NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: TINJU DI ATAS TANAH SENDIRI

Satu pukulan mendarat.

Lalu dua.

Lalu semuanya gelap oleh teriakan.

Tanah yang dulu memberi hidup, kini menjadi alas perkelahian.

 

Pagi itu berubah menjadi neraka.

Papan-papan bertuliskan VOC masih setengah terpacak di tanah. Tali-tali masih melilit pohon pala. Dan centeng-centeng Samsul masih bekerja—memaku, mengikat, menandai—seolah mereka sedang menanam bendera di tanah taklukan.

Baru dua jam yang lalu mereka datang. Dua jam yang lalu mereka mulai menancapkan papan-papan itu. Dua jam yang lalu Samsul meludahi tanah di depan Pak Kadir.

Dan sekarang, darah sudah tumpah.

Para petani berdiri di depan. Laki-laki dewasa berjejer. Di belakang mereka, para perempuan dan anak-anak sudah disuruh menjauh ke pinggir kebun.

Pak Kadir masih berjongkok memunguti buah pala yang berserakan. Tangannya berlumuran getah. Sarif, anaknya, berdiri di belakang dengan mata merah menatap centeng-centeng itu.

Salah satu centeng—yang tadi pagi menendang keranjang dan menggilas buah pala—bekerja di dekat Sarif. Ia bersiul-siul kecil, seolah tidak terjadi apa-apa. Sepatu botnya kembali menginjak buah pala yang tersisa.

Buah itu. Buah yang Sarif petik sejak subuh. Buah untuk beras, untuk susu istrinya yang hamil.

Kau injak buahku. Kau injak hidupku.

Sarif tidak sadar kapan ia bergerak. Tangannya mendorong dada centeng itu sekuat tenaga.

Centeng itu tersungkur. Kepalanya membentur pohon. BUK!

"KAU BERANI?!"

Ia bangkit. Tinjunya melayang ke rahang Sarif. Sarif terhuyung, tapi membalas. Pukulannya menghantam hidung centeng itu. Darah muncrat.

Dan dunia runtuh.

 

Perkelahian pecah seketika. Tubuh-tubuh saling hantam di kebun pala.

Pak Kadir berhadapan dengan Samsul.

"Kau sudah keterlaluan," geram Pak Kadir.

"Ini tugas," balas Samsul dingin.

Mereka saling serang. Tinju dan tendangan silih berganti. Pak Kadir berhasil menjatuhkan Samsul, memukulnya beberapa kali. Tapi Samsul membalikkan keadaan. Mereka bergumul di lumpur, saling mencekik, sampai keduanya terpisah kehabisan napas.

Pak Rahmat, petani paling tua, bertarung dengan centeng muda. Ia tidak kuat memukul, tapi pengalamannya membuatnya lincah menghindar. Ia berhasil menjatuhkan centeng itu dengan menyapu kakinya.

Tapi sebelum ia sempat berbalik, centeng lain datang dari belakang. Pukulan keras mendarat di kepala Pak Rahmat.

BUK!

Pak Rahmat tersungkur. Kepalanya membentur batu. Darah mengalir deras dari pelipisnya. Istrinya dari kejauhan menjerit.

"PAK RAHMAT!"

 

Sarif dan centeng hidung patah masih bergulat di tanah. Mereka berguling-guling di lumpur dan buah pala yang hancur. Sarif berhasil duduk di atas dada centeng itu. Tinjunya memukul bergantian. BUK! BUK! BUK!

Centeng itu meronta. Tangannya meraih kayu, mengayunkannya ke kepala Sarif.

BUK!

Sarif terhuyung. Pukulan kedua mengenai bahunya. Ia jatuh ke samping. Centeng itu bangkit dan kabur, meninggalkan Sarif tergeletak.

Pak Kadir berlari. "SARIF!"

Ia membalikkan tubuh anaknya. Wajah Sarif penuh darah, tapi napasnya masih ada.

"SARIF, BERTAHAN!"

Sarif membuka mata samar. "Pak... kita... menang?"

Pak Kadir menangis. "Kita masih hidup, Nak. Itu kemenangan."

 

Pertempuran masih berlangsung sengit. Tidak ada yang menyerah.

Tiba-tiba, derap kuda keras terdengar dari arah jalan setapak.

DEGUP. DEGUP. DEGUP.

Semua berhenti sejenak. Menoleh.

Seekor kuda hitam muncul. Di atasnya, Datuk Sulaiman turun—tetap di atas kuda, meninggi di atas semua orang. Di belakangnya, beberapa centeng lain ikut serta. Wajahnya merah padam, matanya melotot melihat kekacauan di depannya.

"BERHENTI!" bentaknya. Suaranya menggelegar memenuhi kebun. "SEMUA BERHENTI! KALIAN INI APA-APAN?!"

Centeng-centeng Samsul langsung menghentikan serangan. Tubuh-tubuh mereka kaku. Mereka mengenali suara itu.

Tapi warga tidak berhenti. Mereka terus memukul. Terus menyerang. Mereka sudah tidak peduli.

Sulaiman memacu kudanya maju ke tengah kerumunan. Kuda itu meringkik, berputar, memaksa beberapa petani mundur.

"AKU BILANG BERHENTI! KALIAN MAU SEMUA MASUK PENJARA?!"

Pak Kadir menatapnya dari dekat tubuh Sarif. Matanya merah, tapi tidak takut.

"Penjara? Kami hanya mempertahankan tanah kami! Tanah yang kalian rebut dengan paksa!"

Sulaiman tertawa getir. "Tanah kalian? Ini tanah VOC! Sudah tercatat! Surat-surat kalian tidak berlaku!"

"Surat dari moyang kami! Tanah warisan turun-temurun!"

"Warisan?" Sulaiman mencibir. "Warisan tidak berarti di hadapan hukum VOC! Kalian ini hanya petani bodoh yang tidak mengerti aturan!"

Seorang petani lain berteriak, "KAMI BUKAN BODOH! KAMI TAHU KALIAN YANG MERAMPAS!"

Sulaiman memacu kudanya ke arah petani itu. Hampir menabraknya. Petani itu terpaksa melompat mundur.

"DIAM KALAU TIDAK MAU MATI!" bentak Sulaiman. "Kalian pikir dengan berteriak kalian bisa menang? VOC punya kapal perang! Punya senjata! Bisa membakar kampung kalian dalam semalam!"

Ancaman itu seperti pisau yang menusuk. Beberapa petani diam. Yang lain tetap menatap dengan kebencian.

"Kami sudah lihat rumah tetangga kami dibakar!" teriak Pak Kadir. "Pak Karim! Rumahnya habis! Suaminya hilang! Istri nya mati hidup-hidup, jualan gula aren sambil menangis!"

"Tidak takut?" Sulaiman tersenyum dingin. "Kau lihat Pak Rahmat di sana? Kepalanya berdarah? Itu baru permulaan. Kalau kalian masih melawan, bukan hanya kepala yang berdarah. Rumah kalian, keluarga kalian—semua bisa habis!"

 

Sulaiman tetap di atas kuda. Tidak pergi. Ia mengawasi warga dengan tatapan dingin.

"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kalian semua mengerti posisi kalian," katanya. "Kalian boleh melawan. Tapi setiap kali melawan, akan ada darah yang tumpah. Darah kalian sendiri."

Pak Kadir berdiri dengan tubuh goyah. "Kami... tidak akan... menyerah."

Sulaiman tersenyum sinis. "Kita lihat."

 

Dari pinggir jalan setapak, seorang gadis muncul. Ia berhenti, terpaku melihat pemandangan di depannya.

Halimah.

Ia mendengar keributan dari rumah. Bentakan, teriakan, suara orang banyak. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju sumber suara. Mak Ijah sempat memanggil, tapi ia tidak peduli.

Dan sekarang ia sampai.

Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Kebun pala yang tadi pagi masih indah, kini seperti medan perang. Tubuh-tubuh tergeletak di lumpur. Darah di mana-mana. Buah pala berserakan, hancur, bercampur tanah.

Dan di atas kuda hitam, sosok yang ia kenal baik.

Ayahnya.

Datuk Sulaiman sedang berteriak pada warga. Tangannya menunjuk-nunjuk dengan kasar. Mulutnya melontarkan kata-kata yang tidak pernah Halimah dengar sebelumnya.

"KALIAN INI BINATANG! TIDAK TAHU DIUNTUNGKAN! MAU KALIAN SEMUA MATI DI SINI?!"

Halimah mundur selangkah. Dadanya sesak.

Ini ayahku?

Ia melihat Pak Kadir yang berlutut di samping anaknya yang berlumuran darah. Ia melihat Pak Rahmat tergeletak dengan kepala terbungkus kain—darah masih merembes. Ia melihat perempuan-perempuan menangis di pinggir kebun.

Dan ayahnya, di atas kuda, dengan dingin menghina mereka.

Binatang. Bodoh. Tidak tahu diuntungkan.

Kata-kata itu seperti duri yang menusuk hati Halimah.

 

Di tengah kekacauan itu, seorang anak kecil melesat pergi.

Karno, anak Si Dul yang baru berusia sepuluh tahun, melihat semuanya dari pinggir kebun. Ia melihat ayahnya tergeletak kehabisan tenaga. Ia melihat Pak Rahmat dengan kepala berdarah. Ia melihat Sarif pingsan di pelukan ayahnya.

Dan ia melihat Datuk Sulaiman di atas kuda, memaki-maki, mengancam, tertawa.

Hatinya bergetar. Bukan takut. Tapi marah.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari.

"Karno!" panggil Mak Minah. "Kau mau ke mana?!"

Tapi Karno tidak menjawab. Kakinya terus berlari. Melewati pematang sawah. Melewati kebun tetangga. Udara pagi menusuk paru-parunya, tapi ia tidak berhenti.

Ia tahu satu tempat. Satu orang yang bisa menolong.

Gudang Datuk Maringgih.

 

Karno berlari secepat kakinya mampu. Jalanan becek setelah hujan semalam membuatnya beberapa kali hampir tergelincir. Tapi ia terus maju.

Di kepalanya, suara bentakan Sulaiman masih terngiang. Wajah ayahnya yang tergeletak. Darah Pak Rahmat.

Harus cepat. Harus cepat.

Ia melewati pohon besar, melewati sungai kecil, melewati rumah-rumah petani yang mulai bangun.

Dan akhirnya, ia melihat gudang Maringgih di kejauhan.

 

Karno berhenti di depan pintu gudang. Napasnya memburu. Dadanya naik turun. Ia mengetuk pintu sekuat tenaga.

TOK! TOK! TOK!

Pintu terbuka. Dullah muncul dengan wajah terkejut melihat anak kecil terengah-engah di depannya.

"Karno? Ada apa? Kenapa lari-lari?"

Karno sulit bicara. Napasnya tersengal. Tapi ia memaksakan diri.

"Du... Dullah... panggil... Datuk..."

"Ada apa?!"

"Di kebun... warga... dikeroyok centeng... Pak Rahmat... kepalanya berdarah... Sarif... pingsan..."

Dullah membelalak.

"Datuk Sulaiman... masih di sana... dari tadi... memaki-maki... mengancam... mau bakar rumah..."

Dullah segera berbalik. "TUNGGU DI SINI!"

Ia berlari ke dalam.

 

Di dalam gudang, Maringgih sedang membaca surat dagang. Ia menoleh saat Dullah masuk tergesa-gesa.

"Tuan!"

"Ada apa, Dullah?"

Dullah terengah-engah. "Dari kebun pala, Tuan. Warga dikeroyok centeng Sulaiman. Ada yang terluka parah. Pak Rahmat kepalanya berdarah. Sarif pingsan."

Maringgih berdiri. Wajahnya berubah.

"Dan Datuk Sulaiman?"

"Masih di sana, Tuan. Dari tadi memaki-maki warga dari atas kuda. Tidak mau pergi. Mengancam mau bakar rumah mereka."

Maringgih memejamkan mata sejenak. Dadanya naik turun.

Lalu ia membuka mata. Matanya dingin. Beku.

"Siapkan kereta."

 

Karno masih menunggu di luar. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah Datuk Maringgih akan datang.

Pintu gudang terbuka. Maringgih keluar dengan langkah cepat. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di matanya—api yang siap membakar.

"Karno, naik."

Karno terkejut. "Saya, Datuk?"

"Naik. Tunjukkan di mana kebun itu."

Dullah membantu Karno naik ke kereta. Anak itu duduk di samping Maringgih, masih terengah-engah.

Kereta melaju. Kuda-kuda putih itu berlari kencang, meninggalkan debu di belakang.

Karno menunjuk ke arah timur. "Lewat sana, Datuk! Cepat!"

Maringgih mencambuk kuda. Kereta melesat lebih cepat.

 

Di kebun, Sulaiman masih di atas kuda. Wajahnya puas melihat warga yang kehabisan tenaga.

"Sudah menyerah?" ejeknya. "Bagus. Itu yang kuinginkan."

Pak Kadir terduduk lemas di samping Sarif. Ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara derap kuda yang berbeda. Lebih cepat. Lebih keras.

DEGUP. DEGUP. DEGUP. DEGUP.

Semua menoleh.

Sebuah kereta kencana muncul di ujung jalan. Dua kuda putih berlari kencang. Debu beterbangan di belakangnya.

Sulaiman mengerutkan dahi. "Apa itu?"

Kereta itu berhenti tepat di tepi kebun. Pintu terbuka.

Datuk Maringgih turun.

Semua orang membeku.

 

[Bersambung ke Bab 28...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!