NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merajut Asah Menuai Ilmu

WAKTU BERJALAN CEPAT TAPI TAK TERASA - PANDE SIKEK 1975

Waktu di kaki Bukit Singgalang berjalan dengan cara yang aneh. Bagi orang kota, waktu dihitung dengan jam dan kalender. Bagi anak-anak yang ditempa di lereng bawah — tempat yang kini orang sebut Pos Satu — waktu dihitung dengan berapa kali mereka naik turun bukit dan berapa pasang terompah kayu yang putus talinya.

Tidak terasa, dua tahun telah lewat sejak hari pertama mereka dipaksa berlari dengan terompah kayu oleh Mamak mereka, Usman Bin Rauf Sikumbang.

Tahun 1975 adalah tahun yang berbeda. Jika tahun 1973 adalah tahun air mata dan muntah karena latihan Silek Tuo Harimau, maka tahun 1975 adalah tahun panen. Panen padi dan panen prestasi.

Di rumah Siti Aminah Sikumbang dan suaminya Abdullah bin Rais Payobadar, suasana sudah jauh berubah dari dua tahun lalu.

Dulu, Abdullah bin Rais Payobadar memang sempat merantau, meninggalkan sawah pusako untuk mencari rezeki di rantau orang. Tapi di awal tahun 1974, ia memutuskan untuk pulang kampung untuk selamanya. Ia berkata kepada istrinya Siti Aminah di beranda rumah gadang yang atap sengnya bocor, "Di rantau orang, kita hanya jadi kuli. Di kampung sendiri, tanah kita yang jadi raja. Lebih baik jadi raja di tanah sendiri daripada jadi kuli di tanah orang."

Sejak itulah ia kembali bersawah dan berkebun. Sawah pusako di belakang rumah yang dulu terbengkalai, ditumbuhi rumput, kini ia garap kembali dengan tangannya sendiri yang kapalan. Pagi-pagi buta, sebelum azan subuh berkumandang dari surau kayu, ia sudah di sawah, mencangkul, membajak dengan kerbau sewaan, memperbaiki pematang yang jebol. Siang ia berkebun cengkeh dan kopi di lereng Singgalang, tanaman yang ia tanam sendiri lima tahun lalu kini mulai berbuah lebat, merah-merah.

Dan karena ketekunannya itu, perekonomian keluarga Arya saat itu sudah membaik. Tidak lagi kekurangan seperti dulu tahun 1971-1972 yang tasnya dari karung goni. Beras tidak lagi membeli, karena sawah menghasilkan dua kali panen setahun. Uang untuk buku tulis tidak lagi harus meminjam ke warung Pak Haji. Bahkan Abdullah sudah mampu, dari hasil jual cengkeh pertama, membeli sebuah sepeda jengki bekas yang dicat ulang dan sebuah radio transistor kecil merk National yang pakai baterai batu ABC besar — bukan listrik, karena di Pande Sikek tahun 1975 belum ada listrik sampai tahun 90-an. Radio itu untuk anak-anaknya mendengarkan berita RRI dan belajar bahasa Indonesia.

Perekonomian yang membaik itu sangat berpengaruh pada pendidikan anak-anaknya. Andi Rajo Alam Sikumbang, anak sulungnya yang 17 tahun Kelas 3 SMA, tidak lagi harus memakai sepatu bolong yang ditambal. Arlan Rasyad Sikumbang, anak keduanya yang 12 tahun SD Kelas 6, dan Arya Arsyad Sikumbang, anak bungsunya yang istimewa, yang baru 10 tahun tapi sudah Kelas 6 SD karena loncat tiga tingkat tahun 1972 dulu, kini bisa belajar dengan tenang di rumah dengan lampu petromaks yang terang — petromaks yang kacanya baru, yang harus dipompa dulu biar terang, bukan lagi dengan lampu minyak sumbu kecil yang redup dan berasap hitam.

Di rumah sebelah, keluarga Usman Bin Rauf Sikumbang dan Rismawati Chaniago juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Usman dan Abdullah, yang satu adalah kakak ipar dan adik ipar, kini setiap sore pergi ke sawah bersama, memikul cangkul. Dua anak kandung Usman, Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 13 tahun SMP Kelas 1 dan Darlin Aminuddin Chaniago yang 10 tahun SD Kelas 4, sering bermain bersama dengan sepupu-sepupunya di pematang.

Pada tahun 1975 itu, dua dari lima anak itu harus menghadapi ujian yang berbeda. Ujian yang namanya Ujian Akhir Sekolah Dasar, yang orang Pande Sikek sebut Ujian Negara.

Mereka adalah Arlan Rasyad Sikumbang dan Arya Arsyad Sikumbang, kakak beradik kandung, anak dari Siti Aminah Sikumbang dan Abdullah bin Rais Payobadar. Satu rumah, satu ayah, satu ibu, satu sawah, tapi dua-duanya Kelas 6 SD. Satu umur 12 tahun, satu umur 10 tahun.

Arlan, 12 tahun, belajar dengan cara seperti ayahnya bersawah — pelan, tekun, tidak pernah putus, rapi. Setiap malam ia belajar di bawah lampu petromaks yang mendesis, ditemani ayahnya Abdullah yang juga sedang menghitung hasil kebun cengkeh dengan lidi di lantai tanah.

Arya, 10 tahun, belajar dengan cara yang berbeda. Ia adalah anak cerdas istimewa. Otaknya seperti sawah yang subur yang baru diairi, apa saja yang ditanam, langsung tumbuh. Ia membaca buku sekali, langsung hafal. Ia mengerjakan soal hitungan tanpa perlu mencoret-coret panjang di kertas karbon.

Pagi hari ujian, rumah Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar sibuk luar biasa. Siti Aminah membangunkan anaknya sejak jam empat subuh, sebelum ayam berkokok. Abdullah, yang tidak lagi merantau, sudah pulang dari sawah lebih awal malam sebelumnya agar bisa mengantarkan anaknya. Ia mengenakan baju bersih, bukan baju sawah yang penuh lumpur, dan meminjam peci hitam dari Usman.

"Arlan, Arya, bangun nak. Hari ko ujian. Jangan lupa baca doa, baca Bismillah," kata Siti Aminah sambil menyisir rambut mereka dengan sisir kayu.

Abdullah meletakkan tangannya yang kasar dan kapalan karena cangkul di kepala kedua anaknya, satu per satu.

"Ingek bana pesan Mamak Usman. Di lereng bukik, kalian diaja indak manyerah walau kaki lah bagoyang. Di sakolah, jan pulo kalian manyerah dek otak lah panek. Ayah lah mambuktikan, kalau kito tekun basawah, elok hasil nan kito dapek. Baitu juo sakolah. Kalau rajin baraja, elok pulo hasilnyo. Kini kehidupan kito lah mulai mambaik dek kito indak malas basawah. Baitu juo nilai kalian. Kalau indak malas baraja, insyaallah nilainyo akan mambaik."

Di rumah sebelah, Usman Bin Rauf Sikumbang datang membawa dua buah pensil 2B yang diraut runcing pakai pisau dapur dan dua penghapus karet yang masih baru dari Pasar Atas Bukittinggi untuk kedua kemenakannya.

Hari-hari ujian berlangsung tiga hari, di ruang kelas SD yang atap sengnya panas menyengat kalau siang. Arlan mengerjakan dengan sangat teliti, seperti ayahnya mencangkul sawah — satu-satu, rapi, tidak ada yang terlewat, kertasnya bersih. Arya mengerjakan dengan sangat cepat, seperti air yang mengalir di sawah, lancar tanpa hambatan, lembar jawabannya penuh coretan logika kayu surian.

Setelah ujian, penantian panjang dimulai. Yang ditunggu adalah DANEM - Daftar Nilai Murni, yang ditulis tangan oleh guru, bukan print komputer.

Selama penantian itu, mereka tetap berlatih di lereng bawah, Pos Satu. Usman bahkan sengaja mengajak Abdullah bin Rais Payobadar ikut melihat latihan mereka. Abdullah yang kini badannya kekar karena bersawah dan berkebun, berdiri di bawah batang pinus gadang, melihat ketiga anaknya dan kedua kemenakannya berlari dengan terompah kayu.

"Kuat-kuat kaki anak kita sekarang, Usman," kata Abdullah sambil tersenyum, napasnya masih ngos-ngosan naik bukit. Ia bangga, karena anak-anaknya tidak hanya kuat karena makan nasi dari sawahnya sendiri, tapi juga kuat karena ditempa Silek Tuo.

Sampai suatu pagi di bulan Desember 1975, kabut baru naik, kabar menggemparkan datang.

Seorang utusan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar datang dengan sepeda motor Honda 70 yang suaranya keras, membawa amplop cokelat besar yang diikat karet. Kepala Sekolah SD, Pak Dt. Mangkuto, membuka daftar peringkat sekecamatan X Koto di depan semua guru di kantor papan yang dingin itu.

Peringkat pertama sekecamatan: Arya Arsyad Sikumbang, DANEM 54,35, rata-rata 9,05.

Peringkat kedua sekecamatan: Arlan Rasyad Sikumbang, DANEM 53,80, rata-rata 8,96.

Dua kakak beradik kandung, anak dari petani yang perekonomiannya baru membaik tahun 1974, anak dari Siti Aminah Sikumbang dan Abdullah bin Rais Payobadar, menduduki peringkat satu dan dua sekecamatan. Mengalahkan anak-anak kota Padang Panjang yang sekolahnya sudah pakai listrik.

Kabar itu menyebar cepat di Pande Sikek, dari surau ke surau, dari bengkel ke bengkel. Orang-orang tidak lagi berkata, "Anak perantau yang juara." Mereka berkata, "Anak petani cengkeh itu yang juara. Anak Abdullah yang kembali bersawah itu yang juara. Anak yang belajar di bawah lampu petromaks itu yang juara."

Di rumah gadang, Siti Aminah yang sedang mencuci di belakang menjatuhkan ember cucian sengnya karena kaget dan haru, airnya tumpah. Abdullah bin Rais Payobadar, yang saat itu baru pulang dari sawah, masih dengan lumpur di kakinya sampai ke lutut, capingnya masih di kepala, langsung memeluk kedua anaknya di halaman tanah. Lumpur di kakinya mengotori lantai tanah yang sudah disapu, tapi tidak ada yang peduli. Tidak ada yang marah.

"Alhamdulillah... elok hasil sawah kito, labiah elok pulo hasil baraja anak kito," ucap Abdullah dengan suara bergetar, hampir menangis. Matanya merah. Ia teringat masa-masa sulit tahun 1971-1972 saat ia harus merantau dan meninggalkan keluarga dengan tas karung goni. Kini, keputusannya untuk kembali bersawah dan berkebun terbukti benar. Ekonomi membaik, anak-anak bisa sekolah dengan tenang di bawah petromaks yang terang, dan hasilnya luar biasa.

Di rumah sebelah, Usman Bin Rauf Sikumbang yang mendengar kabar itu dari anaknya Ibrahim, berlari menembus pematang sawah ke rumah adiknya. Ia memeluk iparnya, Abdullah, yang masih berlumpur.

"Lieklah, Abdullah! Ang lah baliak basawah. Allah mangganti razaki ang jo nan lain. Sawah ang subua, kabun ang babuah, anak ang pulo barpestasi. Iko lah buktinyo, kito indak paralu marantau jauah-jauah, salamo tanah awak surang masih bisa kito garap."

Tiga hari kemudian, di Lapangan Kantor Bupati Agam di Lubuk Basung, acara penganugerahan diadakan. Lapangan tanah, bukan gedung ber-AC.

Nama Arya Arsyad Sikumbang dipanggil sebagai Murid Paling Berprestasi se-Kecamatan X Koto tingkat SD tahun 1975. Anak 10 tahun itu naik ke panggung papan yang berderak dengan baju putih merah yang baru, baju yang dibelikan oleh ayahnya Abdullah dari hasil panen cengkeh pertamanya yang laku mahal di Pasar Atas, bukan dari hasil rantau.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar menyalami tangannya yang kecil dan menyerahkan piagam tulisan tangan dan surat Beasiswa.

"Ananda Arya Arsyad Sikumbang, dengan DANEM di atas rata-rata, ananda berhak mendapat beasiswa. Belajarlah terus," kata Kepala Dinas.

Di bawah panggung yang atapnya dari terpal, Abdullah bin Rais Payobadar berdiri paling depan, di antara petani-petani lain. Ia tidak lagi memakai baju perantau yang lusuh, ia memakai baju batik tulis yang ia beli dari hasil kebun. Ia bertepuk tangan paling keras, sampai tangannya yang kapalan merah. Di sampingnya Siti Aminah menangis haru dengan kain sarung tenun saik galamai menutupi mulutnya. Arlan, kakak kandung Arya yang juara dua, yang umur 12 tahun, memeluk adiknya yang 10 tahun dengan bangga, tidak ada rasa iri sama sekali. Karena di Minangkabau, kakak menjaga adik.

Malam harinya, syukuran diadakan di rumah Siti Aminah dan Abdullah. Tidak besar-besaran, tapi istimewa. Tidak pakai listrik, hanya diterangi tiga buah lampu petromaks yang dipinjam dari surau dan tetangga, yang cahayanya kuning terang dan mendesis keras. Nasi kunyit, gulai ayam kampung, dan rendang daging. Semua dari hasil sawah dan kebun Abdullah sendiri. Ayam dari kandang sendiri, beras dari sawah pusako sendiri, cengkeh dari kebun sendiri.

Usman berdiri di depan kelima anak itu — Andi 17 tahun Kelas 3 SMA, Arlan 12 tahun, Arya 10 tahun, Ibrahim 13 tahun SMP Kelas 1, dan Darlin 10 tahun SD Kelas 4.

"Dulu, tahun 1965, susah bana kito. Sawah tabantang, kehidupan pun susah, anak sekolah pakai karung goni. Tapi kini lieklah! Mamak Abdullah lah baliak basawah jo bakabun, kehidupan lah mulai mambaik. Rismawati jo Siti Aminah indak susah lai mangatur pitih dapua. Buktinyo, kalau paruk kanyang dek bareh dari sawah awak surang, pikiran anak-anak pun jadi cadiak."

"Arya, beasiswa tu adolah hasil dari ketekunan ayah ang, Abdullah bin Rais Payobadar, dalam manggaleh sawah. Dan hasil dari latihan ang di lereng bukik. Jan ang sombong."

"Arlan, juaro duo tu indak barati ang kalah. Juaro ciek jo juaro duo, kaduonyo samo-samo dari rumah ko, dari ayah jo mandeh nan samo, dari sawah nan samo. Iko tandonyo keluarga Payobadar jo Sikumbang ko lah diberkahi."

Arya yang baru 10 tahun memegang piagamnya erat-erat. Piagam kertas folio yang tulisannya masih tulisan tangan. Ia melihat ayahnya, Abdullah, yang tangannya masih kasar karena cangkul, tapi kini bisa membelikannya sepatu Bata baru yang mengkilat, sepatu pertama dalam hidupnya.

Arlan merangkul adiknya dan berkata kepada ayahnya, "Ayah, isuak kito pai ka sawah manolong Ayah, yo? Sore kito tetap latihan di lereng bawah, yo, Mamak Usman?"

Abdullah dan Usman tertawa bersamaan, suara mereka menggelegar di halaman yang diterangi petromaks.

"Iyo! Sawah musti tatap digarap, silek musti tatap dilatiah. Dari sawah kito baroleh bareh, dari silek kito baroleh kakuatan, dan dari sakola kito baroleh maso depan."

Dan malam itu, di bawah langit Pande Sikek yang penuh bintang, yang tidak ada polusi cahaya listrik sama sekali, di halaman rumah petani yang perekonomiannya sudah membaik, kelima anak itu kembali berlatih kuda-kuda rendah, dengan piagam di dada Arya dan dengan DANEM terbaik di tangan Arlan, sambil di kejauhan terlihat sawah milik Abdullah bin Rais Payobadar yang baru saja selesai panen, menguning keemasan diterpa cahaya bulan dan cahaya petromaks yang mendesis.

Dari sinilah, setelah ujian SD inilah, Arya 10 Tahun dan Arlan 12 Tahun akan masuk ke SMP Negeri Pande Sikek sebagai SMP Kelas 1, dan cerita Gerbang SMP Negeri Pande Sikek 1975 yang membuat Drs. Syafrianto tidak percaya itu dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!