"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
## **Bab 6: Harga Sebuah Rumah**
Malam di panti asuhan "Kasih Abadi" biasanya hanya dihiasi suara jangkrik dan gelak tawa anak-anak yang berebut bantal sebelum tidur. Namun malam ini, udara terasa berat. Di bawah lampu teras yang berkedip, Arka duduk di kursi kayu yang reyot, memperhatikan Ibu Fatimah—wanita yang membesarkannya—sedang meremas ujung daster batiknya yang pudar.
Di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas, terletak selembar surat dengan kop resmi "Wijaya Group". Isinya singkat, namun berdarah: Pemberitahuan pengosongan lahan dalam waktu tujuh hari.
"Mereka bilang ini lahan hijau milik pemerintah, Arka," suara Ibu Fatimah bergetar, "tapi selama dua puluh tahun, tidak pernah ada masalah. Kenapa sekarang?"
Arka tidak menjawab. Matanya tertuju pada logo Wijaya yang tercetak angkuh di surat itu. Di sudut penglihatannya, Sistem mulai memberikan data yang menyayat hati.
**[Analisis Objek: Panti Asuhan Kasih Abadi.]**
**[Nilai Historis: Maksimal (Bagi Pengguna).]**
**[Status Strategis: Target Likuidasi Rian Wijaya untuk menutup margin kerugian Skyview Mall.]**
Arka merasakan ulu hatinya seperti diremas. Rian tidak sedang membangun sesuatu; dia sedang menghancurkan masa lalu Arka untuk menyelamatkan kesalahannya sendiri di masa depan.
"Jangan khawatir, Bu," bisik Arka. Ia menggenggam tangan Ibu Fatimah yang kasar dan dingin. "Dunia ini mungkin milik mereka, tapi hukum aspal punya caranya sendiri untuk membalas."
---
Keesokan harinya, Arka tidak mengenakan kemeja hitam konsultan. Ia kembali mengenakan jaket oranye kusamnya. Ia perlu menjadi "invisible" lagi. Dengan modal 500 juta dari kartu hitam Elina, Arka memiliki senjata yang cukup untuk mulai membeli saham ritel yang dilepas para investor yang ketakutan.
Namun, Arka tahu bahwa dalam perang melawan raksasa seperti Wijaya, uang saja tidak cukup. Ia butuh "nyawa" dari dalam perusahaan.
Ia memarkir motor Supranya di seberang gedung Star Media, tempat Sarah bekerja. Dari kejauhan, ia melihat Sarah keluar dari lobi. Wajahnya tampak lebih tirus dari pertemuan mereka sebelumnya di rumah sakit. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa ditutupi oleh riasan setebal apa pun.
**[Analisis Subjek: Sarah Amelia.]**
**[Kondisi Fisik: Kelelahan kronis, Malnutrisi ringan.]**
**[Status Psikologis: Rasa bersalah yang tertekan.]**
Saat Sarah hendak menyeberang, sebuah mobil pengangkut logistik melesat cepat, hampir menyambar ujung roknya. Sarah tersentak, menjatuhkan beberapa map dokumen yang ia bawa. Bukannya ada yang menolong, orang-orang di sekitarnya justru menggerutu karena jalan mereka terhalang.
Arka tidak bisa menahan diri lagi. Ia turun dari motor, berjalan cepat menembus kerumunan, dan berlutut di depan Sarah untuk memunguti kertas-kertas itu.
"Ini," ucap Arka singkat, suaranya parau karena emosi yang tertahan.
Sarah membeku. Ia menatap tangan pria yang membantunya—tangan yang memiliki luka sayat kecil yang baru mengering di telapaknya. Ia perlahan mendongak dan matanya bertemu dengan mata Arka yang tajam di balik tudung jaket.
"Arka?" bisik Sarah. Suaranya terdengar seperti pecahan kaca. "Kenapa kau... kenapa kau selalu muncul saat aku sedang di titik terburah?"
Arka berdiri, menyerahkan tumpukan map itu tanpa ekspresi. "Mungkin karena di titik inilah kau dipaksa melihat kenyataan, Sarah. Dunia yang kau pilih ternyata tidak seindah yang dijanjikan Rian, kan?"
Sarah menunduk, air mata menetes di atas map dokumennya. "Kau tidak mengerti... Ibu butuh biaya operasi, Arka. Rian adalah satu-satunya jalan keluar saat itu. Aku tidak punya pilihan!"
"Pilihan selalu ada, Sarah. Kau hanya memilih yang paling instan," suara Arka dingin, namun ada getaran luka di dalamnya. "Sekarang, Rian bukan hanya menghancurkan harga dirimu, dia juga sedang mencoba menghancurkan rumah masa kecilku. Panti asuhan itu akan digusur minggu depan."
Sarah tersentak, wajahnya pucat pasi. "Apa? Dia bilang... dia bilang lahan itu untuk pembangunan UMKM, dia tidak bilang itu panti asuhan!"
Arka tertawa getir, tawa yang tidak sampai ke mata. "Itulah harga yang harus kau bayar untuk kemewahanmu saat ini. Kau bekerja untuk monster yang menelan rumah orang miskin untuk sarapannya. Dan kau, Sarah... kau adalah orang yang mengetik surat perintah penggusurannya."
Sarah menatap tangannya seolah tangan itu baru saja berlumuran darah. "Aku... aku tidak tahu..."
"Mulai hari ini, berhentilah pura-pura buta," Arka berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. "Simpan air matamu untuk saat kau harus melihat gedung itu rata dengan tanah. Karena saat itu terjadi, kau tidak akan punya siapa-siapa lagi untuk dimintai maaf."
---
Kembali ke warnet, Arka tidak lagi merasa sedih. Amarah telah berubah menjadi bahan bakar dingin yang sangat efisien.
**[Sistem: Akses Bursa Saham Terbuka.]**
**[Target: Pembelian Saham WJY Ritel - Lot 4500 hingga 9000.]**
Arka mulai mengeksekusi perintah. Jari-jemarinya bergerak liar. Dengan 500 juta itu, ia tidak membeli saham di puncak; ia menunggu di bawah, menangkap setiap lembar saham yang dibuang oleh publik yang panik akibat berita skandal Skyview Mall yang ia bocorkan kemarin.
Strateginya sederhana namun mematikan: Ia mengumpulkan suara-suara kecil. Di mata Rian, pemegang saham ritel 1-2% adalah semut yang bisa diabaikan. Tapi Arka mengumpulkan ribuan 'semut' itu melalui akun-akun anonim.
**[Perhitungan: Total Kepemilikan Saham Ritel Terakumulasi: 4,2%.]**
**[Estimasi Kekuatan: Cukup untuk menuntut audit internal pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).]**
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Pesan dari Elina Clarissa.
*“Rian mulai panik. Dia menggunakan dana cadangan perusahaan untuk membeli kembali saham agar harganya tidak semakin anjlok. Dia masuk ke jebakanmu, Arka. Dia menghabiskan uang tunai perusahaan untuk menjaga angka di layar.”*
Arka tersenyum tipis. Rian sedang membakar rumahnya sendiri untuk menjaga agar suhu di dalamnya tetap hangat. Sebuah kesalahan bisnis yang amatir karena didorong oleh ego.
---
Sore itu, Arka kembali ke gedung Wijaya Group, namun kali ini ia tidak masuk. Ia berdiri di gang sempit di samping gedung, memperhatikan sebuah truk logistik besar yang sedang memuat barang-barang dari kantor operasional.
Arka mendekati salah satu kurir yang sedang beristirahat sambil merokok.
"Capek, Bang?" tanya Arka sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin.
"Iya nih. Perintah bos besar. Semua dokumen lama dari Skyview harus dipindahkan ke gudang pinggiran. Katanya mau ada audit, jadi harus 'dibersihkan'," curhat si kurir tanpa curiga.
Arka mengangguk paham. "Hati-hati, Bang. Katanya jalan ke gudang sana lagi banyak razia surat kendaraan. Apalagi kalau bawa barang-barang sensitif perusahaan."
"Ah, masa iya?" si kurir tampak khawatir.
"Saran saya, lewat jalur belakang pasar saja. Lebih aman," Arka memberikan rute yang sebenarnya akan melewati daerah yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Si kurir berterima kasih dan segera berangkat. Arka melihat truk itu menjauh, lalu ia mengeluarkan ponselnya.
"Sistem, aktifkan gangguan sinyal pada GPS truk nomor plat B 9822 WXY."
**[Memproses... Gangguan Aktif.]**
Truk itu tidak akan pernah sampai ke gudang Wijaya. Truk itu akan "tersesat" menuju sebuah pangkalan kurir independen di mana Elina Clarissa sudah menunggu bersama tim hukumnya untuk menyita dokumen-dokumen yang ingin 'dibersihkan' Rian.
Malam harinya, Arka kembali ke panti. Ia melihat anak-anak sedang berkumpul di sekeliling Ibu Fatimah, mereka tampak ketakutan melihat coretan merah di dinding luar panti: **LAHAN MILIK NEGARA - SEGERA DIKOSONGKAN.**
Arka berjalan ke arah dinding itu. Ia tidak mencoba menghapusnya dengan air. Ia mengambil cat hitam dan menuliskan satu kalimat besar tepat di bawah coretan merah itu:
**"RUMAH INI TIDAK DIJUAL DENGAN HARGA DIRI."**
Ia menoleh ke arah kamera CCTV tersembunyi yang baru saja dipasang oleh pihak Wijaya di seberang jalan. Arka menatap lensa itu dengan tajam, seolah ia tahu Rian sedang menonton dari balik layar monitornya yang mewah.
"Nikmati malam terakhirmu di atas takhta, Rian," bisik Arka. "Karena besok, aku akan menunjukkan padamu bahwa arsitektur yang paling kuat bukan terbuat dari beton, tapi dari kebenaran yang kau coba kubur."
Arka mematikan ponselnya. Di kegelapan malam, Sistem di kepalanya terus berdenyut, mengalkulasi setiap langkah untuk hari esok. Ia bukan lagi sekadar kurir. Ia adalah arsitek yang siap merobohkan seluruh gedung demi menyelamatkan satu rumah kecil yang penuh cinta.
---
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.