"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Tengah
"Uncle!" Arini menghampiri Chandra yang ternyata sudah menunggunya.
Chandra menoleh, lalu menepuk space kosong di sebelahnya untuk Arini duduk. "kesini, Nak." pintanya yang dijawab anggukan lalu Arini pun duduk di sebelah Uncle-nya.
"Kamu sudah siap mendengar cerita Uncle?" Tanya Chandra sembari menatap Arini.
Arini menganggukkan kepalanya, "sebentar lagi Arnold juga akan kesini, tapi Arini ingin mendengar cerita Uncle dulu."
"Arnold?" Chandra mengerutkan keningnya, "Arnold mau jemput kamu, Rin?"
"Kami mau bicara sama Uncle dan mencari jalan tengah dari permintaan Bunda yang meminta Arnold menceraikan Arini, Uncle." jelas Arini yang membuat Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau seperti itu, panggil saja Arnold kemari sekarang." titah Chandra yang membuat Arini kaget. "Memang enggak apa-apa Arnold mendengarnya, Uncle?"
"Tidak apa-apa. Karena ini juga berhubungan dengan dia." jelas Chandra yang membuat Arini berdiri lalu melangkah menuju gerbang mansion dan membukakan pintu untuk Arnold tanpa meminta satpam penjaga membantunya.
Arnold yang sudah menunggu dari sore pun matanya terbuka lebar saat gerbang mulai dibuka dari samping dan ternyata Arini lah yang membukanya.
Tanpa bertanya, Arnold langsung masuk ke dalam rumah dan Arini kini berjalan di sebelahnya dengan menunduk.
"Arini!" panggil Arnold seraya menatap istrinya yang terus menunduk, hanya menatapnya beberapa detik saat membuka gerbang itupun dengan tatapan yang sangat datar.
"Apa?" Arini menoleh, namun hanya sekilas dan kini menunduk lagi.
Arnold tidak menjawab pertanyaan Arini dengan perkataan, namun tiba-tiba ia menyelipkan tangannya pada tangan Arini yang membuat Arini tersentak kaget lalu secepat kilat melepas tangan Arnold.
"Kenapa dilepas?" Arnold menatap tajam Arini. "Bukankah kita suami istri?"
"Saya-- saya belum bisa, Tuan." lirih Arini terbata.
"Kamu berdosa kalau menolak suami, Arini."
"Maaf." Arini melirik Arnold yang kini mengembuskan napas kasar.
"Harusnya semalam kita sudah melakukan itu." gumam Arnold tiba-tiba.
"Saya belum siap."
"Siap enggak siap kamu harus mau karena saya tidak mau menundanya."
"Tuan!" Arini memanggil Arnold dengan wajah pias, "Bukannya Bunda ingin kita cerai? Kenapa yang dibahas itu?"
"Aku tidak akan menceraikan kamu apapun alasannya, Arini." Arnold menarik napasnya begitu dalam, "Apa kamu tidak ingin membina rumah tangga, punya anak yang nanti ber-nasab pada ayahnya bukan ber-nasab pada ibunya seperti kamu?"
Arini kali ini mendongak sejenak untuk menyetujui pertanyaan Arnold, namun bibirnya terasa kaku untuk mengiyakan. Dan yang ia lakukan hanya diam saja hingga kini keduanya sampai di tempat Chandra menunggu mereka berdua.
"Uncle!" Arnold menyapa Chandra seraya mencium tangannya, mengikuti panggilan yang disematkan Arini pada Chandra.
"Kalian terlihat serasi." Chandra berkomentar saat melihat sepasang pengantin baru itu duduk berdampingan di depannya.
"Kita memang serasi." Arnold menarik pundak Arini agar mendekat padanya.
"Arini." Panggil Chandra yang melihat Arini terus menundukkan kepalanya.
"Iya, Uncle." Arini menatap Chandra yang kali ini memberi kode padanya agar tidak terus menunduk.
"Dalam waktu dekat ini kamu akan diajak ke Jerman oleh Bundamu." ujar Chandra yang membuat Arnold mengerutkan keningnya dan Arini menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Uncle! Kalau Arini ke Jerman, bagaimana nasib kantor redaksi Arini?"
"Itu tugas Arnold untuk menyakinkan Bundamu kalau dia tidak ada hubungan keluarga dengan Raka Bramantyo."
"Pak Raka Bramantyo?" Arini mengerutkan keningnya, "kenapa omongan Uncle sama dengan omongan Bunda kemarin sore?"
"Memang Bundamu bilang apa, Nak?"
"Bunda bilang kalau Tuan Arnold masih ada hubungan keluarga dengan Pak Raka, lebih baik Arini bercerai darinya."
"Aku tidak ada hubungan keluarga apapun dengan pemilik Diamond Grup itu Uncle." Arnold menyela, saat Chandra akan menjawab penjelasan dari Arini. "Kalau memang Bunda meminta pembatalan pernikahan antara aku dan Arini karena Pak Raka, aku bisa buktikan kalau kami tidak ada hubungan darah."
"Uncle!" panggil Arini setelah berhasil sedikit melonggarkan dadanya yang tadi terasa sesak, "kalau Arini boleh tahu, pernah terlibat masalah apa antara Bunda dengan Pak Raka, sehingga Bunda dari saat melihat Pak Raka langsung terlihat panik dan yang awalnya setuju Arini menikah dengan Tuan Arnold lalu diminta cerai?"
"Arini." Chandra terlihat menunduk, lalu menarik napasnya dalam dan begitu dalam sebelum mengatakan, "Raka Bramantyo adalah laki-laki yang pernah merusak Bundamu."
"Merusak?" Arini berpikir sejenak, "Apa dia Ayah biologis Arini, Uncle?"
Chandra terlihat lemah, keponakannya tidak boleh patah hati, namun kini hati yang ia jaga bak mutiara sedari kecil itu sudah saatnya tau hal yang membuat Bundanya tiba-tiba kacau dan menyuruhnya bercerai dengan Arnold walaupun baru beberapa menit setelah ijab kabul.
"Iya. Dia ayah biologis kamu, Nak." jelas Chandra yang membuat Arini tiba-tiba meneteskan air mata.
"Uncle tidak sedang bercanda?" Arini memastikan.
"Tidak." Chandra menggelengkan kepalanya tegas.
"Apa aku harus membuat Pak Raka minta maaf sama Bunda karena telah merusak Bunda, Uncle?" Arini bertanya dengan deraian air mata yang begitu deras membasahi wajah cantiknya.
"Tidak. Kamu tidak perlu melakukan itu karena selamanya luka itu akan tetap ada di hati Bundamu, Nak." Chandra menatap sang keponakan yang sedang patah hati, "Kamu cukup jaga diri dan jaga hati, karena sekarang enggak cuman kamu, tapi Pak Raka juga baru tau kalau anak yang selama ini pernah ia ingin akui adalah kamu."
"Aku akan melindungi Arini, Uncle." tegas Arnold seraya mengusap kepala Arini yang tertutup hijab.
"Itu memang kewajiban kamu, Arnold." Chandra menimpali, "Kamu sekarang suami Arini, dan kamu harus bisa melindungi dia dan membuat ia bahagia."
Arnold mengangguk, laki-laki itu berjanji akan melindungi Arini karena Arini istrinya.
"Kak!" Bunda Jennifer tiba-tiba ke taman samping mansion, dan melihat anak dan menantunya beserta kakak kandungnya sedang bercengkrama dengan hangat.
Tidak lupa dalam ingatannya, kalau ia melarang Arini dan Arnold bersama dan segera menyuruh mereka bercerai, namun kenapa sekarang mereka duduk berdua dengan Arnold yang merangkul bahu Arini?
Dengan sekali sentakan, Bunda Jennifer menarik tangan Arini dan menyuruh Arini berdiri di sebelahnya.
"Jangan coba-coba dekat dengan anak saya kamu." Bunda Jennifer menunjuk Arnold dengan jari telunjuknya.
"Jen! Tenang Jen." Chandra mencoba menenangkan adiknya yang matanya terlihat nyalang, Bunda Jennifer sangat panik saat melihat Arnold.
"Bunda!" Arini mengusap punggung Bunda Jennifer untuk menenangkan Bundanya, "Tuan Arnold kesini karena mau jelasin ke Bunda kalau dia tidak ada hubungan darah ataupun hubungan keluarga dengan Pak Raka."
"Bunda tidak percaya, Rin." Bunda Jennifer menatap Arini yang kini menggelengkan kepalanya, "Dia hadir di pesta pernikahan kalian yang bahkan hanya boleh dihadiri kedua keluarga. Jadi, kalau Raka bukan keluarganya apa namanya?"
"Pak Raka hadir karena anaknya dekat dengan Momku, Bun." Arnold berdiri dan ikut menjelaskan.
"Anaknya dekat dengan Mom-mu?" Bunda Jennifer histeris lalu mengajak Arini pergi masuk ke dalam mansion dan saat mencapai pintu ia pun berteriak, "Lebih baik kamu menikah dengan wanita yang dekat dengan Mom-mu daripada mempertahankan Arini."
"Jen!" Chandra berteriak saat Jennifer membanting pintu rumahnya.
Lalu ia pun menoleh menatap Arnold yang kini mengembuskan napas kasar sembari mengepalkan tangannya. "Sabar Arnold, sepertinya ujian pernikahanmu berada di Bunda mertuamu." ujarnya yang membuat Arnold mengangguk dan langsung berpamitan pada Chandra.
bukan hanya di bunda mertua, Uncle. tapi ada ujian lain yang memaksa Arini harus menerimanya. ujar Arnold dalam hati.
Bersambung...