Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Kedatangan Damian Alfred
Suasana ruang makan pagi itu terasa begitu tegang, meski aroma kopi dan roti panggang menyeruak. Keyla duduk di sisi kiri Dominic, sementara Clara, yang baru saja kembali dari Paris, duduk di sisi kanannya.
Clara tampak luar biasa anggun dengan riasan tipis yang menonjolkan tulang pipinya, namun ia memilih untuk membisu, sengaja untuk menarik perhatian suaminya.
"Bagaimana dengan pemotretanmu di Paris, Clara? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Elise membuka pembicaraan, mencoba mencairkan susana.
Clara mendongak, lalu menyunggingkan senyum tipis khasnya. "Iya, Ma. Semua berjalan sesuai rencana. Beberapa majalah besar sudah mengontrak ku untuk edisi musim depan," jawabnya tenang sembari melirik Dominic dari sudut matanya.
Sayangnya, pria itu nampak dingin seperti biasa. Fokus memotong steak di piring dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya masih terbalut perban di balik kemeja.
"Dom, aku ingin bicara berdua denganmu setelah makan. Apa bisa?" tanya Clara.
"Hmm," jawab Dom singkat tanpa menoleh. "Temui aku di ruang kerja."
Setelah menghabiskan sarapannya, Dominic bangkit diikuti oleh Clara yang melangkah dengan dagu terangkat, sempat memberikan kerlingan kemenangan ke arah Keyla.
Keyla hanya bisa menghela napas pendek dan mulai membantu Elise membereskan meja makan.
"Bibi! Zoey belangkat cekolah dulu ya! Dadah! Jangan kangen!" seru Zoey sembari berlari kecil menuju pintu depan, menenteng tas ransel dinosaurusnya.
"Hati-hati, Sayang! Belajar yang rajin!" balas Keyla sembari melambaikan tangan.
Kini tinggal Elise dan Keyla di ruang makan yang luas itu. Elise memperhatikan menantu keduanya yang tampak melamun menatap pintu ruang kerja suaminya.
"Kau tidak membuntuti suamimu ke dalam, Key? Dia sedang terluka dan pasti membutuhkan bantuanmu, Sayang," ucap Elise sengaja memancing reaksi menantunya.
Elise ingin tahu apakah Keyla merasa cemburu melihat Clara masuk ke ruang kerja Dom.
Keyla tersenyum kecil, meski ada sedikit rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan. "Ada kak Clara, Ma. Dia istrinya juga, pasti kak Clara bisa menjaga suamiku dengan baik."
Ting tong!
Baru saja Elise akan menyahut, terdengar bunyi bel.
"Biar aku saja yang melihatnya, Ma," ucap Keyla bergegas menuju pintu depan.
Namun, langkahnya mendadak terkunci di saat pintu terbuka. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa tidak percaya dan takut.
Damian berdiri di hadapannya. Pria itu tampak sangat berbeda. Ia mengenakan setelan jas mewah yang sangat pas di tubuh atletisnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Juga dua orang bodyguard berbadan tegap berdiri siaga di belakangnya.
"D—Damian? Kau... kau di sini?" tanya Keyla gugup.
Damian tersenyum manis, senyuman yang selama ini selalu membuat pertahanan Keyla luluh.
Damian melangkah masuk begitu saja, seolah rumah itu miliknya. Bahkan ia mengabaikan pertanyaan Keyla yang tampak kebingungan.
"Aku ingin bertemu mertuamu, apa dia ada di rumah?" tanya Damian dengan sangat berwibawa, sangat kontras dengan sosok Damian yang selama ini Keyla kenal.
"Papa sudah berangkat kerja sejak pagi," jawab Keyla pelan.
Ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya. Keyla pikir Damian datang untuk menemuinya atau menanyakan kabarnya, nyatanya ia salah besar.
"Silakan duduk, aku panggilkan ibu mertuaku dulu."
Saat Keyla hendak berbalik, Damian dengan cepat mencekal lengan Keyla. "Tunggu dulu," ucapnya sembari mendekat, membuat Keyla menahan napas. "Ada sesuatu di rambutmu."
Damian menjangkau kepala Keyla, namun bukannya mengambil debu, ia justru menarik beberapa helai rambut Keyla dengan cukup kuat hingga gadis itu merintih.
"Aww! Sakit, Damian!"
"Maaf, tidak sengaja," ucap Damian buru-buru sembari menyembunyikan helai rambut itu ke dalam saku jasnya. "Key, biasa kah kau ikut denganku nanti?"
Keyla mengerutkan kening, mencoba mencerna perubahan sikap pria di depannya. "Bukankah kedatanganmu karena ingin bertemu papa Diego?"
"Ya, aku ingin memberikan surat undangan pesta dari keluargaku satu minggu lagi," jawab Damian sembari menyodorkan sebuah amplop emas tebal yang nampak sangat eksklusif.
Keyla tertegun. "Keluargamu? Sejak kapan kau... maksudku, kau punya keluarga?" Keyla pikir selama ini Damian adalah yatim piatu yang berjuang sendirian.
"Tentu saja aku punya keluarga, Key. Dan kau harus datang ke pesta itu. Ibuku ingin sekali bertemu denganmu," ucap Damian dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Keyla menatap sendu undangan itu. Ingin rasanya ia pergi, tapi rasa minder menghimpitnya. Bagaimana jika ibu Damian tahu bahwa ia hanyalah anak buangan yang tidak jelas asal-usulnya?
"Key, siapa yang datang, Sayang?" Elise muncul dari arah ruang makan karena merasa menantunya terlalu lama di depan.
Damian segera berdiri tegak dan membungkuk hormat. "Selamat pagi, Nyonya Frederick. Maaf mengganggu waktu anda. Saya Damian, putra sulung Jayden Alfred. Saya datang untuk menyampaikan undangan ini secara pribadi untuk tuan Diego sebagai rekan bisnis papa saya."
"Astaga! Jadi kau putra sulung Jayden Alfred yang tak pernah terekspos media itu? Aku sering mendengar tentangmu di kalangan sosialita Milan!" seru Elise
Damian mengangguk sopan. "Benar, Nyonya. Saya harap tuan Diego dan keluarga bersedia hadir."
"Tentu! Akan aku sampaikan pada suamiku. Terima kasih, Damian, karena sudah datang secara langsung kemari," ucap Elise antusias.
Damian pamit. Sebelum benar-benar keluar, ia memberikan kode dengan tangannya bahwa ia akan menghubungi Keyla lagi nanti.
"Ma, memangnya siapa keluarga Alfred itu?" tanya Keyla penasaran.
"Salah satu rekan bisnis papamu dan konglomerat tersohor di Milan. Mereka itu penguasa di sana. Yah, posisinya bisa dibilang sebelas dua belas dengan keluarga kita. Tapi mereka sangat tertutup," jawab Elise dengan penuh semangat. "Kenapa menanyakan itu, Sayang? Kau mengenalnya?"
"Ah... tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit penasaran saja karena dia terlihat sangat muda untuk menjadi utusan bisnis," jawab Keyla sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara pikirannya masih terus bertanya-tanya.
******
"Kau ingin bicara apa?" tanya Dom dingin, matanya tetap tertuju pada berkas di meja tanpa menoleh sedikit pun pada istrinya.
Clara melangkah mendekat dan mencoba memasang wajah semanis mungkin. "Soal kartu kreditku. Aku ingin kau membuka blokirnya sekarang, Dom."
"Jadi kau menemui ku hanya untuk kartu sialan itu? Tidak ada hal lain yang lebih penting?"
Clara hendak mendaratkan ciuman di bibir suaminya untuk merayu, namun Dom dengan sigap menghindar. Ia memalingkan wajah, membuat Clara mendengus kesal.
"Sayang, ayolah. Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpa berbelanja barang mewah, bukan? Aku butuh itu untuk menjaga image di depan teman-temanku," rengek Clara sembari menyentuh bahu Dom. "Aku janji akan membalas semuanya malam ini."
"Dengan apa?" tanya Dom.
"Memuaskan mu di ranjang, bisik Clara menggoda.
Dom tersenyum kecut, tangannya mengepal kuat di bawah meja. Dari jarak sedekat ini, matanya menangkap sesuatu yang membuat perutnya mual. Sebuah tanda merah keunguan di leher Clara yang coba ditutupi dengan foundation tebal.
"Menjijikkan!" batin Dom. Ia merasa muak menyadari bahwa tanda itu pasti hasil perbuatan pria lain di Paris kemarin.
Karena setahu Dom, Damian sudah pulang lebih dulu sebelum Clara.
pamanya Valery yg meninggal
Valery hanyalah korban keserakahan Clara