Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Terakhir di Pendopo Joglo
Surat somasi kedua dari pihak pengembang swasta kota benar-benar membawa gelombang kepanikan di kompleks Rumah Joglo Setiawan. Malam itu, suasana di pendopo utama jauh dari kata tenang. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip tertiup angin malam, Paklik Martoyo mondar-mandir dengan wajah pucat, sementara beberapa pengurus yayasan berdebat kusut mengenai langkah darurat apa yang harus diambil.
"Waktu kita tinggal kurang dari dua puluh empat jam!" seru Paklik Martoyo dengan nada frustrasi, tangannya menunjuk lembaran kertas surat somasi di atas meja. "Jika besok pagi pukul sembilan dana talangan sebesar dua ratus juta rupiah tidak diserahkan kepada pihak bank dan pengembang, bangunan joglo utama ini akan dieksekusi sita. Seluruh arsip budaya, ruang ukir, dan tanah leluhur kita akan berpindah tangan menjadi milik perusahaan properti itu!"
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Jumlah dua ratus juta rupiah adalah angka yang sangat besar bagi yayasan tradisional yang selama bertahun-tahun hidup dari sumbangan sukarela dan pameran seni budaya yang sepi pengunjung. Adnan duduk bersila di tengah ruangan, wajahnya tampak tenang namun rahangnya mengeras menahan beban pikiran yang luar biasa berat. Ia telah mencoba menghubungi berbagai kenalan lamanya di kota, namun tidak ada satu pun investor lokal yang berani mengambil risiko di detik-detik akhir menjelang batas waktu tersebut.
Martha berdiri di sudut pendopo, mengamati situasi yang begitu genting itu dengan dada yang bergemuruh. Ia melihat betapa putus asanya Adnan, pria yang selama ini selalu menjadi pelindung dan penopang hidupnya. Di titik ini, Martha menyadari bahwa ia tidak boleh hanya tinggal diam sebagai penonton. Ia memiliki sesuatu yang bisa mengubah keadaan—sesuatu yang selama ini sengaja ia kubur dalam-dalam sebagai bentuk pemberontakannya terhadap masa lalunya di Inggris.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Martha melangkah mendekati lingkaran tengah pendopo tempat Adnan dan para sesepuh sedang berdiskusi. Kehadirannya seketika menghentikan perdebatan sengit di antara para paman. Paklik Martoyo melirik tajam ke arah Martha dengan sebelah alis terangkat, menunjukkan ketidaksukaan yang kentara atas intervensi seorang wanita asing di tengah masalah internal keluarga.
"Ada apa, Nduk? Ini bukan urusan perempuan, apalagi orang luar," cetus Paklik Martoyo sinis, suaranya terdengar ketus.
Namun Martha tidak gentar. Ia mengabaikan nada merendahkan itu, lalu menatap lurus ke arah Adnan. Sorot mata wanita itu memancarkan ketegasan dan keyakinan yang membuat Adnan tertegun.
"Adnan," ucap Martha pelan namun tegas dalam bahasa Indonesia yang kini semakin lancar. "Kita masih punya satu cara."
Adnan mengerutkan keningnya, menatap Martha penuh tanya. "Cara apa, Martha? Tidak ada lagi lembaga keuangan di kota yang mau memberikan pinjaman tanpa jaminan tambahan dalam waktu semalam."
Martha menarik napas dalam-dalam, lalu merogoh saku tas jinjing kulit yang sejak tadi dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kartu logam tipis berwarna hitam keemasan—sebuah kartu kredit privat eksklusif yang diterbitkan oleh salah satu bank sentral internasional di London, terhubung langsung dengan rekening perwalian warisan keluarga bangsawannya yang selama ini dibekukan sejak ia memilih kabur meninggalkan Inggris.
"Aku memiliki ini," kata Martha tenang sambil meletakkan kartu tersebut di atas meja kayu di hadapan Eyang Broto dan Adnan. "Rekening perwalian pribadiku di London. Meskipun keluargaku mencoretku dari daftar pewaris utama aristokrasi, dana cadangan independen yang kutinggalkan di rekening trust internasional masih memiliki saldo yang lebih dari cukup untuk melunasi seluruh sutang yayasan ini seketika."
Suasana pendopo seketika mendadak sunyi total. Bahkan Paklik Martoyo terpaku memandang kartu hitam eksklusif tersebut dengan mata terbelalak. Di dusun terpencil itu, mereka mungkin tidak paham seluk-beluk perbankan internasional, namun kilau dan simbol eksklusif pada kartu tersebut menyiratkan kekayaan dan akses finansial kelas atas yang luar biasa.
Adnan terkejut bukan kepalang. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, langsung menolak tawaran tersebut. "Tidak, Martha! Ini uangmu, hasil dari hak warismu di Inggris. Saya tidak bisa membiarkanmu mengorbankan masa depan finansialmu demi menyelamatkan warisan keluargaku."
Martha berlutut di samping Adnan, meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya erat-erat. Sorot matanya dipenuhi ketulusan yang tak terbantahkan.
"Adnan, dengarkan aku," ucap Martha sungguh-sungguh, suaranya bergetar karena emosi. "Selama ini kau merawatku, melindungiku dari cemoohan dunia, dan membawaku masuk ke dalam duniamu dengan penuh kesabaran. Sekarang, izinkan aku membuktikan bahwa aku adalah bagian dari rumah ini. Warisan joglo ini bukan cuma milik keluargamu, tapi juga rumah tempat kita membangun masa depan bersama. Jika tempat ini runtuh, maka rumah kita yang sebenarnya di tanah ini juga akan ikut runtuh."
Kata-kata itu menghantam hati Adnan seketika. Pertahanan terakhir di dada pria itu runtuh. Di hadapan para sesepuh yang menyaksikan dengan pandangan takjub, Adnan melihat bagaimana seorang wanita barat bangsawan rela melepaskan ego dan kenyamanannya demi membela tanah leluhur suaminya.
Eyang Broto, yang sejak tadi menyimak percakapan itu dalam diam, perlahan mengangkat wajahnya. Pria sepuh itu menatap Martha lekat-lekat, menembus manik mata biru-kehijauan wanita tersebut untuk mencari secercah kebohongan atau keraguan. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan mutlak dan keberanian yang luar biasa.
Eyang Broto mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang. "Sembah nuwun, Nduk Martha," ucap Eyang Broto dengan suara parau yang penuh wibawa. (Terima kasih, Nak Martha). "Kamu telah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan dari mana ia berasal, melainkan dari seberapa besar ketulusan hatinya saat diuji."
Paklik Martoyo yang tadinya bersikap paling keras, perlahan menundukkan kepalanya, menyadari bahwa prasangkanya selama ini sepenuhnya keliru. Wanita asing yang mereka curigai justru menjadi penyelamat di detik-detik terakhir kehancuran yayasan.
Keesokan paginya, tepat pukul delapan pagi, perwakilan pihak pengembang swasta datang ke halaman Rumah Joglo Setiawan dengan membawa dokumen penyitaan resmi. Mereka berdiri di pendopo dengan senyuman penuh kemenangan, yakin bahwa hari itu mereka akan berhasil mengambil alih bangunan bersejarah tersebut.
Namun, di luar dugaan mereka, Adnan melangkah maju dengan kepala tegak, didampingi oleh Paklik Harjo dan Eyang Broto. Di hadapan perwakilan pengembang dan disaksikan oleh puluhan warga dusun yang berkumpul di halaman, Adnan menyerahkan bukti pelunasan utang tunai melalui transfer perbankan internasional terverifikasi yang diselesaikan melalui bantuan jaringan digital darurat pagi itu juga—seluruh nominal dua ratus juta rupiah telah masuk lunas ke rekening penampungan pihak kreditor.
Perwakilan pengembang itu terperanjat kaget, memandangi layar tablet mereka dengan tidak percaya. Tidak ada alasan hukum lagi bagi mereka untuk melakukan penyitaan. Dengan wajah muram dan kekalahan yang nyata, pihak pengembang akhirnya melipat dokumen somasi tersebut dan pergi meninggalkan kompleks joglo diiringi sorak-sorai kelegaan dari para warga dusun.
Halaman Rumah Joglo Setiawan seketika berubah menjadi lautan kebahagiaan. Para warga dusun berbondong-bondong mendekati Adnan dan Martha, menyalami tangan mereka, dan mengucapkan rasa syukur yang mendalam. Mbok Jum bahkan datang membawa nampan berisi teh hangat dan jajanan pasar, memeluk Martha erat-erat dengan air mata kebahagiaan yang menetes di pipinya.
Di tengah kerumunan orang yang bersuka cita itu, Adnan menarik Martha menjauh sebentar ke bawah rindangnya pohon mangga di halaman belakang. Suasana di tempat itu terasa jauh lebih tenang dan privat.
Adnan menatap Martha dengan pandangan penuh cinta dan rasa kagum yang tak bertepi. Ia merangkul pinggang wanita itu, mendekatkan tubuh mereka di bawah terik matahari pagi Surakarta yang bersahabat.
"Anda benar-benar penyelamat kami, Martha," bisik Adnan serak, menyatukan kening mereka. "Saya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa lagi."
Martha tersenyum manis, jemarinya membelai lembut rahang suaminya yang ditumbuhi janggut tipis. "Jangan berterima kasih, Adnan. Kita adalah satu sekarang—dua dunia yang akhirnya melebur menjadi satu rumah."
Di bawah atap joglo yang kini aman dari ancaman kehancuran, lembaran baru kehidupan mereka di tanah Jawa resmi dimulai—bukan lagi sebagai orang asing yang saling meraba, melainkan sebagai pasangan yang telah teruji oleh badai, siap merajut masa depan di tanah leluhur yang penuh berkah.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️