Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Ratu di Balik Kelambu
Kabar mengenai insiden menyengat di Pavilion Utara menyebar bagaikan api liar yang menyambar semak kering di musim kemarau. Hanya dalam hitungan jam, cerita tentang bagaimana kulit mulus Lady Celeste melepuh akibat ulah 'kecerobohannya sendiri' telah menjadi bisik-bisik hangat di antara para pelayan, kasim, hingga jajaran pejabat tinggi di Istana Interior.
Aurelia tidak perlu berbuat banyak untuk menyebarkan rumor tersebut; reputasi Celeste yang kekanak-kanakan dan suka menindas sudah cukup membuat penghuni istana percaya bahwa ia memang menuai buah dari perbuatannya sendiri.
Namun, di sudut Istana Interior yang paling megah dan tenang.....,Pavilion Barat keheningan yang tercipta terasa amat berbeda. Udara di tempat itu selalu dipenuhi wangi dupa kayu cendana bermutu tinggi dan semerbak aroma mawar langka dari wilayah selatan.
Di dalam aula utama yang dilapisi karpet beludru merah tebal, Lady Genevieve sedang melukis di atas kain sutra putih. Jemarinya yang lentik dan terawat menggerakkan kuas dengan keahlian yang mengagumkan, membentuk gambar seekor burung merak berganti bulu.
"Jadi..." Suara Genevieve mengalun tenang, begitu lembut dan merdu bagai helusan angin pantai, namun mampu membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "...Celeste bertindak bodoh dan berakhir dengan kulit lengan yang hancur?"
Seorang pelayan kepercayaan berlutut di belakangnya, menundukkan kepala hingga hampir menyentuh lantai. "Benar, Lady Keagungan. Lady Aurelia menggunakan nampan perak untuk menangkis teh mendidih itu, dan tumpahannya mengenai Lady Celeste secara langsung. Saat ini tabib kerajaan sedang mengoleskan salep dingin di kediamannya."
Genevieve menghentikan gerakan kuasnya tepat di atas gambar mata sang burung merak. Setetes tinta hitam menetes, merusak keindahan kain sutra yang berharga tinggi itu. Namun, raut wajah cantik milik selir tertua itu sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan atas lukisannya yang rusak.
"Celeste selalu berpikir dengan amarah, bukan dengan otak," gumam Genevieve pelan. Ia menyerahkan kuasnya pada pelayan di sampingnya, lalu mengambil kain basah untuk menyeka jemarinya. "Dia mengira bisa menundukkan putri Montclair dengan trik murahan setingkat anak sekolah."
"Apakah kita perlu mengambil tindakan untuk menekan Lady Aurelia, Yang Mulia?" tanya pelayan itu penuh kehati-hatian. "Pengaruhnya tampak mulai tumbuh sejak Yang Mulia Raja menempatkan pengawal zirah perak di Pavilion Timur."
Genevieve tersenyum tipis sebuah senyuman yang begitu sempurna dan penuh kehangatan, tipe senyuman yang mampu menipu siapa saja bahwa ia adalah wanita paling penyayang di seluruh kerajaan.
"Menekannya?" Genevieve terkekeh halus. "Tidak perlu. Memotong dahan yang sedang tumbuh hanya akan membuat akarnya makin menghujam kuat. Lebih baik kita membiarkan bunga zamrud itu bermekaran sampai ia merasa berada di puncak dunia... lalu memetiknya saat ia paling tidak siap."
Genevieve berdiri, memperlihatkan gaun merah marun berhiaskan benang emas murni yang menjuntai indah di lantai pualam. Dengan langkah-langkah yang anggun bagaikan seorang Ratu yang tak tertandingi, ia berjalan menuju balkon peraduannya yang menghadap langsung ke arah Pavilion Timur.
"Aurelia Montclair telah berubah," bisik Genevieve pada dirinya sendiri. "Gadis yang dulu menangis karena ditinggal Raja kini menatap semua orang seolah kami hanyalah batu pijakan di bawah kakinya. Sesuatu telah membangunkan raksasa tidur di dalam dirinya."
Sementara itu, di Pavilion Timur, malam telah jatuh sepenuhnya. Suara jangkrik bersahut-sahutan di luar jendela, bersaing dengan kepakan sayap burung malam yang melintas di langit gelap.
Aurelia duduk di dekat perapian yang menyala hangat. Di pangkuannya terhampar sebuah peta rahasia mengenai jalur pasokan bahan pangan dan rempah-rempah yang dikuasai oleh keluarga Vance keluarga asal Lady Genevieve.
"Nona Muda," panggil Marta yang baru saja masuk setelah mengunci pintu kamar peraduan. "Hamba telah menyampaikan pesan rahasia kepada utusan Duke Montclair di luar gerbang utama."
"Apakah ayahku sudah menerima daftarnya?" tanya Aurelia tanpa mengalihkan pandangannya dari peta.
"Sudah, Nona Muda," jawab Marta cepat. "Lord Duke berjanji akan mulai menghentikan secara bertahap pengiriman gandum kualitas terbaik ke wilayah barat milik faksi Vance mulai bulan depan, sesuai dengan instruksi yang Anda berikan."
Aurelia menyunggingkan senyum dingin.
Perang yang sebenarnya tidak terjadi dengan pedang di lorong-lorong istana, batin Aurelia. Perang sejati di antara para selir terjadi pada sumber daya dan pengaruh di belakang mereka.
Genevieve mungkin memegang kendali atas urusan harian Istana Interior, tetapi kekuatan faksi Vance bergantung penuh pada stabilitas ekonomi dan pangan dari wilayah tengah yang dikuasai oleh keluarga Montclair. Dengan memotong cengkeraman ekonomi Vance secara perlahan, Aurelia sedang mencabut fondasi tahta tak kasat mata yang selama ini diduduki oleh Genevieve.
Kring...
Bunyi genta kecil di pintu luar kediaman berdentang pelan, menandakan kedatangan seorang tamu yang tidak biasa di jam yang telah larut ini.
Marta tersentak kaget dan bergegas mengintip lewat celah tirai. "Nona Muda... ada seorang utusan pribadi dari Istana Utama. Beliau membawa nampan berisi segel kerajaan!"
Aurelia melipat petanya tenang lalu menyimpannya di dalam kompartemen rahasia meja mejanya. "Suruh dia masuk."
Seorang kasim tua berseragam sutra ungu melangkah masuk dengan senyuman santun dan sikap yang sangat teratur. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan kayu jati berukir yang ditutupi kain beludru emas.
"Salam hangat untuk Lady Aurelia dari Montclair," sapa kasim tua itu sembari membungkuk dalam-dalam. "Hamba membawakan titah langsung dan hadiah khusus dari Yang Mulia Raja Julian."
Aurelia berdiri dari kursinya, memberikan penghormatan formal yang presisi. "Hamba mendengarkan titah Yang Mulia."
Kasim itu membuka kain beludru emas, memperlihatkan sebuah belati kecil bersarung perak yang dihiasi batu permata rubi merah darah di bagian gagangnya. Di samping belati itu, terdapat sebuah gulungan surat berstempel lilin merah berlogo serigala kerajaan.
"Yang Mulia Raja menyampaikan pesan," ujar kasim tua itu dengan suara bariton yang mantap. "'Senjata terbaik bagi seorang wanita cerdas bukanlah nampan perak yang dipinjam dari pelayannya, melainkan besi tajam yang bisa menggigit musuhnya secara langsung.'"
Aurelia menatap belati itu dengan mata berkilat. Julian telah mendengar peristiwanya di Pavilion Utara secara detail, dan alih-alih memberi teguran atau simpati pada Celeste, sang Raja justru mengirimkan belati tempur sebagai hadiah apresiasi atas tindakan tegas Aurelia!
"Tolong sampaikan rasa terima kasih hamba yang mendalam kepada Yang Mulia Raja," sahut Aurelia pelan sembari meraih belati perak tersebut. Berat belati itu terasa begitu pas dan seimbang di genggamannya. "Hamba akan memastikan bahwa besi tajam ini hanya akan mencabut nyawa mereka yang benar-benar pantas meminum kematian."
Kasim tua itu tersenyum misterius, membungkuk sekali lagi, lalu mengundurkan diri dari kamar peraduan tanpa mengumandangkan kata lain.
Setelah pintu kembali terkunci, Aurelia mencabut belati perak itu dari sarungnya. Sinar api dari perapian memantulkan kilauan tajam pada bilah bajanya yang dingin.
Di kehidupan sebelumnya, Julian tidak pernah memberinya apa pun selain tatapan dingin dan pengabaian yang meremukkan jiwa. Namun kini, setelah Aurelia membuang rasa cintanya dan menjadi wanita bertangan besi, pria paling berkuasa di kerajaan itu justru mengirimkan senjata untuk memperkuat jemarinya.
Kau mulai menikmati perubahanku, bukan, Julian? batin Aurelia sembari mengelus ukiran rubi di gagang belati.
Aurelia melangkah mendekati jendela yang mengarah ke Pavilion Barat, kediaman Genevieve. Dari kejauhan, lampu-lampu di pavilion megah itu masih menyala terang, membiaskan bayangan kelambu-kelambu sutra yang melambai ditiup angin malam.
Aurelia menggenggam erat belati perak hadiah Raja di dadanya. Permaianan catur di Istana Interior telah resmi naik ke tingkat yang baru. Evelyn telah disingkirkan, Celeste telah dilumpuhkan, dan kini hanya tersisa satu rintangan besar yang berdiri di antara dirinya dan kekuasaan mutlak: sang Bayangan Ratu, Lady Genevieve.
"Nikmatilah tidur nyenyakmu malam ini, Genevieve," bisik Aurelia dengan senyuman dingin yang memikat ke arah kegelapan malam. "Sebab mulai besok, fajar di istana ini tidak lagi terbit untuk melayani keagunganmu."
~ To Be Continue