NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan yang Berbisik

Setelah meninggalkan Pos 1, medan mulai menunjukkan karakter aslinya. Jalur setapak yang semula bersahabat berubah menjadi tanjakan dengan kemiringan tiga puluh derajat. Akar-akar pohon menjulur seperti urat nadi raksasa yang membelah tanah, membentuk trap-trap alami yang harus dilalui dengan hati-hati. Tio melompat dari satu akar ke akar lain, merasakan betisnya mulai bekerja lebih keras.

Dua jam perjalanan. Ketinggian sekitar 1.800 meter. Hutan pinus mulai berganti menjadi hutan campuran dengan pepohonan berdaun lebar. Pohon-pohon rasamala dan puspa berdiri tegak, tingginya mencapai puluhan meter, membentuk kanopi yang sesekali membiarkan sinar matahari menari-nari di permukaan tanah. Udara terasa lebih lembab, lebih dingin. Keringat di pelipisnya cepat menguap, meninggalkan sensasi lengket.

Tio berhenti di sebuah batu besar yang cukup datar. Ia melepas ransel, meregangkan bahu yang mulai terasa pegal. Dari dalam kantong pinggang, ia mengeluarkan kamera aksi, menyalakannya, lalu merekam dirinya yang sedang duduk santai.

"Pos 1 udah lewat. Sekarang gue lagi istirahat sebentar di antara Pos 1 dan Pos 2. Medan mulai nanjak, tapi masih standard. Napas gue masih terkontrol, jantung nggak berdebar kenceng. Semua sesuai rencana."

Ia mengarahkan kamera ke sekeliling. Daun-daun bergerak pelan tertiup angin. Suara burung tekukur bersahut-sahutan dari kejauhan.

"Denger tuh suara burung. Asli, ini yang gue cari. Ketenangan. Di kota, lo nggak bakal pernah denger suara kayak gini. Yang ada cuma klakson, mesin pabrik, orang teriak-teriak dagang. Di sini... sunyi, tapi hidup."

Ia mematikan kamera, memasukkannya kembali ke kantong, lalu melanjutkan perjalanan. Kali ini langkahnya lebih lambat. Bukan karena lelah, tapi karena ia mulai menikmati suasana. Ini bagian yang selalu ia sukai dari pendakian solo, ketika tubuh mulai menemukan ritmenya sendiri, ketika pikiran mulai mengosong, ketika ia merasa menyatu dengan lingkungan tanpa perlu berbasa-basi dengan siapa pun.

---

Sekitar pukul sebelas siang, Tio mencapai sebuah sungai kecil. Airnya jernih, mengalir di antara bebatuan hitam yang licin. Ia meletakkan ransel, duduk di batu terdekat, dan membuka bekal: dua potong roti gandum dan sebatang cokelat. Ini bukan kali pertama ia makan siang sendirian di tengah hutan. Tapi setiap kali melakukannya, selalu ada sensasi yang sama, rasa syukur yang sunyi.

Sambil mengunyah roti, ia membayangkan bagaimana orang-orang di kantornya dulu menghabiskan waktu istirahat. Makan di food court, ngobrol ngalor-ngidul, gosipin atasan. Mereka menyebutnya "sosialisasi".

Tio menyebutnya "pemborosan energi". Ia tak pernah betah berlama-lama dalam keramaian. Bukan karena anti-sosial, tapi karena ia merasa pembicaraan mereka tak pernah mencapai kedalaman apa pun. Basa-basi. Topik aman. Tidak ada yang benar-benar penting.

Di sini, lawanku cuma diri sendiri. Dan itu lebih dari cukup.

Ia kembali mengeluarkan kamera. Kali ini dengan gaya lebih santai, seperti sedang berbincang dengan teman lama.

"Lo tau, gue sering ditanyain orang: 'Lu nggak kesepian sendirian di gunung?' Jawaban gue selalu sama: justru di keramaian gue yang kesepian. Di sini, gue ditemenin suara air, suara angin, suara burung. Mereka nggak nuntut gue buat ngomong, nggak nuntut gue buat peduli sama urusan mereka. Mereka cuma... ada. Dan itu udah lebih dari cukup."

Ia mengunyah roti, merekam dalam diam beberapa saat, lalu melanjutkan.

"Gue percaya, setiap orang butuh waktu sendiri. Minimal sekali dalam hidup, lo harus lakuin ini: pergi ke suatu tempat di mana nggak ada orang yang kenal lo, nggak ada yang peduli lo, dan lo cuma punya diri lo sendiri. Di situlah lo bakal tau, lo sebenarnya siapa. Bukan siapa lo di mata orang lain. Tapi siapa lo di mata diri lo sendiri."

Matanya menerawang ke aliran sungai.

"Gue dulu pernah ikut grup pendaki. Ribet. Ada yang bawa gitar, nyanyi-nyanyi di camp, bikin rame. Yang lain pada foto-foto buat Instagram, sibuk cari angle biar dapet like banyak. Gue di pojok tenda, mikir: lo semua dateng ke sini buat apa sebenernya? Buat lari dari realita, atau buat bawa realita lo ke sini?"

Ia menggeleng, tersenyum getir.

"Makanya gue milih solo. Nggak perlu pura-pura. Nggak perlu ikut ritme orang lain. Kalau gue capek, gue berhenti. Kalau gue pengen cepet, gue gas. Kalau gue pengen diem berjam-jam ngelihatin gunung, ya gue lakuin. Itu... kebebasan sejati."

Ia mematikan kamera, menghabiskan rotinya, lalu minum beberapa teguk air. Sungai kecil itu mengalir riang, seolah setuju dengan setiap kata yang ia ucapkan.

---

Perjalanan dilanjutkan. Setelah sungai, medan kembali menanjak, kali ini lebih terjal. Beberapa bagian harus dilalui dengan merayap, memegang akar-akar pohon sebagai pegangan. Tanah mulai basah, meninggalkan jejak sepatu yang langsung terisi air rembesan.

Tio berhenti sejenak di sebuah tanjakan curam. Ia menengadah ke atas, melihat jalur setapak yang berkelok di antara pepohonan. Di sela-sela dedaunan, langit mulai tertutup awan tipis. Semoga tidak hujan, pikirnya. Setidaknya tidak sebelum ia mencapai Pos 3.

Lima belas menit kemudian, ia tiba di Pos 2. Ini hanya berupa lahan datar kecil dengan papan kayu bertuliskan "Pos 2 - Ketinggian 2.000 mdpl". Tidak ada bangunan, tidak ada tempat berteduh. Hanya ruang kosong yang cukup untuk dua atau tiga tenda. Beberapa sampah bekas pendaki berserakan—bungkus mie instan, botol plastik, bungkus rokok. Tio menghela napas jengkel.

Dasar manusia. Di tempat secantik ini aja masih bisa kotor.

Tapi ia tak punya waktu untuk bersih-bersih. Rencananya, Pos 2 hanya tempat transit. Target hari ini adalah Pos 3 atau 4. Ia mengecek jam: 13.15. Masih ada waktu sekitar empat jam sebelum gelap. Jika ia memacu langkah, mungkin Pos 3 bisa dicapai sebelum pukul 16.00, lalu istirahat, dan lanjut ke Pos 4 besok pagi.

Keputusan dibuat. Tio melanjutkan perjalanan.

---

Medan setelah Pos 2 mulai berubah karakter. Pepohonan semakin rapat, kanopi semakin menutup, sehingga cahaya matahari hanya masuk dalam bentuk garis-garis tipis. Suasana jadi lebih redup, lebih lembab, lebih... sunyi. Bahkan suara burung yang tadi riuh perlahan menghilang, berganti dengan keheningan yang nyaris pekat.

Tio mulai merasakan sesuatu yang aneh. Bukan ketakutan, tapi lebih pada kewaspadaan insting. Ia merasa diawasi. Setiap kali ia menoleh ke belakang, tak ada apa pun kecuali pepohonan dan semak-semak. Tapi perasaan itu terus menghinggapi, seperti ada mata-mata yang mengikutinya dari balik dedaunan.

Ah, cuma perasaan aja. Udah biasa.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengamati lingkungan. Di sela-sela pohon, ia melihat bunga-bunga anggrek hutan berwarna ungu, menempel di batang pohon yang lembab. Lumut tumbuh subur di setiap permukaan batu. Jentik-jentik air menetes dari daun ke daun, menciptakan irama tidak beraturan.

Tiba-tiba, tanpa sebab jelas, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun bergerak gemuruh, menciptakan suara seperti bisikan. Tio menghentikan langkah, menajamkan telinga. Bisikan itu terdengar... aneh. Seperti suara orang berbisik dari segala arah, tapi tak ada satu kata pun yang bisa ia tangkap jelas. Hanya desisan, seperti "ssssst... ssssst..." yang berulang-ulang.

Bulu kuduknya meremang. Hanya sesaat, lalu angin mereda. Bisikan itu lenyap.

Tio menggeleng, tersenyum kecil. Serem-serem dikit, ah. Lu kebanyakan nonton film horor.

Tapi ia tak bisa mengabaikan debaran jantung yang sedikit lebih cepat dari seharusnya.

---

Sekitar pukul setengah tiga sore, Tio tiba di sebuah tanjakan yang cukup ekstrim. Jalur setapak tiba-tiba putus, berganti dengan tebing batu setinggi sekitar tiga meter. Untuk meneruskan perjalanan, ia harus memanjat. Batu-batu penyusun tebing itu tampak kokoh, tapi basah oleh lumut. Licin.

Tio mengecek sekeliling, mencari jalur alternatif. Tak ada. Ini satu-satunya jalan.

Ia melepas ransel, melemparnya ke atas dengan hati-hati—berharap tak ada benda pecah di dalam. Ransel itu mendarat di atas dengan suara gedebuk. Tio menarik napas dalam, lalu mulai memanjat.

Pegangan pertama aman. Kedua, lumayan. Ketiga, tangannya hampir tergelincir karena lumut. Ia menguatkan cengkraman, mencari pijakan kaki yang stabil. Di tengah-tengah tebing, ia berhenti sejenak, menempelkan badan ke batu, dan mendengar suara nafasnya sendiri yang memburu.

Dari atas, terdengar suara gemerisik. Tio mendongak. Seekor kera ekor panjang sedang duduk di dahan pohon terdekat, menatapnya dengan tatapan tajam. Matanya bulat, hitam, dan—entah mengapa—terasa seperti sedang menilai.

"Hei, monyet. Mau bantuin?" Tio berteriak setengah bercanda.

Kera itu hanya menggerakkan kepala, lalu melompat ke dahan lain, menghilang di antara dedaunan. Tio kembali fokus pada tebing. Satu sentakan terakhir, ia mencapai puncak tebing, merebahkan tubuh di tanah lapang di atasnya, terengah-engah.

"Berhasil," gumamnya.

---

Setelah mengambil napas, ia bangkit, mengambil ransel yang tadi ia lempar, lalu mengeluarkan kamera lagi. Wajahnya sedikit kusut, keringat membasahi pelipis, tapi matanya berbinar.

"Tadi gue panjat tebing kecil. Nggak terlalu tinggi, tapi cukup bikin jantung copot. Lumayan lah, pemanasan buat medan selanjutnya. Ini serunya solo climbing: lo harus mikir, gimana caranya nyelesain masalah tanpa bantuan siapa-siapa. Kalau jatuh, ya jatuh sendiri. Kalau berhasil, ya puasnya berlipat-lipat."

Ia mengarahkan kamera ke tebing yang baru ia panjat.

"Bayangin kalau lo bawa rombongan. Pasti ada aja yang ngerengek, 'Aduh susah, balik aja yuk.' Atau ada yang sibuk motoin lo, nyuruh lo pose ini-itu. Nggak, thank you. Gue cukup sama diri gue sendiri."

Saat ia berkata demikian, angin kembali bertiup. Lagi-lagi, bisikan-bisikan aneh itu terdengar, lebih jelas kali ini. Seperti suara tawa kecil. Seperti suara orang yang sedang memperbincangkannya. Arya menoleh cepat. Tak ada siapa pun.

"Oke, kayaknya gue mulai kesepian. Udah ngajak ngomong kamera, sekarang denger suara yang nggak jelas. Hope this is just wind."

Ia tertawa kecil, mencoba meremehkan, tapi dalam hati ia bertanya-tanya: Apakah tadi benar-benar angin? Atau...

Ia menggeleng kuat-kuat, mematikan kamera, memasukkan kembali ke kantong. Perjalanan harus dilanjutkan.

---

Menjelang pukul setengah lima sore, Tio mencapai Pos 3. Ini adalah area datar yang cukup luas, dikelilingi pepohonan tinggi. Di tengah-tengahnya, ada tumpukan batu yang disusun membentuk lingkaran—bekas api unggun para pendaki sebelumnya. Beberapa ranting kering berserakan di sekitarnya.

Tio melepas ransel, mengusap keringat di dahi, lalu melihat ke langit. Awan semakin tebal. Sinar matahari mulai meredup, meski sebenarnya masih terlalu pagi untuk gelap. Tanda-tanda hujan mulai tampak.

Gue harus cepat bikin tenda.

Tapi sebelum itu, ia kembali mengeluarkan kamera. Duduk di atas batu, menghadap ke arah pepohonan yang mulai diselimuti kabut tipis, ia merekam untuk terakhir kalinya hari ini.

"Hari pertama mau selesai. Pos 3 udah tercapai. Besok target ke Pos 4 terus lanjut ke puncak. Semuanya lancar, semuanya sesuai rencana. Dan lo tau? Sendiri itu enak. Nggak ada yang nyuruh-nyuruh, nggak ada yang nanya 'kapan nyampe', nggak ada yang ngeluh. Cuma gue, alam, dan..."

Ia terdiam. Dari balik pepohonan, di kejauhan, samar-samar ia melihat sesosok bayangan berdiri. Hitam, diam, menatap ke arahnya. Tio mengerjap, berusaha fokus. Bayangan itu masih di sana.

"Dan... mungkin penghuni lain," ia bergumam lirih, hampir tak terdengar.

Ia menurunkan kamera, menatap lurus ke arah bayangan itu. Tak bergerak. Tio bangkit, melangkah mendekat. Baru dua langkah, bayangan itu lenyap, seolah tertelan kabut yang tiba-tiba menebal.

Tio berdiri termangu. Jantungnya berdebar lebih kencang dari saat memanjat tebing tadi.

Cuma permainan cahaya. Pasti cuma permainan cahaya.

Tapi dalam hatinya yang paling dalam, ia mulai ragu.

Hutan ini bukan hutan biasa. Dan ia baru setengah hari di dalamnya.

---

Malam itu, setelah tenda bivak berdiri, Tio duduk di mulut tenda, memandangi gelapnya hutan yang mulai pekat. Suara jangkrik dan serangga malam mulai bergantian bernyanyi. Kadang-kadang, suara burung hantu bersahutan, menciptakan irama malam yang khas.

Tapi Tio tak bisa tenang. Matanya terus tertuju pada titik di mana ia melihat bayangan tadi. Tak ada apa pun di sana sekarang. Hanya pohon, semak, dan kabut yang bergerak perlahan.

Ia menulis sesuatu di jurnalnya dengan pensil yang mulai tumpul:

"Hari 1. Pos 3. Semua berjalan lancar. Tapi hutan ini... beda. Ada sesuatu di sini. Mungkin cuma imajinasiku. Mungkin. Tapi entah kenapa, aku merasa bukan tamu di sini. Aku merasa... diawasi."

Ia menutup jurnal, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Di luar tenda, angin malam bertiup lebih kencang, membawa bisikan-bisikan yang tak pernah benar-benar bisa ia pahami.

Dan di balik kabut yang terus bergerak, sesosok bayangan hitam masih berdiri di tempat yang sama, menatap tenda kecil itu, menunggu.

Menunggu sesuatu.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!