“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Arjuna melangkah masuk melewati pintu utama ruang keluarga dengan wajah yang begitu datar. Tatapan mata setajam elang miliknya menyapu bersih seluruh sudut ruangan tanpa menunjukkan sedikit pun emosi atau sapaan hangat.
Ratna, Wina, dan Damar yang sedang bersantai sama sekali tidak menyadari badai kemurkaan luar biasa yang tengah ditahan rapat-rapat oleh pria itu di balik topeng tenangnya.
"Arjuna!" seru Wina dengan wajah sumringah.
Wanita itu buru-buru berdiri dari sofa, lalu berlari kecil menghampiri adiknya. Tanpa meminta izin, ia langsung merangkul dan memeluk lengan Arjuna dengan manja.
"Ya ampun! Kapan pulangnya? Kok tidak memberi kabar dulu kalau mau pulang mendadak begini?"
Belum sempat Arjuna melontarkan sepatah kata pun, Damar sudah berlari menyusul menghampiri.
"Paman!" seru bocah itu. Seperti biasanya, Damar langsung memeluk pinggang Arjuna erat-erat. "Damar kangen sekali sama Paman!"
Biasanya, setiap kali Damar melakukan hal itu di masa lalu, Arjuna akan langsung tersenyum lebar, mengangkat tubuh keponakannya itu tinggi-tinggi, lalu menggendongnya berkeliling rumah.
Namun kali ini, Arjuna hanya menunduk sekilas dengan pandangan kosong. Tangannya sama sekali tidak bergerak sedikit pun untuk membalas pelukan manja tersebut.
"Damar."
"Iya, Paman?" jawab bocah itu mendongak bingung.
"Lepaskan!"
Suara bariton yang begitu datar dan tanpa perasaan itu membuat Damar mengerjap-ngerjapkan matanya, kebingungan.
"Paman... sedang marah padaku?"
"Tidak," jawab Arjuna singkat.
"Lalu, kenapa Paman tidak mau menggendong Damar seperti biasanya?"
Arjuna perlahan melepaskan cengkeraman tangan kecil bocah itu dari pinggangnya dengan gerakan kaku.
"Kau sudah besar, Damar. Jangan manja!"
Jawaban singkat yang bernada mengusir itu membuat Damar langsung mencibir kecewa. Wina yang melihat perubahan sikap adiknya hanya tertawa kecil, menganggapnya angin lalu.
"Arjuna pasti sangat kelelahan habis perjalanan jauh dari perbatasan. Iya kan Jun?" sahutnya.
Ratna ikut mengangguk setuju di tempatnya duduk. "Benar sekali. Duduklah dulu, Nak, tenangkan dirimu."
Arjuna akhirnya melangkah dan mendudukkan diri di atas sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan mereka. Baru saja punggungnya bersandar, Wina sudah kembali tersenyum manis penuh harap.
"Jun..." panggil Wina berbinar.
"Hm?" sahut Arjuna tanpa menatap.
"Ada sedikit masalah keuangan sih sebenarnya."
Arjuna menatap kakaknya datar. "Masalah apa?"
"Kartu kredit Kakak limit belanjanya sudah habis total bulan ini. Padahal banyak sekali kebutuhan mendesak." Wina merajuk manja. "Kalau bisa, tolong dinaikkan lagi ya limitnya seperti kemarin."
Arjuna hanya mengangguk pelan menanggapi. Di dalam lubuk hatinya, ia tersenyum sinis.
Dulu, mungkin tanpa perlu berpikir panjang Arjuna akan langsung menyetujui semua permintaan mereka. Tapi sekarang? Arjuna baru sadar, selama ini dia dan uangnya hanya dimanfaatkan oleh parasit-parasit ini.
Meskipun begitu, wajahnya tetap dikondisikan setenang mungkin. "Nanti akan kupikirkan lagi."
Wina langsung bersorak senang. "Nah, begitu dong adikku yang paling dermawan!"
Ratna ikut tersenyum puas. "Memang hanya Arjuna satu-satunya anggota keluarga yang paling bisa diandalkan dalam segala hal."
Arjuna hampir saja tertawa mendengar pujian palsu itu. Bukan karena senang, melainkan karena rasa muak yang sudah mencapai tenggorokan. Selama bertahun-tahun lamanya, ia membanting tulang siang dan malam, mempertaruhkan nyawa di medan perang militer, sementara orang-orang di hadapannya ini hanya tahu cara menghabiskan hasil jerih payahnya dengan foya-foya.
Lagi-lagi bayangan wajah tenang Arunika yang menasihatinya di rumah sakit mendadak terlintas jelas di benaknya.
"Mas, jangan gegabah. Kumpulkan bukti medis dan hukumnya dulu, baru kita hancurkan mereka."
Napas Arjuna perlahan kembali teratur. Ia harus bisa bersabar sedikit lagi. Setelah semua bukti visum dan kebusukan mereka lengkap terkumpul, tak seorang pun di rumah ini akan bisa lolos dari jerat hukum.
Arjuna menyandarkan tubuhnya lebih santai ke sofa, lalu melempar pertanyaan pancingan. "Oh ya di mana Nakula?"
Suasana di dalam ruang keluarga itu seketika mendadak sunyi. Ratna, Wina, dan Damar langsung saling berpandangan dengan kaku. Wajah mereka bertiga mendadak berubah pucat pasi.
Mereka lupa sepenuhnya bahwa sejak semalam Nakula tidak pernah pulang ke rumah. Dan mereka juga lupa bahwa Arunika tidak ada di mansion ini sejak kemarin sore.
Wina buru-buru tertawa canggung untuk menutupi kepanikannya. "Oh... Nakula? Itu... dia sedang pergi."
"Iya, betul!" sahut Ratna cepat menyambung dengan suara bergetar. "Kasihan anak itu. Katanya ingin menghabiskan waktu liburan seharian bersama ibu barunya."
Arjuna mengangguk-angguk pelan, menyembunyikan seringai tajamnya. "Begitu ya? Lalu kenapa sampai sekarang mereka belum juga pulang?"
Wina menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak kering. "Mungkin, mereka masih asyik berbelanja di mall."
"Iya, benar!" sambung Ratna memperkuat alasan ngawur putrinya. "Namanya juga perempuan kalau sudah pegang kartu kredit dan belanja pasti suka lupa waktu."
Arjuna kembali mengangguk tenang. Ia bahkan belum.memberikan kartu kredit pada istri barunya dna lagi-lagi Ratna membohonginya.
"Jam berapa mereka pergi?"
"Sejak... sejak semalam?" ucapnya ragu-ragu salah sebut.
Ratna buru-buru menyikut lengan putrinya keras-keras. "Maksudnya sejak pagi-pagi sekali!"
"Iya! Betul sekali! Pagi-pagi sekali!" bela Wina cepat.
Arjuna memperhatikan gerak-gerik kedua wanita itu selama beberapa detik. Tatapan mengintimidasi khas seorang jenderal perang membuat Ratna dan Wina mulai bercucuran keringat dingin di sekujur tubuh mereka. Alih-alih mengamuk, Arjuna justru menyunggingkan senyuman tipis misterius.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan duduk di sini menunggu mereka pulang."
Kalimat santai itu justru berdampak mematikan, membuat jantung Ratna berdegup kencang tak karuan.
Di kursi sebelah, Wina melirik ibunya dengan panik luar biasa.
"Ma, bagaimana ini sekarang?! Kok bisa-bisanya si Arjuna malah pulang duluan hari ini?! Sementara anak pembawa sial itu entah ada di mana keberadaannya!" bisik Wina ketakutan setengah mati.
"Mana Mama tahu bakal begini! Kalau mereka sampai kembali pulang dan mengadukan semuanya, habislah riwayat kita berdua!" balas Ratna berbisik gemetar dengan wajah sepucat mayat hidup.