Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Yuxin menatapnya, mempertahankan ketenangan yang sudah terlatih sempurna meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Aku sudah menduga sejak lama, Yang Mulia. Sikap Anda saat menyamar sudah cukup memberi banyak petunjuk."
Li Chen tersenyum lebih lebar, tampak senang mendengar jawaban itu. "Dan kau tetap diam, bahkan setelah tahu. Kebanyakan orang akan panik atau justru berusaha memanfaatkan pengetahuan itu untuk kepentingan sendiri."
"Untuk apa aku panik," Yuxin membalas tenang, "kalau Anda sendiri yang memilih menyamar? Bukankah itu berarti Anda ingin melihat sesuatu yang jujur, bukan sikap yang dibuat-buat karena tahu sedang diawasi seorang pangeran?"
Li Chen terdiam sejenak, matanya menatap Yuxin lebih dalam, seolah baru menemukan sesuatu yang jarang dia temui di antara wanita-wanita istana yang selama ini mengelilinginya. "Kau benar. Dan yang kulihat selama ini, cukup meyakinkanku bahwa titah Ayahanda bukan keputusan yang salah."
"Anda meragukan keputusan itu sebelumnya?" tanya Yuxin, sedikit menyipitkan mata.
"Aku meragukan semua perjodohan yang diatur tanpa persetujuanku," jawab Li Chen jujur. "Tapi setelah melihatmu sendiri, tanpa topeng kebangsawanan, aku mulai berpikir mungkin kali ini berbeda."
Yuxin tidak langsung menjawab, memilih menyimpan responsnya dalam diam yang penuh perhitungan. Terlalu cepat menunjukkan rasa nyaman bisa berbahaya, terutama di lingkungan yang penuh mata dan telinga seperti istana ini.
"Yang Mulia," ucapnya akhirnya, mengalihkan topik dengan hati-hati, "boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Permaisuri Xuan," Yuxin memilih kata-katanya pelan, "sepertinya tidak menyetujui perjodohan ini."
Senyum di wajah Li Chen sedikit memudar, digantikan raut yang lebih serius. "Ibu Suri memang sudah lama menyiapkan calon lain untukku, sebelum titah Ayahanda turun. Kau harus berhati-hati padanya, Yuxin. Dia bukan orang yang akan menyerah semudah itu hanya karena keputusan sudah diambil."
Kalimat itu menegaskan sesuatu yang sudah Yuxin duga sejak awal, bahwa perjalanan di istana ini tidak akan lebih mudah daripada yang dia hadapi di rumah keluarga Lin.
"Siapa calon yang dimaksud Ibu Suri?" tanya Yuxin, ingin tahu lebih jauh siapa lawan barunya di lingkaran istana ini.
Sebelum Li Chen sempat menjawab, langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong. Seorang dayang istana muncul, wajahnya tegang, membungkuk cepat pada keduanya.
"Yang Mulia Putra Mahkota, Putri Mahkota Lin," ucapnya terengah, "Permaisuri Xuan memanggil Putri Mahkota untuk menghadap sekarang juga, di Paviliun Kediaman Abadi."
Li Chen dan Yuxin bertukar pandang sejenak, keduanya menyadari bahwa panggilan mendadak ini bukan sekadar formalitas biasa.
Paviliun Kediaman Permaisuri Xuan terletak di bagian paling dalam istana, jauh dari hiruk pikuk aula utama. Begitu Yuxin melangkah masuk, aroma dupa cendana yang menyengat langsung menyambutnya, bercampur dengan kesan dingin dari lantai marmer putih yang berkilau.
Permaisuri Xuan duduk di kursi tinggi berukir naga dan burung hong, mengenakan jubah ungu tua yang lebih megah dari yang dia kenakan di aula tadi. Di sampingnya berdiri seorang dayang tua dengan wajah kaku, dan seorang gadis muda berhanfu merah muda pucat, berdiri agak di belakang, memperhatikan Yuxin dengan mata yang menilai.
Yuxin berlutut, membungkuk hormat. "Hamba Lin Yuxin menghadap Permaisuri."
"Bangunlah," ucap Permaisuri Xuan, suaranya datar, tanpa kehangatan sedikit pun. "Duduk."
Yuxin bangkit, duduk di kursi rendah yang sudah disiapkan di hadapan Permaisuri, punggungnya tetap tegak sempurna, tangan terlipat rapi di pangkuan.
Permaisuri Xuan menatapnya lama, matanya menyipit menilai setiap detail, dari cara duduk, posisi tangan, hingga ekspresi wajah Yuxin yang tetap tenang tanpa secuil pun kegugupan.
"Kau pasti sudah dengar," ucap Permaisuri Xuan akhirnya, "bahwa aku tidak sepenuhnya setuju dengan perjodohan ini."
"Hamba mendengarnya, Permaisuri," jawab Yuxin jujur, tidak berusaha menyangkal atau memohon pengertian secara berlebihan.
"Bagus. Setidaknya kau tidak berpura-pura bodoh." Permaisuri Xuan mengambil cangkir tehnya, menyesap pelan sebelum melanjutkan. "Li Chen adalah penerus takhta. Istrinya kelak akan menjadi permaisuri, memimpin seluruh urusan dalam istana, dihormati oleh ribuan pejabat dan keluarga bangsawan. Ini bukan posisi yang bisa diberikan pada sembarang orang, apalagi seseorang yang baru beberapa hari lalu masih tinggal di rumah pedagang kecil."
"Hamba mengerti kekhawatiran Permaisuri," Yuxin menjawab tenang. "Tapi hamba juga percaya, kelayakan seseorang tidak selalu ditentukan oleh dari mana dia berasal, melainkan bagaimana dia menghadapi setiap tantangan yang datang."
Permaisuri Xuan tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. "Kata-kata yang bagus. Semua orang bisa bicara manis di depan, Nona Lin. Yang aku pedulikan bukan kata-katamu, melainkan buktinya."
Dia menoleh pada gadis berhanfu merah muda pucat yang berdiri di belakangnya. "Ini Xuan Wue Lan, keponakanku dari pihak keluarga Xuan. Sejak kecil, aku sudah mempersiapkannya untuk mendampingi Li Chen. Dia fasih dalam seni, terdidik sempurna, dan sudah dikenal baik oleh seluruh keluarga istana."
Wue Lan melangkah maju sedikit, membungkuk sopan pada Yuxin, namun matanya menyimpan sesuatu yang jauh dari ketulusan.
"Salam kenal, Putri Mahkota Lin," ucapnya manis, meski nada suaranya terdengar seperti sindiran terselubung. "Aku sudah lama menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu secara langsung."
Permaisuri Xuan meletakkan cangkirnya, menatap Yuxin lekat-lekat. "Aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan dirimu, Nona Lin. Tiga bulan dari sekarang, akan ada ujian kelayakan bagi calon permaisuri di hadapan seluruh keluarga istana. Kalau kau memang pantas menyandang gelar itu, buktikan sendiri. Kalau tidak..."
Dia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu terasa lebih mengancam daripada kata-kata apapun.
"... jangan salahkan aku kalau titah itu akhirnya dicabut, demi kebaikan istana ini sendiri."