Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sebuah mobil yang dikendarai oleh Fahri nampak berhenti di salah satu mall terbesar di Ibukota. Fahri nampak melangkahkan kakinya keluar kemudian membukakan pintu untuk Sagara.
Hari ini ada inspeksi mendadak yang di lakukan oleh Sagara di beberapa outlet milik perusahaannya. Mall ini merupakan hasil kerjasama yang di jalin oleh Aditama group dan beberapa investor asing, sehingga mengharuskan Sagara untuk sesekali mengadakan inspeksi mendadak dan meninjau langsung kinerja mall dan beberapa outlet di dalamnya.
Sagara membawa langkah kakinya masuk meninjau setiap hal yang mungkin memiliki kekurangan maupun kelebihan yang dapat ditindaklanjuti. Fahri mendengarkan dan mencatat dengan seksama setiap hal yang dikatakan oleh bosnya.
"Sepertinya harus ada beberapa tambahan ornamen yang memudahkan pengunjung untuk beristirahat di kala lelah berbelanja, atau hanya sekedar menunggu ke kasihnya makan mungkin. Oh dan juga jangan lupakan hiasan yang aku minta di setiap sudut kosong agar terlihat lebih indah." ucap Sagara menjelaskan setiap halnya.
"Baik Tuan...." jawab Fahri singkat.
Sampai kemudian langkah kaki keduanya lantas terhenti, ketika mendengar suara dua perempuan yang tak asing baginya tengah ribut di salah satu outlet brand ternama.
"Aku aja mbak..." ucap Elika kembali.
"Gak bisa begitu dong..." ucap Luna lagi.
"Gak, tetap harus aku..." ucap Elika lagi.
"Jadi siapa yang mau membayar barang ini?" tanya kasir dengan raut wajah yang bingung.
"Aku!" ucap keduanya secara bersamaan.
"Sebenarnya apa yang tengah kalian perebutkan?" ucap sebuah suara bariton milik Sagara yang tiba-tiba terdengar dan membuyarkan perdebatan keduanya.
Mendengar suara tersebut baik Luna maupun Elika langsung menoleh ke arah sumber suara, membuat Sagara lantas menatap keduanya dengan tatapan yang penasaran.
"Ada apa?" tanya Sagara kembali.
"Maaf Pak, kedua nona ini ingin membeli barang yang sama dan tidak ada yang mau mengalah." ucap kasir tersebut menjelaskan.
"Apakah hanya ada satu?" ucap Sagara kemudian bertanya.
"Benar Pak, barang yang di inginkan kedua nona ini hanya ada satu di toko kami dan termasuk barang edisi terbatas karena hanya terdapat dua kancing dengan model yang sama di negara ini, itu pun satu di toko kami dan satu lagi sudah di pesan langsung oleh istri presiden." ucap kasir tersebut menjelaskan.
Mendengar hal tersebut Elika nampak mendekat ke arah Sagara dan menatapnya dengan manja, membuat Luna lantas mengernyit begitu melihat tingkah Elika.
"Sagara aku suka barangnya, tapi dia malah ikut-ikutan ingin membelinya....bukankah itu tidak sopan?" ucap Elika dengan nada yang manja, namun sayangnya tak dihiraukan sama sekali oleh Sagara.
"Apakah kamu sangat menginginkannya Lun?" tanya Sagara dengan nada yang lembut, membuat Elika yang tak dihiraukan lantas cemberut karenanya.
"Awalnya sih iya, tapi setelah dipikir-pikir lagi aku sudah tidak menyukainya..." ucap Luna yang lantas membuat Elika menatap tak percaya ke arah Luna.
"Lalu? Kamu mau yang lain? Biar aku yang memberikannya untuk mu..." ucap Sagara yang langsung membuat Elika menoleh ke arahnya.
"Tidak perlu, kamu lanjut saja bekerja... Bukankah kamu ada inspeksi mendadak... Jangan hiraukan aku..." ucap Luna kembali yang lantas membuat Luna menghela napas.
"Berikan yang terbaik untuk nona ini mbak..." perintah Sagara kemudian yang lantas di balas anggukan kepala olehnya.
"Silahkan nona..." ucap Kasir sekaligus pelayan toko tersebut.
"Emmmm menurut mu apakah ada satu barang di toko ini yang tidak ada duanya?" tanya Luna kemudian yang lantas membuat pelayan toko tersebut terdiam seakan tengah berpikir.
"Ada, satu dompet custom dengan kualitas premium yang hanya ada satu-satunya di toko kami." ucap pelayan tersebut.
"Baiklah aku..." ucap Luna hendak mengatakan sesuatu namun kembali di potong oleh Elika.
"Aku mau itu!" ucap Elika yang lantas membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Kau... Mengapa kau selalu saja berbuat semau mu? Bukankah tadi aku sudah mengalah? Lalu apa lagi ini?" ucap Luna dengan tatapan tak suka.
"Hanya suka saja, mengapa? Apa kau keberatan?" ucap Elika dengan nada yang angkuh.
"Tentu saja, kau kira asal kau suka...semuanya harus jadi milik mu? Dasar nona serakah!" ucap Luna dengan nada yang menyindir.
"Kau...beraninya kau mengatakan itu kepadaku!" ucap Elika dengan nada yang tak suka.
Sedangkan Sagara yang sedari tadi masih berada di tempat, menyaksikan perdebatan keduanya yang sepertinya tidak akan pernah selesai, membuatnya kembali mengambil langkah kaki mendekat ke arah Luna.
"Sepertinya nona Elika senggang sekali ya? Sampai-sampai semua yang Luna inginkan nona Elika juga menginginkannya." ucap Sagara kemudian yang sedari tadi masih berada di sana dengan nada yang terdengar begitu dingin.
"Bukan begitu, aku hanya ingin sesuatu yang istimewa dan kebetulan atau di sengaja dia selalu menginginkan sesuatu yang sama." ucap Elika sambil menunjuk ke arah Luna, membuat Luna semakin kesal karenanya.
Luna jelas tahu arah pembicaraan Elika karena memang yang sedang dilakukan oleh Elika sedari tadi bukan perihal barang ataupun Sagara, melainkan siapa yang akan mendapatkan sesuatu yang sama-sama keduanya sukai baik antara Luna atau Elika. Entah itu sebuah barang atau Sagara sekalipun.
"Baiklah jika seperti itu, maka nona Elika beli saja semuanya di toko ini agar nona Elika puas!" ucap Sagara kemudian dengan nada yang menyindir. "Ayo Lun kita pergi saja ke tempat lain, lama-lama di sini membuat ku muak!" ajak Sagara kemudian sambil menggandeng tangan Luna dengan erat.
"Baiklah, aku juga malas terus berdebat dengan orang bodoh yang tak tahu batasan." ucap Luna kemudian.
"Kau...." ucap Elika hendak menumpahkan amarahnya, namun sayangnya Sagara sudah keburu menarik Luna dan meninggalkannya, seakan-akan tak menganggapnya ada.
"Sialan kalian berdua! Lihat saja Luna.... Beberapa hari lagi Sagara akan bertekuk lutut kepada ku dan menjadi milik ku sepenuhnya, aku ingin lihat bagaimana keadaan mu saat itu!" ucap Elika dengan tatapan tak suka menatap ke arah ketiganya yang semakin tak terlihat dari pandangannya kini.
***
Kediaman Aditama
Sore itu Aditama nampak bersantai di taman belakang sambil membaca koran.
Sebuah langkah kaki perlahan terdengar mendekat ke arah Aditama, membuatnya lantas menghentikan kegiatannya saat itu.
"Maaf Tuan, ada seseorang ingin bertemu dengan anda..." ucap Laksmi kepala pelayan di rumah tersebut.
"Siapa Bi?" tanya Aditama dengan raut wajah yang penasaran.
"Anu Tuan...." ucap Laksmi hendak mengatakannya namun terhenti ketika sebuah suara pria paruh baya lantas terdengar dan menggema di telinga Aditama.
"Aku... Apa kau keberatan?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Aditama menoleh ke arah sumber suara.
"Papa..." ucap Aditama kemudian.
Bersambung