Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilangnya Anak Perawan, Jejak Merah di Hutan Pinus, dan Bangkitnya Para Iblis
Malam makin larut di Hutan Pinus Pancawati. Suara jangkrik bersahut-sahutan di tengah kabut tebal yang turun memeluk pepohonan. Api unggun sisa acara Persami tinggal menyisakan bara merah yang redup.
Tania keluar dari tenda taktisnya sambil menenteng selimut tebal bermotif bunga-bunga. Senyum keibuannya terkembang. "Dea, ini selimutnya dimasukin... lho?"
Tania membeku di depan tenda kecil Regu Melati. Pintu zippernya terbuka setengah, melambai-lambai ditiup angin malam. Di dalam, ransel Dea masih tergeletak rapi, namun pemiliknya tidak ada. Tablet kuantum kesayangan Dea tergeletak di atas tanah—layarnya retak, dan lampu indikator merahnya berkedip-kedip cepat.
"Dea?" panggil Tania, suaranya sedikit bergetar. Ia melangkah maju, memungut tablet itu. "Dea! Jangan main sembunyi-sembunyi, Nak! Nggak lucu, ini sudah jam dua malam!"
Hening. Hanya suara gesekan daun pinus yang menjawabnya.
Jantung Tania seperti dihantam palu godam. Rasa dingin yang menjalar dari telapak kakinya langsung membekukan darahnya. Ini bukan Dea. Dea tidak pernah meninggalkan tabletnya, apalagi sampai layarnya retak dan ditinggalkan di tanah basah begitu saja.
"Mas Xander! MAS XANDER!"
Jeritan Tania membelah malam. Suaranya penuh kepanikan murni seorang ibu yang kehilangan belahan jiwanya. Ia berlari kencang menuju tenda utama, menyibak pintu kain dengan kasar.
Xander, Dirga, dan Freya yang sedang beristirahat langsung meloncat berdiri dalam hitungan detik.
"Tania! Ada apa?!" Xander menangkap bahu istrinya yang gemetar hebat. Wajah Tania yang biasanya tenang, penuh senyum, dan jenaka kini pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, napasnya memburu panik.
"Dea... Dea hilang, Mas!" tangis Tania pecah, mencengkeram kemeja Xander erat-erat. "Tabletnya retak di luar tenda! Ada yang bawa Dea, Mas! Anak kita diculik! Cari Dea, Mas! CARI DEA!"
Mendengar kata 'diculik', kehangatan di mata Xander von Hapsburg lenyap seketika. Seluruh kepribadian "suami bule penurut" yang dipakainya selama di Bogor menguap tanpa sisa. Yang tersisa di dalam ruangan itu hanyalah sang Dominus Umbrae—monster paling kejam yang pernah dilahirkan dunia bawah.
Suhu udara di dalam tenda terasa merosot tajam. Aura membunuh yang sangat pekat melingkupi Xander.
"Dirga," suara Xander berubah menjadi ketukan nada dingin yang datar tanpa emosi. "Kunci seluruh area Pancawati. Jangan ada kendaraan atau manusia yang keluar dari radius lima kilometer."
"Siap, Tuan!" Dirga mencabut ponsel satelitnya, sementara Freya sudah mengenakan kemeja taktis hitam, menarik dua pisau lipat dari sarungnya.
Tania menyapu air matanya kasar dengan punggung tangan. Ketakutan dan kepanikannya dalam sekejap berubah menjadi amarah liar yang membakar. Mode Emak-Emak Murka yang biasanya menggelikan, kini bertransformasi menjadi naluri seekor induk macan tutul yang anaknya diganggu.
"Freya," desis Tania, suaranya kini seberat bisikan maut. "Bawakan kerambit ganda milikku di bawah jok mobil. Sekarang."
"Baik, Nyonya!" Freya melesat tanpa ragu.
Xander mengambil tablet Dea dari tangan Tania. Dengan jari-jarinya yang cekatan, ia menyambungkan kabel pendek ke ponsel militernya. Layar tablet yang retak berkedip, menampilkan rekaman data koordinat terakhir sebelum perangkat itu dihancurkan secara paksa.
Sebuah foto mikroskopis dari kamera darurat tablet terpampang: siluet seorang pria bermasker dengan tato kalajengking di leher kanan.
Mata Xander menyipit tajam. "Valerius..."
"Siapa?" potong Tania, mencengkeram lengan suaminya hingga kain jas Xander terkoyak. "Siapa dia, Mas?!"
"Bukan Valerius langsung. Itu Marco," jawab Xander, rahangnya mengetat keras. "Dia sepupu jauhku dari faksi sayap kanan Elysium. Saat kita meruntuhkan Olympus, Marco kabur membawa sisa-sisa tentara bayarannya. Dia menyalahkan kita atas kebangkrutan keluarganya. Dia culik Dea untuk balas dendam."
"Sepupumu?" Tania menatap Xander dengan mata menyala-nyala. "Saudaramu yang brengsek itu berani menyentuh anakku?!"
Tania merebut kerambit ganda dari tangan Freya yang baru kembali. Dua bilah pisau melengkung berkarbon tinggi itu berkilat tajam di bawah cahaya lampu tenda. Tania memasang kedua ring kerambit itu ke jari kelingking dan telunjuknya, memutarnya dengan kecepatan mematikan yang tak tertandingi—warisan murni dari trah pesilat darah dingin yang sudah lama ia kubur.
"Mas Xander," Tania menatap suaminya lurus-lurus. Tidak ada lagi daster, tidak ada lagi candaan soal belanjaan atau arisan. Di depan Xander kini berdiri seorang pelindung yang siap membantai siapa pun demi anaknya. "Kalau sepupumu itu membuat Dea lecet sedikit saja... aku sendiri yang akan mencabut jantungnya dan memberi makannya ke anjing liar."
Xander menatap istrinya, lalu tersenyum dingin—sebuah senyuman iblis yang siap meratakan gunung. "Kita akan mencabut jantungnya bersama-sama, Sayang."
Satu kilometer dari perkemahan, di dalam sebuah gudang tua bekas penggergajian kayu yang terisolasi di tengah rawa-rawa hutan pinus.
Dea duduk terikat di atas kursi kayu tua. Kedua tangannya diikat rantai besi ke belakang, namun wajah gadis jenius itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menatap dingin ke arah pria berotot bertato kalajengking di lehernya yang sedang mengasah parang.
Di sekeliling ruangan, ada delapan tentara bayaran bersenjata lengkap dengan senapan serbu AK-47.
"Kasian sekali kau, Anak Haram," ejek Marco, menghampiri Dea lalu menepuk pipinya kasar dengan bilah parang yang dingin. "Pamanmu Xander merasa dia bisa hidup bahagia jadi warga sipil di negara berkembang ini? Dia menghancurkan bisnisku! Sekarang, aku akan memotong jarimu satu per satu dan mengirimkannya ke pamanmu!"
Dea memiringkan kepalanya, menatap Marco dengan iba. "Kau tahu, Paman Marco..."
"Jangan panggil aku paman!" bentak Marco.
"Aku cuma mau kasih peringatan," Dea menghela napas. "Kalau kau cuma berurusan sama Ayahku... paling kamu cuma ditembak mati dengan cepat di kepala. Tapi kau diculik saat Ibuku ikut kemah."
Marco tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. "Ibumu? Wanita pribumi kelas bawah yang kerjaannya cuma memasak itu? Apa yang bisa dilakukan emak-emak dasteran kepadaku?!"
BAM!
Sistem listrik di gudang kayu itu mendadak mati total. Suara mesin generator di luar lenyap digantikan oleh kegelapan pekat yang mencekam.
"Apa-apaan ini?!" teriak Marco, meraih senter militernya. "Cek generator di luar!"
Dua orang anak buah Marco melangkah menuju pintu kayu. Baru saja salah satu dari mereka membuka pintu sedikit...
CRRRACK!
Sebuah lengan dari balik kegelapan menembus celah pintu, mencengkeram tenggorokan prajurit itu, dan menariknya keluar dengan kecepatan yang tak masuk akal. Jeritan melengking terdengar sebentar sebelum diiringi suara patahan tulang leher yang renyah. Sunyi kembali merayap.
Prajurit kedua panik, mengarahkan senapannya ke luar. "SIAPA DI SANA?!"
WUSH!
Dari kegelapan atas atap, sebuah sosok bertopeng meluncur turun tanpa suara. Freya mendarat di belakang prajurit itu, menancapkan pisaunya tepat di sela rusuk, lalu membanting tubuhnya ke tanah tanpa menimbulkan suara berarti.
"Penyusup! TEMBAK!" berteriak Marco panik.
Enam anak buah Marco yang tersisa memuntahkan peluru secara membabi buta ke arah pintu. Cahaya tembakan AK-47 menerangi ruangan dalam kilatan-kilatan mendadak.
Namun, di tengah hujan peluru itu, pintu depan gudang bukannya hancur oleh ledakan, melainkan ditendang hingga terlepas dari engselnya oleh sebuah hantaman raksasa.
DOR! DOR! DOR!
Dirga masuk membawa tameng taktis berat, menahan tembakan peluru, sementara dari belakangnya, Xander von Hapsburg melangkah masuk bagaikan malaikat pencabut nyawa. Dengan gerakan yang sangat efisien dan mematikan, Xander menembakkan pistol Desert Eagle .50 AE-nya. Setiap dentuman keras senjata itu disusul oleh tumbangnya satu prajurit Marco dengan kepala hancur.
"X-Xander?!" Marco mundur ketakutan, menempelkan parangnya ke leher Dea. "JANGAN MENDEKAT! Atau kupotong leher anak ini!"
Xander menghentikan langkahnya tiga meter di depan Marco. Ia tidak bergerak maju, melainkan menyilangkan kakinya dan tersenyum sinis.
"Kau salah mengarahkan senjatamu, Marco," ucap Xander dingin.
"Apa maksudmu?!" teriak Marco histeris.
"Bukan aku yang harus kau takuti malam ini," bisik Xander.
SREK.
Di belakang Marco, dari balik tumpukan kayu gergajian yang gelap, sesosok bayangan merayap keluar tanpa menimbulkan getaran sedikit pun.
Sebelum Marco sempat menyadarinya, dua bilah kerambit melengkung menusuk dalam-dalam ke kedua otot bahu belakang Marco dari arah belakang.
"ARRGGHHHHHH!" Marco menjerit histeris saat kedua lengannya seketika lumpuh, membuat parangnya terjatuh ke lantai.
Tania membisikkan sesuatu tepat di telinga Marco dari belakang, suaranya mengandung racun amarah yang sanggup membekukan lautan. "Berani-beraninya kamu... menepuk pipi anakku pakai parang berkaratmu itu..."
Tania memutar gagang kerambitnya sembilan puluh derajat di dalam daging bahu Marco, membuat pria kekar itu berlutut meraung-raung kesakitan. Tania lalu menendang punggung Marco hingga tersungkur di depan kaki Xander.
Tanpa membuang waktu, Tania berlari menghampiri Dea, memotong rantai besi dengan sekali tebasan kerambitnya yang tajam. Ia memeluk putrinya erat-erat, mencium puncak kepala Dea berkali-kali.
"Dea! Kamu nggak apa-apa, Nak?! Ada yang luka?! Mana yang sakit?!" tangis Tania kembali pecah, memeriksa seluruh tubuh Dea dengan panik.
Dea tersenyum lembut, membalas pelukan ibunya. "Dea nggak apa-apa, Bu. Cuma kaget aja waktu lagi tidur tiba-tiba diangkut. Ibu keren banget tadi."
Tania bernapas lega, mengusap air matanya, lalu menoleh ke arah Marco yang sedang terkapar bersimbah darah di tanah, mencoba merangkak kabur.
Xander menginjak punggung Marco dengan sepatu boot militernya, menahan pria itu. Xander menatap istrinya. "Apa yang harus kita lakukan padanya, Tania? Haruskah aku menguburnya hidup-hidup di rawa ini?"
Tania berjalan mendekat. Kemarahannya memang sudah mereda karena Dea selamat, namun sebagai seorang ibu, hukuman harus tetap dijatuhkan.
Tania berjongkok di depan wajah Marco yang ketakutan setengah mati.
"Mas Xander," kata Tania tenang. "Jangan dibunuh. Kasihan keluarganya kalau dia mati."
Marco menghela napas lega, mendongak menatap Tania. "T-terima kasih, Nyonya... ampun..."
"Tapi," lanjut Tania dengan senyum yang sangat manis, namun matanya sedingin es. "Potong kedua tendon tangannya agar dia tidak bisa pegang senjata lagi seumur hidup. Lalu titipkan dia ke kantor polisi Bogor besok pagi dengan tuduhan pencurian kayu jati. Biar dia merasakan dinginnya penjara lokal."
Marco melotot histeris. "APA?! TIDAK! LEBIH BAIK BUNUH AKU!"
"Dirga, urus dia," perintah Xander singkat, memalingkan wajahnya dan merangkulkan lengannya ke bahu Tania.
Xander, Tania, dan Dea melangkah keluar dari gudang tua itu, meninggalkan jeritan Marco yang dituntaskan oleh Dirga dan Freya di dalam kegelapan malam.
Di luar gudang, udara malam Hutan Pinus Pancawati terasa sangat segar. Tania menggandeng tangan Dea erat-erat di sisi kirinya, sementara Xander merangkulnya dari kanan.
"Maafkan aku, Tania," bisik Xander tulus saat mereka berjalan menembus kabut. "Masa laluku masih saja mengejar dan membahayakan keluarga kita."
Tania menghentikan langkahnya, menatap suaminya lalu tersenyum hangat. Ia mengusap pipi Xander yang ternoda sedikit percikan darah. "Mas... kita ini keluarga. Dulu Mas yang menyelamatkanku, sekarang kita yang menjaga Dea bersama. Jangan pernah minta maaf lagi."
Dea menyenderkan kepalanya di lengan ibunya sambil terkekeh pelan. "Tapi Bu... besok pagi pas penutupan Persami, gimana cara jelasin ke Pembina Pramuka kalau baju Ibu ada noda darahnya?"
Tania tertawa renyah, merapikan rambut Dea. "Gampang, Nak. Nanti Ibu bilang aja tadi malam Ibu habis perang lawan babi hutan demi bikin sup buat anak-anak Regu Melati. Pasti mereka percaya!"
Xander tertawa lepas—sebuah tawa jujur seorang pria yang tahu bahwa di balik bahaya apa pun yang mengancam, rumahnya akan selalu aman selama ada sang istri yang siap bertarung di sisinya.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor