-apaan sih, Nenek Tua?!" teriak perempuan di samping Bagas histeris karena bajunya ikut kecipratan air.
"Mas Bagas..." suara Karin bergetar.
Bagas membeku seketika. Wajahnya yang basah langsung pucat pasi begitu melihat Karin berdiri di depannya. "K... Karin? Ngapain kamu di sini?" tanya Bagas gagap dan panik setengah mati.
"Harusnya aku yang tanya, Mas! Kamu ngapain di sini sama perempuan ini?! Dia siapa?!" cerca Karin balik dengan napas memburu.
Perempuan di sebelah Bagas malah membusungkan dada tak mau kalah. "Aku ini pacarnya Mas Bagas! Harusnya aku yang tanya, kamu siapa main datang langsung menyiram orang sembarangan?! Nggak sopan banget! Lihat baju aku sampai basah begini!" cerocosnya penuh emosi.
"P-pacar...?" Karin menatap Bagas dengan tatapan tidak percaya. "Beneran begitu, Mas?"
Bagas cuma bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, bingung dan tersudut.
"Dasar laki-laki brengsek!" maki Bu Ismi yang makin murka.
*PLAKK!*
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Bagas!
"Heh, Nenek Tua! Kenapa main tampar-tampar pacar aku, sih?! Mau aku laporin polisi kamu ya atas tindakan kekerasan?!" ancam perempuan itu pasang badan.
Karin mengabaikan perempuan itu. Jantungnya berdegup kencang, matanya menatap lurus ke arah calon suaminya. "Mas, jawab pertanyaanku. Beneran dia pacar kamu?"
Bagas menunduk, tak punya celah lagi untuk berbohong. "I... iya, dia pacarku," aku Bagas pelan.
Tubuh Karin mendadak kaku mendengar pengakuan polos itu. Matanya terasa panas menyengat. Melihat betapa lengketnya perempuan itu bergelayut di lengan Bagas, air mata yang ditahannya akhirnya lolos mendesak keluar.
*PLAKK!*
Satu tamparan lagi melayang, tapi kali ini dari tangan Karin sendiri!
"Apaan sih! Main tampar-tampar terus!" bentak perempuan itu emosi sambil mendorong tubuh Karin. Karin terhuyung mundur beberapa langkah, beruntung dia tidak sampai jatuh.
"Tega kamu ya, Mas..." tangis Karin akhirnya pecah. "Kita ini sebentar lagi mau nikah, tapi bisa-bisanya kamu malah selingkuh di belakangku?!"
"Ibu nggak terima anak Ibu dihina dan diperlakukan kayak gini, Bagas!" seru Bu Ismi dengan nada melengking, tak sanggup melihat anaknya menangis .
"Sebenarnya ada apaan sih ini?!" tanya perempuan di sebelah Bagas dengan raut bingung campur kebingungan.
"Asal kamu tahu ya, aku ini calon istrinya Mas Bagas! Lusa kita mau menikah!" tembak Karin, berharap gertakannya bikin perempuan itu melangkah mundur ketakutan.
Perempuan itu sempat melotot kaget. Tapi bukannya takut, dia malah makin mempererat pegangannya dan menggelayut manja di lengan Bagas tanpa rasa salah sedikit pun.
"Bagas, kamu jangan main-main ya! Undangan sudah tersebar ke mana-mana!" gertak Bu Ismi dengan suara meninggi. "Kamu mau bikin keluarga kami menanggung malu, hah?!"
"Nggak, nggak mungkin..." gumam perempuan itu santai. Dia lalu menatap Bagas dengan nada manja yang bikin mual. "Mas, kamu nggak jadi nikah sama dia, kan? Kamu tetap pilih aku, kan?"
Bagas cuma bisa melongo dan mematung. Otaknya buntu total. Di satu sisi dia ingin tetap menikahi Karin, tapi di sisi lain dia juga enggan melepas pacar simpanannya.
*Sialan! Kenapa juga harus ketahuan sekarang sih?!* maki Bagas dalam hati, merutuki kesialannya.
melihat kebingungan calon menantunya, kesabaran Bu Ismi benar-benar habis. "Sudah, Rin! Cukup! Ayo kita pergi dari sini! Pernikahan kalian batal!" seru Bu Ismi tegas sambil menarik paksa lengan Karin untuk keluar dari kafe.
"Karin, tunggu!" panggil Bagas refleks hendak mengejar.
Namun, dengan cepat si selingkuhan menahan dada Bagas kencang-kencang. "Sudahlah Mas, biarkan saja dia pergi! Katanya kamu cinta sama aku? Kamu pasti lebih pilih aku daripada dia, kan?"
Langkah Bagas pun tertahan. Dia cuma bisa berdiri pasrah mendengarkan rengekan selingkuhannya tanpa berbuat apa-apa.
Sementara itu, Karin sempat menoleh ke belakang saat berjalan keluar. Berharap ada langkah terburu-buru dari Bagas yang mengejarnya untuk memohon maaf. Tapi nihil. Pria itu bahkan tak bergeming sedikit pun.
*Tega banget kamu, Mas... Bahkan buat mengejar aku aja kamu nggak mau,* batin Karin ringsek, hatinya hancur berkeping-keping.
Sesampainya di rumah, kondisi Karin benar-benar kacau balau. Tangisnya pecah tak tertahankan lagi.
"Gimana ini, Bu? Nggak mungkin kan acaranya dibatalkan gitu aja?" isak Karin pilu. "Kita udah sewa semuanya, uang kita udah ludes cuma buat bayar DP!"
Bu Ismi memijat pelipisnya yang mendadak pening luar biasa. "Ibu juga pusing, Karin! Mana rumah ini udah kita gadaikan... Kita udah habis-habisan! Tapi lihat calon suamimu itu, malah enak-enakan selingkuh! Apa kamu masih mau ngelanjutin pernikahan sama laki-laki kayak gitu? Dia aja nggak ada usaha sama sekali buat ngejar atau ngelurusin masalah ini!"
Karin meremas dadanya yang terasa sesak dan nyeri luar biasa. Air matanya terus bercucuran deras. Perempuan mana yang tidak hancur melihat calon suaminya beradegan mesra dengan wanita lain di depan mata? Terlebih lagi, hari pernikahan sudah di depan mata dan undangan sudah tersebar luas.
"Karin nggak mau punya suami tukang selingkuh, Bu..." tangis Karin serak. "Tapi kalau sampai nikahan ini batal... mau ditaruh di mana muka kita? Kita bakalan rugi besar dan ditertawakan semua orang!"
Hati Karin terasa makin tenggelam dalam rasa malu dan frustrasi. Membayangkan namanya jadi bahan gunjingan tetangga karena gagal nikah benar-benar membuatnya ingin menghilang saja dari muka bumi.
**BERSAMBUNG.**