DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: JEJAK DI TEPI SELOKAN
Rabu pagi tanggal sebelas Oktober membias terang menyinari lorong samping rumah kami.
Sinar matahari pagi menembus celah dahan pohon mangga tua, membiaskan cahaya tipis di ubin semen.
Dini dan Ranti berdiri membeku di belakangku, menatap celah bawah pintu samping yang masih terganjal kayu.
Terali kayu selokan pembuangan di luar jelas bergeser dua jari ke arah lorong pekarangan belakang Maya.
Goresan tajam bernoda tanah merah basah yang masih segar membekas tebal di atas semen ubin.
"Bu... terali kayu itu benar-benar bergeser kan?" bisik Dini menahan getaran napasnya.
"Inggih, Din. Teralinya bergeser dua jari dan ada bekas goresan tanah merah basah," sahutku berbisik pelan.
"Ranti takut kalau nanti ada yang mencoba masuk lewat selokan itu, Bu," cicit Ranti memegang bajuku.
"Mboten bakal ada yang bisa masuk, Ran. Selot besi dan ganjal kayu jati sudah terkunci rapat," balasku menenangkan.
"Ibu mau lapor ke Pak RT soal terali yang bergeser ini mboten?" tanya Dini menyimak cermat.
"Iya, Din. Begitu Pak RT lewat di teras depan, Ibu bakal minta beliau melihat bekas goresan ini," jawabku mantap.
Aku mempererat ganjal kayu jati tebal di bawah ambang pintu samping, memastikan posisinya tidak bergeser sedikit pun.
Pukul delapan pagi lewat lima belas menit, langkah kaki Pak RT dan Pak Wo terdengar melintas di teras depan.
Aku segera melangkah ke teras, memanggil pengurus RT kami yang sedang berjalan membawa map cokelat.
"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Pak RT menghentikan langkahnya di pagar teras.
"Selamat pagi, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak sebentar, Pak," sambutku membukakan pintu pagar besi.
"Wonten kabar punapa pagi niki, Bu Sari?" tanya Pak Wo melangkah masuk ke halaman.
"Niki, Pak... terali kayu selokan pembuangan di lorong samping bergeser dari posisinya," terangku mengarahkan mereka.
Aku mengajak Pak RT dan Pak Wo menyusuri koridor samping hingga tiba di dekat celah terali selokan.
Pak RT berjongkok di atas ubin semen, meneliti terali kayu yang miring dua jari dari celah aslinya.
"Gusti Allah... terali kayu niki memang bergeser ke dalam," bisik Pak RT memegang tepi kayu.
"Wonten goresan tanah merah basah yang masih segar juga di ubin semen niki, Pak RT," tunjuk Pak Wo heran.
"Semalam pukul sebelas lewat setengah, kami bertiga dengar suara benturan besi dan gesekan kaku," jelasku pelan.
"Suara benturan besi tipis di selokan bawah nggih, Bu Sari?" tanya Pak RT menatapku cermat.
"Inggih, Pak RT. Suaranya persis seperti benda keras yang terseret melintasi terali selokan," sahutku menegaskan.
"Iya, bekas goresan niki membekas tebal banget di ubin," timpal Pak Wo mengusap sudut semen.
"Kulo bakal menghubungi Bripka Haryono sekarang juga supaya tim Polsek memeriksa bekas niki," tegas Pak RT.
"Matur nuwun sanget, Pak RT. Langkah niki sangat penting demi keamanan warga," balasku lega.
Pak RT mengeluarkan telepon genggam dari saku kemejanya, menghubungi petugas kepolisian yang menangani kasus ini.
Pukul sembilan pagi lewat tiga puluh menit, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar memasuki gang.
Bripka Haryono datang bersama seorang petugas penyidik Polsek membawa koper peralatan dan kamera pengukur.
Pak RT, Pak Wo, dan aku menyambut kedatangan dua petugas kepolisian tersebut di lorong samping rumah.
"Selamat pagi, Bu Sari, Pak RT, Pak Wo," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan.
"Selamat pagi, Pak Bripka," jawab kami bertiga serentak di ambang lorong samping.
"Pak RT tadi menyampaikan ada perubahan fisik baru di sekitar selokan pembuangan nggih?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Terali kayu selokan niki bergeser dua jari dari posisi semula," jawab Pak RT mengarahkan.
Petugas penyidik Polsek segera berjongkok, mengarahkan kamera pengukur ke arah terali kayu dan ubin semen.
Lampu kilat kamera menyala dua kali, memotret goresan tanah merah basah yang membekas tebal di semen.
Petugas penyidik mengambil sampel tanah merah basah itu memakai kafe plastik kecil secara sangat teliti.
"Bercak tanah merah niki masih lembap dan basah, Pak Bripka," terang petugas penyidik kepada atasannya.
"Teksturnya persis sama dengan kerak tanah merah yang menempel pada karung goni kemarin," tambah petugas penyidik.
"Apakah terali kayu niki sengaja digeser dari arah luar selokan, Pak Bripka?" tanya Pak RT penasaran.
"Kemungkinan besar ada dorongan atau tarikan benda keras dari dalam saluran selokan," jawab Bripka Haryono.
"Saluran selokan pembuangan niki memanjang menuju pekarangan belakang rumah Bu Maya kan?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Saluran selokan niki menyambung langsung ke pembuangan belakang rumah sebelah," sahut Pak Wo.
"Kami bakal mencatat temuan fisik niki sebagai jejak bukti tambahan dalam berkas penyelidikan," kata Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas kesiapan tim Polsek dalam menindaklanjuti laporan kami," balasku mengangguk mantap.
"Oh inggih, Bu Sari... kulo sekalian mau menyampaikan perkembangan hasil pelacakan motor Rian," ujar Bripka Haryono.
"Pripun perkembangan dari Polsek wilayah selatan, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kepastian penyelidikan.
"Tim Polsek wilayah selatan berhasil menemukan sepeda motor matik hitam milik Rian tadi pagi," ungkap Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat ambang pintu samping seketika menahan napas menyimak kabar itu.
"Sepeda motor matik hitam itu ditemukan di mana, Pak Bripka?" tanya Pak RT menatap penyidik cermat.
"Motor itu ditemukan terparkir di pinggir kebun singkong kawasan perbatasan pinggir selatan," terang Bripka Haryono.
"Kondisi kunci kontak motor sudah terlepas, tapi tidak ada kerusakan fisik pada mesin," lanjut Bripka Haryono.
"Apakah Rian atau karung goni besar itu ditemukan di dekat lokasi motor, Pak Bripka?" tanya Dini memberanikan diri.
"Mboten ada, Mbak Dini. Rian dan karung goni besar itu mboten ada di sekitar lokasi perkebunan," jawab Bripka Haryono.
"Petugas Polsek selatan sekarang sedang memanggil saksi warga pemilik kebun untuk dimintai keterangan," tambah Bripka Haryono.
Aku mengelus dada perlahan, mencerna fakta resmi terbaru yang disampaikan Bripka Haryono di lorong samping.
Penemuan sepeda motor Rian di kawasan perbatasan selatan memberikan kejelasan nyata atas jalur pergerakannya.
"Berarti Rian memang mengarah ke wilayah selatan setelah keluar dari gang kita nggih, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Penelusuran CCTV persimpangan kemarin terbukti presisi mengarah ke jalur selatan," jawab Bripka Haryono.
"Lalu bagaimana dengan keberadaan Bu Maya sendiri, Pak Bripka?" tanyaku menatap mata penyidik kepolisian.
"Penyelidikan masih terus berjalan intensif untuk memastikan keberadaan Bu Maya dan Rian," jawab Bripka Haryono diplomatis.
"Kami minta warga gang tetap tenang dan mempercayakan penuh penanganan kasus niki ke Polsek," pesan Bripka Haryono.
"Pasti, Pak Bripka. Kami warga gang bakal terus mendukung prosedur resmi kepolisian," sahut Pak RT setuju.
"Untuk terali selokan niki, petugas kami bakal memasang segel pasak besi sementara," kata Bripka Haryono.
Petugas penyidik mengeluarkan dua pasak besi kecil dan mengikatkan kawat segel di sudut terali kayu selokan.
Klip!
Pasak besi tertancap kokoh di sudut ubin semen, menahan posisi terali kayu agar mboten bisa bergeser lagi.
"Dengan pasak besi niki, terali selokan mboten bakal bisa digeser dari luar atau dalam," jelas Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget, Pak Bripka. Bantuan segel besi niki membuat kami merasa lebih tenang," sahutku lega.
Bripka Haryono merapikan peralatan penyidikan ke dalam koper, lalu berpamitan bersama petugas dampingannya.
Pak RT dan Pak Wo mengantar dua petugas kepolisian tersebut melangkah keluar menuju kendaraan dinas di depan.
Aku, Dini, dan Ranti kembali masuk ke dalam rumah, mengunci pintu samping dua putaran penuh dari dalam.
Pukul satu siang lewat tiga puluh menit, kami bertiga duduk melingkar di meja makan untuk makan siang.
Sepiring nasi hangat, sayur bening labu siam, dan tahu goreng hangat tersaji sederhana di atas meja porselen.
Aroma harum gurih sayur labu siam membumbung tipis, memberikan suasana hangat di tengah ruang tengah.
Suasana makan siang terasa lebih lega setelah mendengar konfirmasi resmi ditemukannya sepeda motor Rian di selatan.
Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur labu siam ke piringku dengan gerakan lembut dan telaten.
Ranti mengambilkan tahu goreng hangat dan meletakkannya di piring kecil di tengah meja makan kami.
"Bu... motor Rian sudah ditemukan di perbatasan selatan, tapi Rian-nya ke mana nggih?" bisik Ranti pelan.
"Polisi sedang melacak keberadaan Rian di kawasan perbatasan itu, Ran," sahut Dini mendahuluiku.
"Iya, Ran. Kita serahkan sepenuhnya proses pencarian itu kepada petugas kepolisian," balasku mengusap bahu Ranti.
"Tapi terali selokan samping tadi sudah dipasang pasak besi sama polisi kan, Bu?" tanya Ranti memastikan.
"Sampun, Ran. Pasak besi dan kawat segel Polsek sudah terpasang kencang di sudut terali," sahutku menenangkan.
"Alhamdulillah... jadi nanti malam mboten bakal ada suara gesekan dari selokan lagi nggih," bisik Ranti tersenyum lega.
"Moga-moga suasana malam nanti tetap tenang dan aman untuk kita semua," doa Dini mengamininya.
"Inggih, anak-anakku. Mari kita selesaikan makan siang dan merapikan rumah bersama," ajakku mengulas senyum.
Pukul tiga sore lewat dua puluh menit, bayang-bayang dahan pohon mangga tua bergeser perlahan di pekarangan.
Dini menyapu ubin ruang tengah, sementara Ranti mencuci mangkuk dan cangkir porselen di dapur kecil.
Langkah kaki dan denting cangkir kedua anakku menciptakan irama rumah tangga yang hangat dan teratur.
Aku berdiri di dekat jendela teras depan, memandangi pita garis polisi yang terbentang kaku di rumah sebelah.
Matahari sore hari Rabu tanggal sebelas bersinar temaram di balik awan tipis lereng gunung yang membeku.
Pukul lima sore lewat empat puluh menit, hawa dingin khas lereng gunung mulai merayap masuk lewat ventilasi.
Aroma tanah basah tipis kembali berhembus samar di sekitar lorong samping rumah kami saat senja tiba.
Dini yang sedang melipat kain selimut di ruang tengah mendadak menghentikan tangannya di udara.
Dini memandangi koridor samping dengan mata terbuka lebar, lalu berbisik pelan ke arahku.
"Bu... bau tanah basah dari luar tercium tipis lagi," bisik Dini mendekatiku di sofa.
"Iya, Din. Aromanya memang tercium tipis, terbawa angin senja dari arah pekarangan sebelah," jawabku tenang.
"Tapi pasak besi selokan tadi sudah dipastikan kencang kan, Bu?" tanya Ranti memegangi mukenanya.
"Sudah terkunci kencang pakai pasak besi Polsek kok, Ran," sahutku memegang jemari tangan kedua putriku.
Aku mengajak Dini dan Ranti melangkah ke pintu samping untuk memastikan kondisi ganjal kayu jati dari dalam.
Ganjal kayu jati tebal tertancap kokoh dua putaran penuh di ambang pintu semen koridor dalam.
Melalui celah bawah pintu kayu, aku mengintip sebentar ke arah terali kayu selokan pembuangan di luar.
Terali kayu selokan masih tertahan kokoh oleh pasak besi dan kawat segel kepolisian di sudut ubin.
Namun, di atas ubin semen tepat di depan ganjal pintu samping rumah kami, segumpal tanah merah basah menempel.
Gumpalan tanah merah basah itu berukuran sebesar ibu jari, melekat segar tepat di garis batas ambang pintu kayu.
Gumpalan tanah merah itu seolah baru saja terjatuh dari atas celah ventilasi udara lorong samping.
"Bu... ada gumpalan tanah merah basah di bawah ambang pintu!" bisik Dini dengan wajah pucat pasi.
Dini menunjuk gumpalan tanah merah basah yang menempel segar di atas semen ubin rumah kami.
Aku mempererat genggaman tanganku pada bahu Dini dan Ranti, menahan getaran dingin yang mendadak menusuk tulang.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang dari dalam.
---