Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulus Pedas Sang Mertua
Grace meremas kertas tersebut. Dengan mata berkilat menyala, ia berbalik lalu pergi ke butik lagi untuk membersihkan diri sebentar. Setelah itu, ia membawa mobilnya ke alamat Mona yang tertera di kertas tadi.
Tak lama kemudian, tepat pukul tujuh pagi, mobil Grace berhenti di salah satu jalan perumahan. Dari dalam mobil, ia memperhatikan salah satu rumah. Grace menunggu dengan sabar, hendak memastikan informasi yang diberikan Eva.
Beberapa menit kemudian, Grace melihat Norman tiba-tiba keluar dari rumah Mona.
Grace tersenyum kecut sejenak sambil bergumam pelan, "Kau memang bajingan, Norman."
Grace berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Semalam, Norman mengatakan sangat merindukannya, tapi memaklumi pekerjaan istrinya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Bekerjalah yang rajin, aku menantikan kehadiranmu di rumah kita."
Begitulah isi pesan Norman. Jika dulu hati Grace berbunga-bunga saat membaca pesan dari sang suami, sekarang hanya ada rasa kesal yang membuncah dalam dadanya.
Kedua mata Grace masih tertuju keluar sana. Kini, ia melihat Mona keluar kemudian mengecup singkat bibir Norman.
Jantung Grace berdegup kencang saat melihat ada seorang anak kecil laki-laki yang diperkirakan berusia sekitar tiga tahun, dengan rambut berwarna kuning, berlari cepat ke arah Norman. Norman memeluk anak itu dengan sangat erat sambil mengecup pipi bulatnya. Mereka seperti ayah dan anak.
Pemandangan itu membuat tangan Grace mencengkeram kuat stir kemudi. Wajahnya terlihat merah padam.
"Apa ini alasan kau berselingkuh dariku, Norman?" gumam Grace tanpa mengalihkan pandangan dari depan.
Mungkin sudah seharusnya Grace keluar, melabrak Norman dan Mona lalu membuat keributan di perumahan kompleks tersebut. Akan tetapi, kemarahan yang terlihat di wajahnya mendadak hilang sekarang, berganti dengan seringai tipis di bibir.
Grace terpaksa keluar dari perumahan. Ia tak tahan melihat pemandangan menyakitkan itu. Kendati demikian, ia tiba-tiba mengambil ponsel sekali pakai lalu mencari kontak Norman.
"Halo Norman, sepertinya hidupmu terlalu damai, ya." Begitu panggilan terhubung, Grace langsung membuka suara dengan suara yang dibuat-buat.
Geraman kesal Norman terdengar dari seberang sana. "Apa maumu, hah?! Masih punya nyali kau! Dengar, cepat atau lambat, aku akan menemukanmu dan membunuhmu!" seru Norman dengan nada meninggi.
Kekesalan Norman membuat Grace tersenyum kecil. "Uh, aku takut, takut sekali sampai-sampai aku tidak bisa bernapas. Ya ampun, aku harus bagaimana ini."
Grace mengejek Norman dengan nada seperti orang takut. Dan tentu saja hal itu mengundang teriakan Norman kembali.
"Jangan main-main denganku! Aku ini orang yang berkuasa di California. Jangan kau pikir aku akan takut—"
"Hei, diam kau!" Belum sempat Norman menuntaskan kalimatnya, Grace langsung menyela dengan sorot mata tajam sekarang.
"Aku tidak bermain-main denganmu dan aku tidak peduli tentang statusmu. Berikan aku uang 50 miliar besok. Um, 100 miliar saja," sambungnya.
Permintaan Grace yang mengubah-ubah nominal membuat Norman kembali berseru.
"Kurang ajar kau! Kemarin kau minta 7 miliar lalu diubah jadi 50 miliar dan sekarang kau naikkan lagi 100 miliar. Apa kau mau membuatku bangkrut, hah!?"
Grace tersenyum lebar sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di luar sana. "Pokoknya kau siapkan 100 miliar. Antar ke salah satu kafe di Jalan Norway. Jika kau tidak menuruti perkataanku, video mesummu akan aku sebar."
Grace belum sempat mendengarkan balasan. Dia sudah mengakhiri panggilan lalu membuka jendela mobil dan membuang ponsel itu ke sisi jalan.
Selang beberapa menit, Grace sampai di butik. Begitu membuka pintu, Carmen langsung menghampirinya dengan wajah berseri-seri.
"Pagi, Bu. Carmen, tadi Eva ada di sini dan baru saja keluar sekitar tiga menit yang lalu. Dia memintaku untuk memberikan kertas ini padamu." Carmen berkata sambil menyodorkan selembar kertas pada Grace.
Kerutan kuat langsung muncul di kening Grace. Dia pun segera mengambil kertas dari tangan Carmen. "Terima kasih, Carmen."
Carmen mengangguk antusias sejenak. "Ayo dibuka kertasnya. Aku penasaran isinya."
Grace mengulum senyum. Dia pun mulai membuka kertas kemudian membaca isinya.
"Buah apel itu tidak jatuh pada tempatnya, atau mungkin saja belum tentu itu buah apel miliknya."
Kalimat itu sukses membuat Carmen melongo. "Hah? Apa maksudnya?"
Berbeda dengan Grace. Dia malah mengerutkan dahi dengan sangat kuat, berusaha memahami pesan tersirat Eva. Dan tiba-tiba Grace tersenyum tipis.
'Apa bukan anak Norman? Hm, menarik.' Batin Grace.
"Bu Grace, kenapa malah tersenyum?" Carmen yang melihat ekspresi Grace tentu saja terlihat makin kebingungan.
Grace segera menutup kertas lalu menatap Carmen. "Norman dan Mona punya anak."
Mendengar hal itu, mata Carmen membesar. "Apa? Tidak mungkin ..."
Grace mengerutkan dahi sedikit mendengar balasan Carmen. "Apa yang tidak mungkin? Tapi pesan dari Eva sudah cukup membuat aku senang."
Carmen mengedipkan mata berulang kali. "Memangnya isi pesan Eva apa?"
Grace sengaja tak memberitahu Carmen. "Ada deh. Sekarang siapkan video mesum mereka yang kemarin, masukkan ke dalam flashdisk."
Mendengar hal itu, Carmen terpaku. "Apa benar-benar mau disebar?"
Grace mengangguk cepat. "Tentu kalau dia tidak memberiku uang. Kau tenang saja, jika aku mendapatkan uang dari pria bajingan itu, aku akan membagikan uangnya untuk kau juga."
Carmen tersenyum jahil. "Yakin? Nanti aku akan meminta lebih banyak, loh."
Grace hanya mengulum senyum. "Tidak apa-apa, kau orang yang paling berjasa dalam hidupku."
Carmen tak jadi membuka mulut saat mendengar bunyi ponsel dalam tas Grace.
Grace segera membuka tas. Begitu diambil, bunyi mendadak berhenti. Grace segera menggulir layar ponsel dan menemukan sebuah pesan dari sang mertua menyuruhnya untuk ke rumah sekarang.
Grace menghela napas sejenak. Lalu memandang Carmen.
"Siapa?" tanya Carmen.
"Mertuaku, dia menyuruhku ke rumah sekarang."
Mendengar hal itu, Carmen mendelik singkat. "Ya sudah, pergilah Bu Grace. Hati-hati."
Grace mengangguk. Setelah itu, pergi ke rumah mertuanya.
Sesampainya di sana, baru saja keluar dari mobil, sorot mata Grace mendadak dingin saat melihat Norman juga keluar dari kendaraan bersama dengannya.
Melihat kedatangannya, Norman tersenyum sumringah lalu berjalan ke arahnya sambil merentangkan tangan seolah ingin memeluknya. "Selamat pagi, sayang. Aku tidak tahu kalau Mama menyuruh kau juga ke sini."
Grace membalas dengan tersenyum kecut. "Um, ya, pagi."
Hanya itu saja balasan Grace. Dengan cepat Grace berjalan mendahului Norman yang saat ini terperangah kala pelukannya tak disambut.
"Sayang," panggil Norman, menatap heran punggung Grace yang bergerak di depannya sekarang.
"Ada apa dengannya?" Norman bergumam pelan lalu melangkah cepat menuju pintu utama sambil melirik beberapa penjaga di rumah besar ini yang berdiri di depan pilar.
Di dalam rumah, saat Grace dan Norman berada di ruang tengah, Allison, mama mertua Grace, langsung membuka suara sambil memandang sinis.
"Akhirnya kau muncul juga! Baru pulang dari Milan. Bukannya menyapaku malah keluyuran, istri yang tidak punya sopan santun, sudahlah mandul, banyak tingkah kau ini!"
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣