Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Jejak-Jejak Kecurigaan yang Disusun Perlahan
Sejak hari itu, setiap kali Karen bersikap kasar, merendahkannya, atau menyuruhnya melakukan hal-hal berat seakan ia hanyalah pembantu di rumah itu, hati Cynthia semakin menguatkan tekadnya. Ia tidak akan membalas dengan kata-kata yang sama, melainkan dengan cara yang jauh lebih menyakitkan bagi Karen: menanamkan benih kecurigaan demi benih kecurigaan di antara Karen dan YB, hingga rasa cemburu itu tumbuh besar dan menghancurkan kebahagiaan yang selama ini dipamer-pamerkan kepadanya.
Dimulailah segala sesuatu secara perlahan dan hati-hati. YB yang biasanya pulang tepat waktu, kini sering terlihat pulang lebih telat — namun bukan karena urusan pekerjaan. Cynthia lah yang secara diam-diam mengatur segalanya, membuat YB seakan-akan pulang terlambat dan berada di luar tanpa penjelasan yang jelas. Dan setiap kali itu terjadi, sikap YB terhadap Karen perlahan terlihat berubah menjadi lebih dingin, lebih cuek, lebih banyak diam, dan jarang menyapa seperti dulu. Padahal perubahan itu bukan terjadi tanpa alasan — Cynthia lah yang selalu ada di samping YB, mengisi waktu luang pria itu, membuatnya lupa pada kewajibannya di rumah, tanpa Karen menyadari siapa yang sebenarnya berada di samping suaminya.
Suatu sore, saat YB meletakkan jas kerjanya di sandaran kursi, Karen tanpa sengaja meraba saku jas itu dan menemukan selembar kertas kecil yang terlipat rapi. Itu adalah struk pembelian berisi barang-barang khusus perempuan — sabun mandi beraroma lembut, losion, dan sepasang perhiasan kecil — yang sama sekali tidak pernah Karen terima maupun minta dari YB. Matanya membelalak tak percaya. Ia memeriksa tanggal dan jam pembelian itu, dan dadanya terasa sesak — pada saat itu YB seharusnya sudah selesai bekerja, bukan membeli barang-barang seperti itu untuk seseorang yang bukan dirinya. Karen meremas kertas itu di tangannya, napasnya memburu, namun ia menahan diri untuk tidak langsung menuduh. Ia ingin melihat apa lagi yang tersembunyi.
Dan sejak saat itulah, tanda-tanda lain mulai bermunculan, satu per satu, seakan berbaris mendatangi pandangan Karen. Kadang di kerah kemeja atau kemeja kerja YB, terlihat noda bekas bibir berwarna merah menyala — warna lipstik yang sama sekali tidak Karen pakai bahkan cynthia pun juga tidak memakai warna lipstik tersebut. Lalu ada bekas cupang di leher Yb yang tanpa sengaja terlihat oleh Karen. Dan Aroma tubuh YB pun berubah. Terkadang ia pulang membawa wangi parfum perempuan yang manis dan memikat, wangi yang bukan milik Karen, juga bukan milik Cynthia — sengaja diteteskan Cynthia di pakaian YB sebelum pria itu pulang ke rumah. Cynthia melakukan itu setiap kali mereka bertemu, setiap hari, tanpa lelah, tanpa bosan di luar rumah tanpa sepengetahuan Karen. Ia memastikan di rumah tersebut bahwa jejak-jejak itu selalu ada, selalu terlihat, dan selalu mengusik ketenangan hati Karen.
Setiap kali Karen menemukan tanda-tanda itu, wajahnya memerah menahan amarah, matanya menyala cemburu, dan ia akan melampiaskan kekesalannya kepada siapa pun — terutama kepada Cynthia. Namun Cynthia hanya diam, menunduk pura-pura tak tahu apa-apa, sementara di dalam hatinya terselip rasa puas yang manis. Setiap pertengkaran yang terjadi antara YB dan Karen adalah kemenangan kecil baginya. Dendam yang selama ini tertahan perlahan terbalaskan, sedikit demi sedikit, tanpa siapa pun menyadari siapa pelakunya.
"Siapa wanita itu, YB?!" bentak Karen suatu malam, suaranya bergetar menahan tangis. "Wangi apa ini di bajumu? Dan struk pembelian ini — untuk siapa barang-barang itu? Katakan padaku!"
YB terdiam, bingung sekaligus tak mengerti. Ia mencium bajunya, memeriksa noda di kerahnya, dan sungguh tak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya ia tahu satu hal — ia tidak pernah berselingkuh dengan wanita lain. Satu-satunya wanita yang ia temui di luar pernikahan ini hanyalah Cynthia. Namun bagaimana mungkin ia mengatakannya? Bagaimana mungkin ia mengakuinya? Maka ia hanya bisa menggeleng lemah, berusaha menenangkan istrinya.
"Aku tak tahu, Karen... aku sungguh tak tahu dari mana semua itu berasal. Percayalah, aku tidak menyembunyikan siapa pun," jawabnya pelan, namun jawaban itu justru membuat Karen semakin marah dan semakin yakin bahwa suaminya berbohong.
Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang semakin tebal di udara. Kehamilan Karen pun mulai membesar, perutnya tampak jelas membuncit, dan tubuhnya terasa semakin berat. Di saat-saat seperti inilah ia justru sangat membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang YB sebagai suami dan calon ayah bagi anak yang dikandungnya. Namun justru di saat yang paling membutuhkan itu, Karen merasa semakin sendirian. YB seakan-akan semakin jauh, semakin sering terlambat pulang, dan semakin banyak rahasia.
Melihat keadaan itu, Cynthia menyusun rencana yang lebih tegas. Ia menyewa seorang wanita yang sama sekali tidak dikenal oleh siapa pun di lingkungan itu, dan menyusun pertemuan sedemikian rupa sehingga terlihat kebetulan.
Pada suatu sore yang cerah, saat Karen sedang duduk di beranda rumah sambil menunggu kedatangan YB, matanya tiba-tiba terpaku. Di dekat gerbang, YB berhenti sejenak — dan di sana, berdiri seorang wanita asing yang cantik dan berpakaian rapi. Wanita itu tidak hanya sekadar menyentuh lengan YB. Ia mendekat begitu dekat hingga tubuhnya hampir menyandar ke dada pria itu, tangannya naik menyentuh kerah baju YB seakan merapikannya, lalu jari-jarinya turun perlahan menyentuh pipi YB dengan lembut dan penuh keakraban. Kepala mereka berdua hampir bersandar, wajah wanita itu tersenyum manis sekali, bibirnya bergerak pelan berbisik sesuatu yang tak terdengar oleh Karen, namun dari caranya menatap dan tersenyum begitu mesra, siapa pun yang melihatnya pasti tak akan mengira mereka hanya sekadar kenalan.
Dan yang membuat jantung Karen terasa berhenti berdetak — YB tidak menolak. Ia tidak mundur, tidak menarik diri. Ia justru menatap wanita itu dengan senyum tipis yang lembut, kepalanya sedikit menunduk seakan mendengarkan setiap kata yang diucapkan, dan sesaat kemudian, tangannya sendiri terangkat dan menindih tangan wanita itu yang masih berada di pipinya.
Tangan Karen gemetar hebat memegang ponsel, napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya sesak seakan ditindih batu berat. Darah terasa mendidih sekaligus membeku di pembuluhnya. Bukan sekadar cemburu — ia merasa dikhianati, dihancurkan tepat di depan matanya sendiri. Pertemuan itu begitu mesra, begitu akrab, begitu penuh kebiasaan yang terjalin lama, sehingga mustahil disebut kebetulan. Matanya memanas, pandangannya kabur oleh air mata, namun ia tak berkedip — ia memotret, menyimpan bukti itu dengan tangan yang gemetar tak terkendali, menyimpan rasa sakit yang menusuk tajam ke ulu hatinya.
Saat YB melangkah masuk ke rumah dengan wajah yang tenang seakan tak terjadi apa-apa, Karen berdiri menunggunya. Di tangannya, ponsel itu digenggam erat, menampilkan foto yang baru saja ia ambil. Matanya basah, namun tatapannya tajam dan penuh kepastian.
"Jangan berdalih lagi, YB," ucap Karen pelan namun tegas, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap. "Aku sudah melihatnya sendiri. Dan ini baru permulaan. Sekarang jelaskan padaku — siapa wanita itu? Dan sejak kapan kau menyembunyikannya dariku?"
YB terpaku di tempatnya, tak menyangka bahwa pertemuan singkat itu ternyata dilihat dan direkam oleh istrinya. Ia membuka mulutnya hendak menjelaskan, namun kata-kata terasa tertahan di kerongkongan. Ia sendiri pun tak begitu mengenal wanita itu, tak tahu siapa yang mengutusnya, dan tak mengerti mengapa semua ini seakan-akan diatur agar terlihat seolah-olah ia benar-benar berselingkuh. Namun bagaimana ia membuktikan ketidaksalahannya, sementara bukti di depan mata istrinya terlihat begitu nyata?
Tujuh tahun kesetiaan, tujuh tahun menunggu, namun pada akhirnya semua pengorbanan seakan tak pernah dilihat. Alurnya begitu menyentuh, setiap kalimat terasa hidup dan menusuk sampai ke hati. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta, tapi tentang dihargai atau diabaikan, tentang berjuang lalu terluka. Kalau kalian mampir ke sini, jangan lewatkan untuk membacanya dari awal sampai akhir — kalian pasti akan ikut merasakan setiap perasaan tokohnya. Karya yang luar biasa indah dan berharga! Semangat terus menulisnya Kak! ❤️⭐⭐⭐⭐⭐