Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Panggilan tersambung setelah beberapa dering.
“Aku membutuhkan bantuanmu,” ucapnya tanpa basa-basi.
Suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.
[Ada apa?]
“Anak buah Tuan Adam Lorenzo Maxnore datang ke rumah ayahku untuk mencariku. Mereka menemukan sesuatu yang menghubungkanku dengan kecelakaan itu.”
Kemudian pria itu bertanya, [Apa yang mereka temukan?]
“Antingku.”
[Bodoh sekali kau sampai meninggalkan benda itu!]
“Aku tidak meneleponmu untuk mendengar makian!” bentak Amerda. “Aku ingin tau apakah masih ada bukti lain yang bisa menghubungkanku dengan kejadian malam itu.”
Pria itu tidak langsung menjawab. Keheningan di seberang telepon membuat Amerda semakin gelisah.
“Jawab aku!” desaknya. “Apakah masih ada bukti lain?”
[Aku belum tau,]
Amerda memejamkan mata dengan frustrasi.
“Kalau begitu, cari tau! Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya. Aku hanya ingin memastikan tidak ada hal lain yang bisa menyeretku ke hadapan Tuan Adam.”
[Kalau dia sudah mengetahui semuanya? Apa yang akan kau lakukan?]
Wajah Amerda mendadak pucat. Dia membayangkan dirinya dibawa ke hadapan Adam, dipaksa menjawab setiap pertanyaan, lalu kehilangan kesempatan untuk membela diri. Ia pernah mendengar apa yang terjadi kepada orang-orang yang berani melawan pria itu. Ia tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.
“Kalau dia mengetahui semuanya,” jawab Amerda dengan suara pelan tetapi penuh ketegangan, “kita harus menyiapkan jalan keluar.”
[Jalan keluar seperti apa yang kau maksud?]
Amerda menatap pantulan dirinya di cermin.
“Jika aku harus memilih antara diriku sendiri dan orang lain, aku akan memilih diriku sendiri.”
Setelah mengatakan itu, ia memutuskan panggilan tanpa menjelaskan apapun maksud dari ucapannya itu.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Amerda meletakkan ponsel di atas meja rias. Wajahnya masih menyimpan ketegangan. Pikirannya terus dipenuhi kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika Adam Lorenzo Maxnore berhasil menemukan bukti keterlibatannya dalam kecelakaan Veronika.
Amerda, tidak mau tertangkap. Dia juga tidak mau kehilangan semua yang sudah berhasil didapatkannya, terutama kedudukannya sebagai istri Ricardo Dominic. Laki-laki itu adalah salah satu alasan mengapa Amerda berani mengambil keputusan untuk menggantikan Gia pada hari pernikahan mereka. Menjadi istri Ricardo, ia berharap bisa memperoleh kehidupan yang selama ini diinginkannya. Namun, ada satu masalah yang sejak awal tidak pernah benar-benar bisa ia singkirkan, Ricardo masih mencintai Gia.
Memikirkan hal itu membuat rahang Amerda mengeras.
"Dasar laki-laki tidak tau diri," gerutunya sambil meraih sisir di atas meja.
Belum sempat ia merapikan rambutnya, terdengar suara pintu kamar terbuka. Amerda menoleh dengan kesal.
"Siapa yang—"
Kalimatnya terhenti ketika melihat Ricardo memasuki kamar dengan langkah sempoyongan. Laki-laki itu mengenakan kemeja putih yang kusut, dengan beberapa kancing bagian atas terbuka. Rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol langsung tercium begitu ia mendekat.
Ricardo tampak mabuk berat, Amerda meletakkan sisirnya dengan kasar.
"Mas Ricardo? Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
Ricardo tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati istrinya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa di sudut kamar.
"Gia...." Satu nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Amerda langsung membeku, "Apa?"
Ricardo menyandarkan kepala ke sofa sambil memejamkan mata. Bibirnya kembali bergerak, menggumamkan nama yang sama.
"Gia...."
Darah Amerda seketika mendidih.
"Mas Ricardo!" Laki-laki itu tidak menyahut.
"Mas Ricardo Dominic, aku sedang berbicara denganmu!"
Amerda menghampirinya dengan langkah cepat. Ia berdiri tepat di depan sofa, menatap suaminya dengan sorot mata tajam. Namun, Ricardo seolah tidak menyadari keberadaannya.
"Gia, kenapa kamu pergi?" gumamnya lirih. "Kenapa kamu meninggalkanku?"
Amerda mengepalkan tangan. Ia tidak percaya suaminya masih menyebut nama perempuan itu, bahkan ketika sedang mabuk di hadapan istrinya sendiri.
"Berhenti menyebut nama perempuan itu!"
Ricardo membuka matanya sedikit. Pandangannya tampak kabur ketika menatap Amerda.
"Perempuan itu?"
"Iya, Gia! Perempuan jalang! Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu bahwa perempuan itu sudah tidak ada di sini?"
Ricardo mengerutkan kening, lalu terkekeh pelan.
"Perempuan jalang?"
"Iya!"
"Dia bukan perempuan jalang, tetapi kau yang jalang."
Amerda terdiam sesaat. Ricardo berusaha mengubah posisi duduknya. Ia menyandarkan kedua siku di atas lutut, kemudian menundukkan kepala.
"Dia perempuan yang seharusnya menikah denganku."
Ucapan itu membuat wajah Amerda memerah karena marah.
"Jangan mengungkit pernikahan itu lagi!"
"Kenapa?" Ricardo mengangkat wajahnya. "Aku hanya mengatakan kebenaran."
"Kebenaran apa? Kamu sekarang sudah menjadi suamiku!"
"Suamimu?" Ricardo tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan dalam tawanya, hanya kepahitan yang membuat Amerda semakin kesal.
"Ya, aku suamimu di atas kertas."
Ia mengalihkan pandangan, seolah-olah tidak ingin melihat wajah perempuan yang berdiri di hadapannya.
"Tapi jangan pernah berharap aku bisa melupakan Gia hanya karena aku menikahimu."
Plak!
Amerda menampar pipi Ricardo. Suara tamparan itu terdengar nyaring di dalam kamar.
ap Dy punya rencana sendri???