Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Dia meraih tangan mungil itu dan menggenggamnya erat-erat.
"Terima kasih Lula, kau sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Adrian sungguh-sungguh.
Lula tersenyum sangat lebar hingga deretan giginya yang kecil terlihat.
"Sama-sama Kak Adrian, Lula kan harus melindungi keluarga Lula."
Kata keluarga yang keluar dari mulut kecil itu membuat pertahanan Adrian runtuh seketika.
Ego dan gengsinya menguap entah ke mana.
Mulai detik ini, Adrian bersumpah akan menjadi tameng paling depan untuk melindungi gadis ini.
Siapapun yang berani menyakiti Lula, harus melewati mayat Adrian Ayodhya lebih dulu.
Kruyukkk.
Suara perut Lula kembali berbunyi sangat nyaring memecah suasana haru itu.
Adrian terkekeh pelan dan mengangkat tubuh kecil Lula ke dalam gendongannya.
"Ayo kita kembali ke ranjang, sebentar lagi makananmu datang," kata Adrian.
Lula melingkarkan tangannya di leher Adrian dengan nyaman.
"Lula mau makan ayam goreng yang besar ya Kak," pinta Lula manja.
"Tentu saja, aku akan membelikanmu sepuluh ayam goreng jika kau mau," janji Adrian tanpa ragu.
Brak!
Pintu kamar rawat tiba-tiba didorong dengan sangat kasar dari luar.
Cakra dan Dewa berlari masuk dengan nafas tersengal-sengal.
Di belakang mereka ada Arini dan Baskoro yang membawa beberapa tas berisi baju ganti.
Mereka semua langsung mematung di ambang pintu saat melihat pemandangan di depan mereka.
Adrian, si putra sulung yang sangat dingin dan benci sentuhan fisik.
Kini sedang menggendong Lula dengan wajah yang sangat santai dan penuh kasih sayang.
"Wah, apa aku sedang bermimpi?" gumam Cakra sambil mengucek matanya.
"Kak Adrian menggendong anak kecil tanpa marah-marah?"
Dewa mendecih pelan namun sudut bibirnya terangkat.
"Akhirnya otak batunya mencair juga setelah kepalanya terbentur truk," sindir Dewa tajam.
Adrian menatap tajam ke arah dua adik remajanya itu.
"Tutup mulut kalian berdua atau kupotong uang saku kalian bulan ini," ancam Adrian kembali ke mode galak.
Arini langsung berlari menghampiri Adrian dan memeluk putra sulungnya itu beserta Lula sekaligus.
"Adrian sayang, syukurlah kamu sudah bangun nak," tangis Arini haru.
"Mama sangat takut kehilanganmu hari ini."
Adrian menepuk punggung ibunya dengan canggung.
"Aku baik-baik saja Ma, jangan menangis lagi, Lula juga sudah sehat."
Baskoro tersenyum lega melihat keluarganya kembali berkumpul dengan selamat.
Dia meletakkan tas bawaannya di meja lalu berjalan mendekati Adrian.
"Kamu merasa ada yang aneh dengan tubuhmu Adrian?" tanya Baskoro memastikan.
Adrian menurunkan Lula ke atas ranjang lalu menatap ayahnya dengan serius.
"Sama sekali tidak Pa, aku merasa tenagaku sudah kembali seratus persen."
"Ini semua berkat keajaiban adik kecil kita ini," puji Adrian sambil mengelus kepala Lula.
Lula yang sedang duduk di ranjang hanya tertawa bangga.
"Papa, Bastian bilang Kak Adrian kecelakaan karena rem mobilnya blong," kata Adrian mengubah topik pembicaraan.
Wajah Baskoro langsung berubah menjadi gelap dan mengerikan.
Aura pemimpin perusahaan raksasa menguar dari tubuh pria paruh baya itu.
"Itu bukan kecelakaan biasa Adrian, ada yang sengaja memotong kabel rem mobilmu," jawab Baskoro dingin.
Mendengar itu, Cakra dan Dewa langsung mengepalkan tangan mereka dengan marah.
"Siapa yang berani melakukan itu Pa? Biar aku yang mematahkan lehernya!" teriak Dewa emosi.
"Dewa jaga ucapanmu, di sini ada Lula," tegur Arini sambil menutup telinga Lula.
Baskoro menghela nafas panjang dan menatap Adrian dengan tatapan tajam.
"Kepala keamanan kita sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor."
"Mereka melihat seorang pria berjaket hitam menyusup ke parkiran VIP sebelum kamu berangkat."
Adrian menyipitkan matanya mengingat-ingat sesuatu.
"Apakah pria itu punya tato kalajengking di lehernya Pa?" tanya Adrian cepat.
Baskoro sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Ya, informan kita membenarkan hal itu, kamu tahu siapa dia?" balas Baskoro.
Adrian mendecih kesal dan memukul pinggiran ranjang besi itu.
"Tentu saja aku tahu, dia adalah orang suruhan Surya dari Perusahaan Matahari."
"Surya? Pesaing bisnis kita yang kemarin merancang kontrak jebakan itu?" tanya Cakra ikut emosi.
"Benar, dia pasti sangat marah karena kita berhasil membatalkan kontrak itu di detik terakhir," jelas Adrian.
"Jadi dia memutuskan untuk membunuhku agar perusahaan kita kehilangan ahli warisnya."
Ruangan itu seketika menjadi hening dan penuh dengan aura permusuhan.
Keluarga Ayodhya tidak pernah mencari masalah lebih dulu dengan orang lain.
Tapi jika musuh menggunakan cara kotor untuk menghilangkan nyawa keluarga mereka, maka itu adalah deklarasi perang.
"Berani sekali tikus tua itu menyentuh putraku," geram Baskoro dengan suara tertahan.
"Mulai besok, Papa akan memutuskan semua kerja sama logistik dengan perusahaannya."
"Kita akan membuat Perusahaan Matahari hancur secara perlahan dari dalam," putus Baskoro tanpa ampun.
Adrian mengangguk setuju dengan rencana ayahnya.
"Biar aku yang mengurus penarikan saham kita dari proyek mereka Pa."
"Mereka pikir mereka bisa menginjak kita, mereka salah besar memilih lawan."
Di tengah pembicaraan serius itu, pintu ruangan kembali terbuka.
Bastian masuk diikuti oleh dua orang perawat yang membawa troli penuh makanan.
"Makanan sudah datang! Ada ayam goreng krispi spesial untuk Lula!" seru Bastian memecah ketegangan.
Mata Lula langsung berbinar terang melihat tumpukan makanan enak di atas troli.
Dia melompat turun dari ranjang dan berlari menghampiri troli itu.
"Wah ayamnya besar sekali Kak Bastian!" puji Lula kegirangan.
Suasana tegang di ruangan itu langsung mencair melihat tingkah polos Lula.
Arini membantu menyiapkan meja lipat kecil di atas ranjang agar Lula bisa makan dengan nyaman.
Dewa mengambil sepotong dada ayam yang paling besar dan meletakkannya di piring Lula.
"Makan yang banyak, badanmu itu terlalu kecil seperti anak kucing kurang gizi," omel Dewa meski tangannya sibuk menyuwir daging ayam untuk adiknya.
Cakra tidak mau kalah, dia menuangkan susu cokelat ke dalam gelas Lula sampai hampir tumpah.
"Susu cokelat ini akan membuatmu kuat seperti pahlawan super Lula!" kata Cakra heboh.
Adrian yang duduk di sebelah Lula hanya tersenyum melihat tingkah laku adik-adiknya.
Dia mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa saus di sudut bibir Lula.
"Pelan-pelan makannya, tidak ada yang akan mencuri makananmu di sini," pesan Adrian lembut.
Lula mengangguk sambil terus mengunyah dengan pipi menggembung lucu.
Baskoro dan Arini saling bertatapan dan tersenyum sangat lebar.
Keluarga mereka yang dulu terasa kaku dan sibuk sendiri-sendiri kini menjadi sangat hangat dan bersatu.
Semua berkat kehadiran satu malaikat kecil yang sedang sibuk makan ayam goreng di depan mereka.
Hari itu, keluarga Ayodhya telah mengikat sebuah sumpah yang tidak terlihat.
Mereka berlima akan menjaga dan memanjakan Lula dengan segala kemewahan dan kekuasaan yang mereka miliki.
Dan di saat yang bersamaan, mereka juga bersumpah akan menghancurkan Surya sampai ke akar-akarnya.
Bagi keluarga Ayodhya, memaafkan musuh yang berniat membunuh bukanlah sebuah pilihan.
Pembalasan dendam yang sesungguhnya baru saja akan dimulai esok hari.