Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
RUMAH YANG BUKAN LAGI RUMAH
Suara deru motor bebek yang melintas di jalan sempit luar gang berpadu dengan ketukan sendok aluminium pada mangkuk gerobak bubur ayam. Pukul tujuh pagi di kawasan kos-kosan Jalan Melati, Kota Bimantara, selalu bising oleh sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya tidur dan pagi yang mendesak untuk bangun.
Di salah satu kamar petak berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira Maharani sedang berdiri di depan cermin dinding yang bingkainya sudah mengelupas.
Jemarinya telaten merapikan letak kerudung instan abu-abu yang ia kenakan, memastikan tidak ada anak rambut yang keluar. Kamar itu sederhana. Kasur busa tanpa ranjang diletakkan di lantai dengan seprai motif kotak-kotak biru, sebuah meja plastik kecil tempat menaruh termos listrik dan cangkir, serta gantungan baju di balik pintu yang penuh dengan pakaian harian.
Di atas meja kecil itu, sebuah ponsel berlayar retak di bagian sudutnya bergetar tiba-tiba. Keira menoleh cepat. Ada satu pesan masuk dari layar kunci.
Ibu: Kalau kamu masih keras kepala dan tidak mau mengakui kesalahanmu, jangan harap Ayah mau membukakan pintu rumah lagi. Jangan bikin masalah ini semakin panjang.
Keira menatap kalimat itu selama beberapa detik. Tenggorokannya terasa tercekat, seperti ada duri kecil yang tertelan sejak semalam. Ia tidak membalas.
Jari-jarinya menyentuh layar untuk mematikan notifikasi tersebut, lalu meletakkan kembali ponsel itu telungkup di atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis udara dingin sisa hujan subuh yang masih menguar dari ventilasi kamar mandi luar.
Ketukan pelan terdengar di pintu kayunya.
"Kei? Ini aku."
Suara bariton yang amat dikenal itu membuat bahu Keira yang tadinya tegang langsung mengendur. Ia bergegas membuka pintu.
Davin berdiri di ambang pintu dengan jaket bomber hitam yang sedikit basah di bagian bahu karena embun pagi. Usianya baru menginjak dua puluh empat tahun, dua tahun lebih tua darinya, dengan potongan rambut rapi dan aroma parfum citrus yang langsung menyeruak masuk ke dalam kamar sempit itu. Di tangan kanannya, Davin membawa kantong plastik putih berisi dua porsi bubur ayam langganan mereka di ujung gang.
"Belum mandi ya?" Davin tersenyum tipis, melangkah masuk tanpa perlu disuruh, lalu meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja plastik.
Tangannya secara natural terulur merapikan kerah baju Keira yang sedikit terlipat ke dalam. "Kebiasaan, suka lupa diri kalau lagi siap-siap."
Keira merespons dengan senyuman kecil, dadanya mendadak terasa hangat. Sentuhan kecil seperti itu selalu berhasil meredakan gelisah yang tadi sempat mencubit hatinya. "Tadi aku baru selesai beres-beres, Vin. Kamu tumben pagi banget ke sini? Katanya semalam lembur sampai jam sebelas."
"Iya, sengaja. Takut kamu belum makan apa-apa," jawab Davin sambil menarik kursi plastik kecil dan duduk di dekat meja. Ia membuka bungkusan bubur itu, memisahkan kerupuk dan sambal dengan telaten.
"Nanti siang aku ada meeting di kantor cabang timur, jadi sempatin mampir dulu."
Keira duduk bersimpuh di lantai karpet tipis di hadapan Davin. Ia menatap wajah lelaki itu garis rahangnya, mata tajam yang kini tampak sedikit lelah, dan cara jemarinya memegang sendok. Di saat dunia luar terasa begitu asing sejak ia meninggalkan rumah keluarganya dua bulan lalu, hanya Davin yang tersisa.
Lelaki inilah yang membantunya membayar uang muka kamar kos pertama kali, yang membawakan makanan setiap kali Keira kehabisan uang saku, dan yang memeluknya erat ketika ia menangis histeris di emperan toko buku karena merasa sebatang kara.
Bagaimana mungkin Keira tidak mencintainya sepenuh hati?
"Makan yang bener, jangan melamun," ucap Davin menyodorkan semangkuk bubur hangat ke hadapan Keira. "Pikiranmu pasti ke mana-mana lagi ya? Semalem di telepon rumah lagi?"
Gerakan tangan Keira yang hendak menerima mangkuk itu mendadak terhenti. Ia mendongak menatap Davin, agak terkejut karena lelaki itu bisa menebaknya. "Um... enggak, cuma pesan biasa. Enggak penting, Vin."
Davin menghela napas pendek, nadanya berubah sedikit datar. "Kei, sudah kubilang berapa kali? Kalau mereka cuma bikin kamu stres, jangan dibaca. Kamu itu suka nyiksa diri sendiri dengan mikirin orang yang jelas-jelas buang kamu."
"Bukannya mikirin, Vin... tapi kadang aku cuma ngerasa..." Keira menggigit bibir bawahnya, mencoba mencari kalimat yang pas tanpa harus membuat dadanya semakin sesak. "Aku cuma ngerasa kangen sama suasana rumah, walau kadang aku tahu ibuku keras."
Davin meletakkan sendoknya ke atas piring dengan bunyi yang agak keras. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kos, menatap Keira dengan alis terangkat.
"Tuh kan. Mulai lagi. Kamu ini memang suka cari-cari masalah yang sudah selesai. Rumah itu sudah bukan tempat kamu lagi. Kamu punya aku di sini. Kenapa sih masih dibahas?"
Keira tertegun. Nada bicara Davin tidak membentak, tetapi ada ketidak sabaran yang kentara di setiap suku katanya. Sifat sensitif Keira langsung bereaksi.
Dadanya bergemuruh tidak enak. Ia merasa seolah-olah dirinya baru saja melakukan kesalahan besar karena jujur mengungkapkan isi kepalanya.
"Maaf..." cicit Keira pelan, pandangannya langsung turun menatap mangkuk bubur di depannya.
Tangannya yang memegang sendok terasa kaku. "Bukannya aku mau perpanjang masalah... cuma"
"Udah, gak usah dilanjutin," potong Davin dengan suara yang sedikit melunak, meski raut wajahnya masih menyisakan kekesalan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Keira yang dingin.
"Aku cuma gak suka kamu sedih gara-gara mereka. Aku capek lihat kamu murung terus, Kei. Aku pengin kamu fokus ke kita saja."
Keira menelan ludah yang terasa pahit. Ia mengangguk kecil, memaksa seulas senyum tipis tersungging di bibirnya demi mengusir ketegangan.
"Iya, Vin. Maaf ya. Aku gak maksud bikin kamu pusing pagi-pagi."
"Nah, gitu dong," ucap Davin kembali tersenyum ramah, seolah perubahan cuaca emosional barusan tidak pernah terjadi. Ia kembali menyuapkan sesendok bubur ke arah Keira.
"Ayo makan. Mumpung masih hangat."
Keira menerima suapan itu, menikmati kehangatan makanan sekaligus kelegaan semu yang tiba-tiba menyelimuti rongga dadanya. Namun, di balik rasa syukurnya karena memiliki Davin, ada satu titik kecil di lubuk hatinya yang terasa ngilu. Setiap kali ia mencoba menyampaikan isi perasaannya yang rumit, mengapa ujung-ujungnya selalu ia yang merasa bersalah? Mengapa rasanya ia harus menelan rapat-rapat apa yang ia rasakan agar Davin tidak lelah mendengarnya?
Ponsel di atas meja kembali berdenging pelan. Kali ini sebuah pesan singkat dari aplikasi perpesanan muncul dari nama Amara, sahabat karibnya semasa SMA sekaligus satu-satunya teman yang masih rutin mengunjunginya di kos.
Amara: Keira sayang! Nanti sore luang gak? Gua mau bawain baju preloved titipan tante gua, sekalian mau nengokin ratu kos yang lagi ngambek sama dunia. Balas ya!
Keira melirik sekilas ke arah layar, lalu tersenyum tipis. Ia membalas pesan itu dengan cepat di sela-sela suapan buburnya.
Keira: Luang kok, Mar. Datang aja, pintu tidak terkunci.
Davin yang melihat Keira mengetik pesan sekilas bertanya, "Dari siapa?"
"Amara. Katanya mau ke sini nanti sore bawa baju titipan tantenya," jawab Keira jujur.
Davin mengangguk-angguk kecil, namun ada kerutan samar di dahi lelaki itu. "Jangan terlalu sering main keluar atau nerima tamu nggak penting, Kei. Fokus dulu sama diri sendiri. Oh ya, soal rencana kamu kemarin yang mau cari kerjaan part-time di kafe dekat kampus itu... sudah dipikirkan ulang kan? Gak usah ya."
Keira mengerjap, menatap Davin dengan tatapan meminta penjelasan. "Kenapa, Vin? Aku kan cuma mau bantu-bantu, biar ada kesibukan juga di sini sekalian nabung sedikit."
"Kamu tidak perlu kerja," jawab Davin mantap, nada bicaranya tegas namun dibungkus dengan senyuman manis yang menyiratkan kepedulian.
"Aku bisa ngurus kamu, Kei. Finansialku cukup buat kebutuhan kita. Aku gak suka kamu capek-capek kerja di tempat orang, pulangnya malam, ketemu banyak orang gak jelas di luar sana. Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa."
Kata-kata itu terdengar sangat manis di telinga kebanyakan perempuan. Perhatian seorang kekasih yang ingin melindungi pasangannya dari kerasnya dunia luar. Namun bagi Keira, ada sensasi sesak yang tertahan di balik kalimat “aku gak suka kamu kerja” itu.
Keinginan kecilnya untuk berdiri di atas kaki sendiri seolah dipangkas secara halus tanpa memberikannya ruang untuk membantah lebih jauh.
"Tapi kan... aku cuma pengin mandiri, Vin. Biar gak terlalu bergantung sama kamu terus," cicit Keira hati-hati, berusaha menyuarakan isi hatinya dengan nada paling lembut yang ia miliki.
Davin menghela napas panjang, kali ini dengan tatapan yang menyiratkan bahwa Keira sedang bersikap keras kepala yang tidak perlu. "Kamu tidak sedang bergantung sama orang lain, Kei. Kamu lagi bersama aku pacar kamu. Kenapa sih dibikin rumit? Kalau kamu kerja, nanti waktunya buat aku kapan? Udah ya, nurut sama aku. Aku lakuin ini semua buat kebaikan kamu juga."
Keira terdiam. Kalimat “nurut sama aku” itu berputar di dalam kepalanya, berdengung pelan bersamaan dengan suara bising kendaraan di luar gang kos yang mulai ramai oleh lalu-lalang orang beraktivitas. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang saling meremas di pangkuan. Ia kembali merasa bahwa dirinya mungkin memang terlalu banyak menuntut, terlalu egois, dan kurang bersyukur atas segala kebaikan yang telah diberikan Davin selama masa-masa sulitnya.
"Iya, Vin... aku ngerti," bisik Keira akhirnya, menyerah pada perdebatan yang baru saja dimulai.
Beberapa menit kemudian, setelah menghabiskan sarapan dan berbincang ringan tentang hal-hal remeh seputar pekerjaan kantor Davin, lelaki itu pamit karena harus segera bersiap berangkat ke kantor cabang. Ia mengecup kening Keira sekilas sebuah gestur penuh kelembutan yang selalu berhasil membuat Keira melupakan sisa-sisa rasa tidak nyamannya.
"Nanti malam aku kabari lagi kalau sempat mampir ya. Jaga diri baik-baik di kamar, jangan kemana-mana," pesan Davin sebelum benar-benar menutup pintu kamar kos dan melangkah pergi menyusuri koridor sempit.
Langkah kaki itu perlahan menjauh, menyisakan suara deru motor yang menyala di halaman depan, lalu senyap.
Keira berdiri sendirian di tengah kamar kosnya yang kembali sunyi. Ia merapikan bekas mangkuk bubur yang berserakan di meja, lalu memungut ponselnya yang tergeletak. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar hitam ponsel yang mati. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa kembali mengecil, memeluknya erat dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya.
Ia masih mencintai Davin. Lelaki itu adalah rumah tempat ia melarikan diri dari keluarganya yang dingin.
Namun untuk pertama kalinya sejak ia tinggal di tempat ini, sebuah pertanyaan kecil dan sunyi bergelayut di dalam kepalanya, tanpa ia berani mencari tahu jawabannya:
Apa aku memang terlalu banyak menuntut... atau ada yang salah dari caramu menjagaku, Vin?