NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tirai Rahasia dan Jejak Trauma Masa Lalu

Entah mengapa, alur kehidupan Arkan mendadak berubah drastis belakangan ini. Dulu, harinya diwarnai ketenangan yang teratur hanya berputar di antara koridor rumah sakit, jadwal operasi, dan berkas medis pasien. Namun, kedamaian itu perlahan terenggut sejak seorang gadis SMA bernama Aira menerobos masuk tanpa permisi.

​"Kak Arkan, ayo cepat! Kita ke rumah Bayu sekarang!" seru Aira sembari menarik lengan kemeja Arkan.

​"Saya masih ada pekerjaan, Aira. Saya harus ke rumah sakit sekarang," tolak Arkan tenang, mencoba mencari alasan.

​"Jangan bohong, ya! Hari ini dan besok Kak Arkan itu punya jadwal libur. Aira sudah hapal luar kepala jadwal piket Kakak!" pangkas Aira cepat, menyipitkan mata penuh kemenangan.

​Arkan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mengapa gadis ini bisa tahu jadwal dinasnya dengan begitu detail? Pasrah, sang dokter akhirnya melangkah menuju mobil, meski dalam hati merutuki nasib cutinya yang gagal damai.

​"Sini kuncinya, biar Zara saja yang mengunci pintu rumah," pinta Aira seraya menyodorkan tangan.

​Arkan menyerahkan serangkaian kunci rumahnya. Aira membalikkan badan dan memanggil Zara yang sejak tadi masih sibuk membetulkan letak hijabnya di tepi teras.

​"Kunci rumah calon pacarku, ya!" seru Aira asal seraya melempar kunci itu ke udara.

​TAK!!!

​"Aduh!" Zara meringis pelan sembari mengelus jidatnya yang terkena lemparan kunci. Ia menatap tajam sahabatnya dengan decak sebal.

​Awalnya, Zara datang ke rumah Arkan hanya untuk menjemput Aira. Namun kini, ia justru terseret dalam misi konyol Aira yang bersikeras memaksa Arkan mendatangi Bayu untuk meminta maaf atas kesalahpahaman di kafe semalam.

​Tak butuh waktu lama bagi mobil Arkan untuk membelah jalanan menuju kediaman Bayu. Anehnya, sepanjang perjalanan Arkan sama sekali tak menanyakan rute atau alamat rumah remaja itu, padahal ia seharusnya tidak terlalu mengenal Bayu.

​Saat kendaraan itu menepi di depan sebuah rumah berpagar hitam, Arkan mematikan mesin tanpa ada niat untuk turun.

​"Sudah sampai. Kalian saja yang turun, saya tunggu di sini," ucap Arkan datar lewat spion tengah.

​Aira menengok dari kursi belakang, mengernyit tak terima. "Lho, kok Kak Arkan tidak mau tanggung jawab?"

​"Tanggung jawab? Untuk apa?" Arkan menaikkan sebelah alisnya.

​"Kak Arkan kan sudah memarahi Bayu dan menuduhnya macam-macam semalam! Harusnya Kakak turun, minta maaf, dan mengakui kesalahan!" cecar Aira berapi-api.

​Arkan menatap pagar rumah di hadapannya dingin. "Saya sudah bersedia mengantar kalian ke sini saja sudah lebih dari cukup. Sekarang kalian turun, atau tarif taksinya saya hitung?"

​Zara yang malas terlibat perdebatan panjang memilih melangkah keluar mobil lebih dulu. Namun Aira masih bertahan di kursinya, memajukan tubuhnya mendekati telinga Arkan.

​"Calon pacar Aira yang paling ganteng... mau turun menemui Bayu untuk minta maaf, atau mau menikahi Aira sekarang? Mumpung Ujian Nasional sudah selesai, nih?" ancam Aira dengan alis yang dinaik-turunkan secara jahil.

​Arkan memutar tubuhnya, menatap Aira dengan sorot mata tajam. Ia seharusnya sadar bahwa berdebat dengan Aira adalah tindakan sia-sia. Gadis itu selalu punya miliaran amunisi alasan konyol yang siap melumpuhkannya.

​"Bagaimana, Kak? Mau milih nikahi Aira saja? Wah, Aira makin senang kalau begitu!" goda Aira lagi.

​Belum sempat Arkan membalas, raungan suara mesin sepeda motor terdengar mendekat dan berhenti tepat di samping mobil. Pengendaranya melepaskan kaca helm dan tampak berbincang serius dengan Zara.

​Melihat hal itu, Aira akhirnya luluh dan menyusul turun. "Ada apa, Zara?"

​"Bayu tidak ada di rumah. Kata Panji, semalam dia tidur di studionya," jelas Zara.

​"Lho, percuma dong kita jauh-jauh ke sini?" sahut Aira kecewa.

​Pengendara motor yang ternyata adalah Panji menimpali, "Sudah, putar balik saja. Aku juga mau ke studionya untuk mengantarkan makanan dia."

​Aira dan Zara saling pandang, lalu melirik ke arah Arkan yang masih mengamati dari balik kaca mobil.

​"Ya sudah, kita ke studio Bayu saja. Zara, kamu menumpang di motor Panji, ya!" putus Aira sepihak.

​"Eh, kok begitu?" Zara terperanjat.

​"Urusanku sama calon pacar belum selesai! Sudah, kamu sama Panji saja. Tidak apa-apa kan, Panji?" Aira menatap Panji.

​Panji menepuk bodi motornya santai. "Boleh saja, yang penting ada uang bensin seliter buat motorku."

​Aira mengacungkan jempol, lalu kembali melompat masuk ke dalam mobil Arkan. Sementara Panji sendiri sebenarnya belum paham bahwa kedatangan mereka adalah untuk meluruskan drama kesalahpahaman semalam.

𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍𑁍

​Mobil Arkan kini mengekor lambat di belakang sepeda motor Panji. Di balik kemudi, rahang Arkan mengetat. Hari cutinya benar-benar berantakan. Ia mulai menyesali keputusannya yang telah membawa Aira menginap di rumahnya semalam.

​"Jangan cemberut terus dong, Kak Arkan. Nanti cepat tua, lho," goda Aira menopang dagu menatap profil samping Arkan.

​Arkan tak bergeming, fokus menatap jalanan di depan.

​"Ya sudah... Setelah dari tempat Bayu, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Nanti Aira yang traktir, deh!" tawar Aira lagi.

​Lagi-lagi Arkan memilih bungkam. Aira akhirnya mengerucutkan bibirnya pasrah hingga kendaraan mereka berhenti di halaman sebuah ruko yang dijadikan studio foto.

​Panji dan Zara sudah melangkah masuk lebih dulu. Tak lama, Aira turun disusul Arkan yang mengekor dengan enggan.

​"Wah... Ini mau foto prewedding, ya?" panggil seorang karyawan studio berwajah ramah saat melihat dua pasang remaja dan dewasa muda itu melangkah masuk. "Rezeki anak soleh baru buka studio! Langsung ada dua pasangan yang mau prewedding!"

​Aira menyunggingkan senyum jahil, melangkah mendekati karyawan tersebut. "Memangnya kalau foto prewedding di sini berapa harganya, Mas?"

​"AIRA!" tegur Panji dan Zara bersamaan dengan wajah memerah.

​Aira menyengir tanpa dosa, sedangkan Arkan tetap melangkah tenang sembari menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​"Kami ke sini bukan mau prewedding, Mas. Mau ketemu Bayu," terang Aira.

​"Oh, kirain mau prewedding! Mas Bayu ada di lantai dua," jawab pegawai studio itu mengangguk paham.

​Lantai bawah studio tersebut difungsikan sebagai area pemotretan, sementara lantai dua dirancang sebagai tempat istirahat pribadi Bayu lengkap dengan tempat tidur lipat, kulkas mini, dan kamar mandi. Jika sedang bosan di rumah atau kelelahan bekerja, Bayu kerap menghabiskan malam di sana.

​Diiringi petunjuk karyawan studio, mereka berempat menaiki tangga.

​"Mas Bayu kayaknya lagi di kamar mandi. Kalian tunggu di sini saja, ya," ujar pegawai itu pamit turun kembali.

Aira dan Zara mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada pegawai itu.

​Ruangan di lantai dua itu cukup berantakan oleh sisa bungkus makanan ringan dan botol minuman. Arkan memilih bersandar di dinding dekat pintu, sementara Panji langsung menyambar kursi di depan meja komputer untuk membuka game. Aira dan Zara menepi, duduk bersila di atas karpet.

​KLEK!!!

​Pintu kamar mandi terbuka. Bayu melangkah keluar santai hanya mengenakan celana pendek dengan dada telanjang dan handuk yang melilit di leher.

​Zara dan Aira melotot sempurna. Zara spontan menutup wajahnya rapat-rapat menggunakan ujung hijab sembari menjerit, sedangkan Aira menatap tubuh Bayu tanpa berkedip.

​Seketika, sebuah telapak tangan hangat bergerak cepat menutup kedua mata Aira dari belakang. Arkan berdiri tegap di balik tubuh Aira, memblokir pandangan gadis itu.

​"Gunakan bajumu sekarang," tegur Arkan dingin pada Bayu.

​Bayu mengerjapkan mata bingung melihat kedatangan Arkan dan teman-temannya. Tanpa banyak bicara, ia menyambar kaos di atas kasur lipat, mengenakannya, lalu melangkah keluar kamar sejenak.

​Arkan baru melepaskan tangannya dari mata Aira.

​"Bayu mana?" tanya Aira polos begitu pandangannya kembali terang.

​"Di luar," sahut Arkan singkat.

​"Astaga... mataku rasanya ternodai!" keluh Zara sembari mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah yang memerah.

​Tak lama, Bayu kembali melangkah masuk dengan pakaian lengkap. "Kalian ngapain ke sini, sih?"

​"Kamu itu tidak sopan sekali, Bayu! Ada cewek-cewek malah main keluar telanjang dada begitu," semprot Aira.

​"Mana aku tahu kalian mau datang? Lagian ke sini tidak pakai bilang-bilang," cuek Bayu menyisir rambutnya yang basah.

​"Tapi... badanmu lumayan juga, ya. Atheis banget!" puji Aira blak-blakan dengan senyum jahil.

​"Atletis, Aira!" koreksi Zara gemas.

​"Nah, itu maksudnya! Kau biasa nge-gym di mana, Bayu?"

​Arkan yang mendengar pujian itu seketika melayangkan tatapan tajam nan menusuk ke arah Aira. Aira yang menyadari aura berbahaya itu mendadak bungkam dan memanyunkan bibirnya.

​Bayu melangkah mendekati meja komputer, menyambar bungkusan bubur ayam yang dibawakan Panji tanpa menawarkan pada yang lain.

​"Aku ke sini mengantar Kak Arkan dan Zara untuk minta maaf sama kamu," ujar Aira memecah keheningan.

​Bayu menaikkan sebelah alisnya sembari menyuap bubur. "Minta maaf buat apa?"

​"Soal semalam... Maaf ya, Bayu. Aku sempat marah-marah karena syok melihat Aira tidak sadarkan diri. Aku pikir kamu yang menyuruhnya minum," tutur Zara tulus.

​Bayu mengibaskan tangan. "Santai saja, aku tidak masuk hati."

​"Nah, Kak Arkan juga katanya mau minta maaf," tambah Aira melirik Arkan.

​Bayu menoleh, menatap Arkan dengan pandangan menantang. Namun Arkan justru menunjukkan ekspresi sebal dan enggan.

​"Kak, ayo minta maaf..." bisik Aira menyikut pelan pinggang Arkan.

​Melihat Arkan yang terdiam, Bayu meletakkan sendok buburnya dan melangkah mendekat. "Ayo, Bang. Kau harus minta maaf padaku."

​"Bang?" Aira mendelik tak terima. "Enak saja panggil Kak Arkan pakai sebutan Abang!"

​Bayu tak memedulikan Aira. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Arkan tegak lurus.

​"Saya tidak akan pernah minta maaf, karena kamu memang pantas mendapatkannya semalam," pangkas Arkan dingin tanpa keraguan.

​Keheningan kaku menyelimuti ruangan. Panji yang tadinya fokus pada layar komputer bahkan menghentikan game-nya dan menoleh heran. Zara pun merasa Arkan agak terlalu keras kepala, mengingat semalam pria itu memang tampak tersulut emosi luar biasa.

​"Mau sampai kapan kau enggan mengakui kesalahanmu, Bang?" ujar Bayu bersandar di dinding tepat di sebelah Arkan.

​"Kesalahan apa? Ini semua murni kecerobohanmu. Hanya karena mantan kekasihmu berselingkuh, kamu melampiaskannya dengan mabuk-mabukan sampai lepas kendali. Bukan begitu, Adrian?" balas Arkan menatap tajam sepupunya itu.

​DEG!!!

​Aira, Zara, dan Panji tersentak. Arkan baru saja menyebut nama depan Bayu yang jarang sekali terdengar.

​"Ini juga gara-gara kau, makanya aku diputusin!" sungut Bayu tak mau kalah.

​"Sebentar..." Aira memotong dengan dahi berkerut dalam. "Dari tadi kamu panggil Kak Arkan dengan sebutan Abang?"

​Bayu melirik Arkan sekilas, lalu menghela napas panjang. Ia mengulurkan tangannya pada Aira. "Perkenalkan, aku Adrian Bayu Aditya... adik sepupu dari Dokter Arkan."

​Aira terpaku. Matanya berkedip berulang kali, berusaha mencerna rentetan kata yang baru saja meloncat masuk ke telinganya.

​"Sepupu... Kak Arkan?" ulang Aira tak percaya.

​"Papa aku itu adik kandung dari papanya Bang Arkan. Dan Rumah Sakit Medika Sentra Surya itu milik papanya Bang Arkan," aku Bayu sedikit membanggakan diri.

​"Serius, Bayu?!" Panji ikut melompat dari kursinya, kaget setengah mati.

​"Jadi selama ini... kalian berdua sebenarnya saling kenal?" Zara menunjuk Arkan dan Bayu bergantian.

​"Bukan sekadar kenal, aku bahkan sering menginap di rumahnya," sahut Bayu santai.

​Aira masih membisu, menatap Arkan dengan pandangan menuntut penjelasan.

​"Terus kenapa setiap kali ketemu kalian selalu kelihatan seperti musuh bebuyutan? Waktu di rumah sakit dulu pun kalian berpura-pura seperti orang asing?" cecer Zara lagi.

​"Tanya saja sama manusia es ini. Kenapa dia selalu bersikap dingin padaku," sindir Bayu menunjuk Arkan.

​Arkan memilih mengabaikan sindiran itu dan memutus pandangan dari mereka. Ia berbalik menuju pintu. "Saya keluar sebentar beli minuman untuk kalian."

​Tanpa menunggu sahutan, Arkan melangkah pergi meninggalkan ruangan.

​"Dasar Kulkas! Malah kabur," omel Bayu.

​"Bayu... kamu tidak lagi mengarang cerita, kan?" tanya Zara ragu.

​Bayu menghela napas pasrah, menaruh kembali bungkus buburnya dan menatap ketiga temannya.

​"Aku dan Bang Arkan memang sepupuan. Sebenarnya dulu dia tidak dingin seperti sekarang. Dia itu sangat baik, hangat, dan ramah padaku. Tapi semenjak dia batal bertunangan, semuanya berubah total," terang Bayu jujur.

​Aira teringat momen pertama kali ia bertemu Arkan di sekolah lamanya. Saat itu sang dokter memang tersenyum ramah dan bersikap begitu perhatian. Namun di pertemuan-pertemuan berikutnya, sikap Arkan mendadak berubah menjadi membentengi diri.

​"Maksudmu... Kak Arkan berubah dingin karena patah hati?" tanya Panji penasaran.

​"Bukan sekadar patah hati. Hubungan dia dan tunangannya memang sudah lama renggang karena jarak, dan Bang Arkan sempat sedih waktu diputus sepihak. Tapi alasan utamanya bukan itu... melainkan karena traumanya terungkit kembali," jelas Bayu pelan.

​"Trauma?" gumam Aira. "Apakah trauma karena pernah kehilangan ibunya yang meninggal karena sakit saat dia masih SMA?"

​Bayu menatap Aira terkejut. "Kau... tahu dari mana?"

​"Dia pernah cerita singkat padaku. Itu alasan kenapa dia bersikeras jadi dokter," ujar Aira.

​Bayu mengangguk perlahan. "Benar. Itu salah satu luka terbesar dalam hidupnya. Dia selalu merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ibunya. Waktu dia mencoba membuka hati untuk mantan tunangannya, dia berusaha menyembuhkan trauma itu. Tapi begitu hubungan itu kandas, Bang Arkan makin menutup diri dari siapa pun. Makanya waktu tahu Aira suka mendekatinya, aku sengaja mengawasi... Aku takut Bang Arkan cuma menjadikan Aira pelarian dan akhirnya bikin kau kecewa, Ra."

​Aira terdiam, meresapi setiap kalimat Bayu. Rasa hangat dan iba menyusup makin dalam ke dadanya.

​"Tapi... sepertinya usahaku mengawasi tidak ada gunanya," lanjut Bayu mendadak tersenyum. "Selamat ya, Aira! Kau dan Bang Arkan akhirnya pacaran juga."

​Panji dan Zara tersentak hebat, langsung memutar tubuh menghadap Aira.

​"Kalian pacaran?!" pekik Panji.

​"Kamu diterima sama Kak Arkan?!" seru Zara tak percaya.

​Aira mengerjapkan mata bingung. "Ha? Pacaran? Sejak kapan aku dan Kak Arkan pacaran?"

​"Lho, semalam kau benar-benar tidak dengar? Bang Arkan sendiri yang blak-blakan bilang ke aku kalau kau itu pacarnya!" beber Bayu yakin.

​Tak lama, pintu terbuka. Arkan kembali sembari membawa satu kantong plastik berisi minuman dingin. Pandangan empat pasang mata di ruangan itu seketika tertuju padanya.

​Arkan menaikkan sebelah alisnya bingung. Aira berdiri, melangkah mendekati Arkan dengan senyum tengil khasnya.

​"Beneran, Kak... kita sudah pacaran?" goda Aira menaik-turunkan alisnya.

​Arkan melirik Aira, lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada Bayu. Pria itu mengembuskan napas pendek.

​"Jangan percaya padanya. Semalam dia mabuk berat, jadi bicaranya ngelantur," cetus Arkan datar sembari meletakkan kantong plastik minuman ke atas meja, lalu kembali berbalik melangkah keluar.

​"Aku memang mabuk tapi ingatanku masih jelas! Dasar gengsi tinggi!" teriak Bayu pada punggung Arkan yang menghilang di balik pintu.

​Panji menyambar salah satu botol minuman. "Cepat kejar! Jangan lupa traktir kita kalau jadian beneran!"

​Zara ikut mengangguk bersemangat. "Kejar, Aira! Mumpung tempatnya sepi!"

​Aira menyunggingkan senyum cerah yang merekah indah di wajahnya. "Wah... siap! Terima kasih dukungannya, teman-teman! Makin semangat aku! Bye!"

​Dengan langkah ringan, Aira berlari kecil menyusul langkah Arkan.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!