NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Calon Suami

Penyesalan Seorang Calon Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi Belakang

Beberapa hari setelah percakapan malam itu, hubungan Ayana dan Angga masih terlihat baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran atau masalah besar. Angga juga mulai berusaha lebih sering berada di rumah. Sesekali ia membantu Ayana memeriksa persiapan pernikahan yang masih tersisa. Bahkan beberapa kali ia sengaja bertanya apakah ada sesuatu yang belum selesai.

Ayana menghargai usaha itu. Ia tidak ingin terus mengingat kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan Angga. Bagaimanapun, pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Ayana ingin menikmati masa-masa terakhir sebagai calon istri tanpa terus dipenuhi rasa curiga.

Pagi itu, mereka berencana pergi bersama untuk mengambil beberapa perlengkapan pernikahan yang sudah dipesan sebelumnya. Sejak pagi ia sudah bersiap karena sudah meremcanakan hal itu sejak kemarin. Ia mengenakan blouse sederhana dengan celana panjang berwarna terang. Rambut panjangnya diikat rendah agar tidak mengganggu ketika mereka berkeliling nanti.

Sementara itu, Angga masih memeriksa sesuatu di ponselnya ketika Ayana keluar dari kamar.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Ayana.

Angga mengangkat wajah menatap Ayana sebentar, lalu kembali fokus dengan ponselnya. “Iya. Sebentar.”

Ayana mengangguk. Ia mengambil tas kecilnya, lalu menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian, mereka berdua keluar rumah.

Namun baru beberapa menit setelah mobil berjalan, ponsel Angga kembali berdering. Lelaki itu melirik layar sebentar, dan nama Rara tertera di sana. Ayana yang duduk di sampingnya tidak sengaja melihat layar ponsel itu.

Angga segera mengangkat panggilan tersebut. “Halo?”

Ayana memilih diam. Ia tidak bermaksud mendengarkan percakapan Angga. Namun suara Rara terdengar cukup jelas dari sambungan telepon.

“Ga, maaf mengganggu. Aku sebenarnya tidak tahu harus menghubungi siapa.”

Nada suara Rara terdengar pelan namun Ayana cukup mendengarnya dengan jelas. Sedangkan Angga langsung terlihat lebih serius.

“Ada apa?” Tanya laki-laki itu cepat.

“Aku merasa tidak enak badan, dan ingin ke rumah sakit tapi tidak ada yang bisa mengantar.”

Angga terdiam beberapa saat, sedangkan Ayana menoleh ke luar jendela. Ia tidak ingin mendengarkan lebih banyak.

“Aku bisa mengantarmu,” jawab Angga akhirnya tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Ayana.

Mendengar keputusan sepihak itu, Ayana menoleh ke arah Angga sebentar. Ia menatap Angga yang masih memegang kemudi dengan satu tangan. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah laki-laki itu.

Setelah panggilan berakhir, Angga menatap Ayana sebentar. “Rara harus ke rumah sakit,”

Ayana tidak langsung menjawab. Ia melihat jam di layar ponselnya. Mereka sudah memiliki janji untuk mengambil perlengkapan pernikahan. Tempat yang mereka tuju juga cukup jauh dari rumah. Namun lagi-lagi Ayana mencoba memahami.

“Kalau begitu, kita antar Rara dulu.” Ucap Ayana akhirnya.

Angga terlihat sedikit lega. “Terima kasih, Na.”

Ayana hanya mengangguk. Mobil kemudian berbelok menuju tempat tinggal Rara. Sepanjang perjalanan, Ayana lebih banyak diam. Ia tidak marah dan belum ingin menganggap ini sebagai sesuatu yang salah.

Rara sedang hamil, dan memang sedang membutuhkan bantuan, tentu tidak ada salahnya Angga mengantarnya. Bukankah itu yang selama ini selalu dikatakan Angga? Dan Ayana mencoba mempercayai kalimat itu.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Rara. Rara sudah menunggu di depan pagar. Begitu melihat mobil Angga, wanita itu segera berjalan mendekat.

“Maaf, Ga.” Ucap

Angga membuka pintu mobil. “Tidak apa-apa. Kamu bisa jalan?”

Rara mengangguk. “Aku bisa.”

Namun ketika hendak masuk ke mobil, Rara tiba-tiba memegang perutnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.

Angga langsung turun dan menghampirinya. “Pelan-pelan,” ia langsung membantu Rara berjalan, dan Ayana memperhatikan semua itu dari dalam mobil. Tidak ada perasaan marah, hanya ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Angga membawa Rara sampai ke sisi mobil, kemudian ia membuka pintu depan.

“Duduk di depan saja supaya lebih nyaman.”

Ayana yang sejak tadi duduk di kursi depan langsung terdiam. Sedangkan Angga baru menyadari bahwa kursi tersebut ditempati Ayana.

Ia menatap Ayana sebentar. “Na…”

Ayana sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakannya.

“Rara sedang hamil. Sepertinya dia akan lebih nyaman kalau duduk di depan.”

Ayana menatap kursi yang didudukinya, lalu melihat Rara yang berdiri di samping mobil. Sedangkan Rara terlihat serba salah.

“Kalau begitu aku duduk di belakang saja,” ucap Ayana. Ia membuka pintu mobil dan turun tanpa menunggu Angga menjawab.

“Na, sebenarnya tidak perlu—”

“Aku tidak apa-apa.” Ayana tersenyum kecil. Ia kemudian membuka pintu belakang dan masuk.

Angga terdiam, Rara pun terlihat tidak enak hati.

“Aku bisa duduk di belakang saja, Ga.” Ucap Rara pelan.

“Tidak apa-apa,” jawab Ayana dari belakang. “Kamu sedang hamil. Duduklah di depan.”

Rara akhirnya masuk ke kursi penumpang, dan Angga kembali ke tempat kemudi. Mobil mulai melaju perlahan membelah jalanan.

Ayana menyandarkan punggungnya pada kursi belakang lalu menatap keluar jendela. Tidak ada yang salah dengan posisi itu, toh hanya kursi lagi pula perjalanan singkat dan Rara juga sedang hamil.

Ayana terus mengulang alasan itu dalam pikirannya. Namun entah kenapa, hatinya terasa sedikit sesak. Bukan karena ia harus duduk di belakang. Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa mudahnya posisinya digantikan.

Sementara itu, dari kursi depan, Angga beberapa kali bertanya kepada Rara tentang keadaan wanita itu.

“Masih sakit?” Tanya Angga sambil terus fokus dengan kemudi dan jalanan di depan.

“Sedikit.” Jawab Rara.

“Kalau begitu nanti setelah dari rumah sakit kita langsung pulang.” Ucap Angga, tanpa meminta izin kepada Ayana. Padahal hari ini mereka sudah membuat janji untuk melengkapi sisa barang yang memang diperlukan untuk persiapan pernikahan.

Rara mengangguk dan Ayana melihat interaksi itu. Ia mendengar semuanya, tapi masih tetap memilih diam. Dulu, ketika Ayana sakit, Angga juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan terkadang lelaki itu bisa begitu khawatir hanya karena Ayana mengeluh sakit kepala. Sekarang perhatian yang sama diberikan kepada perempuan lain.

Ayana memejamkan mata sebentar. Sungguh, ia tidak ingin membandingkan perhatian Angga untuknya dan untuk Rara. Calon suaminya memang sebaik itu. Apalagi Rara sedang mengandung dan memang membutuhkan perhatian. Tetapi hati manusia terkadang tidak bisa diperintah sesederhana itu.

“Na.”

Suara Angga membuat Ayana membuka mata.

“Kamu tidak apa-apa duduk di belakang?” Tanya Angga sambil menatap Ayana dari kaca spion tengah di dalam mobil.

“Aku tidak apa-apa.” Jawab Ayana sambil tersenyum kecil.

“Maaf ya.” Ucap Angga merasa bersalah. Kali ini ka menoleh ke belekang sebentar, dan menatap wajah Ayana sekilas.

Ayana kembali tersenyum lalu mengangguk “Tidak apa-apa, dan tidak perlu minta maaf.” Setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Ayana kembali menatap keluar jendela mobil. Benarkah dirinya baik-baik saja? Entahlah.

Di kursi pengemudi, Angga tidak lagi mengatakan apa-apa. Ia terus fokus dengan jalanan yang terus dilalui oleh mobil mereka.

Sesampainya di rumah sakit, Angga turun untuk membantu Rara, sedangkan Ayana tetap menunggu di dalam mobil. Ia sebenarnya ingin ikut turun. Namun melihat Angga begitu sibuk memperhatikan Rara, Ayana kembali mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin membuat hatinya semakin tidak nyaman karena terus melihat adegan itu.

Beberapa menit kemudian, Angga kembali mendekati mobil. Mungkin laki-laki itu baru menyadari jika Ayana tidak ikut dengan masuk ke dalam rumah sakit.

“Kamu tidak ikut masuk?” Tanya Angga saat sudah berada di dekat jendela mobil di mana Ayana berada.

Ayana menurunkan kaca mobil lalu menggeleng. “Tidak. Aku tunggu di sini saja.”

“Kamu yakin?” Tanya Angga lagi.

Ayana mengangguk dan Angga akhirnya kembali masuk ke dalam rumah sakit.

Ayana terus memandangi laki-laki itu dari balik jendela mobil. Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika melihat Angga begitu khawatir dengan kondisi Rara.

Beberapa tahun sejak kepergian Rara, Ayana yang selalu berdiri di samping Angga. Sekarang ada orang lain yang perlahan menempati tempat itu. Bukan orang lain, tetapi orang lama yang telah kembali.

Ayana menunduk dalam, sedangkan tangannya perlahan menyentuh cincin pertunangan di jarinya. Ia lalu menarik napas panjang.

“Tidak apa-apa,” bisiknya kepada diri sendiri.

Ia tahu Rara sedang membutuhkan bantuan. Ia juga tahu Angga sedang berusaha melakukan hal yang menurut nya benar. Dan Ayana tahu dirinya harus belajar memahami keadaan.

Hampir satu jam telah berlalu, dan Angga masih belum juga kembali, perasaan tidak nyaman itu semakin terasa di hati Ayana. Dan ia semakin sulit mengabaikan rasa tidak nyaman itu.

Ayana melihat jam di ponselnya, mereka seharusnya sudah berada di toko perlengkapan pernikahan. Karena tidak ada kabar apa pun dari Angga, Ayana akhirnya mengirim pesan.

Ga, kalau sudah selesai, kabari aku. Aku masih menunggu di mobil.

Tidak lama kemudian, pesan balasan masuk.

Maaf, Na. Dokter meminta Rara menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sepertinya kita harus menunggu.

Ayana membaca pesan itu beberapa kali, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia kembali menatap ke depan karena tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Tidak lama kemudian, ia tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti senyum seseorang yang sedang mencoba menerima sesuatu. Hari ini mungkin hanya kursi belakang. Besok mungkin hanya janji yang tertunda. Lusa mungkin hanya waktu yang kembali terbagi.

Ayana belum tahu akan sampai sejauh mana semua ini. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya dalam hati. Kalau dirinya terus memahami semuanya, kapan Angga akan mulai memahami perasaannya?

Ayana mengusap cincin di jarinya. Ia masih mencintai Angga, masih ingin menikah dengannya dan masih percaya pada lelaki itu.

Hanya saja, untuk pertama kalinya, Ayana mulai merasakan bahwa menjadi perempuan yang selalu mengerti ternyata juga bisa membuat seseorang terbiasa untuk tidak perlu mengerti.

Dan tanpa Angga sadari, kejadian sederhana di dalam mobil haru ini meninggalkan luka kecil yang tidak terlihat di hati Ayana. Luka yang mungkin hari ini hanya terasa seperti rasa tidak nyaman. Tetapi jika terus dibiarkan, suatu hari nanti bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit disembuhkan.

1
sunaryati jarum
Kamu lelaki paling egois,orang harus memahami dan mengalah padamu,jika terjadi terus menerus ya lelah.
sunaryati jarum
Terima dan nikmatilah karma atas tindakan kamu pada Ayana.Orang membantumu dari balik layar hingga kau sukses kau tukar dengan mantanmu hamil.Bertanggung jawai tidak harus menampungnya dan kembali padanya,tapi bentuk finansial dan keamanan itu cukup,tapi kebaikan kau balas dengan keburukan ,semua hidupmu jadi buruk.Kau tidak mendapatkan Ayana juga Rara.Rara hanya bisa menuntut sedangkan Ayana yang membantumu membangun perusahaan, ditinggalkan Ayana jadi hancur kan.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
sutiasih kasih: angga bodohnya sdh tak trtolong kak....
mau"nya memungut mantan yg dlu jelas" meninggalknnya demi laki" lain....
total 2 replies
sunaryati jarum
😂😂😂 😭 bukan kerja keras kamu dulu berhasil , emak menarik kesimpulan itu karena bantuan Ayana
sunaryati jarum
Berusahalah seberapa keberhasilan kamu tanpa bantuan Ayana, Angga
sutiasih kasih
selamat mnikmati karmmu angga....
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....

lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....
sunaryati jarum
Sekarang saja buktinya ngga. setelah Ayana pergi hampir semua mitra kerja pergi
sunaryati jarum
Setelah Ayana tidak turun tangan perusahaan kamu gonjang ganjing
sunaryati jarum
Keenakan terus lupa orang berjasa membuka jalan kesuksesan kamu bahkan menyakitinya
sunaryati jarum
Setelah tidak ada penopang baru ingat.Kebaiksn kau balas dengan pengkhianatan, nikmati hidupmu seperti sebelum Ayana datang.Apa yang dapat diperbuat Rara untukmu,Angga?
sunaryati jarum
Sebentar lagi perusahaan kamu akan hancur,Angga
sunaryati jarum
Syokoooor
sunaryati jarum
Saat kamu memilih Rara dan membatalkan pernikahan dengan Ayana
sunaryati jarum
Rasain dengan tidak ada Ayana yang selalu membantu perusahaan kamu akan hancur
sunaryati jarum
Karmamu datang Angga,kau menyia- nyiakan wanita yang berjuang bersama kamu dari nol tapi kami pilih mantan pengacau
sunaryati jarum
Kamu akan lebih menyesal lagi,jika perusahaan tanpa campur tangan Ayana, tidak berjalan dengan baik
sunaryati jarum
Alhamdulillah akhirnya Yana menerima lamaran Kenan
sunaryati jarum
Semoga dengan perhatian dan cinta yang besar dari Keenan kamu segera melupakanmu Angga calon suami plin-plan itu
sunaryati jarum
Nah kesadaran kamu sudah bagus,kau mendampingi Angga dari nol setelah berhasil malah mengutamakan mantannya.Jalani dulu dengan Keenan, semoga memang dia jodohmu
sutiasih kasih
baguslah.... setidknya tau diri..
Lee Mba Young
semoga bangkrut syukurin 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!