Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan Muncul
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja naik dan udara masih terasa sejuk, halaman barak pasukan khusus sudah dipenuhi para tentara yang bersiap memulai aktivitas mereka.
Tapi pagi itu ada pemandangan tak biasa yang membuat suasana barak mendadak ramai, yaitu kedatangan dua wanita yang sudah duduk santai di bangku dekat asrama sambil membawa rantang susun berbahan stainless steel.
Kedua wanita itu tidak lain adalah Zea dan Intan. Keduanya mengenakan pakaian jogging yang nyaman, lengkap dengan sepatu olahraga, seolah-olah mereka memang datang untuk berolahraga pagi, bukan sengaja mengunjungi seseorang di barak.
Begitu para tentara muda menyadari siapa yang datang, beberapa dari mereka langsung berseru kegirangan. “Wah, Bu Gubernur datang lagi!”
“Selamat pagi, Bu! Selamat pagi, Mbak!” seru salah seorang tentara sambil melambaikan tangan.
Intan tersenyum lebar dan membalas sapaan mereka dengan santai. Sementara itu, Zea hanya mengangkat tangan sekilas, lalu kembali memperhatikan rantang susun yang diletakkan di sampingnya.
“Wah, kalau begini, barak kita jadi makin ramai setiap pagi,” bisik seorang tentara kepada rekannya.
“Ya iyalah! Yang datang gubernur cantik, siapa yang nggak semangat?” balas temannya sambil menyeringai.
Di saat para tentara sibuk menyambut kedatangan dua wanita itu, Sagara baru saja keluar dari asrama. Kapten itu mengenakan kaus olahraga dan celana panjang berwarna gelap, dengan rambut yang masih sedikit berantakan setelah bangun tidur.
Langkahnya langsung terhenti begitu melihat Zea dan Intan duduk santai di bangku. Tatapannya kemudian beralih ke rantang susun stainless steel yang berada di samping mereka, membuat dahinya berkerut tipis.
Apa lagi yang mereka lakukan di sini pagi-pagi begini? batinnya.
Sagara segera menghampiri keduanya dengan wajah datar seperti biasa. “Bu Zea, apa yang Anda lakukan di sini?”
Zea mendongak, lalu tersenyum lebar seolah kedatangannya merupakan hal paling wajar di dunia. “Lho, Kapten, kamu sudah bangun? Selamat pagi!”
“Selamat pagi. Saya bertanya, apa yang Anda lakukan di sini?”
Zea memutar bola matanya sebentar. “Ya ampun, pertanyaannya diulang terus. Ini kan akhir pekan, Kapten. Bunda menyuruhku mengantarkan makanan buat kamu.”
Ia kemudian mengangkat rantang susun stainless steel itu dan menyodorkannya kepada Sagara. “Nih, makanan dari Bunda. Katanya kamu harus makan yang benar supaya cepat pulih.”
Sagara menatap rantang tersebut beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Zea. “Ibu Zahra yang memasak?”
“Iya, memangnya kamu pikir aku yang masak?” Zea menjawab spontan, lalu mengangkat dagu dengan bangga. “Kalau aku yang masak, mungkin kamu harus menyiapkan surat wasiat dulu sebelum makan.”
Intan yang duduk di sebelahnya langsung tertawa. “Benar juga. Aku saja kalau melihat Zea masuk dapur suka berdoa dulu.”
Zea menoleh tajam. “Intan!”
“Apa? Aku cuma mengingatkan Kapten supaya berhati-hati.”
Sagara terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. Ia akhirnya menerima rantang yang disodorkan Zea tanpa banyak komentar.
Sebenarnya, Zea sendiri tidak terlalu bersemangat mengunjungi kapten dingin itu sejak pagi. Namun, ia masih ingat bagaimana Sagara melindunginya ketika para preman menyerang mereka di desa, bahkan sampai lengannya terluka akibat bacokan badik.
Kalau bukan karena Sagara, mungkin dirinya yang akan terkena serangan itu. Membayangkan kemungkinan tersebut membuat Zea merasa tidak enak hati, sehingga ia bersedia mengantarkan makanan sebagai bentuk terima kasih, meskipun tentu saja ia tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.
“Ayo, sarapan cepat!” seru Zea sambil berdiri. “Jangan lupa minum obatnya juga, ya!”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mendorong bahu Sagara pelan, mengarahkannya menuju asrama. “Ayo, ayo, masuk. Nanti makanannya keburu dingin.”
Bukannya mengikuti dorongan Zea, Sagara justru berhenti di dekat bangku yang tadi diduduki kedua wanita itu. Ia menarik kursi, duduk dengan tenang, lalu meletakkan rantang di atas meja kecil di hadapannya.
Zea langsung melongo. “Lho? Kok malah duduk di sini?”
“Saya mau sarapan.”
“Ya, aku tahu kamu mau sarapan! Makanya aku menyuruhmu masuk ke dalam. Makan di dalam saja, Kapten.”
“Saya makan di sini.”
Zea mengerutkan kening. “Kenapa? Di dalam ada meja, ada kursi, ada atap. Fasilitasnya lengkap, lho!”
Sagara mulai membuka pengunci rantang susun itu satu per satu. “Saya nyaman makan di sini.”
“Nyaman dari mana? Ini tempat terbuka!”
“Saya tahu.”
Zea menatapnya lekat-lekat, lalu menoleh ke arah Intan dengan wajah tak percaya. “Tan, kamu dengar, kan? Dia sengaja membuatku kesal pagi-pagi.”
Intan mengangguk sambil menahan senyum. “Dengar, kok. Tapi menurutku, Kapten cuma ingin sarapan dengan tenang.”
“Tenang bagaimana? Lihat, sekarang semua orang malah memperhatikan kita!”
Ucapan Zea memang benar. Sejak Sagara duduk dan mulai membuka makanannya di luar, banyak tentara yang diam-diam melirik ke arah mereka.
Bukan karena mereka belum pernah melihat sang kapten makan di luar, melainkan karena mereka belum pernah menyaksikan Sagara menerima makanan dari seorang wanita, apalagi berbincang cukup panjang dengannya tanpa menunjukkan ekspresi ingin mengusir orang tersebut.
Biasanya, Sagara adalah sosok yang sangat hemat bicara. Jika tidak ada urusan penting, ia bahkan bisa melewati rekan-rekannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Karena itu, pemandangan pagi ini terasa seperti menyaksikan sesuatu yang langka.
“Coba cubit aku,” bisik seorang tentara kepada rekannya. “Aku pasti masih mimpi.”
Rekannya mencubit lengannya sendiri, kemudian meringis. “Aduh! Bukan mimpi, ternyata!”
“Kapten Sagara benar-benar menerima bekal dari Bu Gubernur?”
“Benar, ini sudah dua kali, lho. Kapten membiarkan Bu Gubernur mengomel sepanjang itu!”
“Gila, aku bahkan pernah bertanya soal jadwal latihan saja cuma dijawab satu kata.”
Mereka kembali melirik ke arah Sagara, seolah-olah sedang menyaksikan perubahan besar dalam kehidupan sang kapten.
Meskipun semua orang tahu bahwa Sagara bertugas sebagai pengawal pribadi Gubernur Zea, mereka tetap terkejut melihat interaksi keduanya.
Selama ini, Sagara dikenal sangat profesional dan menjaga jarak dengan siapa pun, sedangkan Zea adalah satu-satunya orang yang tampaknya tidak pernah takut mengusik ketenangannya.
Sagara sendiri sama sekali tidak peduli dengan tatapan para anak buahnya. Ia mengambil sendok, mulai menyantap sarapan yang dibawakan Zea, lalu makan dengan tenang seolah-olah tidak ada puluhan pasang mata yang mengawasinya.
Zea akhirnya menyerah. Ia menarik kursi di samping Sagara, kemudian duduk dengan wajah masih sedikit kesal.
“Ya sudah, terserah kamu. Kalau nanti masuk angin gara-gara sarapan di luar, jangan salahkan aku.”
“Saya tidak akan menyalahkan Anda.”
“Bagus. Kalau begitu, makan yang banyak.”
Intan ikut duduk di sisi lain kursi. Ia menopang dagu sambil memperhatikan Sagara yang makan dengan tenang, lalu melirik Zea dengan senyum penuh arti.
Zea menangkap lirikan itu. “Kenapa kamu melihatku seperti itu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Intan polos. “Aku cuma sedang menikmati pemandangan langka.”
“Pemandangan apa?”
“Kapten Es Batu duduk manis menerima bekal dari gubernur kita.”
Zea langsung tertawa kecil. “Hahaha! Benar juga. Kalau teman-temanmu melihat ini, Kapten, kira-kira mereka bakal percaya nggak, ya?”
Sagara berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Zea dengan wajah datar. “Kalau Anda terus berbicara, sarapan saya tidak akan selesai.”
Zea langsung mendengus. “Nah, kan! Baru juga lima menit, sifat kulkasmu sudah kembali!”
Intan tertawa sampai bahunya berguncang, sedangkan Sagara kembali melanjutkan sarapannya tanpa menanggapi ocehan Zea.
Seorang gadis rambut pendek menuju ke arah asrama dengan membawa makanan lamgsung terhenti sambil mngerutkan keningnya melihat para tentara sedang bergosip.
“Apa yang mereka bicarakan?” gumamnya.
Gadis itu segera maju, ia terkejut melihat seseorang yang sudah lama ia sukai duduk bersama seorang gadis cantik. Tangan gadis itu mengepal kuat.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏