Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Mobil tuaku melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai sepi. "Broooom" Mesinnya berdengung halus, kadang mengeluarkan suara kasar seolah ikut lelah seharian ini. Lampu depannya menyinari aspal di depan, terang sebentar lalu meredup, tapi tetap berjalan tak berhenti.
Di kursi penumpang, Shella duduk menyandar, menatap jalanan yang berlalu-lalang di luar kaca. Sepanjang perjalanan, Kami tak banyak bicara. Keheningan di dalam mobil terasa hangat, tapi juga berat — ada sesuatu yang ingin diucapkan, namun tertahan di ujung lidah.
Sesampainya di depan gerbang rumah Shella, Aku memarkir mobil di tepi jalan, "Ceklek" mematikan mesin. Suasana seketika hening, hanya suara jangkrik dari kebun tetangga yang terdengar pelan.
"Sudah sampai," ucapku lembut sembari menoleh ke arah Shella.
Shella tidak langsung membuka pintu. Dia memandang wajahku yang disinari cahaya remang dari lampu jalan. "Hening" Lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya, bahunya turun lelah, tapi senyumnya tetap tulus — senyum yang tidak pernah berubah, sejak pertama kali kami bertemu.
"Maxy..." panggilnya pelan, suaranya tertahan. "Kamu... kamu benar-benar tidak keberatan dengan kerjaan hari ini?" tanya Shella lembut.
Aku tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Nggak keberatan kok. Serius..!"
"Yang penting kamu nggak kesal sama aku, itu udah cukup." jawabku singkat
"Kenapa kamu begitu..." Shella menunduk, memilin ujung tas di pangkuannya. "Padahal... padahal semua ini gara-gara aku. Kamu tahu itu kan?"
"Nggak, ini bukan gara-gara siapapun," jawabku lembut.
"Arif yang milih buat melakukan itu. Bukan karena kamu."
"Dan aku, Aku yang memilih buat tetap di sini. Itu pilihanku sendiri." ucapku menjelaskan.
Shella mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Tapi kamu capek banget... aku lihat kok. Seharian duduk, gak makan, gak istirahat..."
"Badan capek gak apa-apa. Cepat pulih kok." Aku menatapnya tulus.
"Yang penting kamu gak merasa sendirian di sana. Dan nggak merasa bersalah atas hari ini. Itu yang bikin aku gak keberatan." jawabku tulus sembari menatap matanya penuh kasih.
Hening sejenak. "Gluk" Shella menelan ludah, menahan benjolan di tenggorokan. Dari sorot matanya, seperti Dia ingin memelukku, ingin bilang terima kasih yang tak terucap...
"Pulanglah sekarang Maxy... istirahat yang cukup," katanya akhirnya, "klik" membuka pintu pelan. "Hati-hati ya di jalan." ucap Shella
"Kamu juga. Kunci pintunya ya." jawabku singkat.
Shella melangkah masuk ke halaman, menoleh sekali lagi sebelum masuk. "Tap" Aku masih duduk di sana, menunggu, sampai lampu ruang tamunya menyala. Baru setelah itu, pintu mobil tertutup pelan, "Vrooom" mesin menyala kembali, dan mobil tua itu perlahan menjauh menghilang di tikungan jalan.
Perjalanan pulang terasa singkat. Sesampainya di depan rumah, Aku memarkir mobil di tempat biasa, "Puk..puk" menepuk kap mesin pelan seolah berterima kasih karena sudah setia mengantarnya bolak-balik. "Klik" Dia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi tempat tidur, "Huuuuft" menghela napas panjang yang memenuhi ruangan sempit itu.
Tubuhku terasa berat luar biasa. Setiap otot seolah berteriak lelah. Punggung kaku, leher tegang, dan mataku terasa perih menahan kantuk sejak tadi sore.
Aku melepas kemeja yang sudah kusut, melipatnya rapi sebelum meletakkan di kursi, lalu "Splash" membasuh wajahku dengan air dingin.
Saat kembali ke kamar, aku berdiri sebentar di depan cermin kecil di dinding. Menatap diriku sendiri — biasa, sederhana, bukan siapa-siapa. Tidak ada kemewahan, tidak ada ketampanan yang memukau, tidak ada apa-apa yang membuatku istimewa di mata kebanyakan orang.
Namun... aku tersenyum sendiri. Senyum yang bangga, tenang, dan damai.
Dua hari ini... dua hari ini aku sama sekali tidak perlu berubah jadi Roxy. Tidak perlu mengganti wajah, tidak perlu menukar pakaian, tidak perlu menyembunyikan siapa diriku.
Aku cukup jadi Maxy — yang sederhana, yang punya mobil tua, yang makan seadanya, yang kadang ragu dan malu — dan tetap bisa dekat dengan Shella. Tetap bisa didengarkan. Tetap bisa dihargai. Tetap bisa diperhatikan.
Itulah kemenangan sesungguhnya. Bukan angka di layar, bukan pujian sesaat. Bukan kemewahan yang dipinjam, bukan penampilan yang diubah. Tapi diterima apa adanya.
Aku merebahkan tubuh perlahan ke kasur, "Sreek" menarik selimut sebatas pinggang. Mataku terasa berat, tapi hati ini ringan, lebih ringan dari sebelumnya.
"Aku bisa... aku benar-benar bisa tanpa jadi dia"
Pikiran itu melintas pelan, hangat dan menenangkan.
Aku tidak butuh Roxy. Aku tidak butuh uang sistem. Aku cukup berjuang dengan apa yang kupunya — ketulusan, kesabaran, dan kehadiran yang tak pernah pergi.
Senyum tak hilang dari bibirku, saat mata mulai terpejam. Napas teratur, perlahan melambat, tubuhku melepas ketegangan seharian. "zZzztt" Aku tertidur lelap, wajah damai, tersenyum di dalam mimpi — senyum orang yang akhirnya tahu ke mana harus melangkah, dan tidak takut berjalan sendirian.
Berbeda dengan Maxy.
Di kamar yang remang-remang, Shella tidak bisa tenang.
Shella duduk di tepi tempat tidur sejak masuk, tangan bertaut erat di pangkuan, menatap lurus ke arah pintu yang tadi ditutup. Suasana hening, tapi di kepalanya suara berisik tak berhenti berputar, berulang-ulang, tajam dan nyata.
"Semua gara-gara aku... semua ini gara-gara aku..."
"Kalau aku tidak ada di kantor itu. Kalau Arif tidak terobsesi padaku.
"Kalau aku tidak membiarkan Maxy mendekat... Maxy tidak akan diperlakukan seperti itu.
"Mungkin Maxy tidak akan ditumpuk tugas yang bukan tugasnya".
"Tidak akan dihina di depan orang lain."
"Tidak akan dibiarkan lembur sendirian sampai malam, dan tidak akan dipaksa memilih antara menyerah atau bertahan sendirian."
Dia mengusap sudut matanya yang mulai terasa panas. "Huft" Napasnya memburu, sesak di dada.
"Arif adalah manajer. Orang nomor dua di kantor itu. Dia punya kekuasaan, punya pengaruh, punya banyak orang yang mendukungnya."
"Kalau Aku melawan secara terbuka, apa yang bisa aku lakukan? Aku cuma staf biasa. Bisa saja Arif memutarbalikkan fakta, membuat mereka berdua terlihat yang salah, dan "Gluk" Ia menelan ludah. Maxy yang akan diusir duluan. Dia tidak punya kuasa, tidak punya jabatan, tidak punya perlindungan apa pun." Batin Shella masih berperang melawan pikiranya sendiri.
Dan itulah yang paling menyakitkan — melihat seseorang berkorban untuknya, sementara dia tak bisa melakukan apa-apa selain menonton dari jauh, diam dan tak berdaya.
Air mata mulai menetes pelan, jatuh ke punggung tangannya, hangat lalu dingin.
Dia teringat wajah Maxy tadi di dalam mobil. Cara dia tersenyum meski lelah. Cara dia bilang itu pilihannya sendiri, seolah itu hal yang paling wajar di dunia — berjuang untuk seseorang tanpa diminta, tanpa menuntut imbalan, tanpa pernah menyalahkan.
"Kenapa..." bisiknya pelan, suaranya pecah dan tertahan. "Kenapa kamu begitu baik padahal aku yang bikin kamu susah" tanya Shella dalam hatinya.
Dia teringat Roxy. Sosok yang dulu sering membuatnya terkesima — tampan, kaya, yang bisa memberikan apa saja dalam sekejap mata. Yang bisa melindunginya dengan kekuatan dan uang, yang bisa membuat masalah hilang begitu saja. Saat-saat awal, dia sempat mengaguminya, sempat berharap bisa lebih dekat.
Tapi aneh... saat dia duduk sendirian seperti ini, memikirkan siapa yang benar-benar ada saat dia butuh... wajah Roxy perlahan memudar. Semakin dia mengingat perjuangan Maxy, semakin Roxy terasa seperti mimpi yang indah tapi jauh, seperti bintang yang cantik tapi tak bisa dijangkau.
Sedangkan Maxy... Maxy adalah kenyataan yang sederhana, hangat, dan nyata. Yang ada di sampingnya saat dia lelah, yang mendengarkan saat dia takut, yang tetap berdiri meski ditekan.
--Tanpa Shella sadari, dia sudah mulai melupakan Roxy.--
Bukan karena Roxy buruk. Tapi karena yang dia butuhkan ternyata bukan kemewahan. Yang dia butuhkan adalah seseorang yang tetap tinggal meski susah.
Seseorang yang memegang tangannya saat dunia terasa kejam. Seseorang yang memilih bertahan, bukan pergi ke tempat yang lebih mudah.
Dan orang itu bukan Roxy. Itu Maxy.
Dia menyandarkan dahi ke lutut, bahunya berguncang pelan."Duk". Air mata menetes deras sekarang, tidak bisa ditahan lagi.
"Maafkan aku, Maxy... maafkan aku..." isaknya pelan, tak terdengar siapa pun.
"Kamu berjuang sendirian buat aku... dan aku cuma bisa diam. Aku gak bisa bantu kamu sama sekali..." ucap Shella lirih penuh rasa bersalah.
Dia tahu Arif tidak akan berhenti. Tumpukan berkas kemarin hanyalah permulaan. Besok akan ada yang lebih berat. Lebih tidak adil. Lebih menyakitkan. Arif tidak akan menyerah sampai Maxy pergi.
Dia tahu sifatnya — orang yang tidak bisa memiliki, akan berusaha menghancurkan apa yang diinginkannya.
Pikiran itu menusuk tajam, membuat tubuhnya gemetar pelan.
"Dan Besok... apa yang akan terjadi besok? "
"Apakah Arif akan menuduh Maxy mencuri?"
"Atau menyalahkannya atas kesalahan yang tidak dia buat?"
"Atau mempermalukannya di depan semua orang sampai dia sendiri yang tak tahan dan pergi?"
pikiran buruk itu terus menghantuinya.
Shella memeluk lutut erat-erat, seolah memeluk ketakutan yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun.
Dia bangkit perlahan, menghapus wajah yang basah, lalu berjalan ke meja samping tempat tidur. "Srak" Di laci kecil, dia mengeluarkan secarik kertas — sebuah surat kecil yang diberikan Maxy sebelum Ia turun dari mobil tadi.. "Settt" Dia merabanya pelan, menempelkan kertas itu ke pipi yang basah, lalu memeluknya di dada.
"Srek" dengan perlahan Shella membuka amplop itu dan membaca isinya.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Shella, Aku tidak apa-apa,. Aku baik-baik saja"
--Dibawah surat itu ada gambar bulat dengan mata dan bibir yang tertawa lebar.
"Maxy, kamuu...."
Tangis Shella pecah seketika itu, dipeluknya erat surat itu, seakan itu adalah hal yang paling berharga didunia.
Di kejauhan, di tempat yang berbeda, satu orang tidur dengan tenang, percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, sementara orang lain terjaga dalam kesedihan yang dalam, takut akan hari esok yang belum tentu datang dengan ramah.
Saat akhirnya matanya terpejam, wajah terakhir yang terbayang bukan Roxy. Bukan kemewahan, bukan keindahan sesaat. Melainkan wajah Maxy — lelah, sederhana, namun tersenyum padanya dari balik kaca jendela mobil, seolah berkata: jangan takut, aku di sini.
Dan air mata terakhir menetes ke bantal, sebelum dia terlelap dalam mimpi yang sedih dan sunyi, memegang kertas itu erat-erat, berharap esok pagi dunia tidak terlalu kejam bagi mereka berdua..