NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Nama yang Terus Terpanggil

Keesokan malamnya, bel pintu penthouse Brooklyn dan Liam berbunyi tepat pukul sebelas malam, memecah kesunyian yang telah menyelimuti apartemen mewah itu sejak sore hari. Brooklyn, yang masih terjaga di ruang keluarga sambil membaca buku untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian menyakitkan malam sebelumnya, segera bangkit dan berjalan menuju pintu depan.

Ketika ia membuka pintu, pemandangan yang menyambutnya membuatnya menghela napas panjang—Liam tergantung lemas di antara dua pria berjas rapi, kepalanya terkulai dan langkahnya sempoyongan, jelas menunjukkan bahwa ia kembali mabuk berat malam ini.

"Nyonya Whitmore," salah satu pria itu menyapa dengan nada sopan meski terlihat kelelahan. Ia memiliki rambut cokelat pendek dan wajah yang cukup ramah, meski saat ini tampak khawatir. "Saya Ethan, teman Liam sejak kuliah. Ini James, kami berdua bekerja satu perusahaan dengannya."

Brooklyn segera membantu memapah Liam masuk ke dalam apartemen, meski beban tubuh suaminya yang berat membuat kedua pria itu harus bekerja sama untuk menopangnya hingga ke sofa ruang keluarga.

"Maafkan kami membawanya pulang selarut ini," ucap James, pria yang lebih tinggi dengan potongan rambut rapi ala eksekutif muda. "Kami sudah mencoba mencegahnya minum lebih banyak, tapi dia benar-benar tidak bisa dihentikan malam ini."

Setelah berhasil membaringkan Liam di sofa dengan posisi yang cukup nyaman, Ethan menghela napas panjang, menatap Brooklyn dengan tatapan campuran antara simpati dan rasa bersalah.

"Nyonya Whitmore," ucapnya pelan, seolah ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya, "saya harap Anda tidak keberatan saya mengatakan ini, tapi... kami berdua sungguh merasa kasihan pada Anda."

Brooklyn menatap Ethan dengan alis terangkat, sedikit terkejut mendengar pernyataan yang begitu jujur dari sahabat suaminya sendiri.

"Kami sudah mengenal Liam sejak lama," lanjut James, ikut angkat bicara. "Kami tahu betapa berat baginya untuk melupakan Helena. Tapi itu bukan alasan untuk memperlakukan Anda seperti ini. Kami berdua sudah berkali-kali mencoba menasihatinya, mengingatkannya bahwa Anda adalah istrinya sekarang dan pantas mendapatkan perlakuan yang layak."

"Kami bahkan sempat bertengkar dengannya beberapa kali karena masalah ini," tambah Ethan, suaranya terdengar tulus. "Tapi Liam terlalu keras kepala. Dia terlalu terjebak dalam kenangan masa lalunya sendiri hingga tidak bisa melihat betapa beruntungnya dia sebenarnya memiliki seseorang seperti Anda."

Brooklyn merasakan sesuatu yang hangat menyentuh hatinya mendengar kata-kata itu—bukan karena pujian yang diberikan kepadanya, melainkan karena mengetahui bahwa setidaknya ada orang-orang di sekitar Liam yang masih peduli dan berusaha menyadarkannya, meski usaha mereka selama ini belum membuahkan hasil.

"Terima kasih sudah mengatakan itu," ucap Brooklyn dengan senyum tulus, meski matanya masih menyimpan kelelahan yang mendalam. "Dan terima kasih sudah mengantarnya pulang dengan selamat malam ini. Aku menghargai usaha kalian untuk menjaganya."

"Kami hanya berharap suatu hari dia bisa menyadari kesalahannya sebelum semuanya terlambat," ucap James sambil menatap sekilas ke arah Liam yang masih terlelap di sofa, mendengkur pelan akibat pengaruh alkohol yang berat. "Anda wanita yang kuat, Nyonya Whitmore. Kami harap Anda bisa terus bertahan."

Setelah berpamitan dengan sopan, kedua pria itu akhirnya meninggalkan penthouse, meninggalkan Brooklyn sendirian bersama Liam yang masih terbaring tidak sadarkan diri di sofa ruang keluarga.

...***...

Brooklyn menghela napas panjang, menatap sosok suaminya yang tertidur dengan wajah damai—sebuah kontras yang aneh dibandingkan dengan sikap kasar dan dingin yang selalu ia tunjukkan ketika sadar. Ada momen di mana Brooklyn hampir merasa iba melihat kondisi Liam yang begitu terpuruk, terjebak dalam kenangan masa lalu yang terus menghantuinya.

Ia mengambil selimut dari kamar tamu dan kembali ke ruang keluarga, bermaksud menyelimuti tubuh Liam agar tidak kedinginan sepanjang malam. Namun ketika ia mendekat dan mulai menyelimuti tubuh suaminya dengan hati-hati, Liam tiba-tiba menggeliat dalam tidurnya, matanya masih terpejam namun bibirnya mulai bergumam tidak jelas.

"Helena..."

Nama itu keluar begitu saja dari bibir Liam, lirih namun jelas terdengar di telinga Brooklyn yang berdiri tepat di sampingnya. Tangan Brooklyn yang sedang merapikan selimut seketika terhenti, jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu terucap—bukan yang pertama kali, namun tetap saja terasa menyakitkan setiap kali ia mendengarnya.

"Helena... jangan pergi..."

Liam terus menggumamkan nama itu berulang kali dalam tidurnya yang dipenuhi alkohol, wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan yang mendalam, seolah ia sedang bermimpi tentang momen-momen menyakitkan ketika Helena meninggalkannya tanpa penjelasan yang jelas.

Brooklyn berdiri mematung di samping sofa, menyaksikan suaminya sendiri memanggil-manggil nama wanita lain bahkan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Rasa iba yang sempat muncul beberapa saat lalu kini bercampur dengan kepedihan yang jauh lebih dalam, sebuah pengingat yang begitu jelas bahwa meski ia telah menjadi istri sah Liam selama berbulan-bulan, hati pria itu tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

"Kembalilah... aku mohon..." gumam Liam lagi, tangannya bergerak gelisah seolah mencoba meraih sesuatu yang tidak ada di sana.

Brooklyn menatap tangan Liam yang bergerak dalam kekosongan itu, dan tanpa sadar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Namun kali ini, ia tidak membiarkan air mata itu jatuh. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan emosinya yang bergejolak.

"Dia tidak akan kembali, Liam," bisik Brooklyn pelan, lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan untuk didengar oleh Liam yang masih terlelap. "Dan aku sudah lelah menunggu kau menyadari itu."

Ia menyelesaikan tugasnya menyelimuti Liam, memastikan tubuh suaminya tetap hangat sepanjang malam meski hatinya sendiri semakin dingin oleh setiap kata yang baru saja ia dengar. Sebelum berbalik meninggalkan ruangan, Brooklyn menatap wajah Liam yang tertidur untuk terakhir kalinya malam itu—wajah yang tampan, wajah yang pernah membuat begitu banyak wanita terpesona, namun wajah yang hatinya begitu tertutup rapat untuknya.

"Aku sudah mencoba, Liam," bisiknya lirih, suaranya nyaris tidak terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Aku sudah mencoba dengan segala cara yang aku tahu. Tapi mungkin, seperti yang dikatakan teman-temanmu, sudah waktunya aku berhenti menyakiti diriku sendiri demi seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ingin bersamaku."

Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Liam yang masih terlelap dengan nama Helena yang sesekali masih tergumam pelan dari bibirnya. Malam itu, sambil berbaring di ranjangnya yang dingin dan sepi, Brooklyn merasakan sesuatu yang berbeda dari malam-malam sebelumnya—bukan lagi kesedihan yang menguasai hatinya, melainkan sebuah ketenangan aneh yang datang dari keputusan yang perlahan mulai mengkristal dalam pikirannya.

Kata-kata Ethan dan James terus terngiang di kepalanya—”Anda wanita yang kuat, Nyonya Whitmore. Kami harap Anda bisa terus bertahan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!