NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAUNGAN TANAH DAN DARAH

Raksasa Tanah melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, lumut hitam di bawah kakinya hancur menjadi debu. Makhluk itu mengangkat tangan kanannya kepalan batu sebesar meja makan dan menghantam ke bawah dengan kekuatan yang bisa menghancurkan dinding benteng.

Xuanyuan mendorong Lian Yue ke samping. "Turun!"

Pukulan itu menghantam tempat mereka berdiri sepersekian detik sebelumnya. Tanah terbelah, serpihan batu terbang ke segala arah. Xuanyuan terlempar ke batang pohon, napasnya tertahan. Rasa sakit di rusuknya meledak seolah ada yang merobeknya dari dalam.

Lian Yue bangkit lebih dulu, tangannya memegang sebilah belati kecil yang tersembunyi di lengan jubahnya. "Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kau cari celah!"

"Tidak!" Xuanyuan mencoba bangkit, tapi kakinya gemetar hebat. "Itu terlalu berbahaya!"

"Kita tidak punya pilihan!" Lian Yue berlari mengelilingi makhluk itu, berteriak dan melemparkan kerikil ke wajah Raksasa Tanah. "Hei! Di sini! Bodoh batu!"

Raksasa itu berputar perlahan, mengaum marah. Tangan kirinya menyapu ke samping. Lian Yue melompat mundur, tapi ujung jubahnya tersangkut sapuan itu menariknya jatuh ke tanah. Raksasa mengangkat kakinya, siap menginjak.

Xuanyuan tidak berpikir. Ia melompat ke depan, membiarkan tubuhnya menabrak kaki batu makhluk itu sekuat tenaga. Ia tidak menggesernya satu inci pun, tapi Raksasa itu kehilangan keseimbangan sesaat, kakinya terayun ke samping dan menghantam pohon besar. Dahan-dahan tua berjatuhan.

"Lari, Lian Yue! Sekarang!" teriaknya parau.

Lian Yue bangkit, tapi tidak lari. Ia berlutut di samping Xuanyuan yang terhuyung mundur, mengeluarkan selembar jimat kertas kuning dari pelukannya. "Ini jimat pengalih perhatian dari Sekte Awan Langit. Tidak akan menahan lama, tapi cukup untuk kita pergi."

Ia membakar jimat itu. Asap putih tebal membumbung tinggi, menyelimuti area sekitar. Di dalam kabut itu, suara langkah kuda semakin dekat pasukan pengejar sudah berada di tepi hutan.

Prajurit di pundak Raksasa Tanah tertawa. Bakar hutan! Biarkan asap itu tidak berguna!

Obor dilemparkan ke semak kering. Api melonjak tinggi, menyebar dengan cepat di sepanjang lumut hitam yang kering. Panas mulai menyengat kulit. Asap tebal kini bercampur dengan asap api, membuat pandangan hampir nol.

Xuanyuan merasakan panas di dadanya bukan dari api. Darah dari luka di rusuknya menetes ke tanah, dan di mana darah itu menyentuh lumut hitam, lumut itu tidak terbakar justru bergerak, melilit seperti ular kecil dan menyerap ke dalam tanah.

"Xuanyuan... tanah ini... tanah ini bukan tanah mati. Tanah ini menunggu. Darahmu... darahmu yang berbeda sedang membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur." Lang Wuyan terdengar terkejut, hampir takut.

"Aku tidak peduli," desis Xuanyuan dalam hati. "Asal itu bukan musuh kami."

Ia menarik napas, menahan rasa sakit yang luar biasa, lalu memegang tangan Lian Yue. "Ikut aku. Jangan lepaskan. Aku tahu jalan sekarang."

"Melihat apa? Dalam asap ini tidak ada apa-apa!"

"Pupil Ganda tidak melihat cahaya. Ia melihat kebenaran."

Di balik kain yang sedikit terlepas, dua pupil hitam berputar perlahan. Asap, api, dan kegelapan semuanya menjadi transparan. Ia melihat akar pohon yang tersembunyi, celah di antara bebatuan, dan jalur tanah yang padat dan aman. Bahkan Raksasa Tanah di depannya terlihat seperti bayangan yang lebih terang dari sekitarnya.

"Ke kiri! Tiga langkah, lalu lompat ke bawah!"

Mereka bergerak secepat kilat di tengah api dan asap, berbelok tajam, melompat di atas akar yang terbakar, menghindari dahan yang runtuh. Bagi musuh, mereka menghilang begitu saja. Bagi Xuanyuan, mereka berjalan di jalan yang terang benderang.

Namun Pangeran Xuan Hao yang tiba di tepi hutan tidak tertipu. Ia melompat dari kudanya, Qi di tangannya berkumpul menjadi bola cahaya putih yang menyilaukan. Kau bisa bersembunyi di asap, tapi kau tidak bisa menyembunyikan kelemahanmu, anak yatim! Aku tahu kau hampir mati!

Ia melemparkan bola cahayanya ke tengah hutan yang terbakar. Ledakan mengguncang tanah. Pohon-pohon tumbang. Panas yang luar biasa menyapu segala sesuatu.

Xuanyuan mendorong Lian Yue ke belakang batang pohon tebal yang belum terbakar sepenuhnya, menindih tubuhnya dengan tubuhnya sendiri untuk melindunginya dari puing-puing yang beterbangan. Telinganya berdenging. Matanya kabur. Di depan matanya, bayangan-bayangan berenang.

Dan di detik itu, di tengah keputusasaan, sesuatu berubah.

Dari dalam tanah, dari tempat darahnya meresap, muncul getaran yang lembut namun tak terhentikan. Lumut hitam di sekitar mereka bergerak, naik ke atas, membentuk dinding pelindung yang gelap dan kokoh tepat sebelum gelombang ledakan menghantam mereka.

Dinding itu retak, tapi tidak hancur.

Di luar, suara Xuan Hao terdengar bingung. Apa itu? Apa yang baru saja muncul?

Xuanyuan terengah-engah, menatap tanah di bawahnya dengan takjub. Ia tidak memanggil ini. Ia tidak tahu ini. Tapi tanah ini... menjawab darahnya.

"Benih Primordial... bukan hanya tersegel di dalam dirimu. Ia terhubung dengan tanah yang sama tua dengannya. Tanah ini adalah bagian dari tempat asalmu, Xuanyuan. Dan ia mengenali tuannya." suara Lang Wuyan bergetar hormat.

Raksasa Tanah di depan mereka berhenti bergerak. Kepala batu itu menunduk perlahan, seakan menghormati sesuatu yang lebih tinggi. Prajurit di pundaknya berteriak panik, memukuli kepala makhluk itu, tapi Raksasa itu tidak bergerak. Ia berbalik dan melangkah menghadap pasukan Kerajaan Langit Timur.

"Apa yang terjadi?" bisik Lian Yue takjub.

Xuanyuan berdiri goyah, pedang patahnya masih di tangan. Darah menetes dari dahinya ke matanya, membasahi kain penutup yang kini setengah terlepas.

"Aku tidak tahu," katanya pelan, tapi matanya memancarkan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya. "Tapi sepertinya... aku bukan satu-satunya yang dibuang ke tempat ini."

Raksasa Tanah mengaum ke arah pasukan pengejar, dan di dalam raungan itu terdengar bukan kemarahan melainkan pengakuan. Pengakuan pada darah yang mengalir di tubuh anak yatim yang berdiri di tengah api dan asap.

Xuan Hao mundur selangkah, matanya terbelalak ketakutan. Mundur! Semua mundur! Sesuatu yang salah sedang terjadi di hutan ini!

Dan di tengah kekacauan itu, Xuanyuan menggenggam tangan Lian Yue lebih erat.

"Mereka mundur. Ini kesempatan kita. Sungai Hitam tidak jauh dari sini."

"Kau yakin bisa berjalan?"

"Aku akan berjalan sampai kakiku hancur. Selama kau di sisiku, aku akan berjalan."

Mereka berjalan menjauh, diiringi raungan Raksasa Tanah yang menahan pasukan pengejar sendirian. Di belakang mereka, api terus membakar hutan. Tapi di depan mereka, di seberang sungai yang gelap, terbentang Benua Tengah tempat di mana takdirnya benar-benar akan dimulai.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!