NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Metting Bersama

Jam 6 pagi, alarm berbunyi sangat keras.

Elena terbangun dengan kaget. Dia masih di kamar mewah itu. Kamar tawanan. Semalam dia hampir tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Lorenzo dengan tato naga di lehernya itu.

Pintu kamarnya diketuk keras.

"Bangun! 10 menit lagi harus sudah rapi!" Suara Thomas dari luar.

Elena langsung lompat dari tempat tidur. Di atas kasur sudah ada sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita gold.

Elena membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah dress.

Dress itu sangat cantik. Warna hitam elegan dengan sedikit renda putih di bagian dada. Persis seperti seragam pembantu mewah ala Eropa, tapi jauh lebih mahal. Ada juga sepatu hak tinggi hitam.

Ada kertas kecil di atasnya.

_Pakai ini. - L_

L adalah Lorenzo.

Elena menghela napas. Dia tidak punya pilihan. Dia masuk ke kamar mandi dan mengganti bajunya.

Begitu melihat dirinya di cermin, Elena kaget. Dress itu sangat pas di tubuhnya. Dress itu membuat tubuhnya yang langsing terlihat sangat cantik. Rambut pirangnya yang bergelombang membuat dia terlihat seperti boneka.

Tepat jam 6 lewat 10 menit, pintu kamarnya terbuka sendiri.

Lorenzo masuk. Dia sudah rapi dengan jas hitam mahal. Kemeja putih di dalamnya, dan dasi hitam. Tato naga di lehernya sengaja dia biarkan terlihat sedikit. Dia terlihat sangat tampan seperti CEO di majalah, tapi auranya tetap mafia yang berbahaya.

Lorenzo menatap Elena dari atas sampai bawah. Matanya berhenti di wajah Elena.

"Cantik," kata Lorenzo pelan. Satu kata itu saja membuat pipi Elena merah.

"Tuan, kenapa saya harus pakai dress seperti ini? Saya kan cuma pembantu?" tanya Elena.

"Kamu bukan pembantu biasa lagi. Hari ini kamu akan ikut saya meeting penting. Jangan bikin malu saya. Jalan di sebelah saya, jangan bicara kalau tidak saya suruh. Mengerti?" kata Lorenzo dengan nada memerintah.

Elena mengangguk. "Mengerti, Tuan."

Lorenzo berjalan mendekat. Dia tiba-tiba merapikan rambut Elena yang sedikit berantakan. Jarak mereka sangat dekat. Elena bisa mencium parfum mahal Lorenzo yang sama seperti semalam.

"Wangi," bisik Lorenzo.

Elena mundur satu langkah karena gugup. "Terima kasih, Tuan."

Lorenzo tersenyum miring. "Ayo."

Mereka turun ke lantai satu. Semua pelayan kaget melihat Elena. Mereka berbisik-bisik.

"Itu kan pembantu baru kemarin?"

"Kenapa dia pakai dress mahal gitu?"

"Kenapa dia jalan sama Tuan Muda?"

Elena menunduk malu. Dia merasa tidak enak dilihat seperti itu.

Di depan mansion sudah ada mobil Rolls Royce hitam mengkilap menunggu. Seorang sopir membukakan pintu.

Lorenzo masuk dulu, lalu menarik tangan Elena agar duduk di sebelahnya.

Di dalam mobil, suasananya sangat canggung. Elena duduk menempel ke pintu mobil, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Lorenzo. Lorenzo sadar itu.

"Kenapa duduk jauh-jauh? Takut saya makan?" tanya Lorenzo dengan nada sedikit kesal.

"Tidak Tuan, saya... saya tidak enak," jawab Elena pelan.

Lorenzo tiba-tiba menarik pinggang Elena sehingga tubuh Elena jatuh ke pelukan Lorenzo.

"Jangan pernah duduk jauh dari saya lagi," bisik Lorenzo di telinga Elena. "Kamu itu tawanan saya, ingat? Tawanan harus selalu dekat dengan tuannya."

Jantung Elena berdetak sangat kencang. Wajahnya merah padam. Dia bisa merasakan otot dada Lorenzo yang keras.

"Iya Tuan, maaf," kata Elena hampir menangis karena gugup.

Perjalanan ke gedung De Luca Corporation di tengah kota New York memakan waktu 20 menit. Gedung itu sangat tinggi, mungkin 50 lantai. Semua milik keluarga De Luca.

Begitu mereka masuk lobi, semua karyawan langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Lorenzo.

"Selamat pagi Tuan De Luca!"

Lorenzo hanya mengangguk dingin tanpa senyum. Dia menggandeng tangan Elena erat. Semua orang kaget melihat seorang gadis pirang cantik dengan dress pembantu mewah digandeng oleh Tuan Muda yang terkenal tidak pernah dekat dengan wanita.

Mereka masuk ke lift pribadi menuju lantai 50, ruang meeting utama.

Di dalam ruang meeting, sudah ada 10 pria berjas hitam duduk mengelilingi meja besar. Mereka semua adalah pimpinan Mafia De Luca. Wajah mereka semua seram dan bertato.

Begitu Lorenzo masuk, semua langsung berdiri.

"Tuan Muda!"

Lorenzo duduk di kursi utama. Dia menarik Elena untuk duduk di kursi di sebelahnya.

Semua pria di ruangan itu menatap Elena dengan tatapan aneh.

"Siapa dia, Tuan Muda?" tanya salah satu pria dengan bekas luka di wajahnya.

"Dia Elena. Mulai hari ini dia akan selalu ikut saya. Dia milik saya. Jadi kalau ada yang berani menyentuh atau menatapnya dengan tidak sopan, saya akan potong matanya," kata Lorenzo dengan suara sangat dingin dan tenang, tapi semua orang di ruangan itu langsung merinding ketakutan.

Elena kaget mendengar ancaman Lorenzo. Dia menunduk semakin dalam.

Meeting dimulai. Mereka berbicara dengan bahasa Inggris campur bahasa Italia dengan istilah-istilah bisnis Mafia yang tidak Elena mengerti. Tentang pengiriman barang, tentang wilayah kekuasaan, tentang pengkhianat.

Elena hanya duduk diam sambil memainkan jarinya. Dia merasa bosan dan takut.

Tiba-tiba, pintu ruang meeting terbuka dengan keras.

Seorang wanita cantik masuk. Rambutnya merah menyala, memakai dress merah ketat yang sangat seksi. Bibirnya merah tebal. Dia berjalan dengan percaya diri.

"Lorenzo sayang! Aku dengar kamu meeting di sini, jadi aku datang!" kata wanita itu dengan manja.

Semua pria di ruangan langsung tegang. Elena bisa merasakan suasana berubah tidak enak.

Lorenzo mengerutkan kening. "Isabella, siapa yang suruh kamu masuk? Ini meeting penting."

Wanita bernama Isabella itu melihat Elena. Matanya langsung menyipit penuh benci.

"Siapa dia? Siapa pembantu murahan ini? Kenapa dia bisa duduk di sebelah kamu, Lorenzo? Saya tunangan kamu, harusnya saya yang duduk di sana!" bentak Isabella dengan suara keras.

Elena langsung kaget. Tunangan? Lorenzo punya tunangan?

Lorenzo berdiri. Wajahnya sangat marah. "Isabella, jaga bicara kamu! Dia bukan pembantu murahan! Dia adalah..."

Lorenzo berhenti. Dia menatap Elena. Lalu dia menatap Isabella.

"Dia adalah calon istri saya," kata Lorenzo dengan lantang.

Satu ruangan langsung hening. Semua orang kaget, termasuk Elena. Matanya membelalak lebar.

"Apa? Calon istri? Tidak mungkin! Kamu bohong Lorenzo! Ayah saya sudah menjodohkan saya dengan kamu! Kita sudah bertunangan sejak kecil!" teriak Isabella histeris.

Isabella berjalan mendekati Elena dengan tatapan marah. Dia mengangkat tangannya mau menampar Elena.

"Gadis murahan! Kamu pasti pelet Lorenzo ya! Berani-beraninya merebut tunangan orang!"

Tangan Isabella hampir sampai di pipi Elena.

_PLAK!_

Tapi bukan pipi Elena yang ditampar. Lorenzo dengan cepat menangkap tangan Isabella dan menepisnya dengan sangat keras sampai Isabella terjatuh ke lantai.

"JANGAN PERNAH BERANI SENTUH DIA!" bentak Lorenzo dengan suara yang sangat keras dan menggelegar. Suaranya membuat semua orang di ruangan itu gemetar. Bahkan Elena sampai menangis karena takut.

"Siapa pun yang menyentuh Elena, berarti berurusan dengan saya, Lorenzo De Luca! Mengerti kalian semua!"

Semua pria di ruangan langsung mengangguk takut. "Mengerti Tuan Muda!"

Isabella menangis di lantai. "Lorenzo... kamu jahat... kamu memilih pembantu itu daripada aku..."

Lorenzo tidak peduli. Dia menarik tangan Elena dan merangkul pinggangnya.

"Meeting selesai hari ini. Bawa Isabella keluar!" perintah Lorenzo pada anak buahnya.

Dua pria besar langsung menyeret Isabella yang masih menangis histeris keluar dari ruangan.

Setelah semua orang keluar, hanya tinggal Lorenzo dan Elena di ruang meeting besar itu.

Elena masih gemetar. Air matanya mengalir.

"Tuan... kenapa Tuan bilang saya calon istri Tuan? Saya kan cuma tawanan... dan Tuan sudah punya tunangan..." tanya Elena dengan suara isak.

Lorenzo mengangkat dagu Elena. Dia menghapus air mata Elena dengan lembut. Berbeda sekali dengan sikap kasarnya tadi pada Isabella.

"Isabella bukan tunangan saya. Ayahnya yang memaksa. Saya tidak pernah mencintai dia. Saya hanya mencintai satu orang... dan orang itu adalah kamu, Elena," bisik Lorenzo.

Elena terkejut. "Saya? Tapi kita baru bertemu kemarin Tuan..."

Lorenzo tersenyum. Senyum yang tulus untuk pertama kalinya. "Kamu tidak ingat? 5 tahun yang lalu, di panti asuhan St. Maria... seorang gadis pirang kecil memberikan roti terakhirnya pada seorang anak laki-laki yang dipukuli preman... gadis itu kamu, Elena."

Elena membelalakkan matanya. Dia mulai ingat samar-samar.

"Anak laki-laki itu... apakah itu Tuan?"

Lorenzo mengangguk. "Ya. Dan tato naga ini... saya buat karena kamu pernah bilang, naga itu keren dan kuat. Saya berjanji akan menjadi kuat dan kembali untuk kamu."

Elena menangis semakin keras. Ternyata Lorenzo bukan orang asing. Dia adalah anak laki-laki yang pernah Elena tolong dulu.

Lorenzo memeluk Elena dengan erat. Pelukan yang hangat dan posesif.

"Sekarang kamu sudah kembali menjadi milik saya, Elena. Selamanya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!