Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - OBAT BATUK UNTUK ANAK DESA
Pagi itu Paviliun Mawar ku seharusnya tenang.
Aku baru saja selesai menulis ulang ramalan dari buku putih itu di secarik kertas kecil agar tidak lupa. Di kertas itu tertulis jelas dengan tulisan tanganku yang jelek: HARI KE-22: IBU SURI AKAN MEMANGGILKU MINUM TEH DI PAVILIUN MELATI. TEH ITU BERACUN. JANGAN MINUM.
Aku melipat kertas itu dan menyelipkannya di dalam saku gaun biru langit ku. Hari ini adalah hari ke-22. Sesuai ramalan buku itu.
Aku sudah menyiapkan rencana. Jika Ibu Suri memanggilku, aku akan pura-pura sakit perut atau menjatuhkan cangkirnya dengan sengaja seperti di sinetron. Apapun itu, aku tidak akan meminum teh itu.
Tapi rencana itu buyar total karena suara genderang dan tangisan keras dari gerbang utama istana.
"Buka gerbang! Buka gerbang! Kami butuh tabib istana! Anak saya mau mati!"
Suara tangisan seorang perempuan desa itu menggema sampai ke Paviliun Mawar ku.
Aku dan Mbok berlari keluar ke teras. Dari kejauhan, di gerbang utama yang dijaga ketat, terlihat rombongan kecil warga desa perbatasan. Sekitar lima orang, dengan pakaian compang-camping penuh tambalan, menggendong seorang anak kecil berumur sekitar 5 tahun.
Anak itu batuknya sangat keras. Bukan batuk biasa. Batuknya sampai membuat seluruh tubuh kecilnya melengkung, wajahnya membiru, dan setiap tarikan napasnya berbunyi ngik... ngik... seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.
Para pengawal gerbang mendorong mereka. "Pergi! Pergi! Istana bukan tempat untuk rakyat jelata sakit! Tabib istana hanya untuk keluarga kerajaan!"
Ibu anak itu bersujud di tanah berdebu, menangis meraung-raung. "Tolong, Gusti! Anak saya sudah batuk 7 hari tidak berhenti! Dia tidak bisa tidur! Dia tidak bisa makan! Tabib desa sudah angkat tangan!"
Keributan itu membuat semua penghuni istana keluar. Selir-selir mengintip dari paviliun mereka dengan tatapan jijik. Para menteri datang dengan wajah kesal karena jam makan pagi mereka terganggu.
Dan dari Balairung Langit, Kaisar Segara El-Bhumi keluar dengan jubah hitamnya. Wajahnya dingin melihat keributan di gerbang.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara tegas.
Pengawal gerbang bersimpuh. "Ampun, Gusti Kaisar. Warga desa ini memaksa masuk membawa anak sakit. Hamba sudah usir tapi mereka tidak mau pergi."
Segara menatap rombongan desa itu dengan tatapan datar. Bukan tatapan kejam, tapi tatapan seorang kaisar yang sudah terbiasa melihat rakyatnya menderita dan tidak tahu harus berbuat apa.
Tabib istana yang tertua, Tabib Ageng yang jenggotnya sudah putih semua, datang dengan tas obatnya. Dia memeriksa anak itu dari jarak satu meter, tidak mau menyentuhnya langsung karena takut tertular.
Dia mendengarkan batuknya sebentar, lalu menggeleng.
"Ini batuk seratus hari, Gusti Kaisar. Penyakit dari angin jahat yang masuk ke paru-paru. Harus dikirim ke Gunung Wilis untuk mencari daun nafas naga. Perjalanan pulang pergi 10 hari. Dan belum tentu anak ini kuat bertahan 10 hari," kata Tabib Ageng dengan suara pasrah.
Mendengar itu, ibu anak itu menangis semakin keras, memeluk anaknya yang membiru itu. "Anakku... anakku..."
Aku yang berdiri di teras Paviliun Mawar, hatiku terasa diremas-remas. Sebagai mahasiswi Sejarah, aku pernah membaca tentang batuk seratus hari ini. Di abad 21, ini namanya batuk rejan atau bronkitis akut pada anak. Batuknya memang bisa sampai membiru dan sesak karena dahak yang menumpuk.
Dan di Kotak P3K ku, masih ada sisa obat.
Tanpa pikir panjang, aku mengangkat gaun biru langit ku dan berlari dari Paviliun Mawar menuju gerbang utama. Mbok berteriak memanggilku, tapi aku tidak peduli.
"Gusti Permaisuri!" Semua pengawal dan menteri kaget melihatku berlari.
Aku sampai di depan rombongan desa itu dengan napas terengah. Aku langsung jongkok di tanah berdebu, tidak peduli gaun biru langit hadiah Segara itu kotor.
"Bu, boleh saya lihat anaknya?" tanyaku pelan pada ibu itu.
Ibu itu menatapku dengan mata bengkak. "Gusti Permaisuri... Gusti mau menyentuh anak saya yang kotor dan sakit ini?"
Aku tersenyum dan mengulurkan tangan. "Boleh ya, Dek? Kakak lihat sebentar."
Aku menyentuh dahi anak itu. Panas. 38 derajat. Aku mendengarkan batuknya. Benar, bronkitis akut dengan dahak menumpuk.
Di kepalaku, Sistem berbunyi pelan.
[DETEKSI: BRONKITIS AKUT + INFEKSI BAKTERI RINGAN. REKOMENDASI: 1/2 TABLET AMOXICILLIN DIHALUSKAN + 1 SENDOK SIRUP OBAT BATUK ANAK DARI KOTAK P3K + AIR HANGAT + MADU]
Aku langsung berdiri dan berlari kembali ke Paviliun Mawar ku, mengambil Kotak P3K merah itu. Semua orang menatapku bingung.
Aku kembali dengan kotak itu, membukanya di depan semua orang. Di dalamnya masih ada sirup obat batuk anak yang masih segar dan beberapa tablet amoxicillin.
Aku mengambil satu tablet, mematahkannya menjadi dua, lalu menghaluskannya dengan sendok di atas daun pisang yang aku minta dari pelayan. Aku mencampurnya dengan sedikit madu dari dapur dan air hangat.
"Bu, ini obat penurun panas dan obat untuk bakterinya. Ini akan pahit sedikit, tapi setelah ini batuknya akan lebih enak dan dahaknya bisa keluar. Percaya sama saya ya, Bu," kataku sambil menyodorkan ramuan itu dengan sendok kecil.
Ibu itu ragu, menatap para tabib istana dan Kaisar yang berdiri di belakangku.
Segara yang dari tadi diam menatapku yang jongkok di tanah kotor, akhirnya bersuara.
"Berikan pada anak itu," perintahnya pelan pada ibu itu. Suaranya tegas, tapi tidak dingin. "Jika permaisuriku yang memberikan, maka berikan."
Mendapat izin Kaisar, ibu itu akhirnya memberikan ramuan pahit itu pada anaknya yang masih membiru.
Anak itu menangis karena pahit, tapi aku langsung memberikan sirup obat batuk anak yang manis rasa stroberi dari abad 21 itu sebagai penawar.
"Minum ini, Dek. Rasa stroberi. Enak," bisikku.
Anak itu meminum sirup itu. Matanya sedikit membelalak karena rasa manis yang belum pernah dia rasakan.
Satu menit. Dua menit. Batuknya yang tadinya ngik... ngik... keras sampai membiru, perlahan-lahan mereda. Napasnya yang tadinya sesak, mulai lebih teratur. Wajahnya yang biru, mulai memerah normal kembali.
Ibu itu memeluk anaknya sambil menangis, tapi kali ini tangis bahagia.
"Anakku... anakku bisa napas lagi, Gusti..."
Satu gerbang istana hening total.
Tabib Ageng yang tadinya bilang harus 10 hari cari daun di gunung, maju dengan gemetar dan memeriksa anak itu lagi. Matanya membelalak.
"Batuknya... dahaknya keluar... panasnya turun... ini... ini obat dewa apa, Gusti Permaisuri?" bisiknya tidak percaya.
Aku berdiri dengan lutut yang pegal karena jongkok terlalu lama. Gaun biru langit ku penuh debu tanah. Tangan ku kotor karena menghaluskan obat.
Aku menatap Segara yang masih berdiri di belakangku. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Matanya yang sedalam samudra itu berkaca-kaca sedikit, tapi dia cepat memalingkan wajah agar tidak ada yang melihat.
"Gusti Permaisuri Mawar..." bisik salah satu warga desa yang ikut, lalu dia bersimpuh. Diikuti oleh warga desa lainnya. Lalu oleh pengawal gerbang. Lalu oleh beberapa pelayan yang melihat.
"Permaisuri Obat Dewa! Permaisuri Obat Dewa!"
Sorakan pelan itu menggema di gerbang utama.
Segara berjalan mendekatiku. Dia tidak peduli gaunku kotor. Dia melepas jubah hitamnya dan lagi-lagi menyampirkannya ke bahuku.
"Kau lagi-lagi membuat gaun yang kuberikan kotor, Kahiyang," bisiknya pelan hanya untukku. "Tapi kali ini, kotornya bagus."
Dia lalu berbalik dan berteriak pada pengawal, "Buka lumbung padi! Berikan 2 karung beras untuk keluarga ini! Dan suruh Tabib Ageng belajar pada Permaisuri bagaimana cara membuat obat batuk yang tidak perlu 10 hari!"
Hari itu, untuk pertama kalinya, rakyat desa perbatasan pulang dari istana dengan beras dan anak yang sudah bisa tertawa lagi.
Dan di saku gaun biru langit ku yang kotor itu, kertas kecil ramalan tentang teh beracun Ibu Suri masih terselip. Hari ke-22 belum selesai. Teh beracun itu masih menunggu nanti sore.
Tapi untuk pagi ini, alurnya santai saja. Menyelamatkan satu anak desa dengan setengah tablet amoxicillin dan sirup stroberi dari abad 21. Ngena sekali, karena tawa anak itu setelah bisa napas lagi, jauh lebih merdu dari musik apa pun di istana ini.
Bersambung...