Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
acara muhAdhoroh Akbar
Matahari baru saja terbit di atas atap asrama ketika riuh persiapan Muhadhoroh Akbar mulai terasa. Seluruh santri sibuk merapikan jilbab dan menyetrika seragam terbaik mereka. Pagi itu, lapangan utama pesantren sudah dipasangi panggung besar dan terpal pelindung, siap menjadi saksi acara unjuk bakat antar-konsulat.
Aira menepuk bahu Nazwa yang sedang sibuk menyisir rambut di depan cermin kamar.
"Nazwa, besok pas acara Muhadhoroh Akbar pakai baju warna biru, yuk!" ajak Aira gembira, matanya berbinar-binar membayangkan mereka tampil kompak.
Nazwa menoleh dan menyunggingkan senyum lebar. "Ayuk! Kebetulan gamis biru bawaan dari Ibu kemarin belum sempat kupakai sama sekali. Biar seragam kita kayak kembaran ya, Ra!"
Acara Muhadhoroh Akbar akhirnya resmi dimulai. Kali ini jalannya acara terasa begitu meriah dan istimewa, karena pembawa acara, pidato bahasa Arab, hingga pembacaan ayat suci Al-Qur'an dibawakan secara memukau oleh konsulat Cirebon. Uniknya lagi, untuk acara besar ini, santri putra dan santri putri digabung dalam satu lapangan besar—tentu saja dengan pembatas kain tabir yang membentang tinggi di tengah-tengah area penonton.
Aira dan Nazwa duduk bersila di barisan depan zona putri, anggun dengan gamis biru senada mereka. Di samping barisan mereka, berdiri para pengurus kedisiplinan yang bertugas menjaga ketertiban, termasuk Ukhti Inggit yang berdiri tegap dengan tatapan berwibawa, memegang buku catatan kecil dan pena.
Acara sedang berlangsung khidmat ketika salah seorang santri putra dari konsulat Cirebon naik ke atas panggung untuk menyampaikan salam pembuka sebelum pidato. Namun, bukannya langsung mulai berpidato, mata santri putra bernama Zaky itu justru melirik ke arah tepi panggung tempat Ukhti Inggit berdiri.
Zaky memegang mikrofon erat-erat, lalu mendehem kencang.
"Ehem... Tes, satu dua... Sebelum saya mulai pidato bahasa Arab, saya ingin menyampaikan satu pantun khusus untuk pengurus keamanan kita yang paling berwibawa di ujung sana..." ujar Zaky lewat mikrofon, suaranya menggelegar ke seluruh lapangan.
Sontak seluruh santri putra dan putri bersorak riuh. “Ooooohhh!”
Aira dan Nazwa saling pandang, lalu menutup mulut masing-masing, menahan tawa yang mulai meledak.
Ukhti Inggit yang merasa namanya disebut langsung menaikkan alisnya. Matanya melotot tajam menatap santri putra di atas panggung.
Zaky yang merasa mendapat panggung tanpa ragu melanjutkan pantunnya lewat mikrofon.
"Beli terasi di pasar Cirebon, Singgah sebentar membeli kain. Ukhti Inggit kalau lagi marah emang makin kelihatan anggun, Tapi kalau senyum sedikit, indahnya tiada yang tandingin!"
"Gerrrr!!"
Gemuruh tawa dan sorak-sorai langsung pecah membahana di seluruh lapangan! Santri putra bertepuk tangan heboh, sementara santri putri melambaikan jilbab mereka sambil tertawa geli.
Muka Ukhti Inggit yang biasanya tegap dan dingin seketika memerah padam. Dengan langkah lebar nan garang, Ukhti Inggit maju dua langkah mendekati tepi panggung, mengangkat papan jalan lipatnya tinggi-tinggi ke arah Zaky sambil bertolak pinggang.
"ZAKY! Kamu ke sini mau pidato apa mau melawak?!" gertak Ukhti Inggit dengan suara garangnya yang khas, matanya melotot galak hingga membuat mikrofon di tangan Zaky nyaris terlepas. "Turun dari panggung sekarang atau Ukhti potong nilai konsulat kamu!"
"Ampun, Ukhti Inggit! Peace!" jerit Zaky refleks sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada dan langsung ngacir mundur ke belakang panggung dengan wajah panik yang konyol.
Satu lapangan kembali meledak dalam tawa melihat santri jagoan Cirebon itu ngacir ketakutan dihujat ketegasan Ukhti Inggit.
Di barisan depan, Nazwa dan Aira melihat kejadian itu secara langsung dari jarak dekat. Mereka berdua sampai memegangi perut masing-masing karena terlalu banyak tertawa.
"Aduh, Ra... sakit perutku!" bisik Nazwa sambil mengusap air mata akibat tertawa pingkal-pingkal. "Ukhti Inggit kalau marah ternyata serem banget ya, tapi kok kocak!"
"Iya! Kemarin kita dipelototin gara-gara Milo aja sudah gemetaran, apalagi Zaky digertak pakai papan jalan di depan ribuan orang begitu!" balas Aira berbisik sambil terkekeh-kekeh. "Untung kita tidak pernah nggodain Ukhti Inggit!"
Ukhti Inggit yang mendengar bisik-bisik di bawahnya mendadak memutar badan dan menoleh tajam ke arah Aira dan Nazwa.
Aira dan Nazwa yang sadar sedang ditatap langsung membisu seketika. Dengan gerakan kompak yang teratur, kedua gadis berbaju biru itu langsung duduk tegak, melipat tangan di pangkuan, dan menatap lurus ke panggung dengan wajah paling polos dan alim seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
------
Lampu-lampu sorot panggung Muhadhoroh Akbar mulai menyala satu per satu, memancarkan gemerlap cahaya warna-warni yang membelah kegelapan malam di lapangan utama. Alunan musik marawis pembuka yang megah membahana melalui pengeras suara, menyetrum semangat ribuan santri yang memenuhi area.
Di barisan depan zona santri putri, Aira duduk bersimpuh dengan gamis biru malamnya. Pantulan cahaya panggung menimpa wajahnya, membuat matanya berbinar indah dan jilbab birunya tampak berkilau anggun.
Tanpa Aira sadari, dari arah pembatas tabir di zona santri putra, ada sepasang mata yang terpaku menatapnya.
Ia adalah Kak Farhan, senior santri putra tingkat akhir yang menjadi ketua panitia acara malam itu. Berdiri tegap di samping tiang pembatas, Farhan yang tadinya sibuk memegang HT (handie-talkie) mendadak membeku. Tangannya yang hendak menekan tombol bicara terhenti di udara. Matanya menatap lurus ke arah Aira—tanpa berkedip sedikit pun. Dunia di sekitar Farhan seolah melambat, riuh marawis terdengar samar, berganti dengan degupan kencang di dadanya saat angin malam menerpa lembut jilbab biru gadis itu.
"Farhan! Laporan sound system gimana?" suara dari HT berbunyi nyaring, namun Farhan masih bergeming bagaikan patung.
"Masya Allah... indah banget," bisik Farhan tanpa sadar, tatapannya terkunci rapat pada Aira.
Namun, momen puitis nan romantis itu tak bertahan lama.
Ukhti Inggit yang memiliki radar kedisiplinan setingkat satelit militer, menangkap gerak-gerik mencurigakan dari sang ketua panitia putra. Dengan langkah tegap, berwibawa, dan tatapan mata yang mendadak tajam setajam elang, Ukhti Inggit berjalan mendekat.
Srett!
Tanpa kompromi, Ukhti Inggit sengaja berjalan dan berdiri tepat di garis lurus antara Farhan dan Aira. Tubuh tegap Ukhti Inggit sepenuhnya menutupi pemandangan indah yang sedang dinikmati Farhan.
Farhan tersentak kaget dari lamunannya. Bukannya wajah Aira yang manis, kini yang ada tepat sepuluh senti di depan matanya adalah wajah Ukhti Inggit yang bersedekap dada sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ehem!" Ukhti Inggit mendehem nyaring dengan intonasi yang bikin merinding. "Mata... tolong dijaga ya, Mas Farhan. Mau mengawasi sound system atau mau mengawasi santri baru, hmm?"
Wajah Farhan yang tadinya teduh penuh pesona romantis seketika berubah pucat pasi, persis seperti orang yang ketahuan mencuri jemuran.
"E-eh... Ukhti Inggit!" gagap Farhan setengah mati, refleks mundur dua langkah sambil mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. "Anu... Ukhti... saya cuma... cuma memastikan penerangan lampu panggung sampai ke barisan depan, Ukhti! Nggih, cuma cek lampu!"
"Lampu panggung di atas, Farhan, bukan di wajah adik kelas," gertak Ukhti Inggit dingin namun menusuk, membuat Farhan makin salah tingkah dan buru-buru membalikkan badan berpura-pura sibuk memeriksa kabel.
Sementara itu, di sudut lain barisan putri, Ukhti Maya bergerak cekatan namun anggun bagai seorang penjaga kedamaian. Dengan senyum lembut yang menenangkan, Ukhti Maya berjalan menyusuri shaf, memastikan anak-anak santri tetap tertib dan tidak ikut-ikutan celingukan melihat drama di dekat tabir.
"Ayo, Dek... pandangannya ke panggung ya, jangan tengok kiri-kanan," bisik Ukhti Maya lembut sambil mengelus bahu beberapa santriwati yang mulai kasak-kusuk.
Nazwa yang duduk di samping Aira menyenggol lengan sahabatnya pelan, berbisik sambil menahan tawa yang nyaris meledak. "Ra... Ra! Kamu lihat Kak Farhan tadi ndak? Dia ngeliatin kamu sampai kagum gitu, tapi langsung diblokir total sama Ukhti Inggit!"
Aira yang baru menyadari situasi itu mendadak merasakan pipinya memanas. "Hah? Beneran, Nazwa? Ah, kamu sok tahu ah..."
"Beneran! Muka Kak Farhan tadi pas ketahuan Ukhti Inggit kocak banget, kayak mau dipanggil ke ruang pengurus!" terkekeh Nazwa.
Aira menunduk dalam-dalam, meremas ujung gamis birunya. Ada sentuhan rasa malu dan getaran aneh di dadanya, namun melihat Ukhti Inggit yang masih berdiri gagah bak benteng perkasa membelakangi mereka, Aira hanya bisa menghembuskan napas lega sekaligus menahan senyum di balik remang cahaya Muhadhoroh Akbar.
Ukhti Inggit menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua santri bungsunya itu, sebelum akhirnya kembali fokus menjaga ketertiban acara dengan sisa-sisa wibawanya yang garang.