Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 3
Melihat rentetan pesan itu, tidak ada lagi rasa iba atau kasihan yang biasa menyelimuti hati Vino. Yang ada hanyalah rasa muak yang luar biasa. Muak pada kepasifan dirinya sendiri, dan muak pada kemanjaan Shela yang telah menghancurkan hidupnya.
Ponselnya kembali berdering. Nama Shela berkedip-kedip di layar. Dengan napas memburu dan mata memerah, Vino menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
'Kak Vino! Akhirnya diangkat juga! Kakak dari mana aja sih?! Aku tuh dari tadi...'
"Shela, stop," potong Vino dengan suara dalam dan bergetar, menahan amarah yang hampir meledak.
'Lho, Kakak kenapa malah bentak aku? Aku kan cuma mau makan siang bareng! Lagian Kakak janji mau...'
"Mulai hari ini, belajar urus diri kamu sendiri," selak Vino dingin, setiap katanya sarat akan keputusasaan.
"Kamu sudah dewasa. Cari makan sendiri, naik taksi sendiri, selesaikan masalahmu sendiri. Jangan pernah telepon atau cari aku lagi cuma buat hal-hal tak berguna seperti ini."
'Kak... Kak Vino ngomong apa sih? Aku kan saudara kamu Kak! Aku di sini cuma punya kamu, Kak Vino... Hiks... Hiksss...'
'Hiks... hiksss... Kak Kiara cuci otak kamu, ya? Kenapa Kakak jadi jahat banget sama aku?!'
Suara Shela menangis terisak di ujung telepon, mencoba memainkan kartu keprihatinan yang biasanya selalu berhasil melunakkan hati Vino. Namun kali ini, benteng pertahanan Vino sudah runtuh, berganti menjadi benteng amarah yang tak tertembus. Apalagi melihat Kiara yang sudah benar-benar marah padanya. Tunangan yang selama ini bahkan tak pernah mengeluh, merengek apalagi marah padanya bersikap dingin seperti itu.
Vino tak bisa membiarkan Kiara meninggalkan dan pergi darinya begitu saja. Dia ingin Kiara kembali seprti dulu, kekasihnya yang manis penuh cinta dan menjadikannya pusat dunia. Apalagi mereka akan menikah, Vino sangat mencintai Kiara.
"Kiara nggak nyuci otak aku, Shela! Dia tunangan aku, dan saat ini dia sedang marah padaku karena kesalahanku semalam yang meninggalkanya dan malah pergi bersama kamu pergi membeli es krim di tegah hujan petir! Aku tak mau kalau sampai Kiara membatalkan rencana pernikahan kami! Aku sangat mencintai Kiara!" suara Vino meninggi, menggelegar memenuhi ruang kabin mobilnya yang sempit. Air mata penyesalan menetes ke atas roda kemudi.
"Tolong jangan seperti ini dan membuat Kiara salah paham padaku!"
"Tapi Kak... aku ini sepupu kamu! Masa Kakak lebih belain orang lain dibanding darah daging Kakak sendiri? Aku cuma mau..."
"Dia bukan orang lain! Dia calon istriku!" potong Vino dengan nada membentak yang belum pernah Shela dengar sebelumnya. Napas Vino memburu, dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul.
'Kak Vino beneran marah dan ingin aku pergi jauh dari kakak, demi Kak Kiara? Dia hanya salah paham dan membesarkan masalah! Aku... Kepada siapa lagi aku meminta tolong kalau bukan kepada Kak Vino!"
"Sudahlah. Tolong aku hanya ingin hubunganku dan Kiara kembali membaik. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi adikku, Rania!"
Di balik telepon, tangisan Shela mendadak terhenti sejenak, terkejut mendengar kemarahan Vino yang meledak-ledak. Dan bahkan dengan jelas Vino ingin menjauhi dirinya dan memintanya untuk meminta tolong kepada Rana saja. Tidak, Shela tak mau kalau sampai hal itu terjadi. Vino harus selalu ada di pihaknya dan bersama dengannya. Apapun yang terjadi.
"Kak Vino... hiks... aku minta maaf..." suara Shela mencicit, mulai panik karena menyadari Vino benar-benar sudah lepas kendali.
"Jangan pernah hubungi aku lagi. Mau kamu sakit perut, mau kamu takut sendirian, mau kamu kesepian, cari orang lain. Hubungi orang tuamu atau adikku!."
"Kak Vino, jangan gitu! Kak!"
Tanpa membiarkan Shela menyelesaikan kalimatnya, Vino mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Jari jemarinya yang gemetar langsung membuka profil kontak Shela, menekan tombol Block, lalu menghapus nomor telepon itu selamanya dari daftar kontak. Notifikasi dari media sosial Shela pun langsung dia bisukan dan blokir satu per satu tanpa tersisa.
"Kiara, aku sudah menjauhi Shela, tolong maafkan dan beri aku kesempatan, aku sangat mencintai kamu, Kiara!" Bisik Vino menatap ke arah gedung perkantoran tempat Kiara bekerja.
Vino mencengkeram kemudi dengan erat, menyandarkan dahinya di sana. Tangisnya pecah seketika, suara isakan laki-laki yang hancur dan terlambat menyadari kesalahannya. Semua memori tentang Kiara berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Cara Kiara tersenyum, cara wanita itu menyambutnya hangat meski lelah, dan bagaimana Kiara selalu sabar meredam cemburu sampai batas kesabarannya benar-benar habis.
Kemarahan yang membakar di dalam mobil berganti menjadi kehampaan yang dingin saat Vino melangkahkan kaki memasuki gedung kantornya. Langkahnya berat, matanya sembab dan kemerahan, sementara setelan jasnya tampak agak kusut. Beberapa staf yang berpapasan dengannya sempat menyapa, namun Vino hanya berlalu tanpa mengacuhkan mereka, pikirannya masih tertinggal di lobby tadi saat melihat tatapan dingin Kiara.
Baru saja Vino mendudukkan dirinya di kursi dan menyandarkan kepala yang terasa pening, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terdorong keras tanpa ketukan.
"Kak Vino! Hiks... Kakak jahat banget!"
Shela menyerobot masuk dengan wajah berantakan, maskara yang luntur membasahi pipinya, dan napas yang tersengal-sengal. Tanpa memedulikan etika kantor, gadis itu langsung menerobos menuju meja kerja Vino sambil menangis terisak-isak, memancing perhatian beberapa karyawan di luar yang mulai berbisik-bisik. Bahkan sekertaris Vino yang ada di depan pintu tak bisa menahan Shela. Apalagi selama Dua bulan terakhir setelah Shela bekerja di kantor yang sama, staff administrasi itu memang sering keluar masuk ruangan Vino yang menjabat sebagai Manager.
"Maaf Pak!" ucap sekretaris Vino merasa bersalah di ambang pintu.
"Kenapa Kakak blokir nomor aku?! Kenapa Kakak tega ngusir aku di telepon tadi?!" jerit Shela dramatis, mencoba menghampiri dan memegang lengan Vino.
"Aku ini sepupu Kakak! Aku tak punya siapa-siapa di sini selain kamu!"
Vino tidak bergeming. Dia bahkan tidak berkedip saat melihat Shela berdiri di hadapannya. Tatapan matanya yang dulu selalu memancarkan rasa iba, kini runtuh sepenuhnya, berganti menjadi tatapan dingin, kosong, dan tajam bak sembilu.
Dia berdiri perlahan, memotong jarak di antara mereka. Kehadiran Vino yang mendadak terasa mengintimidasi membuat isakan Shela perlahan mencicit.
"Kamu punya waktu tiga detik untuk keluar dari ruangan ini," ucap Vino dengan nada datar, namun begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di ruangan itu.
"Kak... hiks... aku cuma mau..."
"Satu."
"Kak Vino, dengarin aku dulu! Kak Kiara itu cuma nyari alasan buat ngerusak hubungan keluarga kita! Masa cuma gara-gara es krim..."
"Dua." Vino meraih telepon interkom di mejanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Shela.
"Kak Vino! Jangan kaya gini! Aku takut... Aku akan menemui Kak Kiara dan meminta maaf juga menjelaskan semuanya! Jangan begini Kak Vino..." Shela mulai panik, tangisannya yang tadi dibuat-buat kini berubah menjadi ketakutan nyata saat melihat ketegasan di wajah sepupunya.
"Tiga."
Vino menekan tombol interkom. "Sekuriti, tolong ke ruangan saya sekarang. Ada orang luar tanpa kepetingan yang mengganggu ketertiban kerja."
"Kak Vino! Kamu gila ya?! Kamu mau usir adik kamu sendiri pake sekuriti?!" pekik Shela histeris, tidak percaya pria yang selama ini selalu memanjakannya tega bertindak sejauh ini.
"Ini kantor, tolong jaga etikamu! Jangan membuat keributan yang berpengaruh pada jabatanku di sini!" jawab Vino dingin.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,