NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.dibawah langit cafe

Langkah Aruna terasa sangat berat menyusuri trotoar malam yang mulai sepi. Bayangan peristiwa di restoran hotel tadi masih terus berputar di kepalanya seperti rekaman pita rusak yang tak mau berhenti.

Wajah dingin Kaivan Adikara, tatapan merendahkan dari sang kakak, serta binar lega berbalut ketakutan dari kedua orang tuanya saat berhasil mengagunkannya demi nominal tiga puluh miliar rupiah—semuanya menumpuk menjadi beban tak kasat mata yang seolah meremas dadanya tanpa ampun.

Setiap kali ia menghela napas, paru-parunya terasa menyempit. Tiga puluh miliar. Harga yang dibayarkan oleh seorang pengusaha kaya raya untuk membeli sisa kebebasan hidupnya.

Aruna meremas jemarinya yang dingin di dalam saku kemeja. Ia mengusap sisa-sisa jejak air mata di pipinya hingga tak berbekas sebelum berbelok di persimpangan jalan menuju bangunan beraksen kayu hangat di sudut gang.

Resto & Kafe Cahaya Kopi. Plang kayu kecil bernuansa cokelat tua itu tergantung manis di bawah lampu kekuningan yang temaram. Dari balik kaca jendela yang agak berembun, Aruna bisa melihat siluet dua orang yang tengah duduk bersandar di atas meja bar.

Aruna memegang gagang pintu kaca, menahan napas sejenak untuk menetralkan raut wajahnya. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas, melatih senyuman yang paling alami yang bisa ia buat di tengah kehancuran jiwanya.

Kring.

Suara loncing angin di atas pintu berdenting halus saat Aruna mendorong pintu masuk.

"Aruna!"

Seruan itu datang hampir bersamaan dari dua orang yang duduk di area bar. Rian—yang masih mengenakan celemek miring dengan rambut sedikit berantakan—langsung melompat dari kursi tingginya. Sementara Mbak Maya yang sedang melipat kain lap bersih langsung menatapnya dengan raut khawatir yang sangat jelas.

"Duh, Na! Kamu dari mana aja sih? Bikin orang cemas aja!"

Rian menghampirinya dengan langkah lebar, matanya memindai Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Tadi pas telepon suaramu kayak habis ditelan naga! Bikin aku hampir salah nuang sirup hazelnut ke es teh manis tahu nggak!"

Aruna tertawa kecil, suara tawa yang sengaja ia buat seringan mungkin meski tenggorokannya masih terasa serak.

"Maaf ya, Yan, Mbak Maya... Tadi di jalan cuma agak sesak aja kena debu sama asap kendaraan. Makanya suaraku jadi aneh."

Mbak Maya berjalan mendekat, memegang kedua bahu Aruna lembut. Sorot mata wanita berusia tiga puluhan itu tidak bisa dibohongi; ada kecurigaan halus dan rasa kasihan yang sangat mendalam saat melihat kelopak mata Aruna yang agak sembap dan memerah.

"Kamu beneran nggak apa-apa, Na?" tanya Mbak Maya lirih, suaranya mengandung kehangatan seorang kakak perempuan yang tak pernah Aruna dapatkan dari Karin.

"Kalau ada masalah, cerita sama Mbak. Jangan disimpan sendiri. Muka kamu pucat banget lho."

"Beneran, Mbak Maya. Aruna cuma capek," bisik Aruna pelan seraya menggenggam balik tangan Mbak Maya. "Cuma... biasa, agak pusing mikirin biaya hidup."

"Tuh kan! Pasti gara-gara urusan uang lagi!" celetuk Rian yang kini berjalan ke arah meja belakang dan mengambil sebuah kotak karton berwarna cokelat yang masih mengepulkan uap hangat.

"Makanya, Na! Mending kamu belajar jurus pasrah kayak aku. Hidup itu disyukuri, bukan dipikirin terus sampai mukanya tirus gitu. Nih! Martabak manis keju-cokelat spesial! Tadi aku paksa Mas Bagas bikin adonannya agak tebalan khusus buat kamu."

Dari arah dapur dalam, muncul seorang pria berbadan tegap dengan celemek hitam dan topi koki yang dipasang terbalik. Bagas—sang koki utama kafe—mengusap tangannya ke kain bersih sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu dapur.

"Bagus ya kamu, Rian, fitnah saya terus," dengus Bagas dengan nada pura-pura galak, namun matanya yang jujur menatap Aruna penuh perhatian.

"Na, martabak itu saya yang bikin pakai mentega mahal. Makan yang banyak. Jangan mau kalah sama beban hidup. Kalau badanmu kurus begitu, nanti pas angkat galon air di kafe malah kamu yang kecemplung ke dispenser."

Tawa riuh kecil memecah kesunyian malam di dalam kafe yang sudah tutup itu. Aruna tidak sanggup menahan rasa harunya lagi. Di tempat ini, bersama orang-orang yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengannya, ia selalu diperlakukan dengan sangat adil.

Mereka tidak pernah menuntutnya menjadi sosok sempurna, tidak pernah memintanya mengalah demi keuntungan orang lain, dan selalu memastikan bahwa ia tidak kelaparan.

"Terima kasih ya, semuanya..." ujar Aruna tulus, suaranya agak bergetar saat ia menduduki salah satu kursi kayu di bar.

"Halah, pakai terima kasih segala, kayak sama siapa aja!" Rian membuka kotak martabak dan menyodorkan sepotong besar yang melelehkan keju dan susu kental manis tepat ke hadapan Aruna.

"Cepat makan! Ini orderan khusus untuk menaikkan kadar kebahagiaan Aruna Rasyara yang lagi drop!"

Mereka bertiga—Aruna, Mbak Maya, dan Rian—duduk melingkar di meja bar, sementara Bagas menyeduh empat cangkir teh chamomile hangat untuk menetralisir rasa manis martabak. Di tengah denting sendok dan gurauan konyol Rian tentang pelanggan-pelanggan aneh yang datang sepanjang hari tadi, Aruna memakan martabaknya perlahan.

Rasa manis gurih itu memenuhi rongga mulutnya, membawa sedikit kehangatan ke dalam hatinya yang sedang membeku. Di saat yang sama, rasa bersalah mulai merayap pelan. Ia menyembunyikan rahasia besar dari mereka. Ia tidak bisa menceritakan bahwa dalam hitungan hari, statusnya bukan lagi sekadar pelayan kafe biasa, melainkan istri sah dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di negara ini melalui sebuah transaksi utang-piutang yang menjijikkan.

Aruna... kamu harus simpan ini sendiri, batinnya berbisik teguh. Kafe ini satu-satunya tempat kamu bisa bernapas sebagai manusia biasa. Jangan sampai ikatan dingin Kaivan Adikara merusak tempat ini.

"Oh iya, Na," Mbak Maya membuka suara setelah menyeruput teh hangatnya.

"Minggu depan kan jadwal evaluasi bulanan dari pemilik bangunan. Katanya tempat kita mau dapet tambahan pendingin udara baru di lantai dua. Jadi nanti pas jadwal kamu shift pagi, kamu nggak bakal kepanasan lagi kalau lagi servis area balkon."

"Beneran, Mbak?" mata Aruna berbinar pelan.

"Iya! Makanya kamu harus tetap semangat kerja di sini. Jangan pikiran mau resign atau pindah tempat kerja ya," Mbak Maya menatap Aruna tajam dengan nada mengancam yang jenaka.

"Kalau kamu keluar, siapa lagi yang mau merapikan rak cangkir sampai sepresisi itu? Rian kalau ngerapiin cangkir malah kayak menara piring mau rubuh."

"Iya, Na! Jangan tinggalkan aku bersama monster galak kayak Mbak Maya!" sahut Rian histeris sembari berlindung di balik punggung Bagas.

Bagas langsung mendorong kepala Rian pelan. "Lebay kamu, Yan. Udah, cepat beresin piring kotornya. Biar Aruna bisa cepat pulang dan istirahat."

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika acara makan bersama itu usai. Setelah membantu merapikan sisa-sisa kotak makanan dan memastikan pintu dapur terkunci rapat, Aruna berpamitan dengan ketiga temannya di depan pintu kafe.

"Hati-hati di jalan ya, Na. Mau disambungin ojek daring nggak?" tawar Bagas sembari memegang kunci gembok pintu luar.

"Nggak usah, Mas Bagas. Aruna naik angkutan umum di persimpangan depan aja, masih ada kok," tolak Aruna halus sembari tersenyum tegar.

"Beneran? Kalau ada apa-apa langsung telepon grup kafe ya!" pesan Mbak Maya seraya melambaikan tangan sebelum berjalan menuju sepeda motornya.

"Siap, Mbak Maya. Daaah semuanya..."

Aruna melambaikan tangan, menyaksikan tiga rekan kerjanya perlahan menghilang di belokan jalan. Begitu bayangan mereka tak lagi terlihat, senyuman di wajah Aruna menguap seketika. Kesunyian malam kembali menyergapnya tanpa ampun.

Ponsel di dalam tasnya bergetar.

Bukan panggilan telepon, melainkan sebuah pesan singkat berupa dokumen digital berbentuk PDF yang dikirimkan oleh nomor asing tanpa nama kontak.

Di bawah dokumen itu, ada sebuah pesan teks yang singkat, padat, dan sangat dingin:

Dokumen Perjanjian Pranikah. Baca dan pahami seluruh klausulnya sebelum besok pagi pukul sembilan. Pengacara saya akan menjemputmu di kontrakan untuk tanda tangan.

— Kaivan A.

Jemari Aruna gemetar saat membuka tautan dokumen tersebut. Di layar ponselnya yang retak di sudut kanan, berderet angka dan pasal-pasal hukum yang disusun begitu rapi.

Pasal 1: Pernikahan ini dilaksanakan atas dasar penyelesaian kewajiban finansial Pihak Pertama (Rasyara Group) kepada Pihak Kedua (Adikara Group).

Pasal 3: Pihak Pertama tidak berhak menuntut hak finansial, aset pribadi, atau pembagian harta gono-gini dalam bentuk apa pun selama maupun sesudah masa pernikahan.

Pasal 5: Pihak Pertama dilarang campur tangan dalam urusan bisnis, pribadi, maupun kehidupan sosial Pihak Kedua.

Pasal 7: Pernikahan ini disembunyikan dari publik dan media massa demi menjaga stabilitas reputasi Adikara Group.

Aruna membaca baris demi baris kata-kata itu dengan dada yang kian menghimpit. Setiap pasal dirancang dengan sangat sempurna untuk memastikannya tetap berada di posisi paling bawah—posisi sebagai seorang pesuruh yang berstatus istri hanya di atas kertas.

Kaivan benar-benar memperhitungkan segalanya agar Aruna tidak bisa menyentuh sepeser pun kekayaannya atau mengusik kehidupannya.

Aruna mengusap dadanya yang terasa nyeri. Luar biasa... bisiknya dalam hati dengan tawa getir yang tertahan. Pria itu begitu takut harta dan kehidupannya dimanfaatkan oleh Aruna, tanpa pernah tahu bahwa Aruna sama sekali tidak pernah menginginkan uang tiga puluh miliar itu.

Aruna menutup layar ponselnya, memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia melanjutkan langkah kakinya yang sepi menembus dinginnya malam. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, shadow dirinya membayang panjang di atas aspal.

Ia menyadari betul bahwa besok pagi, kehidupan lamanya akan mati. Kehidupan di mana ia dieksploitasi oleh keluarganya sendiri akan berganti menjadi kehidupan baru di mana ia akan dikurung dalam sangkar emas dingin milik pria yang sangat membencinya. N

amun, sembari mengagumi keteguhan hatinya sendiri yang sudah terbiasa dihantam badai, Aruna berjanji: ia akan bertahan. Ia akan menjalankan peran sebagai istri jaminan ini tanpa cela, tanpa meminta kasih sayang, dan tanpa mengemis rasa iba dari siapa pun.

Pagi harinya, suasana di kontrakan petak tempat Aruna tinggal terasa sangat tegang. Kontrakan sederhana bergaya minimalis dengan cat tembok yang mulai mengelupas itu mendadak didatangi oleh sebuah mobil sedan hitam berkaca gelap bernopol istimewa.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan setelan jas rapi memegang map hitam tebal, berdiri di ambang pintu kayu kontrakan Aruna. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap bersiaga dengan wajah tanpa ekspresi.

"Selamat pagi, Nona Aruna Rasyara. Saya Pak Gunawan, kuasa hukum Bapak Kaivan Adikara," ujar pria berkacamata itu dengan nada profesional yang dingin.

"Saya membawa berkas fisik perjanjian pranikah yang harus Nona tanda tangani pagi ini sebelum berkas pernikahan resmi diproses oleh pihak KUA."

Aruna, yang baru saja selesai menyeduh segelas air hangat, menatap berkas hitam di meja kayu kecilnya.

Di luar kontrakan, beberapa tetangga sekitar mulai berbisik-bisik penasaran melihat mobil mewah terparkir di gang sempit mereka.

"Apakah Papah dan Mamah sudah menyetujui seluruh isi berkas ini?" tanya Aruna pelan, suaranya tenang meski jemarinya yang memegang cangkir terasa dingin.

"Tuan Rendra Rasyara telah menyetujui seluruh klausul tanpa syarat dua jam yang lalu," jawab Pak Gunawan pasti. "Suntikan dana tahap pertama telah berhasil ditransfer ke rekening Rasyara Group tepat pukul delapan pagi tadi."

Aruna tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kepahitan. Tentu saja. Papah dan Mamahnya tidak akan membuang waktu sedetik pun untuk mencairkan uang hasil penjualan dirinya.

Aruna meletakkan cangkirnya. Ia meraih pena hitam yang disodorkan oleh Pak Gunawan. Tanpa membaca ulang baris-baris pasal yang membatasi hak hidupnya sebagai manusia, Aruna goreskan tanda tangannya di atas materai sepuluh ribu rupiah pada lembar terakhir dokumen tersebut.

Selesai.

"Terima kasih atas kerja samanya, Nona Aruna," ujar Pak Gunawan seraya merapikan kembali berkas tersebut ke dalam map.

"Hari pernikahan secara tertutup akan dilaksanakan lusa di kediaman pribadi Bapak Kaivan. Anda tidak perlu menyiapkan apa pun. Seluruh pakaian dan kebutuhan acara sudah disiapkan oleh tim Pak Kaivan."

Aruna hanya mengangguk pelan. "Apakah saya masih diizinkan bekerja di kafe sampai hari itu?"

Pak Gunawan sempat terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya menjawab datar,

"Selama tidak melanggar Pasal 7 mengenai kerahasiaan identitas dan tidak merusak nama baik Pak Kaivan, beliau tidak membatasi aktivitas harian Anda sebelum resmi pindah ke kediaman utama."

"Baik. Terima kasih, Pak Gunawan."

Setelah rombongan pengacara itu pergi meninggalkan gang sempitnya, Aruna terduduk di kursi kayu tua milik rumah kontrakannya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang agak kasar. Lusa, ia akan melangkah ke dalam neraka barunya.

Namun hari ini, ia masih memiliki waktu beberapa jam untuk menjadi Aruna yang bebas—Aruna sang pelayan kafe yang dicintai oleh teman-temannya.

Dengan gerakan mantap, Aruna bangkit dari duduknya, mengenakan sepatu kets pudar kesayangannya, dan melangkah keluar rumah menuju kafe. Ia ingin menikmati sisa kebebasannya sebelum jerat besi bernama pernikahan itu benar-benar mengurungnya rapat-rapat.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!