NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Matahari pagi menyelinap masuk melalui kaca jendela yang tirainya sudah terbuka lebar.

Naya yang sejak tadi tertidur pulas terbangun dengan nafas tersendat. Matanya membelalak terkejut melihat langit-langit di atasnya bukan yang ia kenal. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan, lalu tersentak kecil saat menyadari sesuatu yang ganjil.

Kamar itu jelas bukan miliknya.

Tempat tidur yang ia tiduri lebar dan empuk, sprei abu-abunya beraroma maskulin yang sangat berbeda dengan aroma kamarnya yang didominasi oleh bunga lavender. Di sekelilingnya berdiri furniture elegan seperti meja samping dengan lampu kristal kecil, karpet tebal berwarna abu pucat, dan jendela besar dengan tirai panjang yang jatuh rapi hingga lantai.

Naya menghela napas pendek, rasa pusing kembali menyerang. Ia mengangkat tangan ke pelipis, lalu berhenti saat menyadari kain lembut yang membungkus tubuhnya. Ia menunduk pelan.

Piyama.

Piyama tidur berwarna pastel, bersih, ukurannya pas seolah memang disiapkan untuknya. Bukan pakaian yang ia kenakan semalam. Jantungnya langsung berdebar lebih cepat. Ia menarik selimut sedikit, memastikan dirinya benar-benar telah berganti pakaian.

“Siapa yang mengganti pakaianku?”

Potongan ingatan malam tadi kembali hadir, terpecah-pecah dan kabur. Gelas-gelas wine yang terus terisi ulang, kepalanya yang terasa ringan. Setelah itu, Lucio datang dan bergabung duduk di mejanya.

“Astaga! Jangan bilang dia yang menggantikan pakaianku, terus dia melakukan sesuatu yang tidak pantas padaku.” Naya mulai panik, ia menyibak selimut kemudian melompat turun.

Naya menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. Ia bersandar ke dinding, lantai marmer menyentuh telapak kakinya dengan dingin yang halus. Matanya menyapu ruangan sekali lagi, mencoba mencari petunjuk di balik kemewahan kamar itu.

Saat sedang berpikir tentang apa yang terjadi, pintu terbuka lebar. Lucio melangkah masuk, wajahnya tenang tanpa fluktuasi emosi apapun.

“K–kamu…” Naya menunjuk pria itu dengan jemarinya yang bergetar. “Kenapa kamu ada disini?

“Aku memang seharusnya ada disini, ini rumahku.” Jawab Lucio menarik kasar pergelangan tangan Naya dan melemparkannya ke atas ranjang.

“Apa yang kamu lakukan?” Naya mencoba bangun, namun Lucio menahannya dengan tangan besarnya.

“Kamu harus bertanggung jawab,”

Naya mengerjap bingung. “Ta–tanggung jawab?”

“Ya, kamu sudah mengacaukan malamku, sudah menodaiku, jadi sudah seharusnya kamu bertanggung jawab.” Kata Lucio seperti gadis perawan yang baru saja dilecehkan, padahal kan dia pria? Bukankah seharusnya Naya yang meminta pertanggung jawaban?

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Naya menggeleng, dia yakin sekali tidak melakukan seperti yang dituduhkan oleh Lucio.

“Mario!”

Pintu terbuka, seorang pria berkulit hitam manis dan berseragam serba abu-abu masuk. Mario, si asisten Lucio yang sudah seperti anjing setia Lucio dengan sigap menghampiri Tuannya.

Naya mengamati pria itu, “kenapa kamu memanggilnya?”

“Perlihatkan rekaman tadi malam,” perintah Lucio, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Rekaman? Naya mulai cemas, jangan-jangan ia memang telah melakukan sesuatu pada pria ini.

“Baik Tuan,” Mario dengan cepat membuka ponselnya, memutar sebuah video lalu memperlihatkan pada Naya yang sudah kembali duduk di tepi tempat tidur. Sementara Lucio sudah pindah ke dekat jendela dan mengamatinya dari sana. Matanya yang tajam terus menatap Naya membuat Naya gugup sekaligus sedikit takut.

“Lihat,”

Naya refleks melihat ke layar ponsel Mario. Disana Naya tampak memukuli Lucio sambil berteriak-teriak, sudah seperti orang gila saja.

“Ini…” Naya menautkan jemarinya, cemas sekali.

Lucio kembali mendekat, merampas ponsel Mario dan duduk di sebelah Naya. “Silahkan keluar Mario.”

Selepas kepergian Mario, Naya kembali melihat rekaman tersebut. Kali ini Lucio sudah memasukkan Naya ke kursi penumpang, ia terlihat memuji Lucio dan memaksanya untuk menidurinya.

Gila. Benar-benar gila.

“Ya Tuhan, apa yang aku lakukan?” Naya menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tidak sanggup untuk terus menontonnya.

“Kamu memang wanita gila, aku sudah berbaik hati membawamu pulang. Tapi kamu malah memukulku, dan yang lebih parah muntah ke bajuku.” Suara Lucio terdengar sangat menyeramkan di telinga Naya.

Wajah Naya pucat, namun tetap memaksa bibirnya untuk tersenyum. “Aku minta maaf, hehe.”

Ia yakin cengiran yang ia berikan aneh karena wajah Lucio tidak melunak sama sekali.

“Apa yang kamu lakukan tidak cukup dengan minta maaf,” Dengus Lucio.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku kan juga tidak memintamu untuk membawaku.”

“Jadi kamu lebih suka bermalam disana dan menghabiskan waktu bersama pria tua hidung belang?”

Mendengar pertanyaan itu, Naya buru-buru menggeleng. Tentu saja ia tidak mau. Dilihat dari sisi manapun jelas pria muda seperti Lucio lebih baik. Astaga, apa yang haru saja Naya pikirkan. Naya menggeleng untuk mengusir pikiran absurdnya.

“Tapi tetap saja aku tidak merasa berhutang apapun padamu.”

Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Menarik,” katanya pelan. “Karena semalam, kamu membuat diriku terlibat dalam sesuatu yang seharusnya tidak perlu.”

Naya mengernyit. “Aku tidak pernah memintamu membawaku pergi dari klub. Aku bahkan tidak–” Ia terdiam, kesal pada ingatannya sendiri yang berlubang.

“Tidak ingat,” Lucio menyelesaikan kalimatnya dengan dingin. “Aku tahu.”

Ia mendekat hingga jarak mereka terlalu dekat. Aura intimidasi itu kembali menekan, membuat Naya refleks menegakkan punggung. Lucio menunduk sedikit, menatapnya dari atas, posisi yang jelas disengaja.

“Kamu muntah di bajuku,” katanya tenang.

“Baiklah, aku akan mengganti bajumu.” Naya mengepalkan tangan di atas pangkuannya.

Lucio menegakkan tubuhnya. Tatapannya mengeras, tidak terbiasa dibantah. “Kamu menyusahkanku semalam. Aku membawamu keluar sebelum situasi berubah buruk. Aku memastikan kamu aman. Aku membersihkan kekacauan yang seharusnya bukan urusanku.”

“Dan sekarang kamu menuntut balasan?” Naya menatap pria itu marah dan tidak percaya.

“Bukan balasan,” katanya pelan, mendekat lagi. “Tanggung jawab.”

“Aku tidak memaksamu ikut,” lanjutnya. “Tapi kenyataannya, kamu ada di sini. Di tempatku. Dan itu membuat kita… terhubung, meski kamu tidak menginginkannya.”

“Iya, aku kan sudah setuju untuk mengganti rugi.”

Lucio berdiri, berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti. “Mario akan mengantarkan obat pereda pusing. Minum obatnya. Setelah itu, kita akan menyelesaikan urusan ini dengan cara yang rapi. Kamu akan bertanggung jawab dengan cara yang aku pilih.”

Naya menatap punggungnya, ingin sekali melempari punggung tegap itu dengan heelsnya. Akan menyenangkan jika dia mengerang kesakitan.

“Lihat saja, kalau sampai dia meminta sesuatu yang tidak masuk akal, aku beneran akan melemparinya pakai heels.” Gerutu Naya, mengambil bantal dan memukul-mukul gemas wajahnya dengan bantal tersebut.

“Arrggghh! Harusnya aku nggak ke klub itu.” Naya mulai menyesali kebodohannya dan sekarang karena kebodohan itu ia terlibat dengan Lucio. Si tampan dari keluarga Altarex yang jalan pikirannya tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan manusia.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!