Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Terasa Asing
Matahari siang itu bersinar terik, namun bagi Ruminten, cahayanya terasa hambar. Setelah beberapa hari menjalani perawatan pasca-operasi sesar yang mengerikan itu, hari ini ia diperbolehkan pulang. Dengan langkah yang masih sedikit tertatih menahan nyeri di jahitan perutnya, ia menggendong bungkusan kain jarik berisi bayinya.
Ruminten berjalan melewati lorong rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun ke arah ruang ICU atau bangsal perawatan intensif di mana Eko, suaminya, masih terbaring sebagai sosok cacat. Tidak ada keinginan dalam dirinya untuk sekadar berpamitan atau melihat wajah pria yang telah menghancurkan martabatnya sebagai istri. Baginya, Eko sudah mati di hari pria itu menuduhnya berselingkuh dengan setan.
"Ayo, Nduk. Biar Kang Hardi yang bawa tasmu," ucap Bu Asih yang setia mendampingi sejak awal.
Ruminten hanya mengangguk datar. Sesampainya di depan rumahnya di Desa Karang Jati, ia menatap bangunan itu dengan tatapan kosong. Rumah yang dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang, kini terasa seperti kuburan. Ia masuk ke dalam, meletakkan bayinya di atas amben, dan mulai mengemasi pakaiannya sendiri.
"Kamu tidak mau menunggu Eko pulang, Rumi?" tanya Bu Asih ragu-ragu.
"Tidak, Bu. Rumah ini sudah tidak ada penghuninya bagi saya. Saya hanya akan menginap semalam untuk mengumpulkan tenaga, besok pagi saya akan pulang ke rumah orang tua saya di desa seberang. Saya ingin membesarkan anak ini jauh dari bayang-bayang ayahnya," jawab Ruminten dengan suara yang tenang namun tak tergoyahkan.
Ia menatap anaknya yang terbungkus kain. Bayi itu diam, tidak menangis, hanya sesekali mengeluarkan geraman kecil yang membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya meremang. Ruminten tahu anaknya berbeda, ia tahu anaknya adalah "tanda" dari sebuah kutukan, namun naluri keibuannya tetap membuatnya memeluk makhluk itu, meski dengan hati yang telah mati rasa.
Sementara itu, di Rumah Sakit Medika Pratama, suasana justru semakin kacau. Di bangsal perawatan, Eko yang sudah sadar sepenuhnya tidak henti-hentinya membuat kegaduhan. Suaranya yang parau terus meraung-raung, memaki takdir, memaki dokter, dan memaki setiap suster yang masuk ke ruangannya.
"DOKTER KEPARAT! KEMBALIKAN KAKIKU! KALIAN SENGAJA MEMOTONGNYA AGAR AKU JADI PENGEMEN, KAN?!" teriak Eko sambil mencoba membanting apa pun yang bisa diraih oleh tangan kanannya yang tersisa.
Pasien-pasien di ruangan sebelah mulai merasa terganggu. Beberapa keluarga pasien bahkan mengajukan protes keras kepada manajemen rumah sakit karena teriakan histeris Eko yang terdengar hingga malam hari membuat pasien lain tidak bisa beristirahat dan menjadi depresi.
"Dok, tolong pindahkan dia atau segera pulangkan saja. Kami di sini mau sembuh, bukan mau dengar orang gila teriak-teriak!" keluh salah satu keluarga pasien dengan nada emosi.
Dokter bedah yang menangani Eko akhirnya melakukan visitasi terakhir. Ia melihat hasil pemeriksaan fisik Eko. Secara medis, luka amputasinya memang masih sangat baru, namun secara psikis, keberadaan Eko di rumah sakit justru membahayakan pasien lain dan juga staf medis. Eko menolak semua pengobatan dan terus-menerus mencoba melukai dirinya sendiri.
"Pak Darsono," panggil dokter kepada kakak Eko. "Melihat kondisi adik Anda yang terus-menerus menolak perawatan dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa, saya memutuskan untuk mengizinkan Eko pulang lebih awal. Kami akan membekali obat-obatan jalan dan jadwal kontrol. Di sini sudah tidak kondusif bagi kesembuhannya maupun pasien lain."
Darsono hanya bisa mengusap wajahnya dengan pasrah. "Baik, Dok. Mungkin memang lebih baik dia di rumah, siapa tahu pikirannya bisa lebih tenang."
Eko yang mendengar ia akan dipulangkan, bukannya senang, malah kembali memaki. "PULANG?! KE MANA AKU PULANG?! KE RUMAH DENGAN KAKI BUNTUNG SEPERTI INI?!"
Namun, keputusan dokter sudah bulat. Sore itu juga, petugas rumah sakit mulai mempersiapkan administrasi pemulangan Eko. Tanpa ia ketahui, ia akan pulang ke sebuah rumah yang sudah ditinggalkan oleh istrinya, ke sebuah tempat di mana "anaknya" sedang menunggu dengan tatapan kuning yang menyala di kegelapan.
Eko akan segera menyadari bahwa neraka yang sesungguhnya bukan berada di rumah sakit, melainkan di dalam rumahnya sendiri, di mana setiap sudut ruangan kini telah beraroma melati—tanda bahwa Ratri telah menyiapkan panggung terakhir untuknya.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno