Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Suara alarm peringatan IGD berbunyi nyaring di seluruh penjuru rumah sakit.
Bip... bip... bip...
Siska langsung berlari masuk ke ruang kerja Arka dengan napas terengah-engah.
"Dokter Arka, ada pasien darurat kritis yang baru saja masuk!" seru Siska panik.
Arka meletakkan dokumen di tangannya lalu berdiri dari kursi kerja.
"Pasien dengan kasus apa sampai membuat perawat kepala panik begini?" tanya Arka santai.
"Korban kecelakaan beruntun di jalan tol dengan luka robek di bagian arteri utama perut," jelas Siska cepat.
"Dokter senior IGD yang lain sedang ketakutan karena takut gagal melakukan operasi sulit itu."
Clara yang masih duduk di sofa ikut berdiri merapikan pakaiannya.
"Kalau begitu, mari kita lihat bagaimana kepala divisi baru kita bekerja," ujar Clara tersenyum tipis.
Mereka bertiga berjalan cepat menyusuri koridor menuju ruang bedah darurat utama.
Suasana di depan ruang operasi tampak sangat riuh oleh kepanikan para dokter senior.
"Bagaimana kondisi pasien?!" bentak salah satu dokter senior kepada perawat jaga.
"Tekanan darahnya terus menurun drastis, kita tidak punya waktu banyak!" jawab perawat itu ketakutan.
Arka melangkah masuk menerobos kerumunan dokter senior dengan wibawa yang tenang.
"Singkirkan tangan amatiran kalian dari meja operasi," ucap Arka dingin.
Dokter senior itu menoleh dengan wajah merah padam karena merasa terhina.
"Hei, jangan sembarangan bicara! Ini operasi tingkat tinggi yang mustahil diselamatkan!" teriak dokter senior itu.
Arka melirik sekilas tanpa mempedulikan protes dari dokter senior tersebut.
"Kalau menurut kalian mustahil, itu karena kemampuan kalian memang pas-pasan," balas Arka tajam.
[Sistem Mendeteksi Kasus Bedah Kritis Tingkat Lanjut]
[Mengaktifkan Panduan Presisi Bedah Saraf Dan Vaskular]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka mengenakan sarung tangan steril dengan gerakan sangat cepat dan presisi.
"Siska, siapkan skalpel nomor sepuluh sekarang juga," perintah Arka tegas.
"Baik, Arka!" jawab Siska sigap menyerahkan alat bedah tersebut.
Semua dokter senior di ruang observasi menahan napas menyaksikan tindakan Arka.
Aksi nekat pemuda itu dikira akan memperparah kondisi pasien oleh para dokter amatir tersebut.
Sshh...
Sayatan bersih tercipta di perut pasien dengan ketepatan milimeter yang luar biasa.
"Bagaimana mungkin sayatan itu tidak mengenai pembuluh darah utama di sekitarnya?!" gumam dokter senior kaget.
"Kecepatan tangan dan akurasinya berada di luar nalar manusia biasa," sahut dokter lain terpukau.
Arka tidak mempedulikan decak kagum orang-orang di sekitarnya.
Ia fokus sepenuhnya menyatukan kembali arteri yang robek menggunakan teknik jahitan mikroskopis.
"Kasa steril," pinta Arka tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ini, Arka," serah Siska cepat dengan mata berbinar kagum.
Waktu berjalan terasa sangat lambat di dalam ruang operasi yang tegang.
Semua monitor medis menunjukkan grafik detak jantung yang tadinya melemah kini mulai stabil kembali.
Bip... bip... bip...
Suara detak jantung pasien berbunyi normal dan teratur di ruangan itu.
Arka melepaskan sarung tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah medis.
"Operasi selesai, pasien sudah melewati masa kritisnya," umum Arka santai.
Seluruh staf medis di ruang operasi langsung menghela napas lega secara bersamaan.
Beberapa perawat bahkan bertepuk tangan kecil karena takjub melihat kejeniusan Arka.
Clara yang menyaksikan dari ruang kaca tersenyum lebar penuh rasa bangga.
"Dia benar-benar luar biasa," batin Clara senang.
Namun, di tengah suasana kemenangan kecil itu, pintu masuk IGD tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Brak!
Seorang pria paruh baya berjas mewah dengan pengawalan ketat melangkah masuk.
Pria itu adalah perwakilan direksi medis regional dari ibu kota yang mendengar kejatuhan dewan lama.
"Siapa yang bertanggung jawab atas restrukturisasi rumah sakit ini tanpa izin dari pusat regional?!" bentak pria itu angkuh.
Suara bentakannya menggema keras ke seluruh penjuru lobi IGD.
Arka baru saja keluar dari ruang operasi dan menatap tajam ke arah pria asing tersebut.
"Aku penanggung jawabnya, ada masalah?" tanya Arka dingin.
Pria asing itu mendengus sinis menilai penampilan Arka yang sangat sederhana.
"Bocah pembersih jalanan jadi kepala divisi? Rumah sakit ini benar-benar sudah gila di bawah kepemilikan keluarga Wijaya!" cibir pria itu.
Clara melangkah maju dengan wajah dingin menatap tajam pria arogan tersebut.
"Jaga mulutmu! Yayasan rumah sakit ini sepenuhnya milik keluargamu atau keluargaku?!" tantang Clara tegas.
Pria asing itu tertawa meremehkan mendengar ancaman dari Clara.
"Keluarga Wijaya boleh menguasai saham, tapi izin operasional medis nasional ada di tanganku," balas pria itu tersenyum licik.
Arka maju satu langkah melewati Clara dengan ekspresi wajah yang tidak acuh.
"Kalau izin operasionalmu itu tidak becus dipakai, lebih baik kurobek sekarang juga," ancam Arka tenang.
Pria asing itu melotot marah mendengar ucapan frontal dari Arka.
"Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan posisi sombongmu itu, Dokter Palsu!" maki pria asing tersebut pergi meninggalkan IGD dengan amarah meluap.
Arka menyunggingkan senyuman tipis melihat punggung pria arogan yang menjauh.
"Rupanya tikus kota besar mulai keluar dari sarangnya," gumam Arka pelan.
Siska mendekati Arka dengan ekspresi wajah sedikit cemas.
"Itu adalah Direktur Eksekutif Regional dari aliansi medis pusat, Arka," jelas Siska khawatir.
"Baguslah kalau dia datang sendiri, jadi kita tidak perlu repot-repot mencarinya," balas Arka santai.
Clara menghela napas panjang menyadari bahwa masalah baru yang lebih besar sedang menanti mereka.
Namun keyakinan di dalam diri Clara dan Siska terhadap Arka tidak goyah sedikit pun.
Perang kekuasaan di dunia medis baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.